Kisah Tambahan 1 Versi Niga Zetao (6)
Sebelumnya, Tao Zhiying selalu sangat senang setiap kali dibelikan pakaian baru.
Namun, hari ini sikapnya tampak terlalu biasa saja.
Ibu Tao mengambil beberapa helai pakaian, tetapi anak itu hanya menggelengkan kepala.
Ada satu pakaian yang diam-diam dilihat oleh Tao Zhiying cukup lama, tetapi ketika Ibu Tao bertanya apakah dia menginginkannya, dia tetap menjawab tidak mau.
Ibu Tao merasa agak bingung, "Benar-benar tidak suka yang ini?"
Tao Zhiying menggelengkan kepala.
"Bukankah beruang kecil di baju ini adalah kesukaanmu?"
Tao Zhiying mengatupkan bibirnya, menunduk, lalu berbisik, "Ibu, aku tidak mau..."
Ibu Tao juga tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh anak kecil ini, tetapi karena Tao Zhiying bilang tidak mau, dia tentu tidak bisa memaksanya.
Bibi pemilik toko tersenyum sambil menerima pakaian dari tangan Ibu Tao, "Tidak apa-apa jika Tao Kecil tidak suka. Nanti kalau dua hari lagi ada model baru, Bibi akan meneleponmu lagi."
Ibu Tao mengangguk, "Baiklah, merepotkanmu ya."
Bibi itu melambaikan tangan sambil menggantung kembali pakaian tersebut, "Tidak perlu sungkan."
"Tao Kecil, ayo ucapkan selamat tinggal pada Bibi."
Tao Zhiying melambaikan tangan ke arah bibi itu, "Bibi cantik, dadah~"
"Pandai sekali memanggil orang!" Bibi itu langsung merasa senang, lalu menyelipkan beberapa buah permen ke tangan Tao Zhiying, "Sering-seringlah main ke sini ya!"
Tao Zhiying mengangguk penuh semangat, "Terima kasih Bibi cantik~"
Kemudian dengan diam-diam membagi beberapa permen tersebut ke dalam saku Feng Ze.
Satu orang dewasa dan dua anak kecil keluar dari pusat perbelanjaan, lalu berbelok ke kiri untuk mengunjungi pasar malam.
Pasar malam saat ini sangat ramai, banyak lapak berjualan di kedua sisi jalan, dan bagian tengahnya dipenuhi lautan manusia.
Di jalan ini terdapat sebuah kedai tangyuan viral yang sangat terkenal, dan Ibu Tao berkata ingin mengajak Feng Ze mencicipinya.
Sambil berjalan, Tao Zhiying tiba-tiba berhenti melangkah.
"Ada apa?" Ibu Tao menunduk menatap Tao Zhiying.
Tao Zhiying mengatupkan bibirnya lagi, tampak ragu-ragu seolah malu untuk mengatakannya.
Dia menahannya beberapa saat, sebelum akhirnya dengan hati-hati menarik ujung baju ibunya, "Ibu~"
"Ada apa anak manis?" Ibu Tao membungkuk, "Sudah tidak ingin jalan-jalan lagi?"
Tao Zhiying tetap menggelengkan kepala, "Ibu, aku baru saja melihatnya, baju yang ingin Ibu belikan untukku tadi harganya lebih dari seratus yuan."
Ibu Tao tidak begitu mengerti.
"Yang ini," Tao Zhiying menunjuk ke lapak kecil di sebelah mereka, "yang di tempat ini harganya cuma lima puluh yuan."
Ibu Tao melihat ke arah lapak kecil di samping mereka.
Itu juga menjual pakaian anak-anak, tetapi bukan dari toko merek terkenal, jadi harganya memang sedikit lebih murah.
Namun, keluarga mereka bukanlah keluarga yang kekurangan uang, dan dia juga tidak pernah memperlakukan Tao Zhiying dengan buruk, mengapa anak ini malah memperhitungkan harga?
"Ibu~" Wajah Tao Zhiying sedikit memerah, dan suaranya menjadi sangat pelan, "Bolehkah kita membelinya di sini saja, dan... membelikan satu untuk Kakak juga..."
"Dengan begitu, kalau dua buah... juga... seratus yuan..."
