Bab 8 Mengapa tubuhmu berbau kotoran?
Setengah jam kemudian.
Di sebuah bar yang tenang dekat kediaman keluarga Rong.
Begitu Song Xiao mendengar kabar sahabatnya menikah mendadak, ia langsung mengumpat.
“Sialan! Seperti apa sih bidadari luar biasa yang bisa membuat Tuan Lu, pria yang selama ini tak tersentuh dan di atas awan itu, jatuh hati?”
Lu Xingzhou hanya tersenyum pahit, mengingat kembali sikap dan perilaku Jiang Man, lalu menggelengkan kepala.
Bidadari? Lebih cocok disebut perempuan bandel!
“Nenek suka padanya,” jawab Lu Xingzhou singkat, menggenggam gelas anggur dan menggoyangkannya pelan.
Song Xiao menempelkan gelasnya, “Jangan-jangan, kakekku tertular kelakuan nenekmu? Di jalanan tiba-tiba saja bertemu gadis nakal, langsung bilang ingin menjadikannya menantu. Menurutmu, kakekku sudah gila belum?”
“Gadis nakal? Separah apa?” Lu Xingzhou tersenyum geli, matanya memancarkan rasa ingin tahu. “Ceritakanlah.”
Song Xiao pun mengulang cerita yang disampaikan kakeknya tanpa menambah bumbu, “Kau tahu sendiri, siapa di kota utara yang tak kenal kakekku? Gadis itu usianya paling dua puluhan, bicara tentang porselen biru putih seolah ahli saja. Aku curiga dia memang sengaja datang untuk jadi nenekku!”
Lu Xingzhou tak mampu menahan tawa, meski biasanya selalu tampak elegan, kali ini benar-benar tak bisa menahan diri, “Kau memang suka berprasangka, menurutku gadis itu luar biasa.”
“Itu karena yang mengalami bukan kau! Banyak gadis muda yang berusaha mendekati kakekku, masa aku tak tahu maksud mereka? Ada juga yang saking nekatnya ingin melahirkan anak buat kakek, supaya bisa merebut harta warisan dariku.”
Sudah jadi rahasia umum di kota utara, Song Xiao dikenal sebagai playboy.
Beberapa gadis cerdik sadar, menggoda Song Xiao tidak seuntung mendekati kakeknya, dan Lu Xingzhou pun pernah mendengarnya.
“Menurutku memang keluarga Song butuh keturunan lagi, kau sendiri sudah tak bisa diharapkan,” goda Lu Xingzhou.
Song Xiao langsung berubah wajah, antara marah dan malu, “Sialan, kenapa aku bisa jadi sahabatmu yang tukang nyinyir begini, benar-benar nasib buruk…”
Di pasar malam, Jiang Man berjalan-jalan sambil makan dan minum, hatinya sangat puas.
Baru saja ia menikmati suasana, tiba-tiba bertemu dengan orang yang dikenalnya.
Tak jauh dari sana, Jiang Rou tampak menggandeng seorang pria muda dari keluarga terpandang, di belakang mereka diikuti beberapa laki-laki dan perempuan.
“Di sekitar sini kan kawasan keluarga Rong, Kak Zhao, kalau nanti menikah sama Kak Jiang, kau pasti mau beli rumah di sini, kan?” celetuk seorang gadis di samping Jiang Rou penuh iri.
Zhao Peng merangkul bahu Jiang Rou, lalu mencium pipinya, “Tentu saja.”
Jiang Rou langsung tersenyum sumringah, berjinjit membalas ciuman.
Mereka tertawa-tawa, salah satu gadis menunjuk ke arah perhiasan di kios pasar malam, hendak meminta pacarnya membelikan.
Ketika menoleh, matanya menangkap sosok Jiang Man di kejauhan.
“Rou Rou, bukankah itu kakakmu yang sial itu?”
Jiang Rou melirik Jiang Man yang sendirian, langsung merasa lebih unggul.
Menggandeng Zhao Peng, ia melangkah mendekat sambil memamerkan eksistensinya, “Eh, bukankah Kakak baru saja menikah? Kenapa masih sendirian? Suamimu mana?”
Jiang Man merasa sial bertemu mereka, jawabannya dingin, “Suamiku sedang sibuk.”
“Sibuk? Mana bisa lebih sibuk dari Kak Zhao? Dia harus membantu keluarga mengurus bisnis bernilai jutaan!”
Mendengar dirinya dipuji, Zhao Peng langsung membusungkan dada dengan bangga.
Jiang Man memutar bola matanya.
Walaupun ia belum tahu persis pekerjaan Lu Xingzhou, namun ia yakin, kekayaannya pasti puluhan kali lipat dari Zhao Peng!
“Sudah malam, aku mau pulang,” kata Jiang Man malas menanggapi Jiang Rou, suaranya tetap dingin.
Ia hendak pergi, tapi para pengikut menahan.
“Kakak buru-buru amat, jarang-jarang ketemu, bagaimana kalau aku traktir makan hotpot? Setahu aku Kakak sejak kecil hidup susah, makan hotpot saja pasti belum pernah, kasihan ya.”
