Bab 155 Bukan Sekadar Suka, Melainkan Cinta Kepadanya

Sulit Menyembunyikan Musim Panas Ning Yuchen 3036kata 2026-03-30 09:03:41

Rumah Sakit Umum Pusat Angkatan Darat Shencheng.

Bangsal itu sunyi. Cheng Xiao berada dalam keadaan tidak sadarkan diri dan sedang diinfus cairan nutrisi.

Hu Nan duduk di sisi ranjang, menggenggam erat tangan Cheng Xiao, matanya dipenuhi rasa iba yang teramat sangat.

Tulang leher dan pergelangan kakinya patah, serta terdapat belasan luka di sekujur tubuhnya. Kata dokter, ia baru saja lolos dari maut.

Yun Xiang bersandar di dinding, memerhatikan dalam diam, sementara pikirannya berkecamuk.

Bagaimana pun juga, yang terpenting adalah ia masih hidup.

Cheng Zhe baru saja mengantar Cheng Zhenhua dan Cheng Ya keluar. Ia mendorong pintu dan melangkah masuk, lalu tatapannya beradu dengan pandangan Yun Xiang.

Ponsel Hu Nan berdering. Tak berani melepaskan tangan Cheng Xiao, ia mengangkat panggilan itu dengan satu tangan dan mendekatkannya ke telinga, seraya berkata, "Ya, Pak Tua Cheng ada di RSPAD."

"Jangan ke sini dulu, dia masih belum sadar. Dokter bilang bangsal harus tetap tenang, nanti kalau Pak Tua Cheng sudah sadar, baru kalian semua bisa datang."

"Saya mewakili Pak Tua Cheng mengucapkan terima kasih kepada semuanya, dan maaf sudah membuat kalian semua khawatir."

Gorden bangsal berkibar perlahan diterpa angin sepoi-sepoi, nada suara Hu Nan terdengar sangat tenang.

Panggilan itu ditutup, namun tak lama kemudian orang lain kembali menelepon.

Hu Nan terus menerus menerima panggilan telepon, mengucapkan terima kasih atas kepedulian setiap temannya.

Yun Xiang melirik Hu Nan. Saat mendongak, ia mendapati Cheng Zhe sedang menatapnya.

Yun Xiang memiringkan kepalanya, untuk apa terus menatapnya?

Saat Hu Nan dirawat di rumah sakit dulu, pria itu juga bersikap seperti ini, bersandar di dekat jendela sambil melamun, selalu kehilangan fokus setiap kali melihatnya.

Cheng Zhe mengatupkan bibirnya, lalu berbalik dan berjalan keluar.

Yun Xiang segera mengikutinya di belakang.

Ia menutup pintu bangsal dengan pelan, lalu meraih tangan Cheng Zhe.

"Cheng Zhe," panggilnya menyebut nama pria itu.

Pria itu menoleh menatapnya, lalu berdehem pelan, "Hm."

Yun Xiang tahu suasana hati pria itu sedang buruk, jadi ia berusaha mencairkan suasana, "Apakah aku ini titisan cenayang? Kubilang Paman Cheng akan baik-baik saja, lihatlah, sekarang dia benar-benar tidak apa-apa!"

Gadis itu mengangkat sudut bibirnya, sepasang matanya tampak cerah dan lembut.

Cheng Zhe menghentikan langkahnya, menatap lurus ke dalam mata Yun Xiang.

Semakin gadis itu tersenyum berusaha menghidupkan suasana, semakin pula hatinya merasa perih.

"Bodoh." Dengan gemas ia menyentuh dahi Yun Xiang.

Yun Xiang mengerutkan kening, "Kenapa tiba-tiba mengatai orang."

"Apakah ini mengatai orang?" Cheng Zhe kembali mengetuk dahi gadis itu.

Dengan ekspresi serius Yun Xiang berkata: "Ini memukul orang."

Cheng Zhe sontak terkekeh. Emosi yang tadinya begitu tegang akhirnya sedikit mereda pada detik itu juga.

"Duduklah sebentar." Cheng Zhe menunjuk bangku panjang di dekat sana, lalu menarik Yun Xiang untuk duduk.

"Kotor." Yun Xiang melihat masih ada puntung rokok di atas bangku tersebut.

Cheng Zhe menunduk sejenak, lalu mencari tempat yang bersih dan menarik Yun Xiang untuk duduk di pangkuannya.

Yun Xiang tersenyum menyipitkan mata, melingkarkan kedua lengannya di leher Cheng Zhe, lalu mencubit telinga pemuda itu dengan satu tangan.

"Masih kotor?" Pria itu menatap alis dan matanya, tatapannya begitu lekat dan lembut, suaranya terdengar mesra.

Yun Xiang langsung menggelengkan kepala, lalu memeluk Cheng Zhe erat-erat dan membenamkan wajahnya di bahu pemuda itu.

