Bab 56: Kawasan Vila Mewah
“Ada apa dengan kalian? Perlu setegang itu?”
Ekspresi berlebihan Cao Dahua dan Zhou Xingxing membuat Lu Feng kebingungan.
“Ah Feng, kau yakin itu Bukit Perut Anjing?”
Cao Dahua mengorek telinganya sendiri, merasa dirinya mungkin salah dengar.
“Memang Bukit Perut Anjing, kenapa memangnya?”
Lu Feng mengangguk serius. Ia yakin burung Gagak tidak mungkin salah.
“Ah Feng, tak kusangka ternyata kau anak orang kaya. Bukit Perut Anjing itu kawasan vila mewah, tiap vilanya seharga lebih dari sepuluh juta.”
Cao Dahua menatap Lu Feng seolah baru mengenalnya, matanya meneliti Lu Feng dari atas ke bawah.
Di tahun 1987, harga rumah lebih dari sepuluh juta bagi Cao Dahua adalah angka yang sulit dibayangkan!
Padahal ia belum tahu, harga properti di Pulau Hong Kong dari tahun 1987 hingga 1997 akan naik hampir sepuluh kali lipat!
“Ah, begitulah nasib!”
Zhou Xingxing menatap Lu Feng penuh iri, bergumam, “Mengapa ayahku bukan Li Chao Ren? Kalau iya, aku juga mau beli beberapa vila, punya deretan mobil mewah!”
Sepuluh juta?
Sudut bibir Lu Feng menegang, dalam hati mengeluh kalau Gagak memang kurang bisa diandalkan!
Baru kemarin ia diberi tahu, sebaiknya cari rumah di tempat terpencil, cukup yang dua atau tiga juta saja!
Eh, malah dicarikan rumah di kawasan vila mewah!
Apa aku sekaya itu?
Kenapa aku sendiri tidak tahu!
“Haha, mungkin letaknya dekat kawasan vila mewah saja.”
Lu Feng menutup pembicaraan. Untuk lebih jelasnya, ia harus bertemu Gagak lebih dulu!
“Dekat situ juga tetap tidak murah, Ah... eh, Feng-ge, kau butuh sopir tidak?” Mata Cao Dahua berkilat-kilat menatap Lu Feng dengan ekspresi licik.
“Aku saja masih pakai mobil bekas, darimana punya uang untuk menyewa sopir.” Lu Feng tersenyum.
“Feng-ge, jangan terlalu merendah.”
Cao Dahua menepuk perutnya, “Aku ini orang jujur dan setia, ketrampilan mengemudi juga bagus. Kalau Feng-ge tak keberatan, aku bisa jadi sopirmu.”
Uh!
Lu Feng agak tak habis pikir.
Ah Dah!
Feng-ge!
Begitu tak tahu malu!
“Sudah, berhenti bicara, kita harus berangkat ke sekolah.”
Lu Feng belum sempat bicara, Zhou Xingxing sudah tak tahan dengan kelakuan Cao Dahua, langsung menepuk kepalanya dan berkata,
“Ah Dah, bisakah kau tidak segitu tak tahu malunya? Ah Feng itu teman kita, walaupun dia orang kaya, menurutku kita harus tetap bersikap biasa saja, agar pertemanan kita langgeng.
Toh yang kita nilai adalah orangnya, bukan uangnya.
Biar kita miskin tak masalah, tapi harus punya harga diri, baru Ah Feng bisa menghormati kita.”
“Benar, Inspektur Zhou, kau benar. Aku salah.”
Cao Dahua langsung meminta maaf setelah mendengar kata-kata Zhou Xingxing. Ia merasa Zhou Xingxing tidak salah, memang tadi ia agak keterlaluan.
Lu Feng juga mengangguk setuju, merasa apa yang dikatakan memang masuk akal.
Setelah menegur sikap materialistis Cao Dahua, Zhou Xingxing menoleh pada Lu Feng, wajahnya serius.
Tapi hanya bertahan beberapa detik.
Tak lama, ia malah tersenyum menjilat, “Feng-ge, sebenarnya aku juga jago nyetir, kalau mau aku juga bisa jadi sopirmu.”
Lu Feng: “……”
Cao Dahua: “……”
…
“Feng-ge, baru beberapa hari tak bersua, kau tampak makin berwibawa sekarang.”
Setelah Zhou Xingxing dan Cao Dahua pergi ke sekolah, Lu Feng mengemudi menuju rumah leluhur Chen Xiao Dao, hendak menjemput Gagak untuk melihat rumah.
Gagak memang pandai bicara, begitu melihat Lu Feng langsung melontarkan pujian.
“Kau memang pintar bicara, tapi aku malas berdebat. Katakan saja, kenapa kenalkan aku ke vila mewah? Kau kira aku ini kaya raya?”
Lu Feng mengambil dua botol soda dari mobil, melempar satu pada Gagak, lalu bertanya soal rumah di Bukit Perut Anjing.
“Feng-ge, jangan salah paham.”
Gagak membuka sodanya, meneguk lalu berkata, “Bukit Perut Anjing memang kawasan vila mewah, tapi ada juga beberapa vila tua yang sudah rusak, nomor 167 itu salah satunya, harganya tak mahal, Feng-ge pasti mampu beli.”
“Sudah rusak? Berapa harganya?” tanya Lu Feng.
Gagak menunjukkan lima jari, “Harga pas lima ratus ribu, dengan kemampuan Feng-ge pasti mampu.”
