Bab Empat Puluh Enam: Membiarkannya Mengobati Penyakit Malah Menimbulkan Masalah
Para warga desa bukanlah orang bodoh. Begitu Bi Yu mengatakan hal itu, bagaimana mungkin mereka tidak mengerti.
"Betul! Bagaimana bisa ayam itu masuk sendiri ke kamar Bi Yu?"
"Pasti ada yang sengaja memasukkannya!"
"Siapa yang begitu tega?!"
"U Xiao benar! Pasti ada yang ingin mencelakakannya!"
"Sialan! Keparat mana yang melakukan ini?!"
Untuk sesaat, kemarahan publik tersulut, dan kecurigaan secara samar-samar mengarah kepada Ma Jinfeng dan Bi Pengfei yang sedari tadi masih memanas-manasi keadaan.
Bi Jianguo bahkan gemetar karena murka, lalu membentak dengan suara bergemuruh.
"Bagus! Ternyata ada yang bersekongkol untuk menjebak anakku! Jika aku berhasil menyelidiki siapa pelakunya, aku akan menguliti orang itu hidup-hidup!"
Bi Pengfei menciutkan lehernya karena ketakutan oleh kemarahan ayahnya dan tidak berani bersuara lagi.
Wajah Ma Jinfeng berubah kelam. Ia tahu bahwa rencana hari ini benar-benar telah gagal total. Di masa depan, jika ia ingin menggunakan trik murahan seperti itu untuk menghadapi Bi Yu, dikhawatirkan para penduduk desa tidak akan mudah mempercayainya lagi.
Sialan! Bocah ini semakin sulit untuk ditangani.
Ma Jinfeng dan Bi Pengfei saling bertukar pandang, dan dari mata masing-masing terpancar rasa tidak rela serta kekejaman.
"Sudahlah, sudahlah. Bagus kalau kesalahpahamannya sudah beres." Melihat tujuannya telah tercapai, Bi Yu menghentikannya pada batas yang wajar.
"Hari sudah larut, jika tidak ada apa-apa lagi, kalian semua bubarlah."
Para warga desa saling berbisik, mengucapkan beberapa patah kata untuk menghibur Bi Yu, lalu perlahan-lahan bubar.
Zhang Chong tidak langsung pergi. Ia ragu-ragu sejenak, lalu melangkah maju dan menyerahkan ayam bulu buluh yang sedari tadi dibawanya kembali ke hadapan Bi Yu, dengan ekspresi penuh penyesalan yang jujur.
"U Xiao... Saudaraku, ayam ini... anggap saja sebagai permohonan maafku, dan juga... sebagai rasa terima kasihku karena kau telah menyelamatkan istriku. Terimalah!"
Bi Yu memandangi ayam yang masih mengepak-ngepak itu, lalu beralih menatap Zhang Chong yang tampak tulus. Ia tersenyum dan kali ini tidak menolak: "Baiklah, kalau begitu aku terima. Bibi baru saja pulih, memang butuh memulihkan kondisi tubuhnya."
"Baik! Baik!" Zhang Chong mengangguk berkali-kali. Melihat Bi Yu mau menerimanya, hatinya merasa sedikit lebih lega. Ia lalu menarik istri Zhang dan pergi dengan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Tak lama kemudian, di halaman rumah hanya tersisa keluarga Bi Yu yang terdiri dari tiga orang.
Bi Jianguo memandangi sulungnya, Bi Pengfei, yang memiliki ekspresi buruk. Mengingat bagaimana putranya itu tadi bersekongkol dengan Ma Jinfeng, amarah di dalam dadanya kembali membara. Ia mendengus dingin dengan tatapan mata yang penuh kekecewaan dan dingin.
"Coba lihat adikmu itu!" Bi Jianguo akhirnya memecah keheningan. Suaranya serak namun penuh wibawa. Ia mengangkat tangannya menunjuk ke arah Bi Yu, lalu dengan tiba-tiba mengarahkannya kepada Bi Pengfei.
"Sekarang lihat dirimu! Sepanjang hari, kalau tidak bermalas-malasan, ya bergaul dengan orang seperti Ma Jinfeng! Sekarang bahkan sudah belajar memfitnah keluarga sendiri! Kau... kau membuatku harus berkata apa lagi?!"
Dada Bi Jianguo naik turun dengan hebat. Jelas sekali ia sudah sangat marah hingga puncaknya, merasa geram karena putranya tidak bisa dibina dan merana karena kebodohannya.
Bi Pengfei menciutkan lehernya, wajahnya sepucat kertas. Menghadapi kemarahan sang ayah, hatinya terasa sangat sesak dan tertekan, sementara niat penuh kebencian terus bergolak di dalam benaknya, tetapi ia tidak berani membantah sepatah kata pun di hadapan sang ayah.
Kenapa?!
Kenapa semua hal baik selalu menjadi milik Bi Yu, padahal dialah anak sulungnya!
Ia menundukkan kepalanya, lalu dengan suara tertekan mengeluarkan kalimat: "Aku tahu, Ayah..."
"Tahu? Tahu apa kau!" Bi Jianguo sangat kecewa karena putranya tidak kunjung sadar.
"Mulai hari ini, kurangi bergaul dengan teman-teman tidak benar itu! Belajarlah lebih banyak dari adikmu! Belajarlah bagaimana cara dia bersikap sebagai manusia dan bagaimana dia menyelesaikan sesuatu! Meskipun kau hanya bisa mempelajari sedikit saja kemampuannya, kau tidak akan mempermalukan diri sendiri seperti sekarang!"
