Bab 44: Perpisahan
"Minggir, minggir..."
Ketika Lu Feng sudah berganti pakaian dan melenggang santai di jalanan, di depan Dojo Hongkou muncul sekelompok seratusan serdadu Jepang. Pemimpin mereka adalah Takahashi Lishan, Konsul Jepang di Konsesi Inggris, bersama Funakoshi Bunfu, pendekar nomor satu dari Perkumpulan Naga Hitam.
Meski Dojo Hongkou secara nominal berada di bawah Perkumpulan Naga Hitam, Funakoshi Bunfu tidak menyukai Fujita Tsuyoshi, sehingga ia lebih memilih tinggal di konsulat.
Begitu mereka tiba di depan Dojo Hongkou, sebagian prajurit segera diperintahkan masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan. Sementara itu, kerumunan warga Tiongkok yang menonton di luar dojo pun diusir mundur. Namun, karena watak orang banyak yang suka menonton keributan, mereka hanya mundur sekitar dua puluh meter.
"Balas dendam untuk Akutagawa Ryuichi?"
Takahashi Lishan berdiri dengan wajah muram di depan dua penjaga Jepang yang pingsan. Ia sudah membaca isi kain putih yang tergelar di situ. Beberapa hari lalu, saat Akutagawa Ryuichi terbunuh, ia juga berada di tempat kejadian. Bahkan, Fujita Tsuyoshi sempat punya niat membunuhnya juga.
Tentu saja ia tahu isi kain itu tidak bohong. Namun, yang membuatnya heran, saat itu hanya ia seorang yang melihat Fujita Tsuyoshi membunuh Akutagawa Ryuichi. Bagaimana Kameda Ichiro tahu? Lagi pula, sejak kapan Kameda Ichiro begitu menghormati guru?
Hal-hal semacam ini membuat kepala Takahashi Lishan pening. Namun, di dalam hatinya ia justru merasa senang. Sejak lama ia tidak menyukai Fujita Tsuyoshi, dan berharap Kameda Ichiro membongkar semua kebusukan pria itu.
Berbeda dengan Fujita Tsuyoshi yang penuh ambisi, Takahashi Lishan tidak suka perang dan lebih mencintai kedamaian.
"Tuan Takahashi, apa benar isi tulisan ini?"
Funakoshi Bunfu, yang wajahnya masih sedikit pucat karena cedera, menatap dengan penuh ketidaksenangan. Sejak lama ia punya masalah dengan Fujita Tsuyoshi. Akutagawa Ryuichi bahkan sempat belajar karate darinya, jadi bisa dianggap sebagai setengah muridnya. Kini, mendengar setengah muridnya tewas oleh tangan Fujita Tsuyoshi, ia tentu sangat marah.
"Tuan Funakoshi, aku pernah mendengar, pada malam kematiannya, Akutagawa Ryuichi masuk ke kamar Kepala Fujita. Esok harinya ia ditemukan meninggal!"
Takahashi Lishan tidak mengiyakan langsung, namun maksudnya sudah jelas.
"Sialan!"
Funakoshi Bunfu tak kuasa menahan makian.
"Tuan Takahashi..."
Saat Takahashi Lishan dan Funakoshi Bunfu berbincang, dua penjaga Jepang yang pingsan tadi mulai sadar.
"Yang memukul kalian, Kameda Ichiro?" Takahashi Lishan langsung bertanya tanpa basa-basi.
"Iya, Kameda yang melukai kami. Orang-orang Tionghoa yang menonton pasti juga melihatnya. Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba menyerang kami!"
Meski masih agak linglung, kedua penjaga itu tidak lupa kejadian barusan.
"Aku mengerti." Takahashi Lishan mengangguk.
"Lapor, Konsul! Kepala Fujita dan pengawalnya ditemukan tewas bunuh diri!"
Seorang perwira Jepang yang lebih dulu masuk memeriksa ke dalam, bergegas lari keluar dari Dojo Hongkou dengan wajah sangat buruk.
"Bunuh diri?"
Kabar itu membuat semua orang Jepang di tempat itu terkejut. Bagi kebanyakan orang, berita itu mengerikan. Namun, bagi Takahashi Lishan, justru itu berita gembira.
Kameda Ichiro sudah membongkar aib Fujita Tsuyoshi, membuatnya diam-diam bersuka cita. Kini, mendengar kematian Fujita Tsuyoshi, ia makin senang. Selama ini posisi mereka setara, tapi Fujita Tsuyoshi selalu memperlakukannya seperti bawahan. Kini Fujita Tsuyoshi telah mati, tak ada lagi orang Jepang di Konsesi Inggris yang bisa memerintahnya!
Namun, meski hatinya riang, wajahnya tetap menampakkan duka mendalam. Berbeda dengan Funakoshi Bunfu yang polos, ia langsung menampakkan kegembiraan di wajahnya saat tahu Fujita Tsuyoshi mati.
"Ayo, masuk bersamaku."
Takahashi Lishan mengusap keningnya dengan ekspresi sedih, lalu memimpin para prajurit Jepang masuk ke Dojo Hongkou.
"Kalian tidak melihat Kameda Ichiro?"
Setelah memeriksa jenazah Fujita Tsuyoshi dan pengawalnya, Takahashi Lishan bertanya dengan wajah kelam pada para prajurit yang pertama masuk ke dalam.
"Kami tidak menemukan Kameda Ichiro. Sepertinya ia sudah melarikan diri."
Semua prajurit yang lebih dulu masuk menggeleng.
"Sampaikan perintahku, selidiki Kameda Ichiro dengan segala cara, kita harus menangkapnya untuk membalaskan kematian Fujita!"
Meski Takahashi Lishan senang, ia tetap harus berpura-pura.
