Bab 42: Gadis Berambut Pendek yang Mencuri Foto
Cheng Cheh memandangi sisa kue di tangannya dengan amarah yang meluap. Di sini dia sudah membereskan kekacauan dan berusaha menenangkan gadis itu, bahkan ia merasa dirinya sudah sangat sabar, tapi gadis itu malah membanting pintu di hadapannya?
“Sungguh aneh…” Cheng Cheh menendang kotak kue di lantai.
“Sial, coba cari tahu, seumur hidup siapa pernah membanting pintu di depan muka gue?” Semakin dipikir, Cheng Cheh makin kesal—sudah menenangkan, malah makin menjadi.
Yun Xiang terbaring di ranjang, air matanya tak kunjung berhenti mengalir. Ia terus terisak, sementara makian Cheng Cheh terdengar jelas di telinganya.
Ia juga menyalahkan dirinya sendiri—sudah tahu betapa pentingnya kue itu, tapi tidak membawanya ke kamar, malah diletakkan di meja tamu.
Bukan sengaja marah kepada Cheng Cheh, mungkin justru karena ia tahu dirinya yang salah, jadi ia melemparkan tanggung jawab itu pada orang lain. Seakan hanya dengan begitu, hatinya bisa sedikit terhibur.
Hujan di luar jendela semakin deras, menimbulkan uap saat jatuh ke tanah, seolah-olah mengerti kegelisahan seorang gadis muda, turut merasa iba dan tak berdaya.
...
Pagi harinya, hujan telah reda. Kota terasa dingin dan sendu, tetesan air masih menetes di mana-mana.
Yun Xiang tak tidur semalaman, ia bangun pagi-pagi sekali. Ia membeli roti di warung, menyantapnya sembari berjalan menuju sekolah.
Di depan papan pengumuman sekolah, kepala sekolah mengomel, “Siapa sih bocah nakal yang nyolong foto di papan pengumuman? Satu saja sudah cukup, ini dua-duanya dicuri!”
Saat itu barulah Yun Xiang sadar, fotonya juga hilang.
“Xiang Xiang, pagi!” Sebuah tepukan mendarat di bahunya.
Yun Xiang menoleh, ternyata Luo Mi.
Begitu melihat Yun Xiang, Luo Mi langsung terkejut, “Xiang Xiang, matamu kenapa? Kok merah sekali?”
“Benarkah?” Yun Xiang hampir saja mengusap matanya.
Luo Mi buru-buru menahan tangannya, “Jangan digosok, nanti makin merah.”
“Ya,” Yun Xiang menurut, menurunkan tangannya.
“Ada yang kamu pikirkan?” Luo Mi menyadari ada yang tak beres, “Sejak kemarin, kamu sudah kelihatan tidak fokus.”
Yun Xiang menggeleng, lalu bertanya, “Ada yang manis nggak buat aku?”
Luo Mi miringkan kepalanya, “Kantong ajaibmu habis coklatnya?”
Yun Xiang menunduk. Hari ini ia terburu-buru, lupa membawanya.
“Hehe, tenang, kakak punya!” Luo Mi mengeluarkan sekotak coklat dari sakunya, “Taraaa!”
“Kakakku kemarin mampir ke rumah menjenguk ayah, sekalian bawain coklat. Aku langsung ingat kamu suka coklat, jadi aku bawain buat kamu!” Dengan santai Luo Mi menyelipkan coklat ke pelukan Yun Xiang.
Yun Xiang memandang Luo Mi dengan mata berbinar, lalu menundukkan wajah, terharu, “Terima kasih, Luo Mi.”
“Ah, santai aja!” jawab Luo Mi dengan ceria, tak mempermasalahkan.
Yun Xiang membuka coklat, memasukkan sepotong ke mulut, merasa belum cukup, ia ambil satu lagi.
Dia memang sangat suka yang manis. Apalagi saat suasana hatinya buruk, hanya dengan terus makan coklat, ia bisa sedikit bahagia.
Luo Mi menggenggam tangan Yun Xiang yang hendak membuka coklat lagi, dengan wajah serius, “Xiang Xiang… meski kita belum lama kenal, kalau kamu ada masalah, ceritalah padaku. Aku siap jadi tempat sampahmu.”
Mendengar itu, hati Yun Xiang terasa hangat. Ia mengangguk, “Aku tahu.”
Melihat Yun Xiang tampak berat hati, Luo Mi pun mulai berceloteh di sampingnya, “Xiang Xiang, apa Cheng Cheh menyakitimu? Mau kuajak Song Jin dan Guan He buat memukulinya?”
“Tidak, kok.” Yun Xiang menggeleng.
“Cheng Cheh memang agak galak, bergaul sama dia memang sulit. Kalau dia ada ngomong sesuatu, jangan dimasukkan hati, anggap saja dia kentut.” Luo Mi mengepalkan tangan, meninju telapak tangannya.
Tak disangka, baru saja kalimat itu selesai, Cheng Cheh lewat di samping mereka. Ia memandang Luo Mi sekilas dengan sorot meremehkan, seperti berkata “hari ini gue malas ribut sama lo”.
