Kegelisahan
Setibanya di rumah kontrakan milik Ye Zheng, Sui Yi baru saja menyalakan lampu, tapi Ye Zhi sudah berlari masuk ke dalam ruangan dan mulai mengobrak-abrik barang-barang.
“Kamu nggak perlu seburu itu, kan? Kan aku juga nggak bakal mengambilnya darimu,” ujar Sui Yi sambil tertawa geli dan menggelengkan kepala.
“Tentu saja aku buru-buru! Aku khawatir nanti bajunya beda antara yang dipajang di toko sama aslinya. Aku harus lihat sendiri gimana bajunya! Apalagi ini untuk karnaval Hari Nasional! Banyak cosplayer terkenal yang bakal datang, bahkan banyak artis juga akan hadir!” Begitu bicara soal festival anime, Ye Zhi tampak sangat bersemangat.
“Kalau segitu urgent-nya, kenapa nggak sekalian kirim ke rumahmu saja? Jadi kamu nggak perlu repot-repot ke tempat Zheng Ge buat ganti baju,” kata Sui Yi sembari mengganti sepatu dan santai melangkah ke ruang tamu.
Ye Zhi menarik lengan Sui Yi dengan cemas, “Aduh, kamu kan tahu sendiri gimana ayahku, orangnya kolot banget! Menurut dia cosplay itu cuma gaya-gayaan nggak jelas. Kalau aku kirim ke rumah, pasti langsung dibuang sama ayahku! Udah, nggak usah dibahas. Cepat, keluarkan bajunya!”
Sui Yi mengangguk santai, lalu mengambil paket dari laci di bawah meja kopi.
Ye Zhi dengan penuh sukacita langsung meraih paket itu dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Sui Yi hanya bisa tersenyum tak berdaya melihat punggung Ye Zhi yang tergesa-gesa. Ia berjalan ke depan pintu kamar mandi, bersandar di kusen dan bertanya, “Ngomong-ngomong, apa Zheng Ge tahu kamu bakal cosplay di festival anime saat libur nasional?”
“Tentu tahu! Kalau nggak, mana berani aku kirim baju ke sini,” jawab Ye Zhi santai.
Mendadak Ye Zhi teringat sesuatu, “Ngomong-ngomong, kapan kamu pulang ke rumah? Kamu udah seminggu tinggal di sini, loh.”
Sui Yi pura-pura kesal, “Kenapa? Zheng Ge aja belum ngusir aku, kok kamu udah duluan?”
“Bukan gitu! Aku cuma nanya, aku takut Bibi Minghui khawatir sama kamu,” jawab Ye Zhi jujur.
Sui Yi mendengus, “Ah, sudahlah, dia justru senang kalau aku nggak di rumah.”
“Jangan gitu, Sui Xiao Yi, jangan terlalu bermusuhan sama Bibi Minghui, ya? Menurutku dia orangnya baik, lembut, perhatian, juga ramah,” puji Ye Zhi tulus.
“Itu cuma pura-pura aja,” Sui Yi meremehkan.
Ye Zhi sedikit kehabisan kata. Ternyata memang butuh waktu untuk mengubah pandangan seseorang.
Setelah mengenakan bawahan, Ye Zhi membelakangi cermin, berusaha menarik resleting baju bagian atas yang tersembunyi. Tapi posisinya sulit dan ia sudah berusaha lama, resleting itu tetap macet di tengah.
Akhirnya, Ye Zhi menyerah, lalu meminta bantuan Sui Yi, “Sui Xiao Yi, kamu masih di depan pintu, kan?”
“Iya, ada apa?” tanya Sui Yi, bingung.
“Masuk sebentar,” jawab Ye Zhi tanpa pikir panjang.
“Apa?!” Sui Yi langsung terkejut, matanya membelalak tak percaya menatap pintu kaca buram, jantungnya berdetak makin kencang.
Ye Zhi melirik licik, “Jangan-jangan kamu mikir yang aneh-aneh, ya?”
Sui Yi berusaha tetap tenang, menutup mulut dan pura-pura batuk, “Mana ada aku mikir aneh-aneh?”
Untung Ye Zhi nggak di luar, kalau tidak pasti sudah melihat telinga Sui Yi yang merah padam dan tatapannya yang gelisah.
Ye Zhi mendesah, “Jangan aneh-aneh, aku cuma nggak bisa narik resleting, makanya minta tolong.”
Sui Yi berdeham, “Aku nggak mikir aneh-aneh, udah, ayo buka kuncinya.”
“Ya.” Setelah itu terdengar suara kunci kamar mandi diputar dari dalam.
