144 Aku Mencintaimu (Akhir)
Segala hal telah menemui akhir, hari-hari berlalu dalam kedinamisan yang tenang. Pembagian kelas di tahun kedua sekolah menengah atas tiba, Ye Zhi dan Sui Yi tetap tinggal di kelas dua, Yuan Qian mengikuti Qin Shen ke kelas satu, sementara Ni Ya seorang diri masuk ke kelas tiga belas yang khusus dibentuk oleh sekolah untuk para siswa jalur olahraga.
Kehidupan sekolah menengah selalu terasa padat, dan hari-hari di tahun ketiga semakin menegangkan. Detik-detik berakhirnya ujian masuk perguruan tinggi adalah momen penuh suka cita sekaligus pelepasan dari segala tekanan.
Memasuki masa kuliah, orang-orang di sekitar silih berganti, hanya Sui Yi dan Ye Zhi yang selalu bersama, tidak pernah terpisahkan.
Tanpa terasa, tibalah masa magang di tahun keempat. Kedua anak muda itu pun resmi mulai menjalani kehidupan serumah.
Suhu di dalam kamar semakin meningkat, bulan di luar jendela yang merasa malu bahkan menarik awan di dekatnya untuk menutupi wajah.
Angin malam berhembus selaras, merubung tirai jendela dan menyembunyikan pemandangan indah di dalam ruangan. Cahaya bulan yang usil diam-diam merangsek masuk ke dalam kamar, memperlihatkan siluet seorang pria dan wanita yang saling belit dengan samar.
Di dalam kamar yang sunyi, terdengar napas tersengat yang membuat wajah merona dan jantung berdegup kencang.
Saat panah sudah ditarik dan busur pun siap dilepaskan, Ye Zhi tiba-tiba menahan tangan besar yang meresahkan itu—tangan yang telah menyusup ke bawah roknya, berkelana di pinggangnya, dan tampak bersiap untuk meraba ke atas.
"Ada apa?" Sui Yi mengangkat kepalanya dari ceruk leher Ye Zhi, menatap gadis di bawahnya dengan sedikit terkejut sambil memiringkan kepala, menghentikan seluruh gerakannya.
Ye Zhi memutar bola matanya yang bulat, tiba-tiba teringat sesuatu, lalu melontarkan kalimat yang membuat Sui Yi terperangah.
"Sepertinya kita tidak pernah mengucapkan kata suka dan cinta satu sama lain, deh!" Ekspresi Ye Zhi tampak sangat serius.
"Ha?" Sui Yi tertegun, mengapa tiba-tiba membahas hal ini?
"Aduh! Maksudku, bagaimana bisa kita berdua begitu saja jadian tanpa kejelasan!" Ada sedikit nada mengeluh dalam suara Ye Zhi.
"Eh..." Sui Yi tidak langsung menemukan jawabannya. Setelah berguling, ia berbaring di sisi Ye Zhi, merangkul pundaknya, menatap langit-langit, dan mulai mengingat-ingat dengan serius bagaimana mereka berdua bisa bersama.
"Setelah ujian selesai, Qian Qian dan Qin Shen jadian, bahkan Qin Shen yang menyatakan cinta duluan!" Tidak sulit mendengar nada iri dalam perkataan Ye Zhi.
"Ah... sepertinya begitu," Sui Yi sedikit mengangguk setuju.
"Makanya! Bertahun-tahun lamanya! Aku tidak pernah mendengarmu bilang suka padaku!" Ye Zhi setengah meratap di dada Sui Yi, dengan nada sedikit menyalahkan, ia menusuk-nusuk dada Sui Yi dengan jari telunjuknya pelan-pelan.
Sui Yi terkekeh pelan, menggenggam tangan Ye Zhi lalu menciumnya lembut di bibir.
"Kalau aku mengatakannya sekarang, boleh kan?" Sui Yi memiringkan kepalanya, menatap Ye Zhi dengan penuh kasih sayang. "Aku suka kamu, aku cinta kamu, suka banget, cinta banget."
Ye Zhi mengerucutkan bibirnya. "Biasa saja."
"Tidak kok! Demi langit dan bumi! Sumpah demi matahari dan bulan!" Sui Yi tiba-tiba menegakkan tiga jarinya dengan serius, berbicara seolah sedang bersumpah.
Ye Zhi masih belum puas. Setelah berpikir sejenak, ia bangkit duduk, lalu berbicara kepada Sui Yi dengan sangat serius.
