Bab 129 Sinar Matahari Siang, Seseorang dan Seekor Anjing
Ujian akhir semester pun tiba.
Suasana sekolah terasa suram, kehilangan keceriaan seperti biasanya. Semua orang tampak layu seperti terong yang terkena embun beku.
Yun Xiang menatap soal-soal di kertas ujiannya dengan kening berkerut. Semakin dekat dengan ujian masuk universitas, soal-soal pun terasa semakin sulit. Setiap kali menerima lembar ujian, rasanya seperti sedang membuka kotak misteri. Untungnya, ini adalah ujian terakhir semester ini. Setelah ujian selesai, liburan akan dimulai, dan seminggu lagi mereka akan menyambut tahun baru.
Setelah ujian bahasa selesai, Yun Xiang berdiri melamun di koridor.
"Xiangxiang!" Seseorang tiba-tiba berhenti di sampingnya.
Yun Xiang mendongak dan melihat Song Jin. Tak lama kemudian, Cheng Che dan Guan He menyusul. Mereka berdua berada di kelas ujian yang sama, jadi mereka keluar bersamaan.
"Bagaimana ujian kalian?" tanya Yun Xiang.
Cheng Che menghampiri Yun Xiang, merogoh sakunya, dan memberikan sebatang cokelat Dove. Yun Xiang meliriknya sejenak, lalu menerimanya.
"Begitulah," jawab Cheng Che dengan nada tenang.
Yun Xiang memasang wajah kesal. Setiap kali ditanya, jawabannya selalu "begitulah", namun ia selalu berhasil menempati peringkat pertama. Benar-benar menyebalkan.
"A-Che, di mana kalian akan merayakan tahun baru tahun ini? Apakah akan pergi ke tempat Kakek Cheng?" tanya Song Jin sambil meminum air, matanya menatap Cheng Che.
Cheng Che menjawab, "Belum tentu. Mungkin saja Kakek yang akan kami jemput ke rumah."
"Seingatku tahun lalu kalian pergi ke rumah Kakek, kan?" tanya Guan He.
Cheng Che hanya berdeham pelan. Song Jin mengangguk. Suasana hening selama beberapa detik.
Tiba-tiba, Song Jin melontarkan kalimat, "Xiangxiang, mau ikut pulang ke rumahku untuk tahun baru?"
Dalam sekejap, ketiga orang itu menatap Song Jin.
Cheng Che: *Apakah dia ingin mati?*
Guan He: *Benar-benar pemberani.*
Yun Xiang: *Kumat lagi otaknya!*
Cheng Che tertawa dingin. Song Jin sampai tersentak.
"Kak, bercanda kok," jelas Song Jin.
Cheng Che meliriknya tajam, kembali mendengus dingin.
"Sudah tidak becus, banyak tingkah pula. Untuk apa?" keluh Guan He. Ia merasa lelah harus mengurus Song Jin sepanjang hari.
"Aku kan cuma ingin mencairkan suasana supaya kalian lebih santai saat ujian nanti!" Song Jin memasang ekspresi seolah-olah ia telah berkorban banyak untuk mereka. Ia ingin sekali bilang bahwa tanpa dirinya, kelompok ini pasti sudah bubar! Dan mereka tidak bisa menghargainya!
Guan He mencibir, menatap Song Jin dengan tatapan jijik, lalu berbalik pergi ke kelas untuk menunggu ujian berikutnya.
"Eh, apa maksud Guan He tadi? Dia meremehkanku, ya?" tanya Song Jin segera kepada Cheng Che.
Cheng Che meliriknya. *Masih perlu bertanya?* Sikap Guan He sudah sangat jelas, bukan? Dia memang meremehkannya.
"Lebih baik sama Kak Che saja," ujar Song Jin, memutuskan untuk mengabaikan Guan He.
Cheng Che tersenyum tipis, "Jangan bicara terlalu cepat." Terkadang dirinya pun tidak sebaik itu.
Yun Xiang menatap Song Jin dengan perasaan iba, lalu menghela napas. *Kasihan sekali.*
"Bubar, bubar," ujar Yun Xiang lalu ikut pergi.
Song Jin: "???" *Bukan begitu!* Dia menganggap mereka saudara baik, tapi kenapa mereka memperlakukannya seperti ini?
Kebetulan Luo Mi baru kembali setelah mengambil air dan melihat Song Jin sendirian. "Anjing, kenapa kamu?"
Song Jin segera mengadu, "Mi-mi, mereka meremehkanku. Kamu tidak akan meremehkanku, kan?"
Luo Mi: "Hah?" ... "Permisi." Luo Mi segera kabur.
Song Jin: "?" Baiklah, rumah ini sudah tidak bisa ditinggali!
...
Ujian akhir berlangsung selama dua hari, dan liburan dimulai pada tanggal dua puluh tiga bulan dua belas lunar. Menjelang akhir tahun, Hu Nan dan Cheng Xiao menjadi semakin sibuk. Mereka bergegas menyelesaikan pekerjaan agar bisa mengambil cuti tahun baru.
