Bab 34: Pengurus Tao Menjadi Peringkat Kedua di Daftar Pencarian Terpopuler
Ketika mendengar kalimat itu, Feng Yiqian sempat tertegun, lalu wajahnya seketika memerah hebat. Ia sudah tak berminat lagi berbasa-basi dengan para wartawan, berbalik, membuka pintu, lalu mendorong Tao Zhiyan masuk ke dalam. Setelah itu ia melambaikan tangan, “Sudah, sudah! Tutup toko! Pulang! Aku tak mau jawab apa-apa lagi!”
Pintunya pun dibanting hingga berbunyi keras.
Malam itu, ia pun langsung jadi perbincangan hangat di media sosial:
#PengurusFengDewaKecantikanYunaniKuno#
#FengYiqianBaruBelumPernahDibuka#
Begitu wawancara itu tersebar, netizen pun ramai-ramai berdatangan. Ada yang menganggap lucu, ada pula yang mencaci Feng Yiqian cari sensasi tanpa malu, dan topiknya pun semakin panas.
“Ngakak, maksud baru belum pernah dibuka itu Feng Yiqian masih perjaka, ya?”
“Hahaha, mukanya kayak kupu-kupu, tiap hari sok jadi playboy, eh ternyata masih perjaka!”
“Menurutku tagar itu kurang pas, harusnya diganti jadi Feng Yiqian dewa perjaka Yunani kuno!”
“Hah? Kalian jangan ngaco deh, cuma karena pengurus bilang dia perjaka, langsung percaya?”
“Udah ah, jangan bela dia. Foto dia tidur bareng fans aja udah sempat trending, kan? Terus suara dia ngajak fans ketemuan juga udah kayak biasa banget, jelas sering lakuin itu!”
“Orang-orang yang menjadikan ini bahan hiburan, antara bodoh atau jahat! Tidur sama fans itu masalah berat, tahu enggak? Belum lagi isu narkoba. Pokoknya Feng Yiqian brengsek, mati aja sana!”
“Netizen zaman sekarang, orang baru klarifikasi dikit langsung dipercaya, enggak pakai otak.”
“Jangan terlalu bucin deh, tipe kayak Feng Yiqian itu harusnya dihancurin sekalian!”
...
...
Di meja makan, Feng Yiqian sibuk membaca komentar, alisnya sejak tadi tak kunjung mengendur.
Saat Tao Zhiyan datang membawa makanan dan meletakkannya di depan mereka, Feng Yiqian menepuk meja, menunjuk Tao Zhiyan, “Kakak!! Lihat dia!!”
Tao Zhiyan kaget sampai buru-buru menarik tangannya, menatap bingung.
Siapa? Aku?
Feng Ze yang sedang berpikir pun ikut tersentak karena suara tepukan itu.
Feng Ze menarik napas dalam, lalu menatap dingin, “Kau sebaiknya memang ada urusan.”
Tapi Feng Yiqian sama sekali tak menyadari suasana hati Feng Ze, malah semakin bersemangat, “Memang ada! Aku ada urusan!!”
“Kakak! Pengurus Tao ngebully aku, dia ngomong di depan banyak orang kalau aku masih baru belum dibuka!” Feng Yiqian mengacungkan ponsel ke depan Feng Ze, jemarinya cepat menggulir layar, mengadu, “Lihat nih! Sampai trending! Sekarang mereka semua manggil aku perjaka kecil!!!”
Feng Ze memandang Feng Yiqian, “Bukankah memang begitu?”
“Aku memang begitu! Tapi kan enggak bisa diumbar gitu! Ini soal harga diri laki-laki!” Wajah Feng Yiqian sungguh-sungguh, malah balik bertanya, “Kalau orang-orang manggil kau perjaka tua, kau senang?”
Feng Ze: “...”
Braak!
Feng Ze meletakkan sumpit di atas meja.
Tao Zhiyan buru-buru menengahi, “Tuan Muda Ketiga, tadi para wartawan itu nanya, jadi aku bantu klarifikasi buatmu.”
“Tetap saja, enggak bisa ngomong begitu tentang aku!” Feng Yiqian menarik tangannya, lalu meletakkan kedua tangan di meja, menatap Feng Ze, “Kakak, aku enggak pernah minta apa-apa darimu, tapi hari ini, tolong bantu aku hapus trending itu!”
Baru saja disebut perjaka tua, jelas Feng Ze tak akan membantu.
Feng Yiqian terluka oleh sikap dingin Feng Ze, nyaris menangis, kembali menunduk dan membaca trending.
Jarinya mengetuk layar ponsel sampai berbunyi “krek krek”, Feng Yiqian menghela napas, semakin lama semakin sedih, “Dibilang perjaka sih enggak apa-apa.”
“Tapi kenapa trending pengurus Tao lebih tinggi dari aku? Aku cuma urutan enam, dia malah kedua?” Semakin dipikir, Feng Yiqian semakin pilu, menengadah meratapi, “Apa aku memang sudah nggak laku lagi!”