Entah kenapa, Sui Yi tetap merasa gugup. Ia menarik napas panjang, lalu meletakkan tangan di gagang pintu. Ia menatap lurus ke depan, samar-samar bisa melihat bayangan Ye Zhi di balik pintu kaca buram. Jantungnya kembali berdebar tidak beraturan.
Setelah menarik napas dalam-dalam lagi, Sui Yi akhirnya menekan gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Begitu pintu terbuka, Sui Yi refleks menahan napas.
Ye Zhi sudah berdiri membelakanginya, bajunya hampir selesai dipakai, tinggal resleting bagian belakang yang belum tertarik.
Sui Yi tertegun menatap punggung Ye Zhi. Hari ini Ye Zhi cosplay sebagai Shilan dari serial Bulan Terang di Dinasti Qin, lengkap dengan kostum khas Gunung Shu. Seragamnya bernuansa ungu, sangat mencolok. Potongan perut yang terbuka menonjolkan pinggang ramping Ye Zhi, bagian bawah baju dihiasi pelat perak yang berkilauan di bawah cahaya lampu.
Cahaya alami yang lembut dari kamar mandi jatuh di kulit Ye Zhi, membuat kulitnya tampak makin putih. Kalau dilihat seksama, bahkan ada bulu-bulu halus di permukaan kulitnya.
Sui Yi terkesima, baru sadar bahwa Ye Zhi sudah bukan anak kecil dalam ingatannya dulu.
Ye Zhi menunggu cukup lama, tapi Sui Yi tak kunjung mendekat. Ia menoleh heran, “Kok belum bantuin narik resleting?”
Begitu berbalik, Ye Zhi langsung bertatapan dengan mata panas Sui Yi. Hanya sesaat, entah kenapa, Ye Zhi pun jadi salah tingkah, wajahnya ikut memerah. Ia segera berpaling dan membelakangi Sui Yi lagi.
“Kamu... cepat dong! Aku kedinginan!” Ucapan Ye Zhi mulai terbata-bata.
Barulah Sui Yi sadar, buru-buru melangkah untuk menarik resleting baju Ye Zhi sampai atas, lalu melepas jaket kemejanya dan menyampirkannya ke pundak Ye Zhi.
“Sudah. A-aku keluar dulu,” Sui Yi ikut terbata-bata.
Setelah itu, Ye Zhi mendengar suara pintu kamar mandi ditutup dari belakangnya.
Ye Zhi terpaku sebentar, tangannya menggenggam erat jaket yang masih hangat. Ia perlahan mundur selangkah, bersandar pada pintu buram, lalu perlahan-lahan melorot dan jongkok di lantai, matanya kosong menatap dinding keramik di depannya.
Sui Yi yang keluar juga terdiam, ia bersandar di pintu lalu ikut melorot duduk. Kepalanya terbenam di antara lutut, kemudian ia mengacak-acak rambutnya dengan kesal.
Ya ampun! Tadi aku ngapain sih?!
Keduanya memikirkan hal yang sama.
...
Tak tahu berapa lama, akhirnya Ye Zhi keluar dari kamar mandi.
Dengan baju di pelukan, Ye Zhi melangkah keluar dan melihat Sui Yi duduk di sofa bermain ponsel. Ia tertegun sejenak, bayangan tatapan Sui Yi di kamar mandi tadi kembali muncul di kepalanya.
Sebenarnya, seluruh pikiran Sui Yi pun masih terpaku pada saat ia membantu Ye Zhi menarik resleting. Baru setelah mendengar suara gagang pintu kamar mandi, ia buru-buru mengambil ponsel, pura-pura bermain supaya tidak canggung di depan Ye Zhi.
“Bajunya... tolong simpanin baik-baik ya,” ujar Ye Zhi kikuk, meletakkan baju di atas sofa.
“Iya.” Sui Yi tetap menunduk, padahal pandangannya tak benar-benar tertuju pada layar ponsel.
Ye Zhi merasa suasana di ruang tamu jadi canggung, keduanya bingung harus berkata apa.
“A-aku ke dapur, ambil air dulu,” Ye Zhi mencari alasan untuk kabur.
“Iya,” Sui Yi tetap bersikap tenang.
Baru setelah Ye Zhi masuk ke dapur, Sui Yi menghela napas lega, meletakkan ponsel dan merebahkan kepala ke sandaran sofa, menatap kosong ke langit-langit, pikirannya kacau balau.
Belum sempat menenangkan diri, tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dari dapur, “Aaa!!!”
Jantung Sui Yi berdebar keras, ia langsung duduk tegak menatap ke dapur. Belum sempat bertanya, Ye Zhi sudah berlari keluar dengan panik.
