Prolog
“Ciiit~!” Suara rem mendadak menggema di udara.
Sebuah bus perlahan berhenti di depan pintu masuk gedung utama markas besar penelitian biologi Perusahaan Anrek. Pintu bus terbuka, menurunkan seorang pemuda, lalu menutup kembali dan beranjak pergi dengan tenang.
Pemuda itu berambut hitam lebat, matanya hitam dan berkilau, hidungnya mancung, dan wajahnya tampak cukup tampan. Begitu turun dari bus, ia tidak langsung masuk ke dalam, melainkan sedikit mendongakkan kepala, menatap lekat-lekat bangunan tinggi menjulang yang nyaris menembus langit itu.
Gedung tersebut setinggi tiga ratus meter, seluruh fasadnya terdiri dari jendela kaca luas yang dipadu dengan jaring baja berbentuk belah ketupat. Rangka baja itu terekspos, dari kejauhan tampak seperti petir yang membeku di udara.
Di tengah gedung, tergantung sebuah logo besar: seekor kelinci bandel mengenakan helm baja, menyelipkan wortel di mulutnya, sambil mengacungkan senapan ke arah depan seolah hendak menembak. Meski gambar kartun itu tampak konyol, baris kecil huruf di bawahnya—‘Kami mampu melakukannya’—menegaskan kekuatan dan tujuan perusahaan ini.
Orang-orang kerap menanggapi slogan yang tampaknya main-main namun sesungguhnya sangat angkuh itu dengan senyum sinis, atau bahkan pura-pura tak melihat. Namun, tak seorang pun meragukan kehebatan perusahaan yang berada di garda terdepan bioteknologi dunia tersebut.
Sebab, bukan hanya perangkat dan fasilitas berkelas dunia yang mereka miliki, tetapi juga para peneliti terbaik, serta dana yang nyaris tak terbatas.
Namun di balik itu semua, beredar desas-desus yang tak diketahui publik: konon, di balik slogan itu tersembunyi misi mengerikan—bahwa mereka juga memiliki imajinasi dan daya cipta sekacau dan segila para ilmuwan tersohor semacam Frankenstein atau Dr. Jekyll.
Seorang gadis muda berseragam jas laboratorium putih telah menunggu di lobi. Melihat pemuda itu berdiri terpaku di pintu, ia cepat-cepat berlari keluar, menggerutu pelan, “Ye Feng, kenapa baru datang? Aku sudah menunggu lama. Mencari kerja saja tidak serius, bagaimana kau bisa punya pandangan hidup yang positif?”
Ye Feng menyeringai, tanpa peduli menjawab, “Aduh, jangan lebay! Aku kan bukan Obama, bukan Einstein, apalagi Bill Gates. Namaku saja diambil dari ‘daun gugur menari bersama angin’, mana mungkin kau harap aku bisa jadi orang hebat? Mengalir mengikuti arus, hidup santai, itu baru prinsip hidupku.”
“Sudahlah, aku malas berdebat denganmu!” Gadis itu mendengus, menatapnya sebal lalu mengalihkan pembicaraan, “Sekarang cari kerja susah, kesempatan begini jangan disia-siakan. Kali ini, tolong seriuslah sedikit.”
Sambil bicara, ia menggiring Ye Feng memasuki lobi, “Lagi pula, pekerjaan asisten peneliti itu mudah, hanya memberi makan kelinci, menanam rumput, lalu menulis laporan. Gajinya juga tinggi. Satu liburan musim panas saja, kau bisa dapat uang kuliah setahun penuh…”
Ia menyerahkan beberapa lembar dokumen kepadanya, “Formulir data diri ini sudah aku isikan semua. Sekarang mereka kekurangan orang, asalkan kau serahkan formulir, lalu wawancara sedikit, pasti diterima.”
Sambil terus mengoceh, gadis itu mengantar Ye Feng hingga ke depan lift.
“Anya.” Ye Feng melangkah masuk ke lift, lalu menoleh serius menatap gadis itu, “Terima kasih.”
Ucapan itu membuat hati Anya hangat, namun ia segera menggaruk rambut pendeknya dan menukas sengit, “Ih, gombal banget sih, bikin jijik saja.”
Ia menoleh ke jam dinding, menjerit pelan, “Astaga, sudah malam begini. Aku keluar diam-diam, kalau ketahuan si ketua tim sinting itu, mampus aku. Cepat naik, asisten peneliti di lantai dua puluh tiga, ada papan nama di depan pintu, nanti kau pasti lihat. Sampai ketemu!”