Ibu Tao mengangkat sedikit alisnya.
Jadi, alasan Tao Zhiying menolak baju tadi adalah karena dia ingin membelikan satu untuk Feng Ze juga?
Feng Ze yang mendengar hal itu buru-buru bersuara, "Bibi, aku tidak mau."
"Ibu," Tao Zhiying tampak agak cemas, "baju Kakak sudah robek!"
Dia menunjuk ke bagian bawah baju Feng Ze, "Di sini, dan juga di sini."
"Sungguh tidak usah," Feng Ze tetap menolak, dia takut Tao Zhiying nanti ikut dimarahi karenanya, "Bibi, aku masih punya baju yang lain."
Tao Zhiying mencebikkan bibirnya, dengan lembut menarik tangan ibunya dan menggoyangkannya.
Ibu Tao tentu saja juga melihat kekhawatiran di balik keraguan Feng Ze yang pertama kalinya itu. Dia menghela napas, lalu menepuk bahu anak itu, "Tidak apa-apa, hanya sehelai baju, pergi dan pilihlah."
Feng Ze tertegun sejenak, seolah belum sepenuhnya sadar.
Sebaliknya, reaksi Tao Zhiying sangat cepat. Dia berlari menghampiri dan langsung memeluk kaki Ibu Tao, menggosokkan kepalanya yang kecil ke kaki wanita itu, "Ibu~ Ibu adalah ibu terbaik di dunia~"
Ibu Tao tersenyum, entah belajar dari siapa mulut anak kecil ini bisa begitu manis.
Setelah selesai bermanja-manja, Tao Zhiying menarik tangan Feng Ze sambil melompat-lompat kecil untuk memilih pakaian.
Ini adalah pertama kalinya Feng Ze membeli pakaian.
Biasanya, pakaian yang dikirimkan oleh para dermawan ke panti asuhan adalah pakaian sisa yang tidak diinginkan orang lain, dan giliran Feng Ze barulah yang paling akhir, sama sekali tidak pernah ada kesempatan baginya untuk memilih sendiri.
Sekarang ada begitu banyak pakaian yang terbentang di hadapannya, dan semuanya boleh dipilih.
Feng Ze juga merasa cukup senang.
"Kakak~" Tao Zhiying entah dari mana menemukan sehelai baju lengan tiga perempat, lalu mencocokkannya di depan tubuhnya sendiri, "Apakah yang ini bagus~"
Feng Ze melihatnya, "Bagus."
"Di sini juga ada yang warna hitam, untuk dipakai Kakak," kata Tao Zhiying, "aku mau yang warna putih ini, boleh ya?"
Feng Ze mengangguk, "Boleh."
Dengan perasaan gembira, Tao Zhiying membawa kedua helai baju itu kepada ibunya.
Setelah membayar, kedua anak kecil itu mengenakan pakaian baru mereka dan berjalan-jalan di jalanan.
"Aduh," kata pelayan toko sambil membungkus pakaian lama mereka, "bagaimana cara ibu melahirkan mereka, kedua anak ini sangat baik!"
Ibu Tao berkata, "Yang kecil anak saya, kalau yang besar adalah teman anak saya."
Barulah pelayan itu sadar, "Kukira mereka adalah kakak beradik."
Ibu Tao tersenyum, "Benar ya, hubungan kedua anak ini memang sangat baik."
Setelah membelikan dua helai pakaian baru, suasana hati kedua anak itu menjadi semakin ceria.
Pasar malam sangat ramai, di tengah jalan Ibu Tao membelikan beberapa jajanan kecil untuk mengganjal perut anak-anak, lalu membawa mereka ke kedai tangyuan viral tersebut.
Ibu Tao juga mengenal pemilik kedai tangyuan itu.
Sejak kecil Tao Zhiying sudah suka makan makanan manis berkuah ringan. Saat kedai itu baru buka dan belum terkenal, Ibu Tao sering membawa Tao Zhiying untuk makan di sana.
Paman dan bibi di kedai itu semuanya sangat menyukai Tao Zhiying.
Kedai itu tidak besar, hanya memiliki dua baris meja di dalamnya.
