Bab Satu: Ini adalah Xitong, Bukan Sistem!
“Qiu, menurutmu di upacara penerimaan murid besok, apakah aku bisa diterima sebagai murid langsung oleh Kepala Puncak Awan Langit?”
Upacara penerimaan murid?
Siapa pula Qiu?
Lin Liqiu membuka matanya.
Di depan jendela berdiri seorang pemuda berbaju putih dengan tubuh gagah. Kedua tangannya disilangkan di belakang, kepala sedikit terangkat, menatap deretan istana di Gunung Dewa Taichu yang diterpa cahaya bulan.
Merasa asing dengan lingkungan di sekitarnya, Lin Liqiu tampak kebingungan. Detik berikutnya, segudang informasi membanjiri benaknya.
Saat itu juga, Lin Liqiu makin panik.
Barulah ia sadar, dirinya telah menembus ke dalam sebuah novel fantasi yang pernah ia baca di masa lalu. Pria yang baru saja bicara itu adalah pemeran utama novel ini, Sang Anak Keberuntungan, Lin Chen.
Dalam alur cerita, Lin Chen tak hanya berhasil diterima di Sekte Nomor Satu di benua Shenzhou, yakni Tanah Suci Taichu, tetapi juga setelah masuk, merebut juara di ranah rahasia sekte, hingga akhirnya menjadi Putra Suci Taichu.
Sedangkan Lin Liqiu, hanyalah seorang antagonis sialan, pelayan yang selalu mengikuti sang tokoh utama. Ia tak hanya menindas orang lain atas perintah Lin Chen, sehingga jadi bahan cibiran banyak orang, tetapi setelah tak lagi berguna, ia juga akhirnya dipaksa Lin Chen meminumkan cairan tembaga dengan teknik kuno yang didapat dari Makam Dewa Kuno, hingga tubuhnya berubah menjadi mayat tembaga.
Benar-benar malang tak terkira.
Dan siapa sebenarnya Lin Chen itu?
Ia hanyalah seorang munafik sejati. Di permukaan tampak rendah hati dan ramah, tetapi sebenarnya dingin dan egois. Ia mempertahankan Lin Liqiu hanya agar kejahatan Lin Liqiu bisa menonjolkan citra baiknya sendiri.
Bahkan di Makam Dewa Kuno, demi menyelamatkan nyawanya, ia tega mengorbankan tunangannya sendiri untuk menahan serangan mematikan, lalu menggunakan jasad sang tunangan untuk menukar rahasia kuno “Kitab Pengendalian Mayat Taiyin”.
Orang seperti itu, mana mungkin disebut baik?
Setiap kali mengingat jalan cerita itu, Lin Liqiu selalu merasa menyesal.
“Qiu? Kenapa kau diam saja?”
“Kau jangan-jangan kelelahan, sampai tertidur berdiri di pojok sana?”
Lin Chen, melihat Lin Liqiu hanya tertegun tanpa merespons apa pun, segera memasang wajah penuh perhatian.
“Salahku juga, beberapa waktu ini kau terus menemaniku ikut ujian penerimaan murid. Pasti kau lelah, bukan? Ingin istirahat dulu?”
Lin Liqiu akhirnya tersadar, segera membungkuk dan berkata, “Menjawab pertanyaan Tuan Muda, dalam ujian penerimaan murid Tanah Suci Taichu kali ini, Tuan Muda menempati peringkat teratas.”
“Menjadi murid langsung Tanah Suci Taichu, seharusnya bukan perkara sulit.”
“Hahaha, Qiu, kau terlalu memujiku.”
Lin Chen tetap tersenyum ramah, lalu berkata, “Melihat situasinya sekarang, masuk ke Tanah Suci Taichu bukan masalah. Yang ingin kutanyakan, menurutmu, apakah aku bisa diterima sebagai murid langsung Kepala Puncak Awan Langit, yaitu Zhao Wanyi?”
Zhao Wanyi?
Lin Liqiu langsung teringat, Tanah Suci Taichu memiliki tujuh puluh dua puncak.
Zhao Wanyi adalah Kepala Puncak terkuat kedua setelah Pemimpin Sekte Deng Qianhong. Ia bukan hanya sangat kuat, namun juga cantik luar biasa, bahkan dikenal sebagai reinkarnasi Dewi Luoshui—Luo Pin.
Sayang sekali wataknya dingin, bak bunga salju di puncak gunung, tak mudah didekati dan hanya bisa dipandang dari jauh. Selama seribu tahun, ia hanya menerima satu murid perempuan, apalagi murid laki-laki, nyaris mustahil.
