Em 2035, o mundo passou por dois eventos importantes: em primeiro lugar, a noite polar durou sete dias e sete noites, o mundo foi contaminado, os contaminadores massacraram indiscriminadamente, a huma
“Kau adalah seorang yatim piatu.”
“Kita semua yatim piatu. Kita sudah bersama sejak di panti asuhan, kita adalah sahabat terbaik.”
“Kau terluka.”
“Tiga tahun lalu, kita mengalami kecelakaan. Aku tidak apa-apa, tapi kau terluka parah dan koma. Sudah tiga tahun, akhirnya kau sadar. Syukurlah kau sadar, syukurlah. Mengenai hal lainnya, jika kau tidak ingat… tidak apa-apa, aku akan menemanimu mengingatnya kembali.”
Di atas ranjang rumah sakit, sang pasien tampak kaku. Tubuhnya yang kurus tampak begitu rapuh dalam balutan pakaian pasien. Ia mendongak sedikit, mendengarkan penjelasan wanita muda di samping ranjang yang bicara dengan suara serak menahan tangis. Ujung mata wanita itu memerah. Tatapan sang pasien menyapu bekas kemerahan itu, dan matanya yang semula redup akhirnya menunjukkan sedikit gejolak. Tepat saat itu, wanita di samping ranjang tidak bisa lagi menahan diri, ia mencondongkan tubuh dan memeluknya—erat sekali.
*Suhu tubuhnya terasa, agak aneh,* pikir sang pasien.
Sensasi basah merembes ke lehernya; wanita itu menangis.
Sang pasien terdiam sejenak.
“Tidak apa-apa, kehilangan ingatan pun tidak apa-apa,” isak wanita itu. “…Yang penting kau sudah sadar.”
Sang pasien merasakan emosi mendalam yang dipendam oleh orang di pelukannya.
Karena apa?
“Teman.”
Orang ini bilang mereka adalah teman.
Sang pasien mencoba memahami kata tersebut, lalu perlahan muncul perasaan asing di dadanya. Ia merasakan sensasi halus itu menjalar dari dada ke seluruh anggota tubuhnya. Tubuh yang tadinya terasa seperti