Cheng Zhe mengatupkan bibirnya, menatap ke arah gedung rawat inap di kejauhan sambil mengangkat tangan untuk mengusap rambut Yun Xiang dengan lembut.

"Xiangxiang," panggilnya pelan.

"Hm." Yun Xiang memejamkan mata, memeluknya semakin erat, seolah memberikan sandaran jiwa bagi pria itu, sekaligus mencari tempat bersandar bagi dirinya sendiri.

"Waktu Paman Yun meninggal, bagaimana caramu melewatinya?" Ia sangat ingin tahu.

Betapa menderita dan sulitnya masa-masa itu baginya?

Saat Yun Weian meninggal, usianya baru genap enam tahun.

Yun Xiang mendongak, pemandangan di luar jendela tertangkap oleh indra penglihatannya. Ia tersenyum dipaksakan, lalu berkata dengan nada seolah semuanya baik-baik saja, "Bertahan begitu saja."

Hanya dengan mendengar tiga kata itu saja sudah membuat Cheng Zhe merasa amat sesak.

Ia melepaskan pelukan Yun Xiang, sepasang mata yang panjang dan dalam itu menatapnya lekat-lekat.

Ujung jari Yun Xiang menyentuh pipi pemuda itu, butir air mata yang meluncur di sudut mata sang pemuda membakar punggung tangannya.

Yun Xiang seketika tersedak isak tangis, rongga dadanya bergetar hebat.

Orang yang dicintai akan meneteskan air mata lebih dulu darimu.

Dulu Yun Xiang tidak mengerti arti kalimat itu, namun kini ia merasakannya dengan begitu nyata.

"Andai aku bisa mengenalmu lebih awal," bisik pemuda itu dengan suara serak.

Yun Xiang menggeleng, "Sekarang pun belum terlambat."

Cheng Zhe mengerutkan kening, suaranya semakin parau, "Sudah sangat terlambat."

Ia mengulurkan tangan dan mendekap Yun Xiang erat-erat ke dalam pelukannya.

Yun Xiang menghirup hidungnya, menelan rasa masygul di dada. Wajahnya dibenamkan ke leher sang pemuda, suaranya terdengar teredam, "Cheng Zhe, terima kasih sudah menyukaiku."

Cheng Zhe menggelengkan kepala, orang yang seharusnya berterima kasih bukanlah gadis itu.

Melainkan dirinya.

Ia berterima kasih karena gadis itu tidak pernah mempermasalahkan salah paham dan luka yang ia timbulkan.

Terima kasih karena selalu tersenyum dan menganggap sepele segala hal bagaikan matahari kecil.

Terima kasih karena tidak pernah memaksanya berubah, melainkan menerima semuanya dalam diam dan menanggung segalanya seorang diri...

Terima kasih karena telah hadir di musim panas yang terik dan membosankan itu, muncul di dalam dunianya.

Orang selalu bilang bahwa mereka yang terlampau pengertian justru adalah orang yang paling sering dikecewakan, namun Cheng Zhe ingin gadis itu menang.

Cheng Zhe mengeluarkan sebatang cokelat dari sakunya, mengupas bungkusnya, lalu menyuapkannya ke mulut gadis itu.

Ia menatap mata Yun Xiang, lalu mengoreksi ucapannya dengan sungguh-sungguh, "Bukan menyukai, tapi mencintai."

——Bukan menyukai, tapi mencintai.

Rasa manis dan getir cokelat meledak di dalam mulut Yun Xiang. Ia mendekatkan diri, memaksa pria itu untuk ikut merasakan manisnya cokelat yang begitu pekat tersebut.

Pria itu tidak menolak, melainkan balas menciumnya.

Rasa pahit cokelat bercampur dengan manisnya sang gadis, ia sama sekali tidak merasa terganggu, justru merasa semakin terpesona.

Malam harinya, Cheng Xiao sadar. Karena terlalu banyak menghirup asap pekat dan saluran perupafasannya terganggu, ia masih belum bisa berbicara untuk sementara waktu.

Kondisinya sangat lemah, wajah dan kedua tangannya penuh dengan luka goresan ranting pohon.

Atasan dan rekan-rekan seperjuangan Cheng Xiao datang berbondong-bondong menjenguk setelah mendengar kabar tersebut. Bangsal itu dipenuhi orang, sementara karangan bunga dan keranjang buah menumpuk di setiap sudut ruangan.

Sebagian dari mereka mengenakan seragam, sebagian lagi berpakaian preman.

Rumah sakit militer adalah tempat di mana orang berseragam paling mudah ditemui, namun setiap kali melihat seorang prajurit berseragam, kehadiran mereka selalu berhasil memukau pandangan.

Punggung mereka tegak tegap, memancarkan semangat yang luar biasa, benar-benar sosok yang amat gagah.

Yun Xiang mengintip melalui celah-celah kerumunan untuk melihat Cheng Xiao yang berbaring di ranjang.

Cheng Xiao tampaknya juga sedang menatapnya melalui celah kerumunan itu, ia mengangkat sudut bibirnya, seolah sedang menenangkan Yun Xiang.

