Bab 63: Suara Pertunjukan di Tengah Malam

Menjelajahi Dunia-dunia Melalui Hong Kong Menggiring sapi untuk memberi makan sang jenderal agung 2590kata 2026-03-04 22:49:40

“Tuan Lu, Anda sudah kembali.”

“Selamat malam, Tuan Lu.”

Tak lama setelah Lu Feng dan A Zhen turun dari kamar kecil di atap dan kembali ke aula utama, keluarga Paman Biao pun tiba di rumah.

Sebagai orang yang menumpang di rumah orang lain, keluarga Paman Biao sangat sopan kepada Lu Feng.

“Paman Biao, sebenarnya kalian tak perlu repot-repot keluar untuk makan. Memasak di rumah saja sudah cukup.”

Orang yang menghormati aku sejengkal, akan kubalas sepeluk. Lu Feng pun bersikap ramah kepada keluarga Paman Biao.

Lu Feng bisa merasakan kalau keluarga Paman Biao adalah orang-orang yang jujur.

Alasan mereka makan di luar bukan karena listrik padam, tetapi karena mereka enggan menggunakan minyak dan gas vila ini, bagaimanapun tempat ini sudah dibeli oleh Lu Feng.

“Terima kasih, Tuan Lu.”

Melihat kelapangan dada dan kemurahan hati Lu Feng, Paman Biao pun menyampaikan terima kasih dari lubuk hatinya.

Istri dan putri Paman Biao juga menampakkan senyum di wajah mereka, karena sebenarnya mereka pun enggan pergi jauh-jauh hanya untuk makan.

“Nona Wang, ke mana perginya bak mandi itu?”

Setelah mengucapkan terima kasih kepada Lu Feng, Paman Biao melirik ke samping, dan mendapati bak mandi yang tadi mereka angkat bersama malah sudah tidak ada.

“Oh, tadi bak itu diangkat ke gudang di atap sama Kak Feng,” jawab A Zhen.

Nona Wang?

Lu Feng menatap A Zhen dan baru sadar bahwa ternyata nama keluarganya Wang.

“Kau angkat sendiri?”

Keluarga Paman Biao serentak menoleh kepada Lu Feng, mata mereka penuh keheranan.

“Haha, sejak kecil aku memang sudah kuat.” Lu Feng tertawa.

Kemudian ia berkata lagi, “Paman Biao, masalah listrik padam malam ini juga tidak bisa diatasi, sebaiknya kalian istirahat lebih awal.”

“Tuan Lu memang luar biasa, kekuatan Anda sungguh hebat.”

Paman Biao memuji Lu Feng, lalu memandang ruangan yang gelap dan berkata, “Tanpa listrik, memang tak ada yang bisa dilakukan. Tuan Lu, Anda juga istirahatlah lebih awal. Selamat malam.”

“Selamat malam, Tuan Lu.”

Istri dan putri Paman Biao pun ikut mengucapkan selamat malam pada Lu Feng.

Pada zaman tanpa ponsel pintar seperti ini, hidup memang terasa membosankan.

Begitu listrik padam, semuanya tiba-tiba menjadi tak menarik.

“Selamat malam.”

Setelah saling mengucapkan selamat malam dengan keluarga Paman Biao, Lu Feng menoleh pada A Zhen, “Kau juga pergilah tidur. Toh malam ini juga tak bisa nonton TV.”

“Baik, Kak Feng, aku akan tidur sekarang.”

A Zhen mengangguk, lalu berkata, “Kak Feng, kau juga istirahatlah. Selimut di kamarmu sudah kusiapkan sebelum listrik padam.”

“Baik, terima kasih. Aku juga akan tidur.”

Lu Feng melirik ke arah kamarnya lalu berkata, “Tapi malam ini aku tidak tidur di kamar, aku mau tidur di sofa saja.”

Di sofa?

A Zhen tertegun sejenak, lalu bertanya heran, “Kak Feng, kau tidak apa-apa?”

“Apa aku kelihatan bermasalah?” Lu Feng tersenyum tipis. “Sudahlah, kau tidur saja dulu, tak perlu mengkhawatirkanku.”

“Baik, aku mengerti.”

A Zhen tak bertanya lagi, dia mengangguk dan langsung masuk ke kamarnya. Namun, sorot matanya masih menyimpan tanda tanya yang dalam.

Begitu A Zhen masuk kamar, Lu Feng mematikan senter. Seluruh aula utama langsung tenggelam dalam kegelapan pekat.

“Ayo, aku benar-benar ingin melihat, sekuat apa sebenarnya yang disebut hantu itu.”

Lu Feng duduk bersila di atas sofa, wajahnya menampakkan harapan.

Awalnya, ia memang sedikit gentar pada makhluk tak dikenal seperti hantu.

Tapi ucapan A Zhen tadi—‘menakuti diri sendiri’—membuka pikirannya.

Bukankah itu hanya hantu payah?

Waktu hidup saja lemah, masak setelah mati bisa berkuasa?

Lu Feng tidak percaya!

Detik demi detik berlalu, beberapa jam pun lewat begitu saja.

