Bab 153: Berani-beraninya Kau Menatap Wanita Kakak Besar?
"Kalian tidak perlu sungkan seperti itu."
Lu Feng melambaikan tangannya.
Ia benar-benar merasa tidak biasa melihat orang-orang membungkuk di hadapannya.
"Kak Feng, siapa mereka ini?"
Cheng Wenjing bertanya dengan suara pelan kepada Lu Feng.
Menurut pandangannya, para remaja dan pemudi dengan rambut warna-warni itu sekilas tampak seperti para preman jalanan.
Seharusnya, preman sekelas itu tidak layak untuk berurusan dengan Lu Feng.
Namun, Lu Feng justru mengingat dengan jelas nama salah satu dari mereka, yang tentu saja terasa agak mengejutkan!
"Bukan siapa-siapa, cuma teman biasa."
Lu Feng tersenyum tipis.
"Tuan Lu, apakah Anda sedang berjalan-jalan santai di Temple Street?"
Shan Ji bertanya kepada Lu Feng dengan penuh rasa hormat.
"Bisa dibilang begitu."
Lu Feng mengangguk.
"Tuan Lu, kami bersaudara sangat hafal dengan kawasan Temple Street ini. Apakah Anda ingin kami menemani Anda berkeliling?"
Shan Ji memasang ekspresi sangat antusias. Di dalam hatinya, Lu Feng adalah sosok yang bahkan tidak berani disinggung sembarangan oleh Tuan Jiang, bos besar mereka di Geng Hung Hing.
Bisa menjalin hubungan dengan Lu Feng tentu merupakan hal yang sangat luar biasa baginya.
"Baiklah kalau begitu."
Lu Feng mengangguk.
Lu Feng tidak menolak tawaran Shan Ji karena ia ingin mencari tahu dari mulut Shan Ji mengenai apa yang terjadi setelah insiden dirinya memaksa Wong Po berlutut tempo hari.
"Terima kasih, Tuan Lu. Terima kasih telah memberi kami kesempatan ini..."
Shan Ji tampak sangat gembira, lalu dengan penuh semangat memperkenalkan kepada Lu Feng, "Tuan Lu, ini Kakak sulung saya, Chan Ho Nam; lalu mereka ini adalah Tai Tian Er, Jiao Pi, Bao Pi, Da Tou; dan kedua gadis ini adalah pacar Jiao Pi dan Da Tou."
Chan Ho Nam dan kawan-kawan aslinya adalah para remaja yang liar dan tidak pernah mau tunduk kepada siapa pun.
Namun, saat Shan Ji menyebut nama mereka, mereka berdiri dengan sangat patuh, dan tatapan mata mereka kepada Lu Feng dipenuhi dengan rasa kagum.
Jelas sekali, kharisma Lu Feng hari itu telah benar-benar menaklukkan para pemuda berandalan ini!
"Oh, begitu. Senang berkenalan dengan kalian, anak-anak muda."
Lu Feng tersenyum tipis. Meskipun usianya sendiri baru 23 tahun, terlalu banyak hal yang telah ia lalui belakangan ini.
Bagi hatinya, Chan Ho Nam dan yang lainnya memang hanyalah sekumpulan anak-anak muda.
"Kami juga senang berkenalan dengan Tuan Lu."
Chan Ho Nam dan yang lainnya buru-buru menyahut.
Meskipun Lu Feng, yang usianya hanya terpaut sedikit dari mereka, memanggil mereka anak-anak muda, mereka sama sekali tidak merasa tersinggung, melainkan merasa sangat bersemangat.
"Jangan ngobrol di sini terus. Mari kita cari tempat untuk makan dulu, kita bisa ngobrol sambil makan."
Sambil berkata demikian, Lu Feng melirik sekilas ke arah Cheng Wenjing dan bertanya, "Wenjing, bagaimana menurutmu?"
"Apa pun kata Kak Feng, aku setuju. Aku ikut saja."
Cheng Wenjing tersenyum manis.
Ia memang sangat cantik dan senyumannya begitu manis, membuat Tai Tian Er dan yang lainnya hampir terpesona hingga tertegun.
"Kalian berdua ini, beraninya menatap wanita Kakak besar?"
Shan Ji mengangkat tangan dan menepuk ringan kepala Tai Tian Er dan Bao Pi.
Keduanya langsung menundukkan kepala.
"Plak!"
"Kenapa masih mencuri pandang?"
Shan Ji baru hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi ia mendapati Bao Pi diam-diam masih mencuri pandang ke arah Cheng Wenjing, sehingga ia langsung melayangkan tamparan ringan ke kepala pemuda itu.
Siapa sebenarnya Lu Feng itu? Dia adalah sosok yang bahkan mampu memaksa Wong Po berlutut!
Wanita miliknya, mana mungkin boleh ditatap dengan penuh niat lancang oleh orang lain?
Oleh karena itu, Shan Ji takut Lu Feng akan marah, makanya ia bertindak tegas kepada Bao Pi!
"Aduh!"
Jika dulu, seandainya ditampar oleh Shan Ji seperti itu, Bao Pi pasti akan balas menampar.
Namun, sekarang ia tidak berani. Bagaimanapun, orang yang ia curi pandang adalah 'wanita' milik Lu Feng, dan ia sama sekali tidak berani menyinggung Lu Feng!
