Bab Empat Puluh Enam: Makna Pernikahan

Sem Travessia Sem Par na Colheita de Flores 2541kata 2026-08-03 10:05:11

Tempat pernikahan?

Mendengar kata-kata itu, seluruh tubuhku langsung bergetar, menatap Liu Huan dengan pandangan tidak percaya dan matanya yang sayu.

Topik pembicaraan ini terasa tidak wajar, bukan?

Mungkinkah Liu Huan juga terlalu mendalami peran?

Namun, menghadapi tatapannya yang begitu memikat dan sayu, aku yakin tidak ada seorang pria pun di dunia ini yang mampu menahannya.

Saat ini, bahkan aku sendiri merasa sulit untuk menahan gejolak di dalam hati.

Namun, tepat pada saat itu, bayangan dua wanita tiba-tiba melintas di benakku.

Pertama adalah Fu Yaning, yang membuatku mengerti betapa mengerikannya sebuah pernikahan.

Satu lagi adalah Ye Ning, urusanku dengannya masih belum menemui kejelasan.

Memikirkan hal ini, aku baru berhasil menenangkan diri, lalu menggelengkan kepala dan berkata, "Tidak, aku tidak suka pernikahan."

"Begitukah? Kamu juga merasa bahwa pernikahan adalah kuburan cinta, begitu?"

Mata Liu Huan seketika berbinar terang, seolah-olah ia telah menemukan seseorang yang sejiwa.

Alasan mengapa ia terus menolak desakan ibunya untuk segera menikah adalah karena Liu Huan sendiri selalu memegang pemikiran seperti itu.

Hanya setelah bertemu dengan Gu Chen, ia tidak lagi terlalu menolak pria.

"Tidak bisa juga dibilang sebagai kuburan cinta sih."

Berbicara tentang pernikahan, mau tidak mau benakku kembali mengenang setiap momen dari lima tahun pernikahanku dengan Fu Yaning.

Sulit untuk mengatakan apakah di dalam hatiku tersasa sedih atau bahagia.

"Jika kedua orang yang menikah tidak benar-benar saling mencintai, atau menikah tanpa terlebih dahulu mengenali kekurangan masing-masing, maka pernikahan itu adalah kuburan."

"Namun, alih-alih menyebutnya kuburan cinta, lebih tepat disebut kuburan rasa penasaran. Itu adalah pernikahan yang sejak awal ditakdirkan untuk gagal."

Mendengar itu, aku menghela napas pelan.

Kenyataannya memang demikian.

Sama seperti pernikahan antara aku dan Fu Yaning, sebelum menikah, aku pikir aku sudah cukup mencintainya dan mampu menerima segala kekurangannya, dan aku juga mengira ia sangat mencintaiku sehingga kami akan hidup bahagia.

Tetapi akhirnya—tidak perlu dibahas lagi!

"Namun di sisi lain, jika kita bisa memastikan bahwa kedua belah pihak adalah belahan jiwa yang benar-benar saling mencintai, maka pernikahan bukanlah sebuah kuburan, melainkan tangga bagi mereka untuk mendaki dan melangkah bersama."

"Tetapi kenyataannya adalah, menemukan orang seperti itu sangatlah sulit, hampir mustahil."

"Ah? Kenapa berkata begitu?"

Mendengar perubahan pandanganku tentang pernikahan, Liu Huan tampak tersadar dari mabuknya dan bertanya dengan serius.

"Karena sekarang orang tidak menganjurkan kumpul kebo sebelum menikah. Bahkan jika dua orang telah berpacaran selama bertahun-tahun, mereka biasanya baru tinggal bersama setelah menikah."

"Padahal, hanya setelah tinggal bersama, berbagai masalah di antara kedua belah pihak perlahan-lahan akan muncul ke permukaan, dan saat itulah kita bisa melihat dengan jelas apakah mereka benar-benar cocok atau tidak."

"Begitu menunggu sampai setelah menikah, semuanya sudah terlambat."

Hingga kata-kata itu terucap, aku hanya bisa tersenyum masam tanpa berdaya.

Itulah kenyataan yang terjadi antara aku dan Fu Yaning.

Kupikir, jika saja aku bisa tinggal bersama Fu Yaning untuk sementara waktu sebelum menikah,

mungkin kami tidak akan pernah memilih untuk menikah.

Namun, ketika kata-kata itu sampai di telinga Liu Huan, makna tersebut berubah sepenuhnya.

"Gu Chen, apakah kamu sedang memberi tahuku sesuatu secara tersirat?"

Pipi Liu Huan merona merah, matanya mengelak dariku dengan malu-malu, sementara sudut bibirnya menyunggingkan senyuman tersembunyi.

"Memberimu isyarat tentang apa?"

Aku tidak menyadari perubahan kecil pada dirinya dan tertegun sejenak.

"Mengisyaratkan bahwa kita sudah tinggal bersama."

Liu Huan tersenyum malu-malu kepadaku, lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya.

Ia memang berpikir seperti itu.

Tidak disangka pemahaman Gu Chen tentang pernikahan begitu mendalam.

Ini adalah sosok pasangan nikah yang sangat ideal yang dikirimkan oleh Tuhan kepadanya.

Bukan, alih-alih menyebutnya sekadar menikah, lebih tepat disebut sebagai belahan jiwa yang paling sempurna...