Kepalan tangan Bi Pengfei di dalam lengan bajunya terkatin erat.
Menyuruhnya belajar dari Bi Yu?
Adik yang telah membuatnya kehilangan muka dan sangat ia benci itu? Hal itu bahkan jauh lebih menyiksa daripada membunuhnya!
Pada saat itu, Bi Yu meliriknya sekilas dengan tenang, sementara kata-katanya penuh dengan nada remeh.
"Ayah, jangan terlalu membebani Kakak juga. Beberapa kemampuan bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari hanya karena ingin. Kakak... dia tidak akan bisa mempelajari hal-hal yang kuuasai ini."
Ucapan itu terlontar begitu saja, namun secara tepat menancap ke lubuk hati Bi Pengfei!
Ini adalah penghinaan terang-terangan!
"Kau—!" Bi Pengfei mendadak mendongakkan kepalanya, matanya memerah, dan amarahnya tidak dapat ditahan lagi.
Ia sangat ingin segera menerkam dan merobek wajah Bi Yu yang tampak tenang itu!
Namun, tatapan tajam Bi Jianguo yang menyapu ke arahnya berhasil memadamkan kemarahan yang hampir meledak tersebut.
Ia menggertakkan giginya rapat-rapat, menelan kembali seluruh kebencian dan penghinaan di dalam dadanya dengan susah payah, lalu mendesiskan beberapa patah kata dari celah giginya: "Ayah... Aku... Aku mau keluar sebentar untuk mencari udara segar..."
Setelah berbicara, ia tidak sanggup lagi berlama-lama di sana dan berlari keluar halaman seperti orang yang melarikan diri karena ketakutan.
Bi Jianguo memandangi punggung putra sulungnya yang berlari terburu-buru, lalu menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya. Kekecewaan di wajahnya semakin mendalam.
Bi Pengfei berlari cukup jauh hingga menjauhi halaman rumahnya sendiri barulah ia berani berhenti. Ia bersandar pada sebuah pohon pagoda tua, dadanya naik turun dengan hebat sementara pupil matanya dipenuhi dengan kebencian dan rasa tidak rela.
"Sialan! Bi Yu! Kau anak haram keparat! Tunggu saja pembalasanku! Cepat atau lambat aku akan menghabisimu!" maki gilanya di dalam hati, namun ia tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.
Tepat pada saat itu, sebuah suara bernada sinis terdengar dari bayang-bayang di sampingnya: "Kenapa? Kembali dibuat marah oleh adik kesayanganmu itu?"
Bi Pengfei terkejut dan mendongak mengikuti arah suara tersebut. Tampak Ma Jinfeng sedang berjalan keluar dari bayang-bayang di balik pohon pagoda dengan senyum dingin yang biasa ia tampakkan.
Ternyata ia tadi belum pergi jauh dan terus menunggu di tempat ini.
Bi Pengfei merasa seolah-olah telah menemukan tempat bersandar sekaligus saluran untuk melampiaskan emosinya. Ia menggeram dengan gigi gemeretak.
"Bocah itu benar-benar sangat sombong! Dia sama sekali tidak menganggap siapa pun ada! Tepat di halaman tadi, di hadapan ayahku, dia masih berani menghinaku separah itu!"
"Huh," Ma Jinfeng mendengus dingin dengan nada meremehkan lalu meludah.
"Sombong? Dia hanya sedang beruntung saja! Menguasai sedikit ilmu medis dasar dan berhasil menyembuhkan istri Zhang, lantas dia benar-benar mengira dirinya adalah tokoh besar? Benar-benar badut pelawak!"
Meskipun meremehkan Bi Yu secara lisan, Ma Jinfeng di dalam hatinya sangat menyadari bahwa pemuda bernama Bi Yu itu memang semakin sulit diatasi.
Bi Pengfei dengan tidak sabar mencengkeram lengan Ma Jinfeng.
"Kita tidak boleh membiarkan ini begitu saja! Aku tidak bisa menelan amarah ini! Cepat pikirkan cara, kita harus memberinya pelajaran yang telak! Jika tidak, bagaimana kita bisa bertahan di desa ini kedepannya?!"
Ma Jinfeng menyipitkan matanya, dan sebersit kilatan kejam terpancar dari bola matanya.
Ia merenung sejenak, lalu sudut bibirnya perlahan melengkung membentuk sebuah rencana jahat: "Cara? Tentu saja ada. Bukankah dia bisa mengobati orang? Bukankah dia telah menjadi 'dokter dewa' di mata penduduk desa? Heh..."
"Kak Feng, apa yang kau pikirkan?" Mata Bi Pengfei berbinar terang dan buru-buru mendesak bertanya.
Ma Jinfeng menepuk bahu Bi Pengfei, merendahkan suaranya dengan nada yang menyeramkan: "Sekarang seluruh desa tahu bahwa dia bisa mengobati penyakit, maka ke depannya pasti akan ada banyak orang yang datang menemuinya untuk berobat. Kita... mulai dari titik inilah!"
Ia mendekat ke telinga Bi Pengfei dan membisikkan beberapa patah kata dengan suara rendah.
"Kita cari beberapa orang yang bisa dipercaya, pura-pura menderita penyakit misterius dan pergi menemuinya untuk berobat. Bocah ingusan sepertinya, seberapa dalam ilmu yang dia miliki? Selama dia tidak bisa menyembuhkannya, atau... kita cari cara agar dia 'membuat kesalahan saat mengobati', saat itu kita buat masalahnya menjadi besar! Katakan saja dia melakukan pengobatan sembarangan dan hampir membunuh orang!"