Bab 85: Seorang Pria Harus Punya Kemampuan
“Maaf, Tuan, kami tidak menerima kabar semacam itu. Mohon jangan menyebarkan rumor dan membuat keributan.”
Para satpam berdiri rapat menghalangi Dadan, tak peduli apa pun yang ia katakan, mereka tetap tidak membiarkannya masuk. Namun, ini memang bukan sepenuhnya salah para satpam, karena mereka hanya menjalankan aturan!
Dadan sebenarnya memiliki kemampuan bela diri yang hebat, namun sehebat apa pun dia, tetap tak berdaya jika dihadang puluhan satpam sekali gus.
“Tolong percaya padaku, aku benar-benar menemukan penjahat, dan aku adalah pengawal Long Wei. Mohon izinkan aku masuk.”
Melihat para satpam tetap tak membolehkan dirinya masuk, Dadan jadi sangat gelisah.
“Maaf, jika Anda benar-benar menemukan penjahat yang ingin merampok perhiasan, Anda bisa langsung melapor ke polisi. Namun, jika Anda tetap ingin masuk ke hotel kami, silakan tunjukkan undangan Anda, kalau tidak, kami tidak akan membiarkan Anda masuk,” kata kepala satpam dengan nada tegas namun tetap mengedepankan logika. Ia tetap tak mau memberi jalan.
“Ini tidak seperti kakak kelima-ku...”
Lukman berdiri di depan pintu lift, menatap Dadan yang sedang bersitegang dengan para satpam. Ia menyadari, meski tokoh Chen Zhen dalam film Pahlawan Kungfu dan Dadan dalam film Keberanian Tikus dimainkan oleh aktor yang sama, Jet Li, namun penampilan keduanya sungguh berbeda.
“Tuan Lukman, mari kita masuk ke lift...”
Saat Lukman hendak meminta Cheng Wenjing untuk memerintahkan satpam membiarkan Dadan masuk, pintu lift tiba-tiba terbuka.
“Tunggu, Nona Cheng, tolong suruh mereka izinkan pria ini masuk,” ujar Lukman sambil menggeleng pelan. Ia memang belum ingin langsung masuk lift.
“Baik, Tuan Lukman.”
Walaupun Cheng Wenjing tak paham alasan Lukman, ia tetap segera melaksanakan perintah itu.
“Bang...”
Begitu Cheng Wenjing pergi, Ajeng memanggil Lukman dengan suara pelan.
“Ada apa?” tanya Lukman menoleh pada Ajeng.
Ajeng tampak ragu dan sedikit gelisah, tapi akhirnya berkata, “Aku merasa wanita itu sangat memesona!”
“Aku juga pikir begitu, dan dia memang cantik,” jawab Lukman sambil tersenyum.
“Iya, sangat cantik.”
Ajeng menyibak rambutnya yang menutupi dahi, lalu berbisik, “Tapi, sepertinya dia memperlakukanmu berbeda. Seolah-olah ia sedang berusaha menarik perhatianmu.”
“Itu hal yang wajar, kan?”
Lukman tersenyum percaya diri, “Menurutmu, pria setampan dan sehebat aku ini, punya beberapa pengagum bukanlah hal aneh, bukan?”
“Eh? Pengagum? Apa maksudmu?” Ajeng sedikit tercengang.
“Oh, tidak apa-apa.”
Lukman tertawa canggung, ia tak sengaja keceplosan.
“Bukan, maksudku, waktu itu dia tampak dingin padamu, tapi sekarang tiba-tiba begitu ramah, apa tidak ada yang aneh menurutmu?”
Ajeng bertanya hati-hati.
“Berusaha menarik perhatian?”
Lukman menatap Ajeng dengan heran, “Kau juga menyadarinya?”
“Iya, sesama wanita pasti bisa menilai. Dia terlalu berlebihan,” ujar Ajeng sambil cemberut, tampak tak menyukai cara-cara Cheng Wenjing.
“Bagus!”
Lukman memuji dan mengusap kepala Ajeng. Ia sadar gadis ini ternyata cukup cerdas.
“Bang...”
Ajeng seketika membeku setelah kepalanya diusap, wajah cantiknya pun seketika memerah seperti apel matang.
Lukman sendiri merasa itu hal biasa. Saat memuji teman, ia biasanya menepuk bahu, sedangkan pada perempuan, ia mengusap kepala. Menurutnya, itu wajar!
Namun, menurut banyak orang, terutama perempuan, sikapnya bisa dianggap tidak biasa.
“Tuan, Anda kenal saya?”