Anya segera berlari, menghilang di tengah kerumunan.
‘Ting!’ Elevator menutup perlahan. Ye Feng menengadah, menatap lampu indikator lantai yang menyala satu per satu, sambil membulatkan tekad: kali ini, ia harus sungguh-sungguh.
Begitu pintu lift terbuka, Ye Feng langsung melihat papan ‘Wawancara’ di pintu salah satu ruang tak jauh di depannya. Ia melangkah mendekat, tak sadar bahwa lampu indikator lift menunjukkan ia baru tiba di lantai dua puluh dua.
Dengan sopan ia mengetuk pintu, lalu masuk. Betapa terkejutnya ia, ruangan itu kosong melompong, hanya seorang kakek berambut putih duduk di belakang meja, tampak bosan membaca koran.
Ye Feng mendekat, berkata, “Permisi, saya datang untuk wawancara.”
“Eh?” Sang kakek mengangkat kepala, matanya langsung berbinar penuh suka cita. “Wawancara? Wah, ini sungguh luar biasa!”
Ia meletakkan koran, berdiri tergesa-gesa, berseru ramah, “Duduk, duduk. Silakan duduk. Anak muda seperti kau yang mau mengabdikan diri pada sains sekarang ini sangat langka. Eh… kau mau minum apa? Kopi atau anggur merah? Aku punya wine Prancis tahun 1983, belum pernah dibuka, mau coba segelas?”
Sambil bicara, ia membuka laci, mengeluarkan sebotol anggur merah, menuang penuh satu gelas dan menyerahkannya pada Ye Feng.
Ye Feng sama sekali tak menyangka wawancara kerja bisa disuguhi anggur merah, sejenak tertegun sebelum akhirnya menerima gelas itu.
Ia sempat menduga kakek itu menipunya dengan air gula merah dicampur arak murahan, tapi begitu aroma semerbak menusuk hidung, ia sadar itu benar-benar wine Prancis asli. Tanpa ragu ia meneguk habis setengah gelas.
Dalam hati ia tergelak: siapa sangka nasibnya mujur, melamar kerja sederhana bisa dapat rejeki nomplok. Benarkah wajah memang menentukan takdir?
Sang kakek membaca sekilas dokumen Ye Feng, lalu menatapnya dengan sungguh-sungguh, “Gaji tiga ratus ribu dolar sebulan, setelah proyek selesai ada bonus tambahan satu juta dua ratus ribu dolar. Bagaimana?”
“Uhuk…” Ye Feng langsung tersedak. Jika bukan karena tahu harga wine itu hampir seratus ribu yuan, mungkin sudah ia semprotkan ke muka kakek di depannya.
Setelah susah payah menelan sisa wine di tenggorokan, Ye Feng menatap sang kakek dengan tatapan tak percaya.
Kakek itu mengira Ye Feng keberatan. Ia tampak gelisah, seolah takut Ye Feng kabur, lalu berbisik hati-hati, “Peraturan perusahaan, gaji bulanan segitu sudah maksimal, tapi bonus mungkin bisa kutambah, mungkin sampai dua juta, bagaimana?”
Ye Feng sudah tak tahu harus berkata apa, hanya membatin: pantes saja Anya menyuruhku kerja di sini, ternyata mereka benar-benar kaya, gajinya saja royal seperti ini. Gila!
Melihat Ye Feng masih ragu, kakek itu menggertakkan gigi, “Dua juta tiga ratus ribu, benar-benar tak bisa lebih.”
Takut kesempatan emas itu lenyap, Ye Feng buru-buru tersenyum, “Setuju! Kontraknya mana? Saya tanda tangan sekarang.”
Kakek itu girang bukan main, segera mengeluarkan setumpuk dokumen tebal dari bawah meja. “Ini kontraknya, silakan dibaca.”
Ye Feng menerima berkas itu, dalam hati ia pikir, menjadi asisten peneliti saja, apa susahnya? Melihat kakek itu tampak cemas, seolah ingin berubah pikiran, ia pun tak memperhatikan isinya, langsung menandatangani nama di atas kertas, lalu berkata, “Oke, sudah kutandatangani.”
Kakek itu meneliti tandatangannya, tersenyum puas, “Begitulah semestinya, laki-laki sejati harus tegas dan lugas.”
