Apakah kau menyukaiku?
Lampu-lampu kota mulai menyala, satu per satu cahaya jalanan melintas di luar jendela mobil, gemerlap namun singkat.
Ye Zhi bersandar di jok, matanya menatap keluar jendela, pancaran cahaya yang indah berkelebat di matanya, tapi yang tersembunyi di sana adalah kegundahan hati.
Kenapa Qianqian merasa iri pada hubunganku dengan Sui Xiaoyi? Kenapa Niya bilang, nanti aku akan mengerti?
Jika membandingkan hubungan Qianqian dan Qin Shen dengan aku dan Sui Xiaoyi, perbedaannya hanya karena aku dan Sui Xiaoyi tumbuh bersama sejak kecil, kan? Tapi Qianqian bilang, bukan hanya karena itu.
Kalau begitu, sisanya... Qianqian suka pada Qin Shen. Lalu aku dan Sui Xiaoyi? Apa di antara kami ada yang saling menyukai?
Sui Yi duduk di samping Ye Zhi, diam-diam meliriknya beberapa kali. Sui Yi juga tak tahu apa yang sedang dipikirkan Ye Zhi, masa gara-gara ia tadi membentaknya lewat telepon?
“Yezi?” Sui Yi mencoba memanggil, mendekat sedikit ke arah Ye Zhi.
Ye Zhi tidak menjawab, masih menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.
Sui Yi mengerutkan kening, ia tidak suka diabaikan. Setelah berpikir sejenak, ia mengulurkan tangan, melambaikan di depan wajah Ye Zhi.
“Eh,” Ye Zhi mengeluh jijik, menangkap pergelangan tangan Sui Yi dan dengan kesal bertanya, “Ada apa?”
Barulah Sui Yi bernapas lega, untung saja Ye Zhi tidak marah.
“Kamu lagi melamun apa? Dari tadi dipanggil, gak nyaut juga,” Sui Yi pura-pura merajuk.
Ye Zhi tiba-tiba menatap Sui Yi dengan wajah serius dan melontarkan pertanyaan yang tak terduga, “Sui Xiaoyi, kamu suka padaku gak?”
Suasana di dalam mobil mendadak jadi aneh, udara seakan membeku.
“Apa?”
Sui Yi merasa pikirannya kosong, detak jantungnya melonjak cepat, seakan tubuhnya lumpuh, tak tahu harus menjawab apa. Apa... dia ketahuan?
Apa Yezi juga suka padaku?
Kalau tidak, kenapa Yezi bertanya seperti itu?
...
“Astaga! Jangan-jangan Yezi suka Xiaoyi?” Suara Ming Jinjia dari kursi kemudi depan terdengar kaget dan senang.
Ye Zheng yang mendengarnya, matanya pun langsung berubah lebih serius.
“Suka dia?” Ye Zhi memandang Sui Yi dari atas ke bawah, lalu tiba-tiba muncul ekspresi jijik, “Mana mungkin?”
Sui Yi langsung cemberut, awalnya kecewa, lalu jadi tidak terima, “Kenapa memangnya? Aku gak cukup baik? Waktu SMP juga ada yang nembak aku, tahu!”
“Serius?” Ye Zhi menatap Sui Yi dengan tatapan tak percaya.
“Tentu saja serius! Apa aku perlu bohong sama kamu?” Sui Yi menjawab dengan percaya diri.
“Tapi kenapa aku gak pernah dengar kamu pacaran waktu SMP?” Ye Zhi bertanya seadanya.
Sui Yi mengibaskan tangan, “Jelas aja, semuanya aku tolak.”
Ye Zhi mendengus, “Wah, ternyata kamu pilih-pilih juga ya.”
Sui Yi menoleh ke Ye Zhi, lalu mengalihkan pandangan, berdeham, “Sebenarnya... biasa aja sih.”
“Ya sudah, itu kan urusan kamu. Lagi pula, tadi kamu belum jawab pertanyaanku. Kamu suka padaku gak?” Ye Zhi tiba-tiba jadi ngotot, terus mengejar jawaban dari Sui Yi.
Sui Yi langsung terdiam. Ini... sekarang bukan waktu yang tepat untuk bilang, kan? Tadi Yezi juga sudah bilang dia gak suka padaku. Kalau aku bilang sekarang, jangan-jangan malah jadi gak bisa berteman lagi. Lagipula, Zheng-ge juga ada di sini... Sudahlah, mending gak usah bilang.
“Kamu aja gak suka aku, mana mungkin aku suka kamu?” Sui Yi menjawab seperti anak kecil yang ngambek.
“Tuh kan, kamu gak suka aku, aku juga gak suka kamu. Mereka berdua itu sebenarnya kenapa sih... apa yang harus diiriin...” Ye Zhi benar-benar tidak mengerti.
“Iri kenapa? Mereka? Siapa?” Sui Yi mendekat, penasaran.