Sui Yi cepat berdiri dan bertanya, “Ada apa?”
Ye Zhi langsung bersembunyi di belakang Sui Yi, kedua tangannya mencengkeram lengan Sui Yi, seluruh tubuhnya gemetar, matanya penuh ketakutan menatap ke arah pintu dapur.
“T-tikus... Ada tikus di dapur!” Ye Zhi membungkuk, suaranya bergetar hebat.
“Tikus?” Sui Yi mengikuti arah pandangan Ye Zhi ke pintu dapur.
“Tenang, nggak apa-apa, tikusnya pasti sudah kabur,” Sui Yi menepuk punggung tangan Ye Zhi untuk menenangkannya.
Ye Zhi memang pemberani dalam banyak hal, tapi kalau soal tikus, terutama yang ukurannya sedang, ia ketakutan setengah mati. Mungkin gara-gara ekornya yang panjang, pokoknya bikin merinding.
“Tadi aku ke dapur mau ambil air. Waktu lampu dinyalakan, awalnya nggak ada apa-apa. Begitu aku mau ambil teko, tiba-tiba seekor tikus melompat dari atas kompor! Serem banget! Serem banget!” Ye Zhi masih gemetaran, ketakutan.
Sui Yi mengangguk, “Iya, iya, aku paham, santai, nggak apa-apa.”
“Aku ambilin air buat kamu, kamu duduk di sini istirahat dulu,” ujar Sui Yi sambil menarik Ye Zhi ke sofa, menekan pundaknya agar ia duduk.
Setelah duduk, Ye Zhi spontan menarik ujung baju Sui Yi, memelas, “Aku takut...”
Sui Yi menunduk memandang Ye Zhi, tak tahu harus berkata apa.
“Jadi, kamu masih haus?” tanya Sui Yi.
Ye Zhi menggeleng kuat-kuat seperti mainan kepala goyang.
Sui Yi menghela napas, “Baiklah, aku temani di sini saja.”
“Iya, iya!” Ye Zhi mengangguk cepat.
Duduk berdampingan, Ye Zhi akhirnya merasa sedikit tenang.
Namun ketenangan itu tak bertahan lama, tiba-tiba terdengar suara “klik”, dan ruangan langsung gelap gulita.
“Ah!” Ye Zhi seperti kelinci yang terkejut, tubuhnya bergetar hebat.
“Nggak apa-apa,” Sui Yi refleks memeluk Ye Zhi, melindunginya.
Ye Zhi panik menoleh ke kanan kiri menatap ruangan yang gelap, lalu berkata terbata, “Ma-mati lampu?”
Sui Yi meraba sofa, menemukan ponselnya, lalu menyalakan senter sehingga ruangan sedikit terang, “Sepertinya mati lampu, aku keluar sebentar cek, ya.”
Sambil berkata begitu, Sui Yi bangkit hendak melihat apakah lampu lorong masih menyala.
“Aku ikut!” Ye Zhi langsung berdiri dan mengikuti Sui Yi, menggenggam ujung bajunya erat-erat, tak berani sendirian di ruang gelap. Ia masih sangat ketakutan.
Sui Yi tersenyum tipis, mengizinkan dengan isyarat. Biasanya, Sui Yi pasti akan menggoda Ye Zhi, tapi hari ini terlalu banyak kejadian, ia benar-benar tak punya mood untuk bercanda. Lagi pula, sesekali diandalkan oleh Ye Zhi, rasanya cukup menyenangkan bagi Sui Yi.
Setelah pintu kamar dibuka, cahaya dari lorong langsung menerangi Sui Yi dan Ye Zhi, keduanya sedikit tertegun.
Ye Zhi mengintip dari balik punggung Sui Yi, heran, “Kok lorongnya masih ada listrik?”
Sui Yi berpikir sejenak, lalu mengambil kartu listrik dari laci paling atas lemari sepatu di depan pintu. Ia keluar ke tangga, membuka kotak listrik dan memasukkan kartu. Begitu melihatnya, semuanya jadi jelas.
Ye Zhi ikut mendekat, mengintip dan terkejut, “Ternyata pulsanya habis?!”
“Aku kabari Zheng Ge, biar dia urus ke pengelola gedung,” ujar Sui Yi sambil membuka WeChat untuk mengirim pesan.
“Kalau begitu, listriknya nggak bakal nyala dalam waktu dekat, aku antar kamu ke halte bus dulu, ya,” ujar Sui Yi setelah selesai mengirim pesan.
Ye Zhi berpikir sejenak, lalu mengangguk, “Baik.”