Bab 76 Memberimu
“Apa yang kamu katakan?” Lu Xuemei meneguk tehnya, hampir saja menyemburkan air teh dari mulutnya.
Ia begitu terkejut, seolah baru saja tertusuk di titik paling lemah, “Manman, bercanda itu ada batasnya! Jangan asal bicara sembarangan terus-menerus, bisa tidak? Tabib Man itu laki-laki! Laki-laki! Tolong, lain kali kalau mau menyamar jadi orang lain, pastikan dulu jenis kelaminnya, ya?”
“Bibi, jangan terlalu emosi.” Jiang Man mengambil satu tisu basah, lalu dengan tenang mengelap tangannya.
“Aku bilang, aku itu temannya Tabib Man, kenapa buru-buru? Harusnya dengar dulu sampai aku selesai bicara, kan?”
“Teman?” Lu Xuemei baru tenang setelah mendengar itu.
Setelah dipikir-pikir, tadi dokter Wan begitu sopan pada gadis ini, bahkan memanggilnya ‘shushu kecil’. Ia sendiri adalah adik seperguruan tabib legendaris Mikelun, jelas punya jaringan kuat di dunia medis. Jika dia bilang dirinya teman Man, mungkin saja itu benar, bukannya membual.
Begitu terpikir ia punya kesempatan bertemu idola, Lu Xuemei langsung berubah sikap, “Manman, kamu punya foto Tabib Man? Aku penasaran, apakah dia tampan? Apakah dia pria Eropa tinggi, berambut pirang dan bermata biru?”
Kamu pasti akan kecewa, dia tidak tinggi, bukan orang Barat, bahkan bukan laki-laki. Jiang Man tertawa geli dalam hati.
Nyonya tua itu selalu mengkhawatirkan jodoh putrinya. Sudah empat puluh tahun lebih, tetap saja belum menikah. Kalau saja putrinya bisa menikah dengan tabib hebat itu, pastilah jadi kabar baik.
Orang tua, kalau sudah berumur, yang dipikirkan hanya soal pernikahan anak, lalu setelah menikah, ingin dapat cucu.
“Manman, aku juga penasaran, seperti apa sih Tabib Man itu?” tanya nyonya tua.
Jiang Man melirik Lu Xuemei yang wajahnya penuh semangat menikah, lalu menoleh ke nyonya tua.
Bukan ia sengaja merahasiakan, tadi sudah bilang dirinya adalah Man, tapi bibinya tak percaya.
Biasanya bibi suka mempersulitnya, Jiang Man juga bukan orang yang mudah dihadapi. Ia merasa ini kesempatan bagus untuk mengerjai bibinya, lumayan untuk menuntaskan kekesalan.
“Dia itu, dua puluh tahun, tingginya seratus tujuh puluh sentimeter, meskipun namanya kebarat-baratan, sebenarnya dia orang Tionghoa.”
“Masih muda sekali? Dan tidak terlalu tinggi.” Lu Xuemei agak kecewa.
Tapi segera ia membujuk diri sendiri, “Tak apa, yang penting dia berbakat, dan sekarang kan gaya pacaran beda umur juga sedang tren? Manman, bantu bibi ya, kenalkan aku padanya?”
Pacaran beda umur? Lebih tepatnya seperti ibu dan anak!
Jiang Man tersenyum nakal, “Tentu saja.”
“Tolong ya, tolong banget.” Lu Xuemei menggosok-gosok tangannya, tampak tidak sabar.
Jiang Man bersikap misterius, “Tenang saja, bibi. Nanti kalau saatnya tiba, aku akan perkenalkan kalian.”
“Bagus, bagus!” Lu Xuemei langsung setuju, seperti gadis muda yang sedang dimabuk cinta.
“Manman, kita tukeran kontak WeChat dulu ya.”
Meng Lian yang melihat adik iparnya begitu tergila-gila pada pria yang bahkan belum pernah ditemui, langsung merasa muak.
Sebegitunya kah? Anak muda berbakat seperti itu, apa mungkin mau dengan wanita setua kamu? Meng Lian memutar bola mata, merasa adik iparnya memang mudah berubah.
Baru tadi bilang Jingya anak baik, sebagai bibi pasti akan membela Jingya. Tapi baru saja Jingya dihukum cambuk dua puluh kali, adik iparnya sudah langsung berbaik-baik pada Jiang Man.
Kalau bukan karena Jiang Man, apa Jingya akan menderita seperti itu?
“Ibu, aku sudah kenyang. Kalau tidak ada urusan lain, aku mau menjenguk Jingya.” Meng Lian bangkit, menahan emosinya, berusaha tampak sopan.
Nyonya tua mengangguk, “Pergilah.”
Tak lama kemudian, kepala pelayan memerintahkan para pembantu membereskan meja makan dan membawa nampan buah sebagai hidangan penutup.
Lu Xuemei terus menarik Jiang Man, ingin tahu segala hal tentang Man.
Jarang-jarang bibinya berubah sikap dan tidak lagi mempersulit Jiang Man, Lu Xingzhou pun memberikan mereka ruang pribadi, lalu duduk di kursi rotan di samping, mengambil The Wealth of Nations yang belum selesai dibacanya.
Nyonya tua juga tak pergi, duduk di samping sambil mendengarkan obrolan putrinya dan menantu perempuan.
Beberapa saat kemudian, dokter Wan bersama asistennya datang untuk melapor pada nyonya tua.
