Bab 128: Manja Cheng Che, Sungguh Sulit Menolak
Seusai makan, Yun Sia kembali ke kamarnya.
Ia membuka penutup iPad, dan sebuah foto paspor Ceng Ce terjatuh dari dalamnya.
Yun Sia berbaring di ranjang sambil mengangkat foto itu. Foto tersebut menutupi lampu di atas kepalanya. Namun, begitu sedikit digeser, cahaya pun kembali menyelimutinya.
Ceng Ce pernah bertanya, sejak kapan ia menyukainya.
Yun Sia tidak mampu menjawab.
Mungkin sejak suatu momen yang terjadi tanpa sengaja, atau mungkin sejak salah satu ucapan Ceng Ce.
Menatap pemuda dalam foto, Yun Sia tanpa sadar mengulum senyum.
Foto Ceng Ce ini benar-benar penuh gaya.
Sombong, sekaligus pandai bergaya.
Ck.
Ujung jarinya mengetuk foto itu, sementara riak-riak perlahan muncul di dalam hatinya.
Ting—
Ponselnya berbunyi.
Yun Sia memasukkan kembali foto itu ke dalam penutup iPad, lalu meraih ponselnya.
Ceng Ce: Belum tidur?
Yun Sia menyipitkan mata. Bukankah dia juga belum tidur?
Yun Sia: Ada apa?
Ceng Ce: Pikirkan aku.
Yun Sia mengernyit. Ia benar-benar dibuat mengerutkan dahi.
Apa-apaan ini?
Ceng Ce: T!I!D!A!K! B!O!L!E!H! T!I!D!A!K! M!E!N!Y!U!K!A!I!K!U!
Yun Sia tertawa geli.
Ia bahkan bisa membayangkan ekspresi Ceng Ce saat mengucapkan kalimat itu.
Ceng Ce pasti memasang wajah congkak, menatapnya dengan sepasang mata penuh gairah, lalu melontarkan setiap kata dengan tegas.
Dasar orang ini.
Bukankah tadi ia hanya sedang menggodanya?
Yun Sia: Tergantung penampilanmu.
Ceng Ce: Tidak boleh!
Yun Sia: Kalau begitu, manjalah sedikit.
Ceng Ce: Hah? Aku, seorang pria dewasa, harus bermanja padamu? Masuk akal?
Yun Sia: Aku keluar dulu. Dah.
Ceng Ce: Jangan, jangan, jangan!
Yun Sia tengkurap di atas ranjang, sudut bibirnya terus terangkat.
Yun Sia: Kirim pesan suara.
Ceng Ce: ...
Apa dia sudah keterlaluan?
Kenapa bisa-bisanya dia sesombong itu?
Memintanya bermanja, sekarang bahkan menyuruhnya mengirim pesan suara!
Ceng Ce: Aku turun saja.
Yun Sia: Oh, boleh juga.
Ceng Ce: Kamu sendiri yang bilang.
Yun Sia terdiam sesaat setelah menerima pesan itu.
Tak lama kemudian, ia mendengar suara dari tangga.
Celaka.
Tiba-tiba Yun Sia merasa leluconnya sudah kebablasan.
Tok—
Pintu kamarnya diketuk. Ekspresi Yun Sia seketika kaku.
Serius? Dia benar-benar turun?
“Ada apa?” teriak Yun Sia dengan suara kaku.
“Bermanja!” jawabnya tegas, seolah hendak mendaftarkan diri menjadi anggota partai.
Suaranya sama sekali tidak terdengar seperti hendak bermanja. Lebih mirip orang yang datang untuk menghajarnya.
Ceng Ce bersandar di dinding, membelakangi pintunya, lalu berseru dengan bosan, “Buka pintunya.”
Ia berani bertaruh, Yun Sia pasti akan ciut dan tidak berani membuka pintu.
Namun detik berikutnya, pintu itu terbuka.
Ceng Ce, “Hah?”
Bagus. Yun Sia ternyata sudah punya nyali.