Tulang yang patah butuh waktu seratus hari untuk pulih, Cheng Xiao tidak akan bisa kembali bertugas dalam waktu dekat. Orang-orang itu menenangkan emosi Hu Nan, sekaligus menyusun jadwal bergiliran untuk merawat Cheng Xiao.

Kekompakan bagaikan seikat lidi yang disatukan itu memancarkan kehangatan di dalam hati.

"Xiao Zhe, melihat ayahmu seperti ini, apa kamu masih berani mendaftar ke akademi pemadam kebakaran?"

Tiba-tiba terdengar suara bernada menggoda dari tengah kerumunan.

Cheng Zhe mendongak, hm?

Semua orang kontan menatap ke arah Cheng Zhe.

Terutama Cheng Xiao, tatapan yang ia lemparkan kepada putra kandungnya itu menyiratkan berbagai macam emosi yang rumit.

Cheng Zhe mengatupkan bibirnya sesaat, lalu menjawab dengan tenang, "Berani."

"Pantas saja anak Cheng Xiao." Atasan Cheng Xiao tak henti-hentinya melontarkan pujian.

Mendengar berbagai sanjungan tersebut, Yun Xiang turut merasa bangga pada Cheng Zhe dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Tidak ada hal yang tidak berani ia lakukan.

Hanya Hu Nan yang tetap terdiam seribu bahasa.

"Xiangxiang, apa kamu betah tinggal di keluarga Cheng? Apakah Pak Tua Cheng memperlakukanmu dengan baik?" Salah seorang senior yang pernah ditemui Yun Xiang bertanya padanya.

Yun Xiang mengangguk, lalu menjawab dengan lembut, "Betah, Paman, Bibiku, dan juga Cheng Zhe semuanya memperlakukanku dengan sangat baik. Tahun ini aku mendaftar ke Universitas Jingda lewat jalur SNBP dan sudah menerima surat penerimaannya."

Atasan Cheng Xiao tidak kuasa menahan haru, "Almarhum Pak Yun di surga pasti tenang, dia memiliki seorang putri yang hebat!"

Yun Xiang hanya tersenyum tipis.

Mereka duduk cukup lama sebelum akhirnya pamit undur diri.

Hu Nan keluar untuk mengantar mereka, sementara Yun Xiang dan Cheng Zhe tetap tinggal di bangsal untuk menemani Cheng Xiao.

Disiplin para prajurit sungguh luar biasa; bangsal itu tampak seperti apa saat mereka datang, seperti itu pula keadaannya saat mereka pergi. Kecuali tambahan karangan bunga dan keranjang buah.

Yun Xiang duduk di sisi ranjang, memerhatikan luka-luka di wajah Cheng Xiao serta pelindung leher yang membebat, lalu bertanya pelan, "Paman, apakah sakit?"

Cheng Xiao tersenyum, menggunakan ekspresi wajahnya untuk menjawab bahwa ia tidak kesakitan.

Yun Xiang: "Paman Cheng, Anda sangat hebat."

Dari apa yang ia dengar, Cheng Xiao tidak sengaja jatuh ke jurang karena menyelamatkan rekan setimnya.

Cheng Xiao tidak bisa bersuara, ia hanya bisa tersenyum.

Melihat kedua anak muda di sisi ranjang rumah sakit itu, hatinya terasa begitu lembut.

Pintu bangsal terdorong terbuka, Hu Nan masuk dan langsung mengusir mereka berdua pulang untuk beristirahat.

"Cheng Zhe, Xiangxiang, kalian pulang saja. Dia sudah tidak apa-apa, umurnya panjang! Tidak akan mati dia," ucapnya seolah menyimpan rasa kesal.

Yun Xiang tampak kebingungan saat ditarik berdiri oleh Hu Nan.

"Seorang komandan tingkat satu, kerjanya selalu maju paling depan di garis depan. Nah, sekarang rasakan, malah mencelakai dirinya sendiri!" Hu Nan mendelik tajam ke arah Cheng Xiao dengan nada bicara yang ketus.

Cheng Xiao tahu betul istrinya sedang merajuk.

Setiap kali ia pergi bertugas ke garis depan, istrinya selalu mengomel seperti itu. Nanti saat ia maju lagi ke medan laga, wanita itu paling-paling hanya akan berpesan agar ia berhati-hati.

Wanita itu sangat paham, dirinya tidak akan pernah bisa mengubah sifat tersebut.

"Mana kutahu kalian membuat kami ketakutan setengah mati! Lebih baik kamu nikahi saja selang pemadam kebakaranmu itu!" Hu Nan mencolek lengan Cheng Xiao yang berbaring di ranjang, sementara air matanya perlahan ikut menetes berderai.

Meskipun Cheng Xiao tidak bisa berbicara, namun saat lukanya tersenggol, erangan "aduh" yang keluar dari mulutnya terdengar begitu mantap...