"Kameda Ichiro memang punya kemampuan menembak yang baik. Semoga dia bisa meloloskan diri," ucap Funakoshi Bunfu dengan bangga namun juga khawatir.
"Tuan Takahashi, apa tidak terlalu mencolok jika kita memburu Kameda Ichiro secara besar-besaran?"
Perwira Jepang itu ragu untuk langsung menjalankan perintah.
"Kau takut urusan pertikaian internal Jepang tersebar hingga jadi bahan gunjingan?"
Takahashi Lishan menghela napas. "Tapi, begitu banyak orang di luar melihat Kameda Ichiro memukul penjaga di luar Dojo Hongkou. Menurutmu, masih bisa ditutupi?"
"Baik, saya akan segera mencari Kameda Ichiro."
Perwira Jepang itu bukan orang bodoh. Ia tahu urusan ini sudah tidak bisa ditutup-tutupi, maka ia pun segera menjalankan perintah.
Sementara prajurit Jepang sibuk memburu Kameda Ichiro, seorang pria setengah baya asal Jerman menemukan sepucuk surat di depan rumahnya. Surat itu berisi pengakuan Kameda Ichiro.
Meski Perang Dunia I telah pecah, orang Inggris di Konsesi Inggris belum langsung mengusir orang Jerman, tapi tetap saja mereka mengalami diskriminasi. Banyak di antara mereka yang punya hubungan dengan militer Jerman, apalagi saat ini Jepang dan Jerman sedang bertempur di Shandong. Maka, orang Jerman tentu senang melihat Jepang dipermalukan...
...
"Berita kilat, berita kilat! Perwira Angkatan Darat Jepang, Fujita Tsuyoshi, tewas ditembak anggota Perkumpulan Naga Hitam..."
"Berita kilat! Kematian Fujita Tsuyoshi, pertikaian internal Jepang..."
"Berita kilat..."
Keesokan paginya, kabar kematian Fujita Tsuyoshi oleh tangan Kameda Ichiro menyebar ke seluruh penjuru Shanghai. Semua surat kabar memuat pengakuan Kameda Ichiro, yang dengan jelas menguraikan alasan ia membunuh Fujita Tsuyoshi...
"Haha, bagus sekali Fujita Tsuyoshi mati!"
"Jika Huo Lao Si di alam baka tahu Fujita Tsuyoshi tewas di tangan sesama Jepang, pasti ia akan sangat senang."
Di dalam Perguruan Jingwu, Nong Jinsun duduk di kursi sambil mengisap pipa dengan wajah berseri-seri. Inilah hari paling membahagiakan baginya belakangan ini.
"Ayah akhirnya terbalaskan, hanya saja sayang bukan aku yang membunuh Fujita Tsuyoshi dengan tanganku sendiri," ucap Huo Ting'en yang duduk di samping Nong Jinsun, tersenyum meski merasa sedikit kecewa karena tidak bisa membalaskan dendam secara langsung.
"Kakak, bagaimanapun juga Fujita Tsuyoshi sudah mati, dendam guru kita sudah terbalaskan."
Lu Feng tersenyum. Ia tidak mengakui bahwa Fujita Tsuyoshi mati di tangannya sendiri, karena jika sampai tersebar bisa menjadi bencana bagi Perguruan Jingwu. Lagi pula, sekalipun ia berkata jujur, tak akan ada yang percaya. Kini, semua orang yakin pelakunya adalah Kameda Ichiro dari Jepang.
"A Feng benar, yang penting dia sudah mati," Huo Ting'en mengangguk.
Nong Jinsun menepuk sisa abu rokok di meja. "Sekarang Fujita Tsuyoshi sudah mati, ke depannya sekalipun Jepang masih ingin memusuhi kita, setidaknya tidak akan sekejam sebelumnya. Ting'en, A Feng, kalian berdua harus bersatu untuk mengembangkan Perguruan Jingwu dan menyalakan terus semangat Jingwu."
"Jangan khawatir, Paman Nong. Aku pasti akan berusaha sebaik mungkin," sahut Huo Ting'en penuh percaya diri. Kemarin, ia akhirnya memberanikan diri untuk bicara pada Nong Jinsun tentang hubungannya dengan Xiaohong. Nong Jinsun, melihat tekad Huo Ting'en, tidak melarang lagi. Ditambah lagi dengan kematian Fujita Tsuyoshi, Huo Ting'en benar-benar mendapat dua kebahagiaan sekaligus.
"Paman Nong, Kakak."
Lu Feng sedikit ragu, lalu berkata, "Kalian pasti tahu, dua hari ini aku jarang ke Perguruan Jingwu karena sedang mengurus sesuatu. Pamanku di Amerika mengirim telegram, katanya ada urusan penting yang harus kuurus di sana, jadi beberapa hari lagi aku harus pergi."
"Apa?"
Mendengar Lu Feng akan pergi, Nong Jinsun dan Huo Ting'en langsung berubah wajah. Mereka berdua menilai Lu Feng sebagai sosok berbakat yang langka—kepergiannya jelas merupakan kerugian besar bagi Perguruan Jingwu. Namun, bila itu urusan keluarga, mereka pun tak bisa melarang.
"Paman Nong, Kakak, tidak ada pesta yang tidak usai. Kalian jangan terlalu bersedih karena kepergianku."
Lu Feng menenangkan mereka, lalu melanjutkan, "Tapi, sebelum aku pergi, aku berharap Paman Nong bisa membantuku melakukan satu hal."
"Katakan saja, A Feng," jawab Nong Jinsun tanpa pikir panjang.
"Ini soal Kakak Kelima."
"Chen Zhen?"
Begitu mendengar nama itu, wajah Nong Jinsun langsung berubah kelam.