Setelah mendapat pukulan ringan dari Shan Ji itu, ia langsung menundukkan kepala dan tidak berani mencuri pandang lagi.
"Haha, mereka berdua benar-benar ada-ada saja."
Melihat ekspresi Bao Pi yang tampak mengeluh dan kemarahan Shan Ji, Cheng Wenjing menutup mulutnya sambil tersenyum kecil.
Ia sangat tahu, jika dalam keadaan biasa, para preman kecil ini pasti tidak akan bersikap begitu hormat kepadanya.
Bahkan, mungkin saja mereka berani mengggodanya di jalanan.
Namun, sekarang mereka bahkan tidak berani menatapnya secara terang-terangan, dan hanya berani mencuri pandang!
Semua ini terjadi karena ia mendapat cipratan kehormatan dari Lu Feng!
Semua ini karena ucapan 'wanita Kakak besar'!
"Memang cukup lucu."
Lu Feng tersenyum tipis, lalu meletakkan tangannya di bahu Cheng Wenjing sambil bertanya kepada Bao Pi yang sedang menunduk, "Bagaimana, wanita ku cantik atau tidak?"
"Kak Feng..."
Cheng Wenjing merasa agak malu, tetapi karena ada begitu banyak orang yang melihat, ia tidak berani menepis tangan Lu Feng.
Jika ia melakukannya, itu akan sangat tidak menghargai muka Lu Feng.
"Cantik, cantik sekali, seperti bidadari, benar-benar sangat indah."
Mendapat pertanyaan dari Lu Feng, Bao Pi secara naluriah mengucapkan isi hatinya yang sebenarnya.
Namun, begitu selesai mengatakannya, ia langsung merasa menyesal.
Meski demikian, ketika ia melihat Lu Feng sama sekali tidak marah dan justru tersenym, keberaniannya sekumpulan kembali.
Ia lantas berkata, "Ipar sangat cantik, bahkan jauh lebih cantik daripada bintang film."
"Haha, anak muda, pandai juga kamu merayu orang."
Lu Feng melirik Cheng Wenjing yang tampak malu-malu, lalu mengelus kepalanya sambil berkata, "Wenjing-ku ini memang sudah seperti bidadari sejak dari sana."
"Kak Feng..."
Suara Cheng Wenjing sangat pelan, dan kepalanya semakin menunduk ke bawah.
"Tuan Lu, Anda dan Ipar sungguh pasangan yang serasi, membuat saya iri setengah mati. Kalau saya dan macan betina saya sangat berbeda, kami ribut terus setiap hari. Apakah Tuan Lu punya rahasia tertentu, tolong ajarkan kepada saya."
Pada saat itu, Jiao Pi bertanya kepada Lu Feng dengan penuh rasa penasaran, sementara tatapan matanya menyiratkan keinginan untuk belajar.
"Bagus ya kamu, berani bilang aku macan betina..."
"Aduh, telingaku sakit... lepaskan cepat... aku mengaku salah..."
Lu Feng baru saja hendak membuka mulut ketika telinga Jiao Pi sudah dijewer oleh pacarnya, membuatnya menjerit kesakitan.
"Masa muda memang indah!"
Menyaksikan sepasang kekasih yang sedang bertingkah jenaka di hadapannya itu, Lu Feng teringat pada masa ketika ia berusia tujuh belas atau delapan tahun.
Dulu sekali, ia juga pernah memiliki cinta pertama yang nakal dan menggemaskan, bahkan saat reuni kelas beberapa waktu lalu, ia sempat meminta nomor kontaknya lagi.
Sayang sekali...
Hanya beberapa hari berselang, ia malah datang ke Hong Kong!
Aduh! Seumur hidup ini sepertinya akan sangat sulit untuk bisa berjumpa lagi!
"Kalian berdua berhenti berulah, kita mau mentraktir Tuan Lu makan."
Chan Ho Nam bersuara untuk menghentikan mereka.
Ia memiliki wibawa yang cukup kuat di antara kelompok anak muda ini. Begitu ia membuka suara, Jiao Pi beserta pacarnya langsung berhenti berulah.
"Biar aku saja yang traktir kalian..."
Melihat tingkah mereka, Lu Feng tahu bahwa anak-anak muda ini sepertinya belum memiliki banyak uang.
Tentu saja Lu Feng tidak mungkin membiarkan sekelompok anak muda mentraktirnya makan.
"Tuan Lu, Anda sama sekali tidak boleh menolak. Bisa makan bersama Anda saja sudah merupakan kehormatan bagi kami, mana berani kami membiarkan Anda yang mentraktir."
Shan Ji langsung bersuara. Orang ini memang selalu pandai merangkai kata.
"Betul, Tuan Lu, kami patungan saja untuk mentraktir Anda makan dengan layak."
Jiao Pi buru-buru menimpali.
"Kami harap Tuan Lu berkenan mengabulkan."
Chan Ho Nam dan yang lainnya turut bersuara.
"Baiklah kalau begitu."
Melihat antusiasme yang begitu besar dari anak-anak muda ini, Lu Feng mengangguk dan berkata, "Kalau begitu, terserah kalian yang mentraktir. Tapi tidak usah repot-repot membuat persiapan besar, kita cari warung kecil di pinggir jalan saja sudah cukup..."