Tao Zhiyan dalam hati berkata, tadi kau di depan wartawan mengaku sendiri sudah nggak laku, kenapa sekarang malah baper?
Feng Ze yang sedari tadi diam, akhirnya bereaksi. Ia menatap Tao Zhiyan, berkata, “Hubungi asisten, hapus trending itu.”
“Kakak!” Feng Yiqian langsung duduk tegak, tersenyum lebar, duduk meliuk-liuk manja di kursi, “Kakak~ Aku sudah tahu kau paling baik~ Aku sebe—”
Feng Ze sama sekali tak peduli pada ocehannya.
Hanya menatap Tao Zhiyan, lalu berkata pelan, “Hapus yang tentangmu itu.”
Feng Yiqian langsung terdiam, “???”
Tao Zhiyan agak terkejut, “Yang tentang saya?”
Feng Ze mengangguk.
Tao Zhiyan melirik Feng Yiqian, “Kalau yang tentang Tuan Muda Ketiga?”
“Iya, iya, punyaku gimana?” Feng Yiqian menyorotkan tatapannya pada Feng Ze.
Feng Ze menatapnya sekilas, lalu tersenyum sinis, “Biar saja, biar lenyap sendiri, perjaka kecil.”
Mata Feng Yiqian membelalak, “!!!?”
Serius, perjaka tua satu ini pendendam sekali, ya?
Benar-benar kapitalis dingin tak berperasaan!!
*
Pada akhirnya, Feng Ze tetap menghapus tagar buruk tentang Feng Yiqian.
Sekalian ia menyuruh orang untuk mencari tahu kenapa sumber daya Feng Yiqian turun drastis.
Meski ia bukan bagian dari dunia hiburan, tapi dengan posisinya, menanyakan hal itu bukan perkara sulit.
Orang di seberang bicara setengah hati, “Awalnya semua orang kira Xiao Qian punya backing-an kamu, tapi setelah tahu kamu enggak urus, ya makin sedikit yang mau menjilat.”
Saudara-saudara keluarga Feng memang kurang bergaul, selain Feng Cheng si bungsu yang dulu menumpang hidup di rumah, yang lain sudah lama mandiri.
Khususnya Feng Yiqian, ia sangat anti pakai jalur belakang, berkali-kali menegaskan tak mau Feng Ze membantunya dapat proyek, ia ingin mengandalkan kemampuannya sendiri.
Padahal Feng Yiqian tak kalah hebat, dulu juga diterima di Akademi Seni Kekaisaran dengan peringkat satu.
Aktrinya mumpuni, modal tampang pun dapat warisan dewa. Ia mewarisi wajah ibunya, postur ayahnya, bahkan jalan-jalan saja sudah sering ditawari jadi bintang oleh pencari bakat.
“Hanya karena itu?” Feng Ze merasa alasan itu kurang masuk akal.
“...Ah, ya, bukan cuma itu, ada hal lain juga…” Orang di seberang ragu sejenak, lalu akhirnya menceritakan semuanya.
Selesai mendengar penjelasan, Feng Ze menutup telepon, matanya jadi gelap.
*
Keesokan paginya, Feng Ze keluar untuk bekerja, sementara Feng Yiqian berdiri di depan cermin mematut diri.
“Aneh, kok enggak kelihatan Kakak Kedua?” gumamnya sambil membenahi rambut.
Tao Zhiyan yang mendengar itu berkedip.
Feng Yan pergi mencari Bai Ruan.
Kota metropolitan sebesar ini, mencari seseorang yang memang ingin bersembunyi itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami, mustahil. Apalagi Bai Ruan sebentar lagi akan ke luar negeri.
Tao Zhiyan menggigit bibir.
Entah sampai kapan Feng Yan akan mencari, buku titipan Bai Ruan pun belum sempat ia berikan.
“Oh iya, Pengurus Tao,” Feng Yiqian berbalik, menatap Tao Zhiyan, mengangkat alis dan tersenyum percaya diri, “Nanti antar aku tes urine, ya? Sebagai imbalan, hari ini aku ajak nonton festival musik.”
Tao Zhiyan belum pernah nonton festival musik, ia pun bertanya santai, “Festival musik apa?”
“Ya, semacam konser musik dansa gitu,” Feng Yiqian pun bingung menjelaskan, “Pokoknya aku tampil bareng beberapa penyanyi lain, masing-masing nyanyi dua-tiga lagu, suasananya seru banget.”
“Mau ikut?”
Sejak datang ke dunia ini, selain ke ruang rahasia waktu itu, Tao Zhiyan hampir tak pernah pergi bersenang-senang. Ia tak punya banyak teman, tak tahu harus ke mana, setiap hari hanya kerja dan pulang, sudah terlalu lama terkungkung.
Mendengar undangan Feng Yiqian, hatinya jadi senang, ia pun mengangguk, “Baik, aku ikut.”