"Tidak bisa! Kamu harus mengejarku lagi! Waktu di SMA, kamu jelas-jelas tidak menyatakan apa-apa kepadaku tapi malah memeluk dan menciumku begitu saja! Waktu itu aku bahkan begitu bodoh sampai tidak melawan!"
Mengingat hal-hal "melampaui batas" yang dilakukan Sui Yi padanya semasa SMA, Ye Zhi merasa sangat menyesal.
Sui Yi tersenyum pasrah, bangkit menegakkan tubuhnya lalu merangkul Ye Zhi dengan lembut, membuat keduanya bertelekan mesra.
"Bukankah waktu itu kamu sudah menyukaiku? Kenapa masih mau melawan?" Sui Yi mengelus kepala Ye Zhi dengan lembut.
"Tapi aku kan tidak pernah mengatakannya!" Ye Zhi menatap Sui Yi dengan gagah berani. "Kamu bahkan belum memastikan apakah aku menyukaimu, tapi kamu sudah memperlakukanku begitu! Apa kamu tidak takut aku tidak mau mengurusmu lagi setelah itu?"
Sui Yi tertawa geli. "Kamu pernah mengatakannya."
"Aku pernah mengatakannya?!" Ye Zhi kebingungan. "Pernahkah? Kenapa aku tidak tahu?"
Sui Yi mengangguk dengan serius. "Tadi saat kamu bertanya padaku, aku juga sedang memikirkan apakah kita pernah saling mengatakan suka atau cinta. Lalu, aku tiba-tiba teringat, kamu pernah bilang suka padaku dulu."
Ye Zhi semakin terkejut. "Kapan?!"
"Akhir semester pertama di kelas sepuluh, sebelum pembagian kelas resmi, kita beberapa orang berkumpul dan minum sedikit alkohol..."
"Ayo, ayo, ayo! Hari ini kita minum sampai tuntas~" Sui Yi mengangkat botol birnya ke arah Qin Shen dan Yan Xu.
Qin Shen dan Yan Xu dengan kompak mengangkat botol bir mereka untuk mendentingkannya dengan milik Sui Yi.
"Kalian berdua sama-sama pergi ke kelas satu! Hanya menyisakan aku seorang diri di kelas dua~" Sui Yi berpura-pura sedih sambil menepuk dadanya dan menghela napas.
Yan Xu tanpa sungkan-sungkan membongkar "kepalsuan" Sui Yi. "Sudahlah! Ada Ye Zhi, masih bilang sendirian?"
Qin Shen tersenyum tipis sambil mengangguk, tanda setuju.
Sui Yi tersenyum malu-malu, meneguk minumannya untuk menutupi gerakannya yang mencuri pandang ke arah Ye Zhi.
Di sisi lain, Ye Zhi yang saat itu sudah mulai senang karena mabuk, dengan gembira menunjuk ke arah Yuan Qian dan tertawa bodoh. "Qian Qian~ Kenapa kamu bergerak-gerak..."
Yuan Qian menggelengkan kepala dengan pasrah, menatap Ye Zhi yang pipinya sudah memerah. "Ye Zi, kamu mabuk."
"Tidak! Siapa! Siapa yang mabuk!" Tatapan Ye Zhi sudah mulai sayu.
"Jangan minum lagi." Melihat Ye Zhi masih hendak meraih bir, Yuan Qian buru-buru mengangkat tangan untuk menghentikannya, tetapi Ni Ya menahan pergelangan tangan Yuan Qian.
"Ya Ya..." Yuan Qian tertegun.
"Biarkan dia minum. Jarang-jarang bisa mabuk, bukan begitu?" Ni Ya menyunggingkan senyuman pahit.
Hati Yuan Qian terasa ditarik, sedikit nyeri. Benar, jarang-jarang bisa mabuk.
Mabuklah, mungkin jika sudah mabuk, ia bisa untuk sementara melupakan kesedihan karena perpisahan.
"Hmm." Yuan Qian tidak lagi melarang, lalu ia sendiri mengambil sebotol bir dan menegaknya dengan liar.
Mungkin karena diminum terlalu cepat, Yuan Qian terbatuk beberapa kali.
Melihat itu, Qin Shen mengerutkan kening dan merebut botol bir dari tangan Yuan Qian. "Jangan minum lagi."
"Aku baru minum sedikit!" Yuan Qian mengerucutkan bibirnya sambil menegakkan jari telunjuknya untuk menegaskan.
