Bab 1: Kepulangan
Bandara Internasional Jinghai.
Pelabuhan udara yang biasanya sibuk itu, hari ini dikosongkan hanya untuk satu orang, menyisakan satu-satunya jalur penerbangan.
Di depan pintu bandara, deretan mobil mewah dan wanita-wanita cantik berkumpul. Di antara para penanti, siapa pun yang dipilih adalah tokoh papan atas Jinghai: taipan, konglomerat, sosialita, hingga penguasa dunia bawah tanah.
Orang-orang yang sekali bersin saja bisa membuat Jinghai gemetar tiga kali ini telah menanti sejak pagi, hanya untuk menyambut satu orang. Andai mereka bisa menjalin hubungan dengan sang Maha Dewa Tabib itu, masa depan mereka pasti akan menaklukkan Jinghai, bahkan berpeluang menembus jajaran sepuluh keluarga besar Da Xia.
Di sisi lain, di pintu samping bandara.
"Jinghai, aku telah kembali. Orang-orang masa lalu itu, apakah kalian sudah siap? Sudah saatnya kita mengurus hutang lama ini!"
Ye Feng menyalakan sebatang rokok yang terselip di sudut bibirnya, asap tipis berkelebat, meninggalkan rumah selama lima tahun, akhirnya ia kembali menjejakkan kaki di tanah ini.
Ponsel Nokia tua yang telah lima tahun tak terpakai baru saja dinyalakan, bertubi-tubi pesan masuk membanjiri layar.
"Surat lamaran pernikahan dari Keluarga Qin Kota Tiandu, berharap bisa menjalin ikatan dengan Maha Dewa Tabib, mahar satu vila di Longque Tiandu dan satu ton emas!"
"Surat lamaran pernikahan dari taipan terbesar Kota Haidu, berharap bisa menjalin ikatan dengan Maha Dewa Tabib, mahar tiga puluh persen saham grup dan satu pulau pribadi!"
"Surat lamaran pernikahan dari Dewa Perang Utara, berharap bisa menjalin ikatan dengan Maha Dewa Tabib, mahar satu Fu Harimau dan sepuluh ribu hektar tanah di Utara!"
"......"
Tak terhitung surat lamaran pernikahan dan berbagai tawaran menggiurkan datang bertubi-tubi, semuanya ingin berjodoh dengan Ye Feng.
Melihat ponsel yang masih terus bergetar oleh pesan dan panggilan, Ye Feng sama sekali tak berminat, ia langsung mematikan ponsel itu.
Ia adalah lelaki beristri, tak tertarik sedikit pun pada berbagai surat lamaran itu.
"Lima tahun, entah bagaimana keadaan istriku kini."
Dengan santai ia menghentikan sebuah taksi yang lewat, menuju ke vila keluarga Xiao. Sepanjang perjalanan, ia menatap pemandangan di luar jendela, hatinya bergetar haru, hanya dalam lima tahun Jinghai telah berubah sedemikian rupa.
Lima tahun lalu, Ye Feng hanyalah seorang tabib muda, karena mengobati penyakit tubuh dingin pada putri keluarga Xiao, Xiao Lingxue, mereka pun semakin akrab dan akhirnya menikah.
Xiao Lingxue memang putri orang kaya, namun berhati murni. Walau kadang bertengkar, hari-hari mereka begitu manis. Ia tak pernah memandang rendah Ye Feng hanya karena ia menantu yang menumpang hidup.
Namun, bagi para tetua keluarga Xiao, Ye Feng sangat diremehkan, tak punya uang, tak punya latar belakang, mereka menganggap Ye Feng hanya beruntung besar bisa memikat Xiao Lingxue.
Tahun itu adalah masa paling kelam dalam hidupnya.
Lima tahun lalu, Ye Feng masuk gunung untuk mencari obat bagi istrinya, namun tergelincir dan jatuh ke jurang. Nyaris kehilangan nyawa, beruntung ia diselamatkan oleh seorang pendeta pengembara, lalu dibawa ke Pulau Neraka.
Lima tahun lamanya, ia mengikuti sang pendeta belajar ilmu pengobatan, hanya demi bisa menyembuhkan penyakit tubuh dingin sang istri sepulangnya kelak.
Dalam lima tahun itu, ia bukan hanya mewarisi ilmu sang guru, bahkan melampauinya. Ia juga belajar berbagai keahlian dari para ‘monster tua’ penghuni Pulau Neraka.
Ilmu bela diri kuno, Qimen Dunjia, strategi perang dan sejarah, seni musik, catur, kaligrafi, lukisan—semua terangkum dalam dirinya.
Bakatnya membuat para ‘monster tua’ di pulau itu malu sendiri. Awalnya mereka memperkirakan ia butuh tiga puluh tahun untuk mencapai keberhasilan kecil, siapa sangka, hanya dalam lima tahun, mereka sudah kehabisan ilmu untuk diajarkan padanya.
Saat hendak meninggalkan pulau, para ‘monster tua’ itu berebut mengakuinya sebagai murid dan menganugerahinya harta karun tiada tara: cincin hampa yang mampu menampung ribuan meter kubik, kartu bank internasional berisi triliunan, pedang Xuanyuan yang tajam tiada dua, baju sutra langit yang tak bisa ditembus senjata...
Barang-barang itu, satu saja jika dilelang, nilainya pasti menembus langit, sukar dicari tandingan.
Sesampainya di vila keluarga Xiao, Ye Feng baru tiba di gerbang sudah dihadang satpam.