Melihat sang kakek menyimpan kontrak dengan seksama, Ye Feng merasa ada sesuatu yang janggal, ia bertanya santai, “Kalau begitu, kapan saya mulai bekerja?”
“Proyek ini sudah lama menunggu karena kekurangan orang. Tentu saja, semakin cepat semakin baik. Menurutmu, kapan waktu yang tepat?”
Ye Feng berpikir, toh ia pun tak ada kegiatan, semakin cepat mulai, semakin banyak uang yang ia dapat. Maka ia berkata tegas, “Hari ini. Bagaimana?”
Wajah kakek itu merah padam menahan gembira, “Be—benarkah? Ini sungguh luar biasa. Tunggu sebentar, akan segera aku siapkan.”
Belum sempat Ye Feng menjawab, kakek itu bergegas pergi dengan kecepatan tak sepadan usianya.
Tak lama kemudian, masuklah seorang wanita cantik berambut panjang mengenakan seragam perawat putih. Melihat Ye Feng sedang menuangkan wine ke dalam botol minuman, ia hampir saja tertawa.
Sambil berdeham, ia berkata dengan suara datar, “Kau yang baru, mari ikut aku.”
Tanpa berani membantah, Ye Feng segera mengikuti perawat itu. Ia dibawa ke sebuah ruang penuh alat-alat, diambil darah, diuji laboratorium, lalu diperiksa seluruh tubuhnya, sebelum akhirnya ia didorong keluar ruangan dengan ranjang dorong.
Setelah sekian lama, Ye Feng pun tak tahan bertanya, “Kita mau ke mana? Aku bukan pasien, bisa jalan sendiri.”
Perawat itu menunduk, tersenyum, “Anak nakal, tidurlah tenang, kita menuju laboratorium.”
Ye Feng berseru pelan, “Tak kusangka peneliti di sini dimanjakan, tak perlu jalan kaki, diantar perawat cantik. Kalau tahu begini, aku pasti sudah datang sejak lama.”
Perawat itu tertegun, menatapnya aneh, “Kau melamar sebagai peneliti?”
“Iya.”
Perawat itu menghela napas, “Bodoh, kau salah lantai. Wawancara peneliti di lantai dua puluh tiga. Kau masuk lantai dua puluh dua.”
Ye Feng menjerit, “Jadi aku melamar untuk pekerjaan apa?”
Sambil tersenyum getir, perawat itu menepuk pipinya, “Kau bukan melamar jadi peneliti, melainkan objek penelitian. Kau yang akan diteliti.”
“Apa?” Ye Feng sontak duduk di atas ranjang.
Perawat itu melirik sebal, “Apa-apaan, baru sadar sekarang? Kontrak sudah ditandatangani, terlambat menyesal. Kalau membatalkan, kau harus bayar denda selangit.”
Ye Feng berpikir sejenak, lalu kembali berbaring.
“Kenapa? Sudah pasrah?” tanya perawat itu.
Ye Feng menarik selimut menutupi kepalanya dengan kesal, “Kupikir-pikir, jadi objek penelitian toh nggak akan mati, dapat jutaan pula. Tak buruk juga.”
Perawat itu mendecak, “Uang di atas segalanya, dasar mata duitan.”
Ia mendorong Ye Feng ke dalam gedung, lalu masuk lift lain. Tubuh Ye Feng terasa melayang, lift turun ke bawah tanah. Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di kedalaman bumi.
Perawat itu mendorongnya lagi, melewati beberapa gerbang besi yang dijaga ketat oleh tentara bersenjata lengkap. Melihat itu, Ye Feng mulai cemas, eksperimen macam apa yang butuh keamanan seketat ini?
Sampai di sebuah ruangan, ia didudukkan di kursi besar, tangan dan kakinya diikat, beragam alat deteksi dipasangkan ke tubuhnya.
Kegelisahan Ye Feng makin menjadi. Ia memaksa tersenyum, bertanya, “Sebenarnya, penelitian apa yang akan kalian lakukan padaku?”
“Pertanyaan itu biar aku yang jawab.” Suara berat terdengar dari belakang.
Ye Feng menoleh, melihat kakek yang tadi mewawancarainya.
Sang kakek tersenyum, “Maaf, lupa memperkenalkan diri. Namaku Xie Feide.”
Ye Feng mengernyit, nama itu terdengar familiar. Mendadak ia berseru, “Kau… ilmuwan gila paling terkenal di dunia!”