Meski Lu Feng sedang bermeditasi dan berlatih, namun ia tetap waspada pada keadaan sekitar.

Ketika jam menunjuk tepat pukul dua belas malam dan suara detaknya menggema jelas, Lu Feng membuka mata.

“Tuan menantu, mari kemari dan perhatikan, tertulis di sini: Qin Xianglian, usia tiga puluh dua tahun, melaporkan menantunya yang pejabat kerajaan…”

Di saat yang sama, terdengar suara nyanyian opera dari telinganya…

“Huh, bisa juga dia menyanyikan perkara pengadilan…”

Mendengar suara nyanyian itu, Lu Feng menampakkan senyum sinis.

Ia langsung duduk tegak di sofa, membawa senter dan melangkah perlahan menuju ruang bawah tanah, karena suara itu berasal dari sana.

Meski Lu Feng tidak takut hantu, namun untuk berjaga-jaga, ia tetap melangkah perlahan.

Ketika Lu Feng tiba di depan pintu ruang bawah tanah, suara nyanyian opera semakin nyaring, bahkan bisa dikatakan menulikan telinga.

Lu Feng berdiri di depan pintu, tubuhnya berhenti sejenak, lalu mendorong pintu dengan kuat.

Cahaya senter langsung menyorot ke dalam ruang bawah tanah.

Begitu pintu itu terbuka, ruang bawah tanah yang tadinya ramai, seketika berubah sunyi senyap.

Tak terdengar suara apa pun.

Cahaya senter yang menyorot pun tak menemukan tanda-tanda keberadaan makhluk halus.

Lu Feng melangkah perlahan masuk ke dalam ruang bawah tanah.

Dengan bantuan cahaya senter, seluruh ruangan pun terlihat jelas.

Ruang bawah tanah ini sangat luas, luasnya lebih dari seratus meter persegi, namun di dalamnya kosong melompong.

Selain sebuah cermin, beberapa set kostum opera, dan sebuah pedang besar, tak ada benda lain.

Lu Feng melangkah perlahan ke depan cermin. Di bawah sorot senter, wajah tampannya tampak sedikit pucat.

“Cermin ini lumayan juga, lain kali bisa dipindahkan ke atas.”

Sambil menatap dirinya di dalam cermin, Lu Feng tersenyum tipis.

Kini ia semakin meremehkan yang disebut ‘hantu’.

Makhluk itu memang penakut, hanya berani menakut-nakuti orang dan bermain perang psikologis, tapi begitu ia turun ke ruang bawah tanah, makhluk itu langsung berhenti bernyanyi.

Jelas, ia sedang mengamati, melihat apakah Lu Feng orang yang mudah dihadapi.

Sampai sekarang pun, makhluk itu belum berani bertindak, entah karena belum mengenal Lu Feng dengan baik, atau karena merasa Lu Feng tidak mudah diganggu.

Dugaan Lu Feng benar. Bagaimanapun, ia adalah pendekar tingkat tinggi yang telah mencapai tahap penyempurnaan tenaga dalam, ditambah lagi ia mempelajari ilmu Tao.

Asal ia bisa menguasai cara menggunakan ilmu sihir, ia bisa langsung mengatasi makhluk halus!

Karena itu, hantu biasa memang tak berani sembarangan menyerangnya.

Setelah berbicara pada dirinya sendiri, Lu Feng pun merapikan rambutnya di depan cermin.

Kemudian, ia menoleh ke sekeliling, memperhatikan ruangan dengan seksama.

Setelah itu, ia melangkah dengan percaya diri keluar dari ruang bawah tanah.

Toh, tak ada gunanya tetap di sana, hantu yang bernyanyi itu pun tidak menampakkan diri.

Lebih baik naik ke atas untuk melanjutkan latihan.

“…Bawalah surat gugatan ini ke aula utamaku, katakan dengan tegas, untuk perkara apa kau datang…”

Namun, ketika Lu Feng keluar dari ruang bawah tanah dan menutup pintunya, suara nyanyian itu kembali menggema.

Apa ini tantangan?

Raut wajah Lu Feng langsung berubah muram!

Sialan, malam-malam begini sengaja bernyanyi keras-keras, benar-benar mengganggu orang yang ingin berlatih!

Namun, mau bagaimana lagi? Saat ini, Lu Feng benar-benar tak punya cara menghadapi hantu penyanyi itu!

Bagaimanapun, ia tidak bisa melihat wujud hantu itu!

“Ah! Sepertinya aku harus mendapatkan kemampuan Mata Yin-Yang dulu, baru bisa membalas perbuatan hantu itu!”

Mata Lu Feng menyipit. Ia semakin berambisi menyelesaikan misi ‘menemukan Tombak Kebaikan’!

Asal bisa menemukan Tombak Kebaikan dan memperoleh kemampuan Mata Yin-Yang, ia pasti akan segera datang untuk membalas hantu itu!

Sekarang rumah ini miliknya, ia sama sekali tak mengizinkan makhluk gaib mana pun berbuat semaunya di tempat tinggalnya!