Satpam baru itu tidak mengenali menantu keluarga Xiao yang satu ini, nadanya ketus, "Tempat pribadi, silakan berhenti di sini!"
"Aku Ye Feng, menantu keluarga Xiao," ucap Ye Feng tenang, tanpa amarah maupun suka cita.
"Menantu keluarga Xiao!? Ye Feng!?" Satpam itu tercengang.
Ia segera membentak, "Pergi! Kalau tidak, akan kupanggil polisi! Menantu keluarga Xiao itu Tuan Muda Chen, kau ini siapa!"
Tuan Muda Chen?
Ye Feng mengerutkan dahi, firasat buruk menyergap hatinya.
"Heh, bahkan pesta ulang tahun Tuan Besar Xiao hari ini di Hotel Huihuang saja kau tidak tahu, masih berani mengaku-ngaku menantu keluarga Xiao."
"Kalau kau menantu keluarga Xiao, aku ini malah Tuan Besar Xiao!"
Satpam itu mencibir penuh hinaan, melihat Ye Feng berbusana lusuh, tak ubahnya pengemis jalanan. Ia pun mengiranya pencuri yang hendak menyelinap masuk ke vila.
Ye Feng berbalik pergi menuju Hotel Huihuang, tanpa berkata apa-apa lagi kepada satpam itu.
Satpam rendahan semacam itu, tak pantas membuatnya marah, apalagi sampai harus mengajarinya pelajaran.
Tak jauh dari vila keluarga Xiao, di tepi jalan, terparkir sebuah Mercedes-Benz S600. Di kursi belakang duduk dua gadis muda menawan.
Yang satu mengenakan jaket kulit, wajahnya dingin, auranya seperti tak terjamah sejauh seribu mil, di matanya terselip pula kilatan tajam.
Yang satu lagi berdiri anggun, parasnya bersih dan elok—jelas seorang putri keluarga terpandang, berwibawa, pembawaan aristokrat yang tumbuh sejak kecil.
Adegan saat Ye Feng diusir di gerbang tadi, mereka saksikan dengan jelas.
Sang bodyguard wanita mengernyitkan dahi, "Nona Muda Kedua, jangan-jangan tadi itu benar menantu keluarga Xiao ya?"
Lin Ruoyi menggeleng, "Tak mungkin. Walau ia menantu, mustahil tampilannya begitu lusuh."
Bodyguard wanita itu menghela napas, "Nona, dengan kondisi Anda, bahkan putra mahkota keluarga kaya di Tiandu pun bisa Anda pilih sesuka hati. Keluarga manapun yang bisa berjodoh dengan Anda, itu sudah rejeki tujuh turunan."
"Bagaimana mungkin Tuan Besar membiarkan Anda memilih menantu yang sudah menikah, bahkan andai ia bercerai dan bersama Anda pun tetap saja janda beranak satu!"
"Apalagi, saya sudah selidiki, menantu keluarga Xiao itu hilang lima tahun lalu, sudah tak jelas hidup atau mati."
Sang bodyguard hendak melanjutkan, namun Lin Ruoyi memotongnya, "Pengaturan Kakek tak mungkin salah. Kita tunggu saja, entah tiga hari, tiga bulan, atau tiga tahun, ia pasti muncul."
"Lagi pula, menurut perhitungan, ia akan segera muncul di Jinghai. Semua persiapan harus dilakukan, jika ia muncul, sambut dengan tata cara paling tinggi."
"Sebab, dia adalah menantu keluarga Lin, bukan menantu yang menumpang hidup!"
……
Hotel Huihuang, di depan pintu, lampion merah besar tergantung megah, karakter ‘Shou’ yang terukir tegas dari besi dan perak sangat mencolok, di parkiran luar mobil-mobil mewah berjajar rapi.
Lantai dua belas hotel, aula perjamuan megah bermandikan cahaya, para tamu berbaju indah bersulang dan bercakap, suasana begitu hangat.
Pesta ulang tahun Tuan Besar Xiao, yang hadir semua tokoh berpengaruh. Seandainya saja tak bersamaan dengan hari kedatangan Maha Dewa Tabib di Jinghai, suasana pasti akan lebih semarak lagi.
Saat keluarga Xiao hendak naik ke panggung untuk mengucapkan terima kasih, tiba-tiba dari pintu aula terdengar suara lantang si pembawa ucapan selamat:
"Menantu keluarga Xiao, Ye Feng, mempersembahkan satu butir Pil Kembali Muda, mendoakan Tuan Besar Xiao panjang umur seperti Gunung Selatan, bahagia seluas Laut Timur!"
Kejadian mendadak itu membuat keluarga Xiao dan para tamu terkejut!
Bukankah menantu keluarga Xiao itu Chen Chuhe, Tuan Muda Chen? Bagaimana mungkin ada yang mengaku menantu keluarga Xiao lagi? Lagipula keluarga Xiao hanya punya satu putri.
Jangan-jangan ini menantu yang hilang lima tahun lalu itu?
Chen Chuhe mendengar nama Ye Feng, alisnya langsung berkerut, rona marah membayang di wajah.
Keluarga Xiao pun sama, tampak murka dan tak bersahabat.
Ye Feng melangkah masuk dari pintu aula, pandangannya akhirnya tertuju pada Xiao Lingxue.
"Lingxue, aku sudah pulang."
Xiao Lingxue tertegun, berdiri membeku di tempatnya.