"Biarkan mereka minum," bujuk Yan Xu. "Kita juga jarang-jarang minum bersama. Setelah hari ini, kita benar-benar akan berpisah untuk sementara. Meskipun tidak sekelas, kalau ada waktu kita harus sering-sering berkumpul!"
"Pasti!" Sui Yi mendentingkan botol birnya dengan milik Yan Xu.
"Bagaimana kalau mereka mabuk?" Qin Shen masih tampak khawatir.
Yan Xu menatap Ye Zhi yang sudah terkulai di atas meja, lalu beralih pada Ni Ya yang sedang menuangkan minuman, serta Yuan Qian yang sudah bersandar di bahu Qin Shen.
"Mereka sudah mabuk," kata Yan Xu sambil tersenyum.
Sui Yi berjalan ke sisi Ye Zhi dan berjongkok untuk memeriksa kondisinya. "Ye Zi? Kamu baik-baik saja?"
Ye Zhi merintih pelan tanpa memberikan tanggapan yang jelas.
"Bagaimana kalau hari ini sampai di sini saja, para gadis semuanya sudah mabuk." Sui Yi perlahan memapah Ye Zhi berdiri lalu menatap Qin Shen dan Yan Xu.
"Hmm." Qin Shen dan Yan Xu sama-sama mengangguk tanda setuju.
Berdiri di jalanan, diterpa angin malam yang dingin, Ye Zhi bergidik kedinginan.
"Dingin?" Sui Yi menunduk dan bertanya dengan suara lembut kepada Ye Zhi yang bersandar di bahunya.
Ye Zhi menggumamkan beberapa patah kata dengan tidak jelas, tetapi Sui Yi tidak dapat mendengarnya dengan baik.
Tanpa ragu, Sui Yi melepas jaket seragam sekolahnya dan menyelimutkannya ke tubuh Ye Zhi.
"Kenapa..." Ye Zhi kembali membuka mulutnya, bergumam, "Kenapa..."
Sui Yi dengan lembut mendekat ke arah Ye Zhi dan bertanya dengan suara pelan. "Kenapa apanya?"
Ye Zhi tiba-tiba menegakkan tubuhnya, lalu melompat-lompat kecil sambil melontarkan protes. "Kenapa Qian Qian dan Ya Ya tidak ada yang tinggal di kelas dua! Yang satu mengikuti Qin Shen ke kelas satu! Yang satunya lagi pergi ke kelas olahraga! Kelas dua... tinggal... tinggal aku sendiri..."
Sui Yi buru-buru memegang Ye Zhi yang terhuyung-huyung, merengkuhnya dengan perasaan iba, tetapi nasi sudah menjadi bubur dan ia hanya bisa menghiburnya.
"Bukankah masih ada aku? Aku tetap di kelas dua menemanimu." Sui Yi memeluk Ye Zhi erat-erat, membelai punggungnya dengan lembut, dan membujuknya berbisik di dekat telinga gadis itu.
Begitu pengaruh alkoholnya mereda, tubuh Ye Zhi kembali lemas.
"Untunglah... ada kamu..." gumam Ye Zhi dengan suara mabuk.
"Hmm, aku selalu di sini." Tatapan Sui Yi melembut.
"Sui Xiao Yi... Kenapa kamu... begitu baik padaku..." Ye Zhi tersenyum bodoh, mengangkat kepalanya dari pelukan Sui Yi.
Sui Yi tertegun sesaat, tersenyum, dan tidak menjawab.
"Apakah karena... menyukaiku?" Ye Zhi menatap Sui Yi dengan tatapan kosong dan bertanya polos.
Demi langit dan bumi yang menjadi saksi! Ia tidak mengatakannya! Ye Zhi sendiri yang menyadarinya!
Tatapan Sui Yi semakin dalam, ia tetap tidak bersuara.
"Bagus sekali~ Aku juga menyukaimu loh!"
Bum——!
Sui Yi merasa pikirannya mendadak kosong. Saat ia sadar dan hendak bertanya lagi, Ye Zhi sudah tertidur pulas.
"Apa kamu tidak takut kalau waktu itu aku hanya meracau karena mabuk!" usai mendengarkan cerita itu, Ye Zhi dengan gemas mencubit hidung Sui Yi.
Sui Yi menggenggam tangan Ye Zhi dan tersenyum bangga. "Aku juga sempat berpikir apakah kamu sedang meracau. Tapi saat liburan musim panas sewaktu aku mengantarmu pulang, saat aku mencium keningmu dan kamu tidak mendorongku menjauh, aku tahu kalau kalimatmu waktu itu bukanlah omong kosong."
