Bab 30: Tak Bisa Tidak Menyebutkannya
Manajer datang dengan tergesa-gesa, mengangguk dan membungkuk dengan sangat hormat di hadapan Zheng Yanning.
Zheng Yanning tampak tidak menganggap pria itu penting. Setelah memberikan tanggapan singkat yang sekadar basa-basi, ia memberi isyarat kepada Yu An untuk berbicara langsung dengan manajer tersebut. Pria yang tadi menghalangi mereka untuk naik ke lantai atas itu, kini secara pribadi mengantar mereka dan segera menemukan Yu Zheng, lalu membawanya keluar dari salah satu ruang pribadi.
Meskipun Yu Zheng belum sepenuhnya kehilangan kesadaran, kondisinya sudah mendekati mabuk berat. Ia bahkan tidak mengenali Yu An dan terus meronta-ronta, menggerakkan tangan serta kakinya sembari berteriak ingin kembali masuk.
Melihat Yu An kewalahan menahan tubuh adiknya, Zheng Yanning memberi isyarat kepada seseorang untuk membantu. Ia sangat perhatian; menyadari bahwa Yu An akan kesulitan mendapatkan taksi dengan orang mabuk bersamanya, ia pun memesankan kendaraan untuk mengantar mereka pulang.
Yu An sudah merasa sangat lelah setelah peristiwa malam itu. Ia terus mengucapkan terima kasih kepada Zheng Yanning hingga mobil melaju menjauh. Baru saat itulah ia menyadari bahwa dirinya sudah bermandi keringat, dan punggungnya kini terasa dingin diterpa angin malam.
Setelah masuk ke dalam mobil, Yu Zheng akhirnya tenang dan tertidur lelap bersandar di sampingnya. Yu An merasa pening, ia memindahkan kepala adiknya agar bersandar di bahunya, lalu mengeluarkan ponsel untuk menelepon Zhong Meiyu dan mengabarkan bahwa ia telah menemukan Yu Zheng.
Mengingat waktu yang sudah sangat larut, Yu An memutuskan untuk membawa Yu Zheng kembali ke asramanya, sementara ia sendiri terpaksa tidur di sofa.
Sofanya terlalu empuk dan sempit, membuatnya tidak bisa tidur nyenyak dan terus gelisah sepanjang malam. Baru saja ia terbangun di pagi hari, Zhong Meiyu sudah menelepon untuk menanyakan apakah Yu Zheng sudah sadar dan apakah ia kembali berulah semalam.
Panggilan sepagi itu menunjukkan betapa khawatirnya sang ibu. Yu An sadar ia tidak pantas berkomentar banyak mengenai hubungan antara Yu Zheng dan keluarganya. Setelah memberi tahu alamatnya, ia segera beranjak untuk bersiap-siap dan terburu-buru berangkat kerja.
Setelah lembur semalam dan ditambah kekacauan hingga tengah malam, kondisinya sangat tidak prima. Sesampainya di kantor, ia langsung meminum secangkir besar kopi, namun efeknya tidak seberapa. Sepanjang pagi ia merasa linglung, seolah-olah masih berada dalam mimpi.
Saat jam makan siang, ia memanfaatkan waktu untuk tidur sejenak. Setelah bangun, ia membasuh wajahnya dengan air dingin hingga pikirannya akhirnya terasa jernih kembali.
Saat hendak kembali ke kantor, ia berpapasan dengan Zheng Yanning yang baru saja tiba. Dibandingkan dengan Yu An yang terlihat kuyu, pria itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kurang tidur. Kemeja putih dan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya menonjolkan perawakannya yang tegap, dengan mantel berwarna senada tersampir di lengan. Setiap gerak-geriknya memancarkan aura pria kelas atas.
Mengingat bantuan besar yang diberikan Zheng Yanning semalam, Yu An merasa harus berterima kasih kembali. Setelah menyapa dengan sopan, ia segera menyampaikan rasa terima kasihnya.
Zheng Yanning tersenyum sangat ramah, ia berkata, "Kita semua rekan kerja, tidak perlu terlalu formal. Itu hanya bantuan kecil."
Ia merendahkan diri dengan cara yang anggun. Memang benar mereka rekan kerja, tetapi pria itu adalah seorang kapitalis yang berkedudukan tinggi, sementara ia hanyalah seorang karyawan kecil.
Yu An menyadari bahwa kedua bersaudara dari keluarga Zheng ini sama-sama pandai menempatkan diri terlepas dari status mereka.
Namun, Yu An tentu tidak menelan mentah-mentah kata-kata pria itu. Ia dengan tulus menawarkan untuk mentraktir makan sebagai bentuk rasa terima kasih.
Zheng Yanning tentu tidak akan memandang tinggi jamuan makan tersebut dan menolaknya dengan halus.
Hal ini sudah diduga oleh Yu An, dan ia pun diam-diam merasa lega. Ada hal-hal yang meskipun orang lain tidak menganggapnya serius, ia tetap harus menyuarakannya. Itulah etika dalam pergaulan, setidaknya harus ada formalitas yang dijalankan.
Zheng Yanning segera melangkah menuju ruang kantornya yang luas. Yu An kembali ke mejanya, duduk, dan menghela napas panjang. Entah mengapa, ia tiba-tiba melamun.