Dua meja yang diletakkan di luar pun semuanya sudah penuh terisi.
Begitu melihat Ibu Tao datang, pemilik kedai diam-diam memindahkan sebuah meja kecil untuk mereka, lalu membungkuk dan menatap Tao Zhiying, "Tao Kecil, kenapa dua hari ini tidak kelihatan datang kemari untuk makan?"
"Apakah si kucing rakus ini sudah bosan?"
Sambil berkata demikian, dia juga mencubit pipi kecil Tao Zhiying.
"Tidak kok, tidak bosan sama sekali," Tao Zhiying melambaikan tangannya berulang kali, "Paman~ aku sedang belajar di rumah~"
Dia berkata, "Aku sudah bisa mengenali banyak pinyin."
"Hebat sekali ya," paman pemilik kedai tersenyum, "nanti Paman akan beri lebih banyak tangyuan untukmu."
Tao Zhiying menyipitkan matanya, "Baik~"
Ibu Tao berkata, "Kali ini pesan tiga mangkuk ya."
Pemilik kedai mengangguk sambil tersenyum, lalu masuk ke dalam kedai.
Saat ini pengunjung sangat ramai, dan banyak orang berkerumun di depan pintu.
Ada juga banyak yang memesan untuk dibawa pulang, sehingga waktu tunggu menjadi sedikit lebih lama.
Setelah cukup lama menunggu, barulah tiga mangkuk tangyuan disajikan.
Tao Zhiying mengambil sendok kecilnya dan bersiap untuk makan, ketika tiba-tiba dia mendengar keributan dari arah depan.
"Direktur Feng," suara seorang pria terdengar, "lewat sini."
Tao Zhiying mendongakkan kepalanya karena penasaran, dan melihat beberapa pria berpakaian hitam menerobos kerumunan.
Segera setelah itu, seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian tradisional Tiongkok berjalan masuk, diikuti oleh seorang pria paruh baya berpakaian putih di sampingnya.
"Sudah kubilang, datang ke Kota Changbai tanpa makan tangyuan sama artinya dengan sia-sia," kata pelayan tua itu, "Anda sudah begitu lama mencari anak Anda, tidak ada salahnya keluar untuk bersantai sebentar."
Pria yang dipanggil Direktur Feng itu mengangguk kecil.
"Bos," panggil pelayan tua itu, "apakah masih ada tempat?"
Begitu keluar dan melihat barisan orang yang begitu megah, pemilik kedai itu merasa sangat terkejut.
"Ti-, tidak ada lagi," kata pemilik kedai, "semuanya sudah penuh."
Pelayan tua itu melirik sekeliling, menemukan sepasang kekasih muda di meja sebelah, lalu menyerahkan segepok uang kepada mereka, "Maaf, bisakah kalian mengalah dan memberikan meja ini kepada kami?"
Segepok uang.
Tanpa dilebih-lebihkan.
Mata pasangan muda itu langsung bersinar terang. Menerima uang, mengangkat mangkuk, dan bangkit berdiri dilakukan dalam tiga gerakan cepat, bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun yang tidak perlu.
Pelayan tua itu membungkuk untuk mengellap kursi dan meja hingga bersih, barulah ia mempersilakan Direktur Feng untuk duduk.
"Bos," pelayan tua itu tersenyum, "satu mangkuk."
"Oh, oh oh," pemilik kedai menyeka keringatnya, merasa sedikit ketakutan, "Tapi pengunjung sedang ramai sekarang, kalian harus menunggu agak lama."
"Berapa lama?"
"Kira-kira hampir satu jam," kata pemilik kedai, "panci yang tadi baru saja habis terjual."
Pelayan tua itu mengerutkan keningnya, lalu melirik ke arah Direktur Feng.
Direktur Feng tampaknya juga merasa waktu tunggunya terlalu lama.
Setelah duduk selama setengah menit begitu saja, dia bersiap untuk bangkit berdiri.
Tiba-tiba, ujung bajunya ditarik pelan oleh sebuah tangan kecil.
Direktur Feng menundukkan pandangannya, dan kebetulan bertatapan dengan sepasang mata Tao Zhiying yang bulat dan jernih: "Paman~ miliku untuk Paman saja ya~"