Bab 148 Momo Tomohiko sudah kembali ke dunia nyata

Sangat memuaskan! Asisten kecil menata ulang kisah cinta CEO dengan aksi gilanya Fia 2568kata 2026-04-01 03:29:51

Feng Ze tiba di rumah sudah sangat malam. Begitu pintu didorong terbuka, ia mendapati ketiga adiknya sedang duduk di ruang tamu.

Wajahnya sedikit menggelap, tangannya mengerahkan sedikit tenaga sebelum akhirnya menutup pintu dan melangkah masuk.

"Kakak!" Feng Yiqian bergegas maju. Ia sempat menengok ke arah pintu untuk memastikan, dan setelah menyadari hanya Feng Ze yang datang seorang diri, keningnya langsung berkerut. "Kakak, di mana Pengurus Rumah Tao?"

Mendengar suara itu, Feng Cheng juga ikut berjalan mendekat.

Feng Ze meletakkan kunci mobilnya, lalu berkata dengan suara tenang, "Sudah pergi."

"Pergi?" Ekspresi Feng Yiqian berubah drastis, dipenuhi ketidakpercayaan. "Apa Kakak sedang bercadar?"

Feng Ze mengangkat pandangannya menatap pemuda itu dan bertanya, "Menurutmu aku sedang bercanda?"

Sepasang mata hitam pria itu terlampau tenang, tanpa menyisakan sedikit pun kehangatan atau senyuman.

Otak Feng Yiqian berdengung keras.

Ia mengerjap beberapa kali, kelopak matanya seketika memerah, dan butuh waktu lama baginya untuk mencerna situasi. "Kenapa?"

Feng Yiqian tidak mengerti.

"Kenapa Kakak membiarkan Pengurus Rumah Tao pergi?" Feng Yiqian mengepalkan tangannya erat-erat, menatap lurus ke arah Feng Ze. "Jelas-jelas Kakak sendiri tidak rela Pengurus Rumah Tao pergi, lalu kenapa?"

Ini adalah pertama kalinya Feng Ze melihat Feng Yiqian menatapnya dengan tatapan seperti itu.

Di antara semua adiknya, dialah yang paling penurut dan paling patuh pada Feng Ze.

Biasanya, apa pun yang dikatakan Feng Ze, pemuda itu akan selalu menurut meskipun merasa sedikit keberatan, dan tidak pernah sekalipun mempertanyakannya.

Namun hari ini, Feng Yiqian tampak di luar kendali.

Di dalam sepasang mata itu, terukir jelas rasa tidak paham dan kemarahan.

"Jawab aku!" Feng Yiqian mengepalkan tangannya semakin erat. "Pengurus Rumah Tao juga tidak ingin pergi, apa Kakak tidak bisa melihatnya?!"

"Apa Kakak ingat apa yang pernah Kakak janjikan padaku?!"

"Kakak jelas-jelas berjanji tidak akan membuat Pengurus Rumah Tao bersedih," Feng Yiqian maju setengah langkah, menatap Feng Ze. "Dia bahkan begitu bersedih, kenapa Kakak tidak menahannya?"

Feng Ze tetap bergeming.

Napas Feng Yiqian memburu.

Feng Ze selalu seperti ini.

Selalu mengabaikannya, selalu tidak mau menjelaskan apa pun, dan selalu bertindak semaunya sendiri.

Kejadiannya persis seperti waktu itu.

Secara tidak jelas mengusir Pengurus Rumah Tao, membuat Feng Yiqian harus langsung menghadapi kenyataan bahwa Tao Zhiyan telah pergi begitu ia kembali.

Dan sekarang, hal itu terulang kembali.

Padahal ia sudah menegaskan, jika Tao Zhiyan pergi, ia tidak akan pernah mau berbicara dengan Feng Ze lagi.

Namun, Feng Ze tetap membiarkan Tao Zhiyan pergi.

Feng Yiqian menatap tangan Feng Ze, menggigit sudut bibirnya, sebelum akhirnya berucap dengan suara serak, "Aku membencimu."

Pupil mata Feng Ze sedikit bergetar, tetapi ia tetap tidak bersuara.