Yun Xiang dan Cheng Che pun memasuki mode liburan. Saat Yun Xiang merasa lapar di sore hari, ia memasak mi sendiri. Cheng Che meringkuk di sofa sambil bermain gim bersama Song Jin. Song Jin si mulut cerewet benar-benar tidak bisa diam saat bermain gim. Cheng Che harus mematikan mikrofonnya sesekali agar telinganya tidak sakit. Meskipun Yun Xiang tidak mengerti gim, ia merasa seru melihat semangat mereka.
Yun Xiang menyantap minya sambil berselancar di aplikasi TikTok.
"Gila, Kak Che, lihat pesan grup tidak? Guan He rajin sekali! Dia bahkan ikut bimbingan belajar! Apa dia tidak membiarkan kita hidup?" suara Song Jin terdengar dari ponsel Cheng Che.
Cheng Che membuka aplikasi WeChat. Di dalam grup, Guan He mengirim foto dirinya sedang berada di bimbingan belajar.
Guan He: *Kalian main saja sana. Nanti kalau aku masuk universitas ternama, kalian berdua cuma bisa jualan ubi bakar.*
Cheng Che membalas dengan stiker kotoran.
Guan He: *Hahahaha.*
Kembali ke gim, Cheng Che bergumam, "Si gila belajar."
"Besok kita ajak dia main tenis, aku tidak tahan melihatnya sok rajin," dengus Song Jin.
Mendengar kata tenis, Cheng Che menoleh ke arah Yun Xiang, "Xiangxiang."
"Hm?" Yun Xiang sedang menyeruput mi. Ia menatap Cheng Che dengan mata berkedip polos, mulutnya masih penuh dengan mi.
Cheng Che: "..." *Agak konyol. Tapi, agak menggemaskan juga.*
"Mau pergi main tenis untuk melepas penat?" tanyanya.
Yun Xiang mengangguk.
Cheng Che: "Kalau begitu besok kita main tenis."
Song Jin terdiam tak habis pikir. "Tidak mungkin, mau main tenis saja harus bertanya pada Xiangxiang dulu. Cheng Che, kamu sudah berubah."
Cheng Che tersenyum tipis tanpa menjawab.
Song Jin: "Nanti kamu pasti jadi suami yang takut istri."
Cheng Che: "Aku justru berharap begitu." *Betapa bahagianya bisa diatur oleh orang yang disayangi.*
Song Jin terdiam. Sesaat kemudian, ia berkata lagi, "Aku ingin membeli baju baru."
Cheng Che: "Beli apa?"
Song Jin: "Buat dipakai tahun baru lah."
Cheng Che: "Panggil Ayah dulu, nanti Ayah ajak kamu ke toko baju."
Song Jin: "Sialan kamu!"
Cheng Che tertawa kecil, ia merasa senang bisa menggoda temannya.
Yun Xiang telah selesai makan. Ia datang ke sofa dan duduk di samping Cheng Che sambil melihatnya bermain gim. Kantuan (anjing mereka) juga berlari mendekat. Satu orang dan satu anjing menemani Cheng Che dengan tenang.
Cheng Che bermain dengan penuh semangat, sementara Yun Xiang yang tidak paham perlahan turun ke atas karpet. Ia sesekali mengelus kaki Kantuan, lalu menepuk-nepuk kepalanya. Sinar matahari sore terasa begitu terik, membuat ruang tamu terasa hangat. Karpet berwarna gelap itu tampak bersih tanpa noda, dan di atas meja tamu terdapat buah-buahan segar serta mawar yang mekar dengan indah.
Yun Xiang duduk di atas karpet, menopang dagunya sambil menatap ke luar jendela. Kantuan entah sejak kapan sudah berbaring di belakangnya. Yun Xiang menoleh, melihat anjing itu yang tampak bodoh dengan lidah terjulur. Kantuan berukuran sangat besar. Yun Xiang tiba-tiba penasaran, apakah akan sangat nyaman jika ia berbaring di tubuh anjing itu?
Kantuan menyipitkan matanya dengan napas yang berat. Yun Xiang bergeser sedikit, lalu dengan hati-hati menyandarkan tubuhnya pada Kantuan. Mata Kantuan seketika membelalak. Yun Xiang meliriknya diam-diam. Kantuan tidak menolak sama sekali, justru bersikap lebih patuh, seolah merasa bangga karena telah disukai oleh pemiliknya.
Yun Xiang tersenyum dan berbaring dengan lebih nyaman. Jam di dinding berdetak dengan tenang. Cheng Che dan Song Jin masih mengobrol. Yun Xiang memejamkan mata, menikmati sinar matahari bersama Kantuan.
Saat Cheng Che selesai bermain dan meregangkan tubuh, ia tak sengaja melihat pemandangan itu dan terpaku. Sinar matahari sore, seorang gadis dan seekor anjing. Yun Xiang tampak begitu tenang dan manis. Ekor Kantuan bergoyang-goyang pelan.
Cheng Che tiba-tiba memahami arti dari kalimat: *Bukankah tujuan hidup manusia hanyalah untuk mengumpulkan momen-momen seperti ini?*
Pemandangan itu terlalu indah, begitu nyaman hingga membuat siapa pun terbuai. Cheng Che keluar dari gim, membuka kamera ponselnya, dan mengabadikan momen tersebut dalam sebuah foto.