Bab 62 Apakah Lu Xingzhou Tertimpa Penyakit Aneh?
Sekarang, negara, keluarga Lu, dan Dokter M telah bekerja sama. Namun sampai saat ini, dia belum pernah melihat langsung wajah asli Dokter M. Jika saja Dokter M bersedia berkunjung ke perusahaan Lu, meski hanya sekadar menampakkan diri tanpa melakukan apa pun, itu saja sudah merupakan keuntungan besar bagi keluarga Lu.
Setelah kabar kerja sama tiga pihak tersebut tersebar, harga saham Lu langsung melonjak sepuluh kali lipat! Jika Dokter M mau tampil di depan publik, itu akan menambah nilai lebih, dan nilai perusahaan Lu pasti akan berlipat ganda, naik ke tingkat yang lebih tinggi!
“Pihak lembaga riset bilang, kalau waktunya sudah tepat, Dokter M sendiri yang akan menghubungi Anda, BOSS. Untuk saat ini, beliau hanya ingin fokus pada penelitiannya dan tidak ingin tampil di depan media.”
“Baiklah, kita hargai keputusannya.” Lu Xingzhou tampak kecewa, tapi tak ada yang bisa ia lakukan.
Di seluruh dunia, hanya sedikit ilmuwan yang mampu menangani proyek alat otak keluarga Lu, dan Dokter M memang punya kualifikasi itu.
“Untuk urusan Dokter M, kita tunda dulu. Sekarang, cari tabib Tiongkok yang terkenal.”
“Mencari tabib Tiongkok? BOSS, Anda kurang sehat? Atau Nyonya Tua?”
“Saya sendiri.” Wajah Lu Xingzhou menjadi suram. “Beberapa hari lalu, saya kembali mengalami mimpi itu.”
Zhao Huai langsung pucat pasi mendengarnya.
“Perlu saya panggil Dokter Wan?”
“Tidak ada gunanya.” Lu Xingzhou memijat tulang alis matanya. “Pengobatan barat tidak berhasil, sekarang coba pengobatan Tiongkok.”
“Baik, saya akan segera menghubungi rumah sakit pengobatan Tiongkok terbaik!” Zhao Huai membungkuk hormat. “Kalau begitu, untuk makan siang—”
“Saya tidak berselera.” Jawab Lu Xingzhou datar.
Zhao Huai mengangguk. Saat hendak pergi, dia melihat BOSS masih berwajah muram, dan tak kuasa menahan rasa iba di hatinya.
Semua orang mengira BOSS adalah orang kaya raya bernilai triliunan, bisa mendapatkan apapun yang ia mau. Namun tak ada yang tahu, BOSS sebenarnya punya penyakit tersembunyi. Saat diperiksa di rumah sakit, tak ditemukan penyebab penyakitnya, hanya disebut sebagai efek trauma.
Setiap kali penyakitnya kambuh, dia akan bermimpi buruk, dan sudah lebih dari dua puluh tahun, mimpinya selalu sama.
Tidak ada tanda-tanda sebelum mimpi itu datang. Kadang hari-hari berjalan lancar, namun tiba-tiba mimpi buruk menyelinap dan mengacaukan suasana hatinya.
Kalau ditanya apakah penyakit ini membahayakan tubuh, sebenarnya tidak juga. Tapi mimpi buruk itu selalu datang tanpa diduga, perasaan tak berdaya yang tak terkendali itu terus menghantuinya, membuat BOSS tak mungkin tak merasa tersiksa.
…
Di restoran hotpot Hu Ji.
Jiang Man dan Wu Yingfan sudah makan dengan lahap.
Hu Guanghua sendiri tidak makan banyak, tetapi melihat kedua anak itu makan dengan gembira, hatinya ikut senang.
“Manman, lain kali kau atur pertemuan, aku ingin bertemu keluarga Lu. Dulu kau tak punya keluarga yang mendukungmu, sekarang sudah ada! Jangan sampai keluarga Lu menganggapmu mudah dibully!”
“Paman, tidak ada apa-apa, keluarga Lu sangat baik padaku.” Jiang Man tersenyum.
“Lalu tadi itu apa?” Hu Guanghua sudah malang melintang di masyarakat selama puluhan tahun, dan bisa menjadi orang terkaya di Pelabuhan Selatan tentu bukan orang sembarangan.
Tadi dia tidak turun tangan karena belum pernah bertemu keluarga Lu, kalau langsung ikut campur akan terasa canggung.
“Katamu itu urusan keluarga, bukan urusan keluarga Jiang, jadi pasti urusan keluarga Lu.”
“Memang pantas disebut Paman!” Jiang Man mengacungkan jempol, tersenyum tipis. “Dari empat perempuan tadi, salah satunya adalah anak angkat keluarga Lu. Tapi bukankah Lu Xingzhou menikah denganku? Anak angkat itu sekarang posisinya canggung, kadang-kadang menganggapku sebagai musuh imajiner dan sering berusaha menjegalku.”
“Gila! Ada-ada saja keluarga Lu! Kalau sudah memelihara anak angkat, ya biarkan saja Lu Xingzhou menikahinya! Kenapa harus menyeret Man Jie?” Wu Yingfan mengumpat, hampir saja melompat dari tempat duduknya.