“Benar juga, sekarang kan sudah punya suami, pasti bisa makan hotpot. Suaminya pasti mampu traktir, orang hotpot saja per orang seratus ribu sudah bisa, dua ratus ribu pasti sanggup,” Jiang Rou menimpali dengan tawa mengejek.
“Kalau benar mampu, kenapa masih makan di kaki lima?” sambung pengikut perempuan, “Kak, coba panggil suamimu ke sini, kenalkan dong sama kami.”
“Oh iya, Kak Zhao, bukankah perusahaanmu sedang cari satpam? Gajinya lumayan, empat juta sebulan, bagaimana kalau suamimu coba? Kalau suamimu tak mau, kakak sendiri juga boleh melamar, daripada cuma leyeh-leyeh tiap hari.”
Mendengar itu, mereka semua tertawa geli, dengan nada mengejek.
Jiang Man kembali memutar bola matanya, benar-benar tak mau meladeni.
Orang-orang macam badut ini, tak bosankah mereka terus-terusan merendahkan orang?
Sambil menguap, ia berkata datar, “Mau menawarkan pekerjaan? Kalau gajinya tak sampai seratus juta sebulan, cuti setahun sebulan, dapat asuransi lengkap, bonus tahunan sepuluh kali lipat, jangan buang waktuku!”
“Kau... Kak, kau kan tak punya ijazah, berani-beraninya bermimpi di siang bolong!” Jiang Rou berlagak prihatin, “Aku saja magang di Grup Lu, gajiku cuma tiga juta, Kak Zhao sudah baik hati menawarkan empat juta padamu. Setidaknya aku lulusan universitas, kau cuma seorang buta huruf.”
Buta huruf, padahal ia pernah mendapat undangan dari lembaga penelitian negara.
“Aku sudah dapat pekerjaan dengan gaji seratus juta sebulan, jadi kau tak perlu repot mengurusiku,” ujar Jiang Man tajam, matanya tajam menusuk, “Minggir, anjing pun tahu diri tak menghalangi jalan!”
Para pengikut langsung gentar, terintimidasi oleh sorot matanya.
Mereka pun buru-buru memberi jalan.
Melihat Jiang Man hendak pergi, Jiang Rou tak terima, “Gaji seratus juta? Mimpi saja kau! Kalau memang bisa, aku akan siaran langsung makan kotoran!”
“Baik!” Jiang Man tersenyum, sudut bibirnya terangkat, lalu menekan tombol perekam di ponselnya, “Ulangi sekali lagi.”
Ia bermaksud merekam ucapan Jiang Rou.
“Ulang pun tak masalah! Kalau kau berhasil dapat kerja bergaji seratus juta sebulan, aku akan siaran langsung makan kotoran!” Jiang Rou benar-benar percaya diri.
“Nanti kita lihat,” suara Jiang Man ringan, lalu ia pergi begitu saja.
Entah kenapa, auranya yang kuat membuat para pengikut Jiang Rou mendadak merasa ciut.
Mereka pun serempak menatap Jiang Rou, cemas, “Rou Rou, jangan-jangan... dia benar-benar bisa?”
“Huh! Kalau dia memang sehebat itu, dulu tak mungkin mau menikah menggantikan aku dengan kakek tua bermarga Yang. Sekarang saja menikah kilat, suaminya pun disembunyikan, pasti tak layak tampil, mungkin lebih buruk dari kakek tua itu!”
Saat Jiang Man hendak meninggalkan pasar malam, ia melihat sebuah Maybach yang sangat dikenalnya di pinggir jalan.
Memang banyak Maybach di kota utara, tapi hanya satu yang paling istimewa, milik Lu Xingzhou.
Maybach miliknya edisi terbatas, dibuat khusus.
Jiang Man melirik pelat nomor mobil yang mencolok, enam angka delapan, bukankah itu memang tunggangan Lu Xingzhou?
Ia memutuskan pura-pura tak melihat dan berjalan sendiri menuju kediaman keluarga Rong.
Namun saat itu, ponselnya berbunyi.
Nomor itu tak ia simpan, tapi ia ingat, kemarin ia meminta nomor itu dari kepala pelayan.
“Halo, Tuan Lu?”
“Kau di mana? Aku datang menjemputmu,” suara pria di seberang terdengar datar, nyaris tanpa ekspresi.
“Aku hampir sampai rumah, tak perlu dijemput,” Jiang Man menolak langsung.
“Nenek memintaku menjemputmu, aku harus menuntaskan tugas,” jawab Lu Xingzhou tanpa menutupi maksudnya.
Jiang Man tersenyum miring, “Baiklah.”
Ia pun melangkah lebar menuju Maybach di tepi jalan.
Lu Xingzhou seperti bisa membaca pikirannya, melirik keluar jendela dan melihat Jiang Man yang ramping dan tinggi berjalan mendekat.
Zhao Huai segera turun membukakan pintu mobil.
“Terima kasih,” ujar Jiang Man sambil mengangguk hormat, lalu masuk ke dalam.
Begitu ia duduk, Lu Xingzhou langsung tak tahan, alisnya yang tegas berkerut dalam, “Kenapa tubuhmu bau kotoran?”