“Lima ratus ribu, memang tak mahal.”
Lu Feng mengangguk, “Tapi, kawasan seperti Bukit Perut Anjing, bukankah harga tanahnya lebih mahal dari bangunannya? Lima ratus ribu rasanya ada yang aneh.”
“Haha, kalau aneh memang benar.”
Gagak tertawa, “Aku sudah cari tahu, pemilik rumah nomor 167 Bukit Perut Anjing ingin pindah ke luar negeri, butuh uang cepat, makanya dijual murah.”
“Mau pindah?”
Lu Feng teringat, pada akhir 80-an dan awal 90-an, menjelang tahun 97, banyak warga Pulau Hong Kong yang memilih pindah ke luar negeri.
Dalam situasi begitu, menjual rumah lebih murah memang masuk akal.
“Benar, sekarang banyak orang kaya ingin pindah ke luar negeri.”
Gagak melihat jam tangan plastiknya, berkata, “Feng-ge, aku sudah janji dengan pemiliknya, jam sembilan pagi kita lihat rumah di Bukit Perut Anjing, sebaiknya kita segera berangkat.”
“Baik!”
Lu Feng mengangguk, lalu mengemudi menuju Bukit Perut Anjing.
Bukit Perut Anjing sebenarnya nama lama, kini sudah punya nama baru yang lebih indah, yaitu Bukit Sembilan Perut.
Nama itu diganti karena para miliarder yang tinggal di sana merasa nama Bukit Perut Anjing kurang pantas.
Bukit Perut Anjing ini letaknya tak jauh dari rumah leluhur Chen Xiao Dao, masih di dalam Distrik Sha Tin.
Hanya sekitar dua puluh menit, Lu Feng dan Gagak sudah sampai di kaki bukit.
“Tempat ini indah sekali, andai suatu hari aku juga bisa beli vila di sini!”
Duduk di dalam mobil, memandang ke arah Bukit Perut Anjing, pemandangan hijau pohon dan bunga memanjakan mata!
Karena jendela mobil terbuka, udara segar yang harum juga memberi Lu Feng dan Gagak rasa segar yang menyejukkan hati!
Gagak tak tahan untuk tidak memuji, matanya penuh rasa iri!
“Memang bagus di sini, tenang dan udaranya segar.”
Lu Feng juga sangat puas dengan lingkungan ini, soal vila mewah atau tidak, yang penting tenang dan nyaman.
Mobil terus melaju, sekitar tujuh atau delapan menit kemudian, Lu Feng dan Gagak akhirnya tiba di depan vila nomor 167.
Dari luar, vila itu terdiri dari dua lantai, tapi areanya sangat luas, hanya bangunannya saja sekitar empat atau lima ratus meter persegi.
Selain itu, ada halaman kecil seluas lebih dari seratus meter persegi.
Namun, vila itu memang sudah agak rusak, banyak bagian keramiknya yang sudah copot.
Setelah dibeli, Lu Feng pasti harus merenovasinya.
Selain itu, vegetasi di sekitar vila sangat lebat dan rapat, jika cuaca cerah tidak masalah.
Tapi kalau cuaca mendung, suasananya bisa terasa agak menyeramkan.
“Halo, kalian yang mau beli rumah itu ya?”
Begitu Lu Feng dan Gagak turun dari mobil, seorang pria paruh baya berpakaian rapi menghampiri.
Namun di matanya tampak sedikit amarah, merasa dirinya sedang dipermainkan, dua orang yang naik mobil bekas begini mau beli vilanya?
Tapi karena sudah berpengalaman, ia tetap bersikap sopan pada Lu Feng dan Gagak.
“Benar, Tuan, kakakku ini yang mau beli rumah.” Jelas Gagak.
“Halo.” Lu Feng mengangguk.
Pemilik rumah itu mengulurkan tangan, “Salam, saya He Xi, boleh tahu nama Anda?”
Lu Feng menjabat tangannya, “Nama saya Lu, saya suka lingkungan di sini, bolehkah kami lihat-lihat rumahnya dulu?”
“Tentu saja.” Walau He Xi merasa Lu Feng dan Gagak mungkin tak mampu beli, ia tetap mengizinkan mereka masuk melihat-lihat rumah.
Segera, mereka bertiga masuk ke dalam vila, melewati halaman kecil, lalu masuk ke ruang tamu.
Namun, baru saja menginjak ruang tamu, Lu Feng merasa suhu tiba-tiba menurun, bahkan ia merasakan sedikit hawa dingin.
Tapi ia tak begitu memikirkan, karena cuaca panas, wajar jika suhu dalam ruangan lebih rendah dari di luar.
“Eh, Manajer He, kenapa Anda ke sini?”
Saat mereka baru masuk ruang tamu, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun menyambut.
“Paman Biao, ini rumah saya, kenapa saya tak boleh datang?” He Xi mengernyitkan dahi.
“Manajer He, bukankah dua hari lalu Anda izinkan saya tinggal di sini?” Wajah Paman Biao sedikit canggung.
“Itu kan dua hari lalu, sekarang saya berubah pikiran, mau jual rumah ini. Paman Biao, ada masalah?” He Xi masih ramah pada Lu Feng, tapi pada Paman Biao jadi bersikap dingin.
“Itu rumah Anda, mau dijual ya silakan, saya tak bisa berbuat apa-apa.” Paman Biao tersenyum pahit, tentu saja ia tak berani membantah bosnya!