Bab 31: Keajaiban Uang
Dia tidak melamun terlalu lama dan segera tersadar kembali. Senyum mencemooh tersungging di bibirnya. Ia memang sangat membenci orang-orang itu, tetapi ia tidak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti ia justru harus meminta bantuan mereka. Sungguh ironis.
Hal ini cukup membuktikan betapa ajaibnya uang. Selama memiliki uang, ke mana pun ia pergi, jalan akan selalu terbuka lebar.
Selama beberapa hari berturut-turut, suasana hati Yu An tidak begitu baik. Saat ini adalah masa tersibuknya, sehingga ia tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain.
Dalam sekejap, hari Tahun Baru tiba, dan Shu Yi, yang selama ini hilang kontak, akhirnya muncul.
Selama liburan tiga hari Tahun Baru, karena sudah lama tidak menemani orang tuanya, Yu An memanfaatkan waktu libur yang langka itu untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Setelah sampai di rumah, ia tidak berdiam diri. Ia membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan sekalian melakukan pembersihan besar-besaran.
Keesokan paginya, ia menemani ibunya pergi berbelanja bahan makanan dengan rencana membuat pangsit dan beberapa hidangan kecil untuk disimpan di lemari es, serta menyiapkan makan malam yang mewah.
Sejak ayahnya jatuh sakit, kedua orang tuanya selalu hidup hemat dan berusaha mengirit sebisa mungkin. Karena kesibukannya, ia tidak bisa sering berkunjung, yang membuatnya merasa sangat bersalah. Diam-diam, ia memperhatikan apa saja yang kurang di rumah. Sore harinya, saat kedua orang tuanya sedang beristirahat, ia diam-diam keluar rumah untuk berbelanja ke supermarket.
Lebih dari satu jam kemudian, ia kembali ke rumah dengan tangan penuh barang bawaan, namun ia mendapati ibunya sudah sibuk di dapur dan bahkan tidak mendengar kedatangannya.
Ia meletakkan barang-barangnya lalu masuk ke dapur. Melihat ibunya sudah selesai mencincang daging untuk isian, ia bertanya, "Masih terlalu awal, kenapa Ibu sudah mulai memasak?"
Hu Peiwen tersenyum lebar dan berkata, "Ibu baru saja menelepon Shu Yi. Dia pulang lebih awal dari perjalanan dinasnya, jadi Ibu memintanya datang untuk makan malam. Kalian berdua biasanya sibuk, jadi Ibu mulai merebus sup lebih awal supaya kalian bisa memulihkan stamina."
Dalam pernikahan yang singkat selama dua atau tiga tahun itu, Yu An pernah memiliki harapan dan keinginan. Setelah menyadari bahwa orang di sisinya perlahan menjauh, ia sempat mengalami insomnia dan tidak bisa tidur di malam hari. Saat larut malam yang sunyi, ia berkali-kali membasahi bantal dengan air mata sambil mendengarkan suara petugas kebersihan menyeret tong sampah di pukul empat atau lima pagi, serta suara ibu di lantai atas yang bangun pagi untuk menyiapkan sarapan bagi anaknya yang duduk di bangku SMA.
Setelah penderitaan yang dirasakan hari demi hari, batinnya kini cenderung mati rasa dan tenang. Saat tiba-tiba mendengar ibunya menyebutkan nama itu, ia tertegun sejenak, lalu mencoba menutupi perasaannya dengan berkata, "Dia juga tidak meneleponku untuk memberi tahu."
Hu Peiwen yang sedang bersemangat tidak menyadari keanehan putrinya, lalu menggoda, "Mungkin dia ingin memberimu kejutan."
Yu An merasa gelisah. Setelah menjual rumah, Shu Yi menghilang begitu saja, dan sekarang tiba-tiba datang untuk makan malam. Ia tidak tahu apa yang direncanakan pria itu. Kejutan tidak ada, yang ada justru rasa terkejut.
Namun, ia tidak berani menunjukkan keanehan apa pun di depan orang tuanya, jadi ia harus berpura-pura tetap bersemangat.
Shu Yi datang sekitar pukul lima sore. Karena musim dingin membuat hari cepat gelap, suasana di luar sudah mulai remang-remang. Ia membawa beberapa suplemen dan saat bertemu Yu An, ia masih bisa tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa, lalu menyapa, "Sayang."
Berbagai perasaan berkecamuk di hati Yu An. Ia melangkah maju untuk memberikan sandal dan menerima kotak hadiah dari tangan Shu Yi, lalu berbisik pelan, "Kenapa repot-repot membeli ini semua?"
Hu Peiwen menyambut mereka dari arah ruang tamu. Shu Yi memanggil ibu mertuanya seperti biasa dan bertanya dengan akrab tentang kondisi kesehatan ayah mertuanya.
Ia selalu memerankan perannya sebagai menantu yang baik dengan sempurna. Yu An merasa sedikit lega, dan tentu saja, makan malam itu berlangsung dengan harmonis.
Yu An awalnya berencana untuk menginap satu malam lagi, namun karena Shu Yi sudah datang, Hu Peiwen tentu memintanya untuk pulang.
Saat di rumah, penampilan keduanya terlihat sangat meyakinkan tanpa cela, namun begitu keluar rumah, suasana di antara mereka langsung mendingin. Mereka berjalan menuruni tangga satu per satu. Setelah keluar dari lorong yang sempit, Shu Yi berhenti sejenak, menoleh ke arah Yu An, lalu bertanya, "Di mana kamu tinggal sekarang?"