Bab 24: Orang Awam
Nada suaranya mengandung teguran. Yu An ragu sejenak, lalu menjawab dengan samar, "Saya sedang mencari tempat tinggal. Rumah yang saya tempati sebelumnya sudah dijual, jadi saya tidak bisa tinggal di sana lagi."
Pak Liu tertegun mendengarnya. Ia melirik kaki Yu An yang cedera, lalu bertanya dengan heran, "Bagaimana mungkin kamu mencari rumah dalam kondisi seperti ini?"
Yu An hanya bisa tersenyum getir, "Pemilik rumah sangat mendesak ingin segera menempati rumahnya."
Pak Liu bisa memahami keputusasaan Yu An. Melihat kondisinya yang begitu memprihatinkan, ia menghela napas dan berkata, "Seharusnya kamu mengatakannya lebih awal padaku. Besok saat bekerja, saya akan bertanya pada rekan-rekan yang lain. Jika kita semua membantu, tentu akan lebih baik daripada kamu mencarinya sendirian."
Di samping mereka, Zheng Qiyan sedang memejamkan mata untuk beristirahat. Karena ada atasan, Pak Liu tidak banyak bicara lagi dan menghentikan percakapan itu.
Sopir mengantar Yu An terlebih dahulu. Setelah sampai di tujuan, ia berpamitan dengan sopan kepada mereka, lalu berjalan terpincang-pincang dengan bantuan tongkat masuk ke dalam kompleks perumahan.
Perasaan cemas yang tak terlukiskan menyelimutinya. Meskipun sudah sangat lelah, ia tidak bisa memejamkan mata. Ia membenamkan kepalanya ke dalam selimut, memikirkan ke mana ia harus pergi untuk sekadar singgah sementara waktu.
Malam itu ia lalui dengan gelisah, terus berguling ke sana kemari. Begitu hari mulai terang, ia segera bangkit. Barang-barangnya sudah hampir dikemas semua, menyisakan tumpukan benda berserakan di ruang tamu. Ia duduk di sofa dengan lunglai, melamun tanpa arah.
Tanpa disadari, hari sudah beranjak siang. Ia tersentak bangun, lalu mengeluarkan ponsel untuk mencari nomor telepon perusahaan jasa pindahan. Ia sudah bertanya pada pihak pengelola gedung dan diperbolehkan menitipkan barang-barangnya di sana sampai ia mendapatkan tempat tinggal baru.
Sebelum nomor itu ditelepon, sebuah panggilan masuk. Ternyata dari Pak Liu.
Yu An tidak menyangka ia akan menelepon sepagi ini. Ia segera mengangkatnya. Sebelum Yu An sempat bicara, Pak Liu di seberang sana berkata, "Xiao Yu, kamu pasti belum mendapatkan rumah, kan? Di asrama karyawan Jinmao masih ada beberapa kamar kosong. Pak Zheng bilang kamu boleh pindah ke sana terlebih dahulu."
Hati Yu An diliputi kegembiraan yang luar biasa. Ia merasa tidak percaya dan bertanya, "Benarkah?"
Pak Liu tertawa, "Tentu saja. Beritahu di mana lokasimu, saya akan meminta beberapa rekan untuk datang membantumu pindah."
Karena ini akhir pekan, Yu An merasa tidak enak hati untuk merepotkan orang lain. Ia buru-buru menolak, mengatakan bahwa ia sudah mendapatkan jasa pindahan.
Pak Liu tidak memaksa. Ia memberikan sebuah nomor telepon dan menyuruhnya menghubungi orang tersebut secara langsung.
Setelah panggilan berakhir, Yu An masih merasa seperti bermimpi. Ia mencubit dirinya sendiri dengan keras, dan rasa sakit yang muncul menyadarkannya bahwa ini semua nyata.
Meskipun barang-barangnya tidak banyak, proses pindahan tetap saja merepotkan, apalagi dengan kondisinya yang sulit bergerak. Baru pada sore hari barang-barangnya tertata rapi. Yu An yang sudah sangat lapar pun menyempatkan diri memasak semangkuk mi.
Apartemen itu dilengkapi dengan peralatan rumah tangga yang lengkap, sehingga ia tidak perlu membeli apa pun lagi, yang tentu sangat meringankan bebannya.
Tawaran Zheng Qiyan untuk membiarkannya tinggal di sini benar-benar seperti memberikan arang di tengah musim dingin. Yu An merasa sangat berterima kasih dan bertekad untuk menyampaikannya saat mereka bertemu nanti.
Kesan Yu An terhadap pria itu pun sedikit berubah. Ia merasa pria itu ternyata tidak selalu bersikap angkuh. Saat pikiran itu melintas, ia menertawakan dirinya sendiri, merasa dirinya begitu picik karena begitu saja melupakan sifat asli seseorang hanya karena mendapatkan bantuan.
Setelah pindah dari tempat lama, Yu An bingung bagaimana harus memberi tahu orang tuanya, sehingga ia terus menunda-nunda hal itu.
Lukanya perlahan pulih. Ia tidak perlu lagi menggunakan tongkat dan cara berjalannya pun tidak lagi terlihat pincang, meski ia masih belum diperbolehkan melakukan aktivitas fisik yang berat.
Kesibukan di kantor meningkat dari hari ke hari. Zheng Yanning mulai sering muncul di kantor, namun lama-kelamaan ia justru menghilang lagi. Saat semua orang mengira tuan muda itu sudah bosan, ia tiba-tiba membawa beberapa pesanan besar, yang membuat seluruh kantor menjadi sibuk. Yu An pun ditugaskan untuk pergi dinas ke Kota H bersama beberapa rekan kerja.