Jiang Man meliriknya tajam. “Dulu Lu Xingzhou juga bukan calon suamiku. Kami berdua salah menikah, masing-masing punya tanggung jawab, tak bisa sepenuhnya menyalahkan dia. Lagi pula, sekarang bukan zaman feodal, siapa juga yang masih menikah dengan anak angkat? Tak punya perasaan, mana bisa menikah?”
“Jadi maksudmu, antara kau dan Lu Xingzhou ada perasaan?” Wu Yingfan langsung menunjukkan rasa ingin tahunya, matanya yang cerdas berkilauan.
Jiang Man meraih tisu di atas meja dan melemparkannya ke arahnya. “Dasar bocah!”
Hu Guanghua melihat dua anak muda itu bercanda, hanya bisa menggelengkan kepala. Dalam hati, ia bertekad, begitu bertemu keluarga Lu, ia harus bicara langsung, tak boleh membiarkan Manman menderita tanpa alasan.
…
Larut malam, Jiang Man dan Wu Yingfan kembali ke kediaman Rong.
Setelah makan hotpot siang tadi, mereka ikut Hu Guanghua ke hotel, mengobrol lama, lalu sekalian makan malam di sana sebelum pulang.
Begitu masuk vila, Jiang Man mencium aroma kuat ramuan obat Tiongkok.
Setelah berganti sepatu, ia melihat seorang pelayan membawa semangkuk ramuan hitam keluar.
“Nyonya Muda,” pelayan itu menyapa.
“Obat itu untuk siapa?” Jiang Man bertanya santai.
“Untuk Tuan Muda.” jawab pelayan itu ragu-ragu.
“Dia sakit apa?” Jiang Man melirik mangkuk, lalu mendekat untuk mencium aromanya. Setelah itu, ia mengambil mangkuk itu dari tangan pelayan. “Biar aku saja yang mengantarkannya.”
“Baik, terima kasih, Nyonya Muda.” Pelayan itu berterima kasih dengan suara pelan, lalu menambahkan, “Tuan Muda sering mimpi buruk, sudah ke rumah sakit tapi tak pernah ditemukan penyebabnya.”
“Mimpi buruk?” Jiang Man mengangkat alis.
“Ya, dan selalu mimpi yang sama. Aneh sekali, kan?”
“Memang agak aneh.” jawab Jiang Man, lalu melangkah naik ke lantai dua tanpa berkata banyak.
Ia masuk ke kamar tidur, tapi tak menemukan siapa-siapa. Ia lalu melewati kamar itu menuju ruang kerja.
Lu Xingzhou sedang bersandar di kursi, memejamkan mata, di sampingnya ada dupa yang terbakar.
Asap tipis menari di udara, aroma dupa sangat kuat.
“Tuan Lu, obatnya sudah datang.” Suara Jiang Man lembut, langkah kakinya lebih lembut lagi.
Lu Xingzhou tidak membuka mata, hanya berkata, “Taruh saja di meja.”
“Tuan Lu, penyakit Anda…”
“Jangan khawatir, tidak masalah besar.”
Jiang Man mengernyit mendengar itu. Ia meletakkan mangkuk di meja kerja, lalu melangkah maju, menggenggam tangan Lu Xingzhou dan menempelkan ujung jarinya ke nadi pria itu.
Lu Xingzhou terkejut dan membuka mata. “Apa yang kau lakukan?”
“Memeriksa nadi.” Wajah Jiang Man tetap tenang, matanya menyipit sedikit.
Kemudian ia bertanya, “Mimpi buruk itu biasanya berlangsung berapa lama, dan seberapa sering terjadi?”
“Kau juga mengerti pengobatan Tiongkok?” Sudut bibir Lu Xingzhou terangkat, tampak tertarik.
Kali ini Jiang Man tidak merendah, ia menjawab tegas, “Cukup paham.”
Melihat senyum di wajah Lu Xingzhou tak kunjung hilang, Jiang Man mengangkat alis. “Apa? Tak percaya?”
“Bukan begitu.” Lu Xingzhou menghentikan senyumnya. “Aku sudah pernah lihat kemampuanmu, tahu kau bukan orang yang suka membual. Tapi penyakitku ini sudah diperiksa banyak dokter terkenal, sudah ke spesialis otak, segala macam pemeriksaan juga sudah kulakukan, bahkan ke psikolog sekalipun, tetap saja tak membuahkan hasil. Dokter terbaik di negeri ini pun tak mampu menyembuhkan penyakitku. Kau mengerti maksudku, kan?”
“Mengerti, jadi kau pikir aku juga tak akan bisa menyembuhkannya?” Jiang Man berkata santai. “Kalau aku bilang aku lebih hebat dari dokter-dokter terbaik di negeri ini, kamu pasti tak percaya. Tapi tak ada salahnya mencoba, kan?”
“Baik.” Lu Xingzhou mengangguk, tersenyum lembut.
Bagaimanapun, ia sudah didera mimpi buruk ini lebih dari dua puluh tahun, dan tak berharap Jiang Man benar-benar bisa menyembuhkannya.
Ia hanya tak ingin memadamkan semangat istrinya, toh niatnya baik.