Ia benar-benar berani membuka pintu.
“Ayo, bermanjalah.” Yun Sia menyilangkan tangan di dada, mengangkat dagu, lalu menatapnya.
Tinggi badan Yun Sia yang seratus enam puluh tiga sentimeter sebenarnya tidak bisa dibilang pendek. Sayangnya, Ceng Ce terlalu tinggi.
Ceng Ce terdiam.
Mendadak sekali?
Ia merapatkan bibir, seketika tidak tahu harus berbuat apa.
Yun Sia tidak mengerti. Dengan sengaja ia menggoda, “Kenapa? Tuan Muda malu? Atau tidak mau?”
Ceng Ce berdeham dan berkata dengan tegar, “Tentu saja aku mau.”
“Kalau begitu, mulai saja.” Yun Sia terkekeh.
Ceng Ce hanya bisa bungkam.
Ia benar-benar menggali lubang untuk dirinya sendiri. Tadinya, ia bisa saja mengirim beberapa kalimat lewat ponsel. Namun sekarang, ia sudah datang langsung ke hadapan Yun Sia. Kali ini, ia benar-benar tidak bisa menghindari bermanja.
Sudahlah. Bukankah semua orang memang harus terus hidup sambil menahan air mata?
Ceng Ce merapatkan bibir, lalu meremas tenggorokannya dengan ujung jari.
Yun Sia menatapnya sambil menahan tawa.
Persiapannya cukup panjang juga.
“Yun Yun.” Ia memanggilnya dengan suara pelan. Tubuhnya bersandar pada kusen pintu, tampak agak kikuk.
“Ya?” Yun Sia menyipitkan mata sambil menarik-narik telinganya.
Ceng Ce selalu merasa bahwa posisi mereka berdua telah tertukar.
Ia melirik mata Yun Sia yang berbentuk seperti kacang almon. Bulu matanya sedikit terkulai, dan suaranya dibuat lembut saat ia bermanja, “Kamu tidak boleh berhenti menyukaiku.”
Hati Yun Sia seketika terangkat.
Dasar rubah jantan penggoda.
Sekali lagi dia merayunya.
Sungguh sulit ditahan.
Ceng Ce menjilat bibirnya. Ekspresinya semakin serius.
“Kamu tidak boleh mengabaikanku.”
“Kamu hanya boleh menyukaiku. Mengerti?”
Pada akhirnya, itu bahkan tidak terdengar seperti rengekan manja lagi, melainkan sebuah perintah.
Jantung Yun Sia berdebar lebih cepat. Perasaan di dalam hatinya sulit dijelaskan. Ia hanya merasa seperti ada rusa kecil yang menabrak-nabrak dadanya.
Ceng Ce mengangkat tangan dan mencubit pipinya. Setelah selesai bermanja, sikapnya kembali angkuh. Ia bertanya, “Puas?”
Yun Sia tersadar dari lamunannya. Tatapan mereka bertemu, sementara ujung telinganya memerah.
“Sudah merasa puas?”
“Senang?”
Yun Sia merapatkan bibir, lalu bergumam, “Lumayan puas.”
“Hei, ternyata kamu sulit dipuaskan.” Ceng Ce mengetuk kepala Yun Sia.
Yun Sia terkekeh.
Setelah mendengar rengekan manja itu, hatinya benar-benar puas.
Ia menunjuk ke arah kamar, mengangkat sudut bibir, dan menampakkan dua lesung pipi yang indah.
Hari sudah larut. Cuci muka, lalu tidurlah.
Ceng Ce tahu ia hendak kabur. Ia segera mencengkeram kerah bajunya dan menariknya kembali.
“Mau ke mana? Setelah mendengarkan, langsung kabur?”
“Kalau tidak begitu, lalu bagaimana?” Yun Sia berkedip.
Baik Yun Sia maupun Ceng Ce sama-sama tidak tahan jika dirugikan sedikit pun. Kalau punya dendam, mereka akan langsung membalasnya.