“Itu...” Ye Zhi awalnya ingin bicara, tapi teringat peringatan Yuan Qian dan janjinya pada dirinya sendiri, akhirnya ia menahan ucapan itu.
Ye Zhi mengibaskan tangan, “Sudahlah, gak penting.”
Setelah itu, Ye Zhi kembali memalingkan wajah, menatap ke luar jendela.
“Eh! Kok gitu aja sih?” Sui Yi kelihatan kecewa, tapi kalau Ye Zhi tidak mau bicara, mau dipaksa juga percuma.
Sui Yi menimbang-nimbang, ingin bertanya lagi, tapi tiba-tiba Ye Zheng berkata dingin, “Turun, waktunya makan.”
“Wah! Makan!” Mata Ye Zhi langsung berbinar, membuka pintu dan berlari menuju restoran barbeque, semua soal suka atau tidak tadi langsung lenyap dari pikirannya. Kini di matanya hanya ada daging panggang!
Melihat punggung Ye Zheng dan Ye Zhi, Sui Yi yang baru turun dari mobil benar-benar merasa kesal.
Ming Jinjia mengunci mobil, lalu berjalan ke arah Sui Yi, merangkul pundaknya sambil kepo, “Kenapa? Ada apa?”
“Gak ada apa-apa,” Sui Yi memalingkan wajah, enggan mengakui.
“Sudahlah, aku juga pernah muda, paham kok,” Ming Jinjia menepuk dadanya, lalu mendekat penuh rasa ingin tahu, “Jadi, kamu beneran gak suka sama Yezi?”
“Gak suka...” Sui Yi menjawab dengan suara lemah.
“Kalau gitu, aku penasaran kenapa Yezi tiba-tiba nanya kamu suka dia atau enggak,” Ming Jinjia mengusap dagu, berpikir, “Kupikir Yezi nanya begitu karena dia juga suka kamu, eh dia malah bilang gak suka, lucu juga ya.”
“Jadi, Kak Jinjia tahu kenapa Yezi tiba-tiba tanya begitu?” Sui Yi seperti menemukan penyelamat, langsung menempel pada Ming Jinjia.
Ming Jinjia tersenyum kaku, “Aku mana tahu, kamu kan yang tiap hari bareng Yezi? Kalau kamu aja gak tahu, apalagi aku?”
Sui Yi manyun, “Aku juga gak selalu di samping Yezi! Tadi dia nanya gitu, aku pikir...” Kukira dia mulai sadar perasaannya, ternyata malah bikin aku kecewa.
“Kira apa?” Ming Jinjia tersenyum.
“...” Sui Yi menunduk, keras kepala, “Gak ada apa-apa.”
Ming Jinjia menepuk pundak Sui Yi, “Sudah lah, jangan dipikirin.”
“Gimana gak dipikirin!” Sui Yi mendadak bersemangat.
Ming Jinjia hanya bisa menghela napas, “Santai aja, masih banyak waktu, masih panjang perjalanan kalian.”
Masih panjang perjalanan, benarkah? Pertanyaan Ye Zhi hari ini membuat Sui Yi bingung. Kalau Ye Zhi bertanya, pasti karena penasaran. Kenapa dia penasaran? Apa ada yang mulai membicarakan soal perasaan di sekitarnya? Atau... ada sesuatu yang lain, yang sulit dikatakan?
“Tapi aku harus ingatkan kamu, dari pertanyaan Yezi tadi saja, sudah kelihatan kok, dia ke kamu itu mungkin baru sedikit di atas teman biasa. Sedangkan kamu...” Sudut bibir Ming Jinjia terangkat, memperlihatkan senyum penuh arti pada Sui Yi.
“Aku kenapa?”
Ming Jinjia sendiri juga bingung harus menjelaskan bagaimana. Ia hanya merasa, perasaan Sui Yi ke Ye Zhi sekarang sangat sederhana, lebih ke arah ingin memiliki. Apakah rasa memiliki itu bisa disebut suka, Ming Jinjia pun tak berani memastikan.
Jadi Ming Jinjia hanya bisa berkata samar, “Kalian masih muda, wajar kalau ada perasaan lain. Tapi, aku harus ingatkan. Karena kalian masih sekolah, lakukan semuanya dengan batas.
Lagi pula, ada kakak Yezi, Azheng. Dia belum ikut campur urusan kalian, karena kamu belum melanggar batasnya. Inget, kalian masih pelajar. Apalagi pelajar SMA! Jangan macam-macam! Kalau sampai melanggar, Azheng yang akan urus kamu, aku gak akan bantu.”
Petuah Ming Jinjia penuh perhatian, seakan sudah menganggap Sui Yi benar-benar suka pada Ye Zhi.
“Terus, aku harus gimana?” Sui Yi menunduk, murung.
“Sudah dibilang, perjalanan kamu dan Yezi masih panjang,” Ming Jinjia menenangkan Sui Yi.
Sui Yi hanya bisa menghela napas dalam hati: Semoga aku dan Yezi benar-benar masih punya perjalanan panjang...