Ye Zhi menatap Sui Yi dengan jengkel. "Ah! Sui Xiao Yi! Ternyata waktu itu kamu sedang mengetesku!!"
Sui Yi mengedipkan matanya dengan polos. "Kalau begitu, sekarang aku tanya kamu, waktu di SMA dulu, kamu menyukaiku tidak?"
Ye Zhi tertegun, kenapa tiba-tiba berbalik menanyainya?
Tentu saja suka... sejak semester kedua kelas sepuluh, ia sudah memantapkan hatinya!
Melihat Ye Zhi menunduk karena malu, Sui Yi mendekatinya dengan senyum usil. "Pasti suka kan! Kalau tidak, waktu liburan musim dingin di tahun kedua kelas sepuluh, saat aku menciummu, kenapa kamu tidak mendorongku menjauh?"
Kenangan berbondong-bondong menyerbu benak Ye Zhi, wajahnya langsung terasa panas, dengan kesal ia memukul Sui Yi sekali.
"Kamu masih berani bilang! Waktu itu aku sudah ketakutan setengah mati! Mana sempat berpikir untuk mendorongmu?!"
Sui Yi terkekeh pelan.
Liburan musim dingin kembali tiba. Sesuai kebiasaan, keluarga Ye Zhi pergi berlibur. Kali ini tujuan mereka adalah wilayah utara untuk menikmati pemandangan salju yang beterbangan dan kota di bawah selimut putih salju.
Di festival lampion es yang dipadati lautan manusia, Sui Yi dan Ye Zhi memanfaatkan keramaian untuk diam-diam menyelinap keluar dari rombongan besar. Pada saat itu, hubungan di antara keduanya sudah jauh lebih halus.
Sui Yi menggenggam tangan Ye Zhi, menerobos kerumunan, dan berlari ke sebuah sudut yang sepi orang. Tempat itu memiliki kontur tanah yang lebih tinggi dengan pemandangan yang jauh lebih luas.
Menatap dunia es dan salju di depan mata, Ye Zhi membuka matanya lebar-lebar karena takjub dan tak kuasa berseru, "Wah~ Indah sekali!"
Sui Yi memiringkan kepalanya dengan mata melengkung menatap Ye Zhi, lalu ikut menimpali dengan suara lembut. "Iya, indah sekali."
Ye Zhi tersenyum dan menoleh menatap Sui Yi. Ia tadinya ingin mengatakan sesuatu, tetapi begitu beradu pandang dengan sepasang mata Sui Yi yang dalam, seketika ia lupa apa yang hendak diucapkannya.
Begitu ia sadar kembali, wajah Sui Yi sudah membesar di depan matanya. Jantung Ye Zhi berdegup kencang tak karuan, dan pikirannya mendadak kosong.
Seluruh tubuhnya hanya mampu merasakan kelembutan serta kehangatan di atas bibirnya.
Sejak detik bibir mereka bersentuhan, riak-riak gelombang raksasa bergejolak di lubuk hati kedua remaja itu. Mereka takjub menyadari, ternyata seperti inikah rasanya?
Sui Yi menciumnya dengan sangat ringan dan lembut, hanya sebatas permukaannya saja tanpa memperdalamnya lebih jauh.
Namun, meskipun hanya sentuhan sekilas, detak jantung keduanya sudah melonjak tak terkendali seolah hendak melompat keluar dari dada.
Sesaat kemudian, Sui Yi perlahan melepaskan bibir Ye Zhi.
Sui Yi melihat bayangannya sendiri di dalam pupil mata Ye Zhi yang masih tertegun. Ia melengkungkan ujung matanya, mengangkat tangan untuk mengelus puncak kepala Ye Zhi, lalu tersenyum lembut. "Untuk sekarang hanya bisa begini saja, selebihnya harus menunggu sampai kuliah nanti."
Ye Zhi masih tampak kebingungan. Setelah kesadarannya pulih, seluruh wajahnya semakin memerah kontras dengan latar dunia putih bersalju di sekitarnya, namun justru membuatnya tampak semakin menggemaskan.
Sui Yi tersenyum, merengkuh Ye Zhi dengan lembut, dan mendekapnya erat dalam pelukan.
Ye Zhi dengan perasaan malu menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya sendiri, sama sekali tidak berani mendongak untuk menatap Sui Yi. Ia hanya bisa menenangkan debar jantungnya perlahan-lahan di dalam dekapan pemuda itu.