"Tinggal bersama denganmu adalah pertama kalinya aku keluar untuk tinggal sendiri sejak kecil. Kita bisa mencobanya dulu sebelum menikah, dan aku yakin kita pasti cocok."

Liu Huan merasakan wajahnya semakin panas, kepalanya terasa pusing karena perasaan bahagia, lalu ia bergumam pada dirinya sendiri.

Tanpa diragukan lagi, Gu Chen adalah tipe pasangan idealnya.

Tidak hanya tampan dan bertubuh tegap, ia juga dapat diandalkan serta bisa dipercaya.

Bahkan memiliki koneksi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Pria seperti ini, apakah masih memiliki kekurangan?

Perempuan bodoh mana yang akan melepaskannya jika sudah bertemu dengannya?

Namun, di saat Liu Huan tenggelam dalam lamunannya, aku menatapnya dengan bingung dan berkata dengan ragu, "Liu Huan, bukankah kita hanya menyewa apartemen bersama?"

"Berbagi tempat tinggal dan tinggal bersama itu tidak sama, kan?"

"Hmm? Begitukah?"

Mendengar itu, secercah kekecewaan melintas di mata Liu Huan, lalu ia menundukkan kepalanya dalam-dalam dan terdiam seribu bahasa.

Kupikir kata-kataku terlalu blak-blakan hingga melukai harga diri seorang gadis, jadi aku buru-buru batuk dua kali untuk mengalihkan pembicaraan.

"Um, ayo kita jalan. Aku putar lagu untukmu ya."

"Pasang sabuk pengamannya."

Seiring dengan lantunan musik yang mengalema, aku merasa suasana di dalam mobil menjadi jauh lebih tenang.

Namun, Liu Huan masih menunduk dengan lesu, bahkan gerakan saat ia mengenakan sabuk pengamannya pun terasa lemas tak bertenaga.

"Oh."

"Kamu sedang mabuk, biar aku yang pasangkan."

Melihat situasi itu, aku tidak punya pilihan selain bangkit dari kursi pengemudi, mendekatinya, lalu menarik sabuk pengaman dan memasangkannya untuknya.

Namun, sebelum aku sempat kembali duduk, Liu Huan tiba-tiba mencium pipiku, lalu pura-pura tidak terjadi apa-apa dan kembali duduk tegak seperti semula.

"Kamu, apa yang kamu lakukan?"

Aku tertegun, menatapnya dengan mulut ternganga karena terkejut.

"Kan kamu sendiri bilang, aku sedang mabuk. Cepat jalankan mobilnya."

Ada nada malu-malu dalam suara Liu Huan, ia begitu gugup hingga menggigit bibirnya dengan mata tertutup rapat, tidak berani menatapku.

Mendengar itu, aku hanya bisa pasrah. Liu Huan ini jelas-jelas sedang mencoba mengambil keuntungan dariku.

Tapi karena ciuman itu sudah terjadi dan aku sebagai seorang pria tidak dirugikan, aku kembali duduk di kursi pengemudi dan menyalakan mesin mobil.

Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil tergolong cukup baik.

Liu Huan sangat tenang, seolah-olah ia tertidur di kursi penumpang depan.

Hanya saja, lengkungan senyum tipis di sudut matanya membuat hatiku terasa jauh lebih tenang.

Sepuluh menit kemudian, aku membawa mobil masuk ke area parkir kompleks perumahan, memarkirkannya dengan benar, lalu bersiap untuk membangunkan Liu Huan.

"Liu Huan, bangunlah, kita sudah sampai di rumah."

"Ugh... Kepalaku pusing sekali, Gu Chen, maukah kamu menggendongku naik ke atas?"

Liu Huan memang terbangun oleh suaranya, tetapi ia mengerutkan kening, enggan membuka matanya sama sekali, dan nada bicaranya terdengar manja seperti sedang merengek.

"Kepalamu benar-benar pusing?"

Mengingat kejadian ia mencuri ciuman tadi, aku punya alasan kuat untuk meragukannya.

"Sungguh, ini mungkin karena aku minum terlalu banyak minuman keras malam ini. Aku tidak bisa minum minuman keras, begitu minum pasti pusing, rasanya sangat tidak enak dan aku tidak bisa berjalan."

"Kalau kamu tidak mau menggendongku, biarkan saja aku tidur di mobil semalaman. Ingatlah untuk menyelimutiku dengan jaketmu ya, terima kasih..."

Di tengah ucapannya, suara Liu Huan terdengar semakin menyedihkan dan merana.

Ia bahkan sengaja merebahkan sandaran kursi penumpang depan, memalingkan wajahnya sedikit, dan berbaring di hadapanku tanpa daya.

Entah karena udara di dalam mobil terlalu panas, beberapa kancing baju di bagian dada Liu Huan tanpa sadar terlepas, memperampakkan kulit seputih salju dan leher jenjangnya yang memerah karena pengaruh alkohol.

Hanya dengan sekali lihat, pria mana pun di dunia ini pasti akan berdegup kencang jantungnya.

Aku pun tidak terkecuali.

"Apa yang kamu bicarakan, minum minuman keras memang membuat kepala pusing."

"Aku tidak akan membiarkanmu sendirian di dalam mobil, ayo aku gendong ke atas."

Menghadapi godaan Liu Huan yang terselubung itu, aku berusaha tidak memikirkannya, lalu buru-buru menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran-pikiran yang mulai berkecamuk di benakku.