“Nona Wen hanya mengalami luka luar, tapi dua tiga hari ke depan tidak boleh turun dari ranjang. Nanti asistanku akan mengganti perban, dalam seminggu luka akan mengering.”
Nada dokter Wan kaku dan formal.
Ia adalah dokter keluarga yang dipekerjakan keluarga Lu, hanya bertugas mengobati, bukan mencampuri urusan lain. Soal bagaimana Wen Jingya bisa terluka, jelas sekali itu akibat cambuk, tapi itu bukan urusannya, ia pun tak punya hak bertanya.
“Terima kasih, Dokter Wan. Fu Bo, pergi ke gudang dan ambilkan ginseng seratus tahun yang kusimpan, biar dibawa pulang oleh dokter Wan,” ujar nyonya tua penuh kemurahan hati.
Dokter Wan buru-buru menolak, “Nyonya, saya sudah menerima gaji, tak pantas menerima hadiah lagi.”
“Seluruh keluarga kami, besar-kecil, setiap sakit pasti merepotkanmu. Terimalah sebagai tanda terima kasih,” bujuk nyonya tua dengan lembut.
Sebenarnya, alasan kenapa ginseng itu harus diberikan pun sederhana, semuanya demi Jiang Man. Sekarang sudah tahu dokter Wan adalah murid keponakan Manman, tentu perlakuannya tak bisa seperti pada dokter keluarga biasa.
Jiang Man sangat memahami hati manusia, ia langsung bisa menangkap maksud nyonya tua.
“Xiao Wan, terimalah saja,” katanya datar.
Nada suaranya tenang, tapi penuh wibawa yang tak bisa dibantah.
“Baiklah.” Dokter Wan langsung menurut.
Perintah nyonya tua masih bisa ia pertimbangkan, tapi ucapan shushu kecil, ia sama sekali tak berani melawan.
...
Larut malam.
Karena sudah sangat larut dan perjalanan dari rumah tua ke kediaman keluarga Rong butuh satu jam, ditambah besok seluruh keluarga akan pergi bersama, akhirnya Lu Xingzhou dan Jiang Man memutuskan menginap di rumah tua.
Setelah masuk kamar, Jiang Man lebih dulu mandi. Saat selesai mengeringkan rambut dan keluar, ia melihat Lu Xingzhou sedang berjongkok di depan lemari, mencari-cari sesuatu.
Jiang Man bertanya santai, “Cari apa?”
“Hadiah untuk pamanmu,” jawab Lu Xingzhou tanpa menoleh.
Sebenarnya, ia sudah menyuruh Zhao Huai untuk menyiapkan hadiah.
Tapi hadiah yang disiapkan Zhao Huai, paling-paling barang baru dan mahal dari pusat perbelanjaan, tapi tidak ada nilai istimewa.
Lu Xingzhou sudah lama memikirkan, apa yang pantas diberikan pada paman Jiang Man supaya terlihat tulus.
Begitu masuk kamar dan melihat lemari penyimpanannya, ia langsung teringat. Lemari itu adalah kotak harta karun miliknya, berisi koleksi barang berharga sejak kecil, setiap benda punya makna tersendiri.
“Kamu mau kasih apa ke pamanku?” Jiang Man mendekat dengan penuh minat, membungkuk, mendekatkan wajah ke telinganya.
Lu Xingzhou menoleh, langsung terpana melihat wajah gadis itu yang cantik dan berkesan dingin, penuh aura luar biasa.
Baru selesai mandi, kulitnya bersih seperti batu giok tanpa cela. Di bawah lampu, kulitnya begitu putih sampai tampak berkilau.
Melihat dari dekat, baru terasa betapa ia cantik alami, tanpa riasan pun bibirnya merah, giginya putih, sepasang mata besar jernih, seolah mampu memikat siapa saja.
Terutama saat ia mendekat, napas hangatnya menyentuh wajah Lu Xingzhou, membuat hatinya seperti digelitik, geli dan bergetar.
Hampir saja benda di tangannya terlepas.
“Jam tangan mekanik?” Belum sempat Lu Xingzhou menjawab, pandangan Jiang Man sudah tertuju pada barang di tangannya.
Ia sangat menyukai barang antik, matanya langsung berbinar.
“Jam seperti ini, makin lama makin bernilai. Pamanku pasti suka!” Bibir Jiang Man tersenyum, “Kalau aku tak salah, ini Patek Philippe Caliber 89, kan?”
“Jam ini dirilis tahun 1989, butuh sembilan tahun untuk menyelesaikannya. Dijuluki raja jam tangan mekanik, sejauh ini merupakan jam tangan paling rumit di dunia. Hanya ada lima buah di dunia, dua dimiliki kolektor Jepang, satu milik keluarga kerajaan Brunei, satu lagi ada di museum Timur Tengah. Aku selalu penasaran di mana jam yang terakhir, ternyata ada padamu.”
Jam ini nilainya enam juta dolar AS, memang bukan yang termahal di antara jam mekanik, tapi inilah jam yang paling diinginkan Jiang Man.
Ayah angkatnya dulu pernah menawar lima kali lipat harga, ingin membelinya dari kolektor Jepang atau keluarga kerajaan Brunei, tapi mereka semua orang kaya yang tak rela menjualnya.
“Jam ini tidak jadi untuk pamanmu.” Ujar Lu Xingzhou tiba-tiba.
Jiang Man mengerutkan kening, “Kenapa?”
“Untukmu.” Ia menyerahkan jam beserta kotaknya.
Jiang Man terpaku, seketika kehilangan kata-kata...