Langkah Yun Xiang dan Luo Mi pun serentak terhenti.
Tak lama kemudian, terdengar tawa keras Song Jin, “Benar, benar, anggap aja si Cheh itu kentut, kentut—!”
Wajah Luo Mi langsung berubah masam.
Ngomongin orang di belakang, kenapa selalu ketahuan?
Dan Song Jin ini, apa-apaan, suka banget mengulang-ulang!
“Song Jin, kamu parah!” Luo Mi langsung mengejar Song Jin.
Yun Xiang menoleh ke depan, sebelum menaiki tangga, Cheng Cheh sempat menoleh ke belakang sekali.
Hari ini ia tidak mengenakan seragam sekolah, hanya memakai hoodie abu-abu dan celana olahraga hitam. Cheng Cheh selalu berpakaian santai, tapi ia pandai memadupadankan, tubuh tinggi dan proporsional membuatnya selalu terlihat menarik.
“Aduh, Mi, aku salah, aku salah. Nanti malam aku anter kamu pulang, gimana?”
“Sore ini aku izin pulang dulu, Jin, jadi kamu nggak ada kesempatan.” Suara bercanda Song Jin dan Luo Mi terdengar samar.
Yun Xiang mengumpulkan pikirannya, menaiki tangga. Tepat saat itu ia melihat Cheng Cheh melemparkan payung ke luar kelas, lalu menuju ruang siaran.
Luo Mi yang melihat Yun Xiang sudah pergi, buru-buru meninggalkan Song Jin dan mengikuti Yun Xiang.
Begitu duduk, Yun Xiang mengambil lagi sepotong coklat. Ia mengeluarkan buku latihan Bahasa Inggris dan mulai mengerjakan soal.
Tepat pukul tujuh, suara siaran sekolah terdengar.
Yun Xiang mengenakan headset, tak mendengarkan isi siaran.
Luo Mi yakin, Yun Xiang pasti baru bertengkar dengan Cheng Cheh.
Tapi dipikir-pikir, pertengkaran antar kakak-adik memang biasa. Apalagi Yun Xiang dan Cheng Cheh adalah kakak-adik istimewa, wajar jika kadang berselisih.
“Aduh, hujan lagi nih,” gumam Luo Mi seraya memandang ke luar jendela.
Yun Xiang ikut menoleh ke luar. Gerimis, rintik-rintik tipis.
“Sekolah Tiga Belas di sebelah sudah diliburkan besok, kenapa sekolah kita belum ada kabar?” Luo Mi bergumam pelan.
Ia duduk lebih ke belakang, menopang dagu dengan kedua tangan, lalu bertanya, “Xiang Xiang, besok topan datang, kamu takut nggak?”
Saat berkata begitu, kursi di samping Yun Xiang ditarik.
Yun Xiang melirik ke samping, Cheng Cheh telah kembali.
Yun Xiang menundukkan kepala, menggenggam erat pulpen, sambil menulis ia menjawab, “Tidak takut.”
“Beneran nggak takut?” tanya Luo Mi sambil memiringkan kepala, sempat melirik Cheng Cheh sekilas.
Jangan-jangan karena Cheng Cheh datang, makanya ia bilang tidak takut?
“Sudah mulai pelajaran, Luo Mi,” ingat Yun Xiang.
Luo Mi melihat Yun Xiang murung, tidak menggoda lagi.
Cheng Cheh hendak mengambil buku pelajaran dari dalam meja, tapi saat ditarik, berhamburanlah barang-barang acak dari dalam.
Seluruh kelas menoleh ke arahnya. Di kaki Cheng Cheh berserakan berbagai camilan, bahkan ada tiga surat cinta yang perlahan jatuh.
Yun Xiang menatap satu surat cinta berwarna merah muda yang jatuh di dekat kakinya. Tertera di sana:
Untuk Cheng Cheh, Kelas 3-6
Cheng Cheh mengernyit. Ia baru menunduk hendak memungut, tapi ujung jarinya tak sengaja menyentuh punggung tangan Yun Xiang yang dingin.
Ia menengadah, dan Yun Xiang pun menatapnya sesaat, lalu buru-buru menunduk, mengambil surat cinta itu dan meletakkannya di meja Cheng Cheh.
Cheng Cheh langsung menyelipkan semua surat cinta ke dalam meja.
Yun Xiang menatap Cheng Cheh, tampak hendak berkata sesuatu. Namun melihat Cheng Cheh sudah fokus ke buku, ia pun berpaling, melanjutkan latihan soal.
Dalam keheningan, Lin Duan tiba-tiba berkata, “Penasaran juga ya, apakah gadis yang mencuri foto di papan pengumuman itu termasuk di antara tiga surat cinta itu?”
Lalu seseorang menimpali, “Katanya yang ambil foto Cheng Cheh itu siswi berambut pendek.”
Yun Xiang tanpa sadar menggenggam pulpennya lebih erat, lalu menoleh mencari sumber suara itu.
“Kelas berapa?” Lin Duan si penyebar gosip langsung menodongkan pertanyaan.