Tak lama, Cheng Wenjing kembali ke depan lift. Kali ini, di belakangnya ikut Dadan, pengawal, pemeran pengganti, sekaligus sopir Long Wei!
Begitu melihat Lukman, Dadan langsung bertanya.
Jelas, Cheng Wenjing sudah memberitahu Dadan bahwa Lukmanlah yang meminta satpam mengizinkannya masuk.
“Tidak kenal, mari masuk dulu, kita bicara di dalam,” sahut Lukman lalu masuk ke dalam lift.
Pameran perhiasan diadakan di lantai 75, jadi mereka masih punya cukup waktu untuk berbicara.
Melihat Lukman masuk lebih dulu, Dadan dan yang lain pun segera mengikutinya.
“Tadi aku mendengar ucapanmu pada satpam, makanya aku meminta Nona Cheng untuk membiarkanmu masuk,” kata Lukman setelah pintu lift tertutup.
“Oh, ternyata begitu. Tuan, percayalah padaku, memang ada sekelompok penjahat yang ingin merampok perhiasan di pameran!”
Dadan berkata dengan wajah cemas pada Lukman.
“Kau yakin?”
Belum sempat Lukman bicara, Cheng Wenjing sudah bertanya lebih dulu.
“Tentu saja yakin.” Dadan menepuk dadanya meyakinkan.
“Kalau benar demikian, aku harus melapor pada Ketua Wang dan Ketua Tang,” ujar Cheng Wenjing dengan wajah serius.
“Tak perlu!”
Lukman tersenyum, “Aku sudah tahu soal itu, dan semuanya sudah kuatur. Para perampok itu tak akan bisa naik sampai ke lantai paling atas.”
“Syukurlah!”
Cheng Wenjing menghela napas lega. Ia memang cukup percaya pada kemampuan Lukman. Bukankah Lukman sendiri pernah memaksa Wang Bao berlutut?
“Tuan, benar itu?”
Dadan masih ragu. “Penjahat itu sangat berbahaya, mereka ahli memasang bom waktu. Istri dan anakku tewas oleh mereka. Tuan, kau harus hati-hati.”
Saat menyebut istri dan anaknya, mata Dadan pun berkaca-kaca, seolah hendak menangis.
“Tuan, aku sangat bersimpati pada nasibmu, tapi orang lain boleh saja kau tak percaya. Tapi ucapan Bang Lukman, kau harus percaya. Dia tak pernah membual!”
Ajeng tampak tak terima Dadan meragukan kemampuan Lukman.
Lukman kembali melirik Ajeng, dalam hati ia membatin: Ternyata memang benar, lelaki harus punya kemampuan! Lihat saja, sekarang aku tak perlu memuji diri sendiri, sudah ada gadis yang rela membelaku! Rasanya luar biasa!
“Maaf, maaf, aku tak bermaksud menyinggung. Maksudku, kelompok itu memang sangat sulit dihadapi!”
Dadan cepat-cepat menjelaskan karena merasa ucapannya tadi agak menyinggung Lukman.
“Aku tahu semuanya, tenang saja,” kata Lukman sambil menepuk bahu Dadan.
“Tuan Lukman, sudah sampai. Silakan keluar.”
Dalam percakapan itu, lift pun sampai di lantai paling atas. Lukman dan rombongan pun keluar.
“Halo, sudah siap? Ada orang mencurigakan?”
Begitu keluar lift, Lukman segera menelepon Bintang.
Saat ini Bintang sedang berjaga di jalur yang pasti dilewati para perampok. Di sampingnya bukan hanya Taufik, tapi ada lebih dari dua puluh anggota Pasukan Macan Terbang lainnya.
Semua ini diatur oleh Yulius.
Ia sangat memahami betapa pentingnya para tokoh masyarakat di Pulau Hong Kong, jadi ia tak berani lengah sedikit pun.
Demi melindungi para tokoh tersebut, ia tak hanya menugaskan Bintang dan Taufik. Ia juga menempatkan beberapa tim di berbagai ruas jalan!
Tak berlebihan jika dikatakan, selama ada perampok dalam jumlah besar, mereka pasti bisa menggagalkan aksi mereka sebelum sampai ke pameran perhiasan!
“Tenang saja, semuanya sudah diatur. Jangan kan perampok, anjing liar pun tak akan bisa masuk,” jawab Bintang dengan penuh keyakinan.
“Bagus!”
Mendengar jaminan itu, Lukman tersenyum tipis.
Jika Bintang dan timnya bisa membereskan para perampok itu, Lukman hanya perlu menangkap si pemimpin perampok, ‘Dokter’, yang sudah lebih dulu menyusup ke pameran perhiasan.
Betapa mudahnya!