Dada Feng Yiqian naik turun dengan hebat, kelopak matanya merendah saat ia memelototi Feng Ze.

Namun, pria di hadapannya itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun, seolah sama sekali tidak peduli.

Feng Yiqian tiba-tiba merasa sesak.

Ia sudah melontarkan kata-kata sekeras itu, tetapi Feng Ze tetap enggan memedulikannya.

Ia hanya sebatang kara dan tidak memiliki sanak saudara lagi, itulah sebabnya ia begitu bergantung pada Feng Ze.

Namun Feng Ze, sama seperti orang-orang lainnya, sama sekali tidak peduli padanya.

Tidak peduli dengan perasaannya, dan juga tidak peduli apakah dirinya akan membenci pria itu atau tidak.

Ancaman yang dianggapnya berarti besar ternyata hanya lelucon belaka.

"Mulai sekarang, aku tidak akan pernah kembali lagi," ucap Feng Yiqian dengan nada yang mendadak dingin.

Sepasang mata bunga yang indah itu kini sedikit mendongak, memperlihatkan pupil hitam berkilat yang dipenuhi rasa dingin teramat sangat.

"Aku juga tidak akan pernah memanggilmu Kakak lagi."

"Aku tidak punya kakak."

Setelah melontarkan kalimat itu, Feng Yiqian mendorong tubuh Feng Ze dan berlari menerobos pintu keluar.

"Brak—!"

Pintu utama di belakang terbanting menutup dengan keras, membuat siapa pun yang mendengarnya merasa ngilu.

Feng Ze menarik napas dalam-dalam, menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas secara perlahan ke dinding.

"Aku tahu aku tidak punya kualifikasi untuk menceramahi Kakak," kata Feng Cheng sambil menatap Feng Ze dengan wajah memerah, "tetapi Pengurus Rumah Tao telah banyak membantuku. Kalau bukan karena dia, aku mungkin sudah bunuh diri."

Feng Ze memejamkan matanya sejenak, suaranya terdengar begitu berat hingga mengerikan. "... Apa yang sebenarnya ingin kaukatakan?"

"Besok aku tidak akan pergi ke perusahaan lagi," ujar Feng Cheng. "Lagi pula Kakak sudah mengusirku, aku juga bukan lagi adik Kakak."

"Terserah Kakak mau berbuat apa."

Usai berkata demikian, Feng Cheng turut mendorong pintu dan bergegas pergi tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

Feng Ze bahkan tidak bergeming sedikit pun.

Manusia memang makhluk yang aneh.

Untuk hal-hal sepele, mereka bisa bersikap seolah ingin mati.

Namun, ketika berada di titik terendah tanpa memiliki apa pun, mereka justru tidak merasakan apa-apa lagi.

Feng Ze mengira dirinya akan mengalami kehancuran emosional atau tidak sanggup menanggungnya, tetapi ternyata tidak.

Ia bahkan tidak merasa terlalu bersedih, hanya tiba-tiba merasa lelah dan ingin segera beristirahat.

Pria itu menegakkan tubuhnya, berjalan dalam diam menuju tangga, lalu melangkah naik.

"Kakak." Feng Yan yang sedari tadi duduk di sofa tiba-tiba memanggil.

Langkah kaki Feng Ze terhenti, ia menoleh ke belakang. "Ada apa?"

Ia menatap Feng Yan dengan tenang, mengira pemuda itu juga akan melontarkan kata-kata putus hubungan yang serupa.

Namun, hal itu tidak memberikan banyak pengaruh bagi Feng Ze.

Hubungan di antara mereka bersaudara memang sejak awal biasa saja, dan kehangatan yang terjalin selama beberapa bulan terakhir terasa bagaikan mimpi.

Feng Ze sangat sadar bahwa pada dasarnya ia memang tidak memiliki keluarga.

Feng Yan terdiam selama beberapa detik sebelum berkata, "Kakak akan menyesal karena telah membiarkan Tao Zhiyan pergi."

Feng Ze merasa sedikit heran mengapa pemuda itu mengatakan hal tersebut.

"Jika Kakak sangat mencintainya, Kakak akan semakin merindukannya