Kalau sekarang ia tidak kabur, giliran dirinya yang harus bermanja.
Tentu saja ia harus kabur.
“Kamu tidak mau menunjukkan sedikit balasan?” Ceng Ce mengeluh.
Yun Sia tidak bisa tertawa.
Lihat saja.
Ia benar-benar seperti cacing di dalam perut Ceng Ce. Apa pun yang dipikirkan pria itu, ia bisa menebaknya dengan mudah!
Mencoba mengambil sedikit keuntungan darinya ternyata begitu sulit.
Yun Sia menelan ludah, lalu seketika berubah menjadi anak baik.
“Aku tidak sehebat kamu kalau bermanja.”
“Belum tentu.” Ceng Ce mengernyit, tampak siap mendengarkan.
Yun Sia, “... Ceng Ce, kenapa kamu tidak pernah mau rugi sedikit pun?”
Ia hanya mendengarkan Ceng Ce bermanja, tetapi pria itu juga menuntutnya melakukan hal yang sama.
Ceng Ce mengangkat sudut bibir. Menatap pipi Yun Sia yang mulai memerah, ia berkata dengan malas, “Aku memang tidak mau rugi. Hanya pacar yang boleh begitu.”
“Kalau atasanmu sendiri tidak boleh?” tuntut Yun Sia.
Ceng Ce: “Tidak boleh.”
Yun Sia tertawa. “Kalau begitu, menjadi atasanmu benar-benar tidak ada harganya.”
“Jangan mengalihkan pembicaraan.” Ceng Ce menghalangi jalannya.
Kalau tidak bermanja, malam ini jangan berharap bisa tidur.
Yun Sia benar-benar tidak berdaya menghadapinya.
“Kak Ceng Ce, aku mengantuk. Minggir, ya.” Ia merapatkan kedua tangan di depan dada dengan wajah penuh kesungguhan.
Ceng Ce tertawa mendengarnya.
Dasar bodoh. Yun Sia hanya bisa memakai cara itu.
Namun, justru cara itulah yang selalu berhasil meluluhkan hatinya.
Ceng Ce dengan malas menyingkir ke samping. Ia melihat Yun Sia menyelinap melewatinya, lalu menutup pintu dengan kecepatan luar biasa.
Seolah-olah ia takut Ceng Ce tiba-tiba berubah pikiran dan kembali menahannya.
Yun Sia bersandar di pintu sambil terengah-engah.
Setiap kali menggoda Ceng Ce, ia selalu berakhir celaka.
Tidak akan pernah menggodanya lagi.
Yun Sia membasuh wajah. Saat melihat wajahnya sendiri yang memerah di cermin, ia diam-diam memaki dirinya yang tidak berguna.
Setelah kembali ke ranjang, ia bersiap tidur.
Yun Sia menerima pesan selamat malam dari Ceng Ce.
Yun Sia mendengus, lalu membalas dengan satu kata: Malam.
Ceng Ce: Hah?
Ceng Ce: Kenapa? Mengetik satu kata tambahan bisa membuat ponselmu meledak?
Ceng Ce: Ulangi.
Yun Sia tidak bisa berkata-kata.
Sulit sekali menghadapi pria ini.
Yun Sia: Selamat malam, Ceng Ce!!!!!
Ceng Ce: Nah, begitu dong. Sekarang pergilah tidur.
Yun Sia: Ceng Ce, dasar menyebalkan.
Yun Sia mematikan ponselnya. Wajahnya justru semakin merah.
Ceng Ce menatap pesan yang dikirim Yun Sia, lalu tersenyum lebar tanpa bisa menutup mulut.
Kenapa dia sampai memakinya?
Pasti sudah panik.
Ceng Ce mengirim sebuah gambar lucu, lalu berbaring.
Malam menggoda hati, bintang-bintang berkelip. Angin menggoyangkan batang-batang pohon, sementara kota perlahan tenggelam dalam kesunyian.