Bab 11 Pendamping Latihan
Setelah merapikan diri, Moli memanfaatkan gelapnya malam untuk pergi ke Hutan Bambu Ungu dan berlatih ilmu pedangnya. Berbeda dengan awal-awal yang penuh kesulitan, kini Moli sudah mampu melatih seluruh rangkaian jurus pedang itu dengan lancar.
Tiba-tiba, seberkas kekuatan spiritual menyerangnya. Moli segera meraih pedang Sembilan Mutlak, mengerahkan kekuatan untuk menahan serangan itu. Satu demi satu serangan spiritual kembali menghampirinya. Awalnya, Moli masih sering terkena pukulan, rasanya sungguh tidak enak.
Dirinya benar-benar seperti sasaran hidup yang terus bergerak!
Setelah beberapa kali bertahan, Moli menyadari bahwa orang yang bersembunyi dalam kegelapan bukan berniat melukainya, justru seperti sedang membantunya memperkuat teknik pedangnya.
Menyadari hal itu, Moli pun mengerahkan seluruh kekuatannya untuk bertahan. Semakin lama, ia semakin bersemangat. Sembilan Mutlak bergerak lincah di tangannya, kekuatannya semakin besar, dan tanda-tanda kesatuan manusia dan pedang mulai tampak.
Setelah semalam suntuk berlatih, tepat saat matahari terbit, serangan-serangan spiritual itu akhirnya berhenti. Kekuatan spiritual dalam tubuh Moli sudah lama habis. Kalau bukan karena semangat pantang menyerah, ia pasti sudah tumbang!
Saat itu, Moli tampak sangat lusuh dan tubuhnya hanya bisa bertahan karena disangga oleh Sembilan Mutlak.
Beichen melayang turun dari atas. Dibandingkan dengan keadaan Moli yang kacau, dia tampak seperti dewa perang yang turun dari langit, memancarkan aura yang agung dan tak terjamah.
“Setelah kekuatan spiritual di dalam dantianmu habis, segera duduk bersila dan bermeditasi. Hasilnya akan jauh lebih baik,” ucapnya.
Mendengar itu, tanpa banyak pikir, Moli langsung duduk di tanah dan mulai menyerap energi spiritual di udara dengan semangat membara. Dantian yang tadinya kering kerontang seperti disirami hujan, cepat sekali terisi penuh.
Dua jam berlalu, Moli menghapus semua kelelahan sebelumnya. Tubuhnya pulih berkali-kali lipat lebih baik, dan dantian terasa makin penuh.
“Senior Beichen, terima kasih!” Moli berdiri di hadapan Beichen, mengucapkan terima kasih dengan tulus.
“Di antara kita tak perlu berterima kasih.” Usai berkata, Beichen pun pergi.
“Apa maksudnya?” Moli tak mengerti ucapan Beichen. “Sudahlah, mulai sekarang apa pun yang Senior Beichen butuhkan, aku pasti akan membantunya tanpa menolak.”
Memang benar, Senior Beichen itu orang yang kelihatannya dingin, tapi hatinya hangat!
Dulu aku memang belum paham, ternyata dia tak sekeras yang terlihat di permukaan.
Moli bergumam sendiri, senang karena dirinya semakin kuat, juga gembira menemukan sisi lain dari Beichen.
“Ya! Senior Beichen memang orang baik!”
Puncak Bambu Ungu, Aula Utama
“Belakangan ini kalian pasti sudah mendengar tentang tragedi pembantaian Kota Bulan Barat. Setelah para tetua berdiskusi, kami memutuskan setiap puncak mengirim murid-murid terbaik untuk memberantas kejahatan. Satu sisi menyelidiki penyebab tragedi itu, sisi lain menjadi ajang latihan bagi kalian,” ujar Nangong Xuan dengan wajah serius.
Terlihat bahwa peristiwa ini membawa dampak besar bagi seluruh Benua Shenzhou. Kini, rakyat jelata dilanda ketakutan luar biasa, was-was setiap saat, takut suatu hari nanti kelompok sesat itu tiba-tiba mengamuk, dan merekalah korban berikutnya.
“Ali, kau...”
“Guru, aku juga ingin ikut.” Belum sempat Nangong Xuan selesai berbicara, Moli buru-buru memotong.
Nangong Xuan melihat ekspresi tegas di wajah Moli, hatinya pun tak tega.
“Jangan pernah bertindak sendiri. Harus selalu mendengar perintah senior-seniormu.” Menyadari Moli sudah bulat tekadnya, ia pun tak tega melarang lebih jauh. Jika tidak diizinkan pergi, pasti akan menjadi ganjalan di hati muridnya itu.