Salju turun beterbangan, sepasang insan saling berpelukan.
Serangkaian kenangan itu pun berlalu.
"Percaya padamu! Kuliah apa!" Ye Zhi kembali tak kuasa menahan diri untuk menusuk dada Sui Yi dengan jarinya. "Begitu ujian selesai dan kita pergi berlibur, kamu si serigala mesum! Si penjahat besar! Kamu langsung melahapku habis-habisan!!"
Sui Yi tersenyum penuh kasih, membiarkan Ye Zhi "memprotesnya".
"Ehem, lagipula, cepat atau lambat, kamu adalah milikku," Sui Yi sedikit berdehem untuk menutupi ekor serigala besar yang tak bisa ia sembunyikan.
"Huh!" Ye Zhi membuang muka dengan kesal, membelakangi Sui Yi.
Sui Yi pasrah, ia hanya bisa memeluk Ye Zhi dari belakang dan berbisik di telinganya. "Ye Zi, apakah isi hatiku untukmu masih harus dibuktikan dengan beberapa patah kata itu?"
Ye Zhi tertegun, tubuhnya menegang, dan di dalam hatinya ia menghela napas: benar juga, selama bertahun-tahun ini, bagaimana perlakuan Sui Yi terhadapnya, apa ia masih tidak tahu? Apakah masih harus di buktikan dengan kata-kata itu? Bukankah orang-orang bilang tindakan adalah bukti terbaik?
Sui Yi belajar keras demi bisa masuk ke SMA Nanhui, bertahan di kelas sastra yang sebenarnya kurang ia kuasai demi Ye Zhi, dan bahkan memilih berkuliah di universitas yang sama dengan Ye Zhi meskipun harus membuang puluhan poin berharganya.
Coba dipikir, berapa banyak orang yang bisa bersikap sepenuh hati dan mencurahkan seluruh atensinya hanya kepada satu orang seperti itu?
Memikirkan hal itu, Ye Zhi perlahan berbalik menghadap Sui Yi. Ia memeluk pria itu dengan lembut, menempelkan pipinya di dada Sui Yi, mendengarkan detak jantungnya yang kuat dan mantap, lalu perlahan berkata, "Semua yang kamu katakan aku tahu, tapi aku hanya merasa sedikit rugi..."
"Rugi?" Alis Sui Yi terangkat. Ia mengangkat dagu Ye Zhi agar saling bertatap mata dengannya, lalu bertanya dengan nada tidak senang. "Di mana ruginya?"
"Yaitu rasanya, jelas-jelas kamu tidak pernah sekalipun mengatakan suka padaku, tapi aku malah jadian begitu saja denganmu. Kadang aku takut, jangan-jangan aku ini hanya bertepuk sebelah tangan..." Ye Zhi menundukkan pandangannya, suaranya bahkan menyiratkan rasa tidak percaya diri.
Sui Yi tertegun, merasa iba. Apakah ia tidak memberikan rasa aman yang cukup untuk Ye Zhi? Ia juga bersalah, ia pikir Ye Zhi sudah tahu isi hatinya, tidak disangka...
Menghela napas dalam-dalam di lubuk hatinya, Sui Yi mengecup kening Ye Zhi.
Ye Zhi mendongak dengan kaget, beradu pandang dengan sepasang mata Sui Yi yang dalam, membuat jantungnya kembali berdegup melewatkan satu ketukan.
Sui Yi menatap Ye Zhi dengan penuh kasih, lalu perlahan membuka suara. "Ye Zi, ini juga salahku karena tidak pernah memberitahumu isi hatiku. Aku selalu berasumsi kamu sudah tahu, hingga mengabaikan perasaanmu. Tapi sekarang, aku bisa mengatakannya kepadamu dengan sangat-sangat serius..."
Namun Ye Zhi mengangkat jarinya untuk menutup bibir Sui Yi dengan lembut, senyum menghiasai bibirnya. "Kamu tidak perlu mengatakannya, aku sudah tahu."
Sui Yi tersenyum. Setelah menyingkirkan tangan Ye Zhi, ia berbisik pelan, "Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
Sebuah ciuman mendarat, penuh kelembutan yang berkesinambungan. Angin berhenti, awan tersingkap, dan di bawah cahaya rembulan yang jernih, itulah ikrar cinta mereka.
(Tamat)
(Masih ada bab tambahan loh~)