“Benar, dan hanya ada satu di dunia.” Xie Feide tersenyum bangga, lalu berjalan mendekat, “Bagaimana pendapatmu tentang rekayasa tubuh manusia?”
“Apa?” Mata Ye Feng membelalak.
“Rekayasa manusia,” jelas Xie Feide. “Tidak hanya lewat operasi, obat, dan teknologi—kami akan memperkuat tubuhmu, membuatmu melihat lebih jauh, melompat lebih tinggi, mendengar lebih tajam, daya ingat lebih kuat, tenaga lebih besar, pikiran lebih cepat.”
Ye Feng protes, “Kenapa tidak langsung ke kantor berita, cari saja abang yang suka pakai celana dalam di luar, atau Batman yang suka pakai kolor di kepala, aku tahu nomornya!”
Xie Feide mengabaikannya, “Kami juga akan menanamkan chip komputer super di otakmu. Jadi, manusia tak perlu lagi belajar, cukup salin dalam satu dua detik, semua pengetahuan lima ribu tahun dunia langsung kau kuasai, tanpa kesalahan sekecil apa pun.”
Semakin lama ia berbicara, semakin bersemangat, “Bahkan, chip itu akan mengoordinasi saraf gerakmu, membuatmu bereaksi lebih cepat, gerakan lebih presisi, menjadi manusia super sejati—bahkan bisa menangkap peluru yang melesat ke arahmu.”
Ye Feng menatap kakek itu tak berkedip, hatinya semakin yakin: kakek ini benar-benar gila, bukan bercanda.
Menyadari hal itu, Ye Feng mendadak merinding, dari tulang ekor hingga ke punggung. Dengan suara bergetar ia berteriak, “Aku… tidak… mau! Lepaskan aku, aku mau mengundurkan diri!”
Xie Feide mengerutkan dahi, “Kau seharusnya bangga. Kau akan menjadi manusia modifikasi paling sempurna di dunia.”
Melihat seorang staf datang membawa suntikan, Ye Feng nyaris pingsan ketakutan. “Aku tidak mau! Lepaskan aku! Kalau mau eksperimen, lakukan saja sendiri! Pantas gajinya tinggi, nyawaku tak cukup untuk kalian mainkan! Lepaskan aku! Aku mau telepon pengacara, aku akan menggugat ke organisasi HAM…”
Ia belum sempat melanjutkan, staf itu menyuntikkan cairan ke tubuhnya.
Kesadarannya perlahan memudar. Samar-samar ia mendengar suara, “Tidurlah, setelah proses ini selesai, kau akan bangun sebagai prajurit super yang tak terkalahkan.”
✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻✻
Entah berapa lama berlalu, Ye Feng perlahan sadar. Ia membuka mata, mendapati sekelilingnya gelap gulita, hanya bisa merasakan kasur empuk di bawah tubuhnya.
Dalam samar, ia masih mengingat—demi mencari uang kuliah, memanfaatkan liburan musim panas untuk bekerja, melamar sebagai peneliti kelinci, tapi salah masuk lantai, malah jadi kelinci percobaan, diteliti oleh seorang kakek berambut keriting yang mirip Einstein. Katanya, akan dibuat eksperimen prajurit super.
Di detik terakhir, ia mendengar suara teriakan, proses penguatan elektromagnetik mengalami kegagalan, kemudian kilatan listrik menyambar-nyambar…
Mengingat itu, kepalanya terasa nyeri luar biasa, ia mengerang pelan, “Sakit sekali…”
Baru ia berkata demikian, secercah cahaya muncul dari kejauhan. Dalam keremangan itu, Ye Feng melihat dirinya terbaring di ranjang mewah, dengan kanopi indah bergaya abad pertengahan.
Cahaya bergerak mendekat, dan sebuah wajah besar penuh keterkejutan tiba-tiba muncul di depannya.
Orang itu menatap Ye Feng lekat-lekat, lalu berteriak, “Tuan muda sudah sadar!”
Sekelompok orang segera bergegas masuk. Mereka semua bersorak gembira, “Tuan muda Lorraine telah sadar!”
Ye Feng menatap mereka dan pakaian aneh yang dikenakan, lalu memandang pantulan dirinya di cermin di sisi ranjang. Seketika ia sadar: Sialan, eksperimennya gagal—aku… telah menyeberang ke dunia lain.