“Hati-hati selama di perjalanan. Selain itu, jika bertemu murid dari akademi atau sekte lain, jangan menimbulkan konflik, jangan menodai nama baik Akademi Shengde. Pastikan kembali dengan selamat!” Nangong Xuan berulang kali mengingatkan.
Keesokan harinya, mereka pun berangkat.
Mereka melaju ke barat dengan menunggangi pedang terbang. Ini pertama kalinya Moli belajar menggunakan pedang terbang. Semalam, Beichen mengajarinya mantra pengendalian pedang dan melatihnya sepanjang malam hingga akhirnya Moli bisa terbang walau masih setengah matang.
Beichen selalu berada di dekat Moli, menjaga keselamatannya. Walau awalnya Moli agak canggung, lama-lama ia mulai terbiasa.
Setelah terbang selama dua jam, kekuatan spiritual Moli sudah tak mampu menopang dirinya untuk terus mengendalikan pedang. Namun, ia tak mau merepotkan senior-seniornya, jadi terus memaksakan diri. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, wajahnya semakin pucat.
Tiba-tiba, seutas tali yang terbuat dari energi spiritual melilit pinggang Moli. Dengan sedikit tarikan, tubuh Moli langsung terjatuh ke pelukan Beichen.
“Bodoh sekali!” Beichen memeluk pinggang Moli erat-erat, melindunginya di dalam dekapannya.
“Aku...” Sadar dirinya bersalah, Moli tak berani berkata apa-apa. Kakinya lemas, jika Beichen tidak menahan, mungkin ia benar-benar akan jatuh.
Di tengah pelukannya, Beichen merasakan ketenangan yang tak terlukiskan.
Entah sejak kapan, ia mulai memperhatikan gadis ini. Sosok Moli selalu muncul dalam benaknya, mungkin sejak mimpi itu.
Pertama kali melihat Moli, Beichen merasa sangat akrab, seolah mereka memang sudah seharusnya saling mengenal, meski ia yakin belum pernah bertemu dengannya sebelumnya.
Malam itu, Beichen bermimpi tentang seorang wanita berbaju merah, berdiri di atas burung phoenix hitam, di dahi terdapat bunga teratai merah yang sedang mekar, sangat memesona. Beichen berusaha keras melihat jelas wajah wanita itu, dan ternyata wajahnya persis seperti Moli.
Atau lebih tepatnya, seperti Moli ketika sudah dewasa.
Namun, Beichen tahu pasti gadis itu bukan Moli, tapi mereka pasti ada kaitan.
Malam itu, banyak gambar-gambar aneh bermunculan dalam mimpinya, tapi yang paling sering muncul adalah sosok wanita berbaju merah.
Dalam bayangan itu, wanita berbaju merah menggenggam pedang spiritual.
“Junchen, kenapa kau membunuhnya?” tanyanya sambil mengarahkan pedang ke lelaki berbaju putih di hadapannya. Apa yang dikatakan pria itu Beichen tak tahu, hanya saja mereka berdua lalu bertarung.
Bumi berguncang, langit dan bumi seakan berubah warna...
Beichen kebingungan, siapa wanita berbaju merah itu? Kenapa ia muncul dalam mimpinya? Siapakah lelaki bernama Junchen itu?
Mungkin semua jawaban itu bisa ditemukan pada diri Moli.
Sejak saat itu, Beichen selalu tanpa sadar memperhatikan setiap gerak-gerik Moli. Semakin lama, ia semakin menyadari bahwa dirinya selalu tertarik pada gadis itu.
Tanpa terasa, ia telah tenggelam. Cinta memang tumbuh tanpa alasan, dan tak bisa dihalangi!
Kembali sadar, Beichen menatap Moli yang ada dalam pelukannya, menghela napas dalam hati.
Ah, Moli sekarang masih anak-anak!
Belum mengerti apa-apa, tugasnya sekarang hanya menemani dan melindunginya hingga ia tumbuh dewasa.
Gadis miliknya harus ia jaga sendiri. Beichen diam-diam mengalirkan kekuatan spiritual ke tubuh Moli, membuat gadis itu yang sedang bermeditasi merasakan kehangatan.
“Senior?”
“Konsentrasilah. Kekuatan spiritualmu habis, butuh pemulihan yang baik.” Ucapan Beichen tetap singkat seperti biasa, hanya saja kali ini lebih lembut dari biