Bab 19: Berlari ke Sekolah dengan Emosi Menggebu
Begitu pulang kerja, Feng Yan langsung kembali ke rumah dengan ekspresi muram, sesekali melirik ponselnya. Ia tampak tak mengerti, kenapa Bai Ruan yang biasanya sangat lengket dengannya bisa menahan diri untuk tidak mengirim satu pesan pun sepanjang hari?
Feng Yan menunduk, menggenggam ponsel, membuka foto profil Bai Ruan dan terus-menerus menyegarkan layar, perasaannya semakin kacau. Padahal sebelumnya, setiap kali ia menyebut kata putus, Bai Ruan langsung ketakutan setengah mati, bahkan sampai rela berlutut memohon padanya tanpa sedikit pun harga diri. Tapi sekarang, apa sebenarnya yang terjadi? Bisa menahan diri, ya? Baiklah, aku ingin tahu sampai kapan kau bisa bertahan!
Tao Zhiyan berjalan santai mendekat, membawa sepiring buah yang sudah dipotong rapi ke hadapan Feng Yan. Melihat Feng Yan tak mau makan, ia pun diam-diam mengambil garpu kecil, menusuk sepotong buah, mengunyah, lalu mengambil lagi, mengunyah lagi.
Saat sedang asyik mengunyah, Feng Yan tiba-tiba mengangkat kepala dan bertanya, “Pengurus Tao, Bai Ruan bilang kapan dia pulang?”
Tao Zhiyan menelan buahnya, “Tidak.”
Ekspresi Feng Yan makin muram. Ia duduk beberapa saat, lalu tiba-tiba menekuk kaki dan menendang meja teh di depannya!
Suara benturan keras membuat Tao Zhiyan terkejut. “Sekarang dia malah berani marah?” Feng Yan tampak semakin kesal, dadanya naik turun hebat, ia mengayunkan tangan dan menjatuhkan semua barang di atas meja ke lantai!
Braak—!
Mata Tao Zhiyan membelalak, buru-buru meraih vas bunga yang jatuh. Sayangnya, sebelum sempat disentuh, vas itu sudah pecah di lantai, terbelah dua!
Tao Zhiyan terpaku, menarik napas dalam-dalam, hatinya perih sekali. Itu kan vas porselen Qingge, harganya saja diperkirakan mencapai jutaan dolar, sekarang hancur sia-sia oleh si pemboros ini!?
Vas porselen semacam itu adalah karya seni yang tak ada duanya di dunia! Kalau kau tak mau, kasih saja padaku!
Feng Yan sama sekali tak peduli dengan barang-barang seperti itu, bahkan kembali menendang meja teh dengan gusar, menggerutu, “Apa sih sebenarnya Bai Ruan itu!”
“Kalau berani, jangan pernah kirim pesan ke aku lagi!”
Setelah melampiaskan amarahnya, ia bangkit dan naik ke atas dengan wajah dingin.
Tao Zhiyan menatap vas yang hancur di lantai dengan hati remuk. Setahun gajinya pun tak sebanding dengan harga vas itu!
Setelah majikannya naik ke atas, beberapa pekerja datang membantu membersihkan kekacauan. Tao Zhiyan bersusah payah membuang sampah, mengepel lantai, lalu mengambil karpet untuk dicuci oleh Bibi Zhao.
Setelah dicuci, ia langsung mengeringkannya, kemudian mengangkat meja teh dan menggelar karpet kembali tanpa mengeluh sedikit pun.
Selesai semua itu, Tao Zhiyan menutup mata dengan putus asa. Saat ini, satu-satunya harapannya adalah mengajak semua orang agar tak banyak membaca novel drama bos kaya.
Setiap satu novel bos kaya terbit, ada satu pekerja tak berdosa yang menderita! Tak ada permintaan, tak ada penderitaan. Semoga di surga tak ada bos kaya!
Dengan tubuh lelah, Tao Zhiyan menjatuhkan diri ke ranjang. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia terdiam sejenak, menatap langit-langit, baru kemudian mengambil ponsel.
[Bai Ruan: Kak, dia mengirim pesan padaku.]
[Bai Ruan: [Riwayat obrolan]]
Tao Zhiyan membuka riwayat obrolan tersebut.
[Y.: Ruanruan, kenapa malam ini tidak pulang?]
[Y.: Di kampus ya? Mau aku jemput?]
Melihat pesan itu, Tao Zhiyan tak tahan untuk membalikkan mata. Tebal muka orang ini benar-benar luar biasa.
Selesai menggerutu, ia melanjutkan membaca.
[Y.: Ruanruan, aku benar-benar mencintaimu makanya memberimu kesempatan ini. Kalau kau tidak mau, takkan ada lagi kesempatan. Pikirkan baik-baik.]
Tao Zhiyan mencibir dingin. Sampai sejauh ini pun, ia masih bersikap tinggi hati. Masih saja mengira Bai Ruan tak bisa hidup tanpanya?
[Bai Ruan: Kak, aku harus balas apa?]
Jangan dibalas.
Sekarang adalah waktu yang tepat membuat si bajingan itu merasa was-was.
[Taozi: Jangan balas dulu.]
[Taozi: Kau tidur jam berapa?]
[Bai Ruan: Malam ini agak telat, soalnya tugas kuliah banyak tertinggal karena kemarin izin. Besok dosen pembimbing juga akan mengajakku mengajar kelas terbuka.]
Tao Zhiyan berpikir sejenak, lalu mengetik.
[Taozi: Kalau begitu, balas sebelum tidur.]
[Taozi: Balas saja: Aku tidak rela, lalu tarik kembali.]