Dalam cerita aslinya, meski Lin Chen adalah tokoh utama dengan bakat luar biasa, ia pun tak berhasil menjadi murid Zhao Wanyi, melainkan langsung diterima sebagai murid Pemimpin Sekte Taichu, hal yang memudahkan jalannya menjadi Putra Suci kelak.
Namun, mengingat posisinya saat ini, Lin Liqiu tetap menjawab dengan setengah hati, “Tuan Muda sangat berbakat, pasti dapat diterima di bawah asuhan Kepala Puncak Zhao. Itu juga akan menjadi kebanggaan Puncak Awan Langit.”
Mendengar pujian itu, Lin Chen tertawa lepas. “Qiu, kau memang terlalu memuji. Walau aku telah mencapai tingkat Daya Ilahi, ingatlah, selalu ada langit di atas langit, jangan pernah merasa puas diri.”
Mendengar ceramah Lin Chen yang panjang lebar, kepala Lin Liqiu seperti ditusuk jarum. Ia menggerutu dalam hati.
Munafik! Saat membuat mayat tembaga, wajahmu malah lebih gembira dari siapa pun!
“Qiu, sudah malam, aku hendak istirahat. Kau juga harus menjaga kesehatan, tubuh adalah modal utama dalam berlatih.”
“Baik, Tuan Muda. Akan saya perhatikan.”
Lin Chen tersenyum lalu pergi, meninggalkan Lin Liqiu seorang diri dalam kamar, hati dan pikirannya bertarung sengit.
Mengingat nasib buruk sang tokoh aslinya, yang kepalanya dibuka dan dipaksa menelan cairan tembaga panas, Lin Liqiu langsung merinding dan menarik napas dingin.
Tidak! Bagaimanapun caranya, Lin Liqiu tak boleh membiarkan dirinya berakhir seperti itu.
Apa pun harganya, ia harus mengubah takdirnya.
Sebenarnya, sebagai antek tokoh utama dalam cerita ini, kekuatan dan bakat Lin Liqiu tidaklah lemah. Di usia muda sudah menembus tingkat Lima Fondasi.
Meski masih kalah dari Anak Keberuntungan seperti Lin Chen, di sekte-sekte kecil ia sudah tergolong jenius.
Yang paling penting, Lin Liqiu sangat memahami alur cerita novel ini dan memiliki kemampuan seperti peramal.
Ia tahu jalan cerita jauh sebelum terjadi, dan seperti novel fantasi lain, Lin Chen pasti akan mengalami banyak keberuntungan. “Kitab Pengendalian Mayat Taiyin” dan Pedang Iblis Taiyin dari Makam Dewa Kuno hanyalah sebagian kecil dari semuanya.
Selama ia bisa mengambil alih keberuntungan-keberuntungan itu terlebih dulu, bukan hanya tokoh utama, bahkan dewa yang turun ke dunia pun bisa ia lawan.
Tiba-tiba, Lin Liqiu merasakan sesuatu di dadanya terasa hangat.
Ia merogoh ke dalam pakaian, dan menemukan sebuah kunci kaca berhias lambang-lambang misterius. Di antara simbol-simbol itu, samar-samar memancar cahaya aneh.
‘Apa ini?’
‘Apakah dalam cerita aslinya ada benda seperti ini?’
Saat Lin Liqiu meneliti kunci kaca itu, tiba-tiba rasa pusing menyerangnya, pandangannya mengabur, dan kesadarannya seperti ditarik pusaran kekuatan tak kasat mata.
Entah berapa lama berlalu, saat pusing itu mereda, Lin Liqiu perlahan membuka mata dan mendapati dirinya di tepi laut bergelora.
Lin Liqiu menengadah, melihat langit dipenuhi lambang-lambang emas yang berkilauan dan melayang, memancarkan cahaya lembut serta terdengar suara naga samar dari kejauhan.
Ketika ia masih tertegun, semburat cahaya emas bangkit dari permukaan laut, diselimuti kabut tipis.
Dari balik kabut, seorang perempuan berambut emas, tanpa alas kaki, perlahan melangkah di atas ombak.
Ia mengenakan gaun tipis keemasan, belahan dadanya terbuka, gaun dan pinggang rampingnya membentuk lekuk tubuh yang memabukkan. Setiap langkah kakinya menimbulkan riak emas di permukaan air.
Lin Liqiu menatap perempuan yang tampak bak dewi turun dari langit itu, tak kuasa menahan keterpukauan.
“Bolehkah aku tahu, siapa engkau, Dewi?”
Perempuan itu mengerutkan alis indahnya, diam-diam mengamati Lin Liqiu, kemudian perlahan berkata, “Xitong.”
Sistem?!
Perempuan itu menatap Lin Liqiu dingin, lalu mengoreksi, “Namaku Xitong, bukan Sistem!”