[Taozi: Kalau Feng Yan membalas, kau balas lagi: Bukan urusanmu.]
[Bai Ruan: Oke, baik.]
Tao Zhiyan terpaku sejenak, lalu mengetik lagi.
[Taozi: Hari ini bahagia?]
Bai Ruan sebenarnya sedang mengerjakan PPT. Melihat pesan itu, ia tertegun, bibirnya menekan rapat.
Mendadak matanya memerah.
Setelah mengirim pesan tadi, Tao Zhiyan merasa pertanyaannya kurang tepat dan hendak menarik kembali, namun...
[Bai Ruan: Bahagia~ / muter-muter / muter-muter / muter-muter]
Kotak pesan menunjukkan [Sedang mengetik...].
Bai Ruan menunggu lima menit, baru pesan dari seberang datang.
[Taozi: /peluk/ peluk]
Bai Ruan menghela napas lega, meletakkan ponsel dan kembali mengerjakan PPT. Sesuai saran Tao Zhiyan, ia baru membalas Feng Yan menjelang tidur.
Ia mengetik “Aku tidak rela”, lalu segera menarik pesannya kembali.
Saat itu sudah pukul dua tiga puluh dini hari, Bai Ruan mengira lawan bicaranya sudah tidur, tapi tak disangka, pesan baru saja ditarik, balasan dari Feng Yan langsung masuk, satu demi satu, semakin lama semakin tajam.
[Y.: Kau di mana?]
[Y.: Malam-malam begini belum tidur, kau di mana?]
[Y.: Bai Ruan, kau benar-benar ingin putus?]
[Y.: Jawab! Malam-malam belum tidur kau sedang apa? Dengan siapa? Dengan dosen pembimbingmu itu? Bai Ruan, sebenarnya apa yang kau inginkan??]
Bai Ruan membaca pesan yang datang seperti ombak, tertegun sejenak, lalu mendadak ingin tertawa.
Sebelumnya, Feng Yan tak pernah menunggu pesannya, apalagi membalas secepat itu. Bahkan ketika Bai Ruan marah, Feng Yan tak pernah bertanya, paling-paling hanya membelikan sepatu atau kue yang tidak terlalu ia suka, sekadar untuk menenangkan.
Kali ini, hati Bai Ruan benar-benar terasa dingin.
[Bai Ruan: Bukan urusanmu.]
Seolah-olah batu besar jatuh ke dalam air, Feng Yan benar-benar kehilangan kendali, kata-katanya makin pedas, bahkan mulai menghina Bai Ruan.
[Y.: Kau tak punya malu? Tak sabar ingin jadi murahan?]
[Y.: Dosenmu itu sudah umur empat puluh lima puluh kan? Itu saja kau masih bisa?]
[Y.: Kau kira aku benar-benar mau peduli padamu? Bai Ruan, kau terlalu memandang tinggi dirimu sendiri!]
...
Pesan-pesan itu sama sekali tak ingin Bai Ruan baca, ia langsung tangkap layar lalu kirim ke Tao Zhiyan, setelah itu mengaktifkan mode jangan ganggu dan tidur.
Tao Zhiyan sudah tahu cara ini pasti berhasil, tapi tak menyangka efeknya sehebat itu.
Pagi-pagi sekali, Feng Yan bahkan tidak masuk kantor dan langsung bersiap ke kampus untuk menghadang Bai Ruan.
Tao Zhiyan khawatir bakal terjadi sesuatu, ia menerima kunci mobil dari sopir dengan senyum ramah, “Hari ini mungkin Tuan Muda akan pulang, biar aku saja yang menemani Adik Kedua.”
Sopir tanpa pikir panjang langsung setuju. Wajah Feng Yan yang muram seperti itu, menakutkan sekali, hanya orang bodoh yang mau ikut.
Tao “Si Bodoh” Zhiyan mengantar Feng Yan ke kampus.
Namun, Universitas Kota sekarang tidak lagi terbuka untuk umum, mahasiswa nonaktif dilarang masuk, siapa pun yang bicara tak akan berpengaruh.
Feng Yan kehilangan kesabaran, ia langsung memanjat tembok belakang.
Melihat Feng Yan masuk, Tao Zhiyan segera mengirim pesan ke Bai Ruan.
[Taozi: Feng Yan sudah masuk ke kampus, kau bawa headset, kan?]
Bai Ruan baru membalas setelah beberapa saat:
[Bai Ruan: Bawa, kok.]
[Bai Ruan: Maaf ya, Kak, aku baru selesai kelas, bukan sengaja balas lambat.]
Tao Zhiyan tertegun membaca pesan itu. Dasar bajingan, pasti sering menekan mental Bai Ruan! Kalau tidak, kenapa hanya telat membalas pesan saja harus minta maaf.
[Taozi: Oke, nanti kau lakukan sesuai instruksiku.]
[Bai Ruan: Baik, terima kasih, Kak.]
Tao Zhiyan memasang headset, lalu dengan ringan melompat naik ke tembok, melompat masuk, mengikuti Feng Yan ke gedung perkuliahan.
Saat itu Bai Ruan baru saja selesai kelas terbuka, berjalan di lorong, berdiskusi dengan dosen pembimbing.
Ia memeluk buku, menundukkan kepala sedikit, ekspresi penuh perhatian. Di lorong yang ramai, Bai Ruan tak begitu mendengar jelas, jadi ia sedikit mendekat ke arah dosen.
Ketika Feng Yan tiba, ia melihat adegan itu dan wajahnya langsung berubah.
Ia segera melangkah maju, meraih pergelangan tangan Bai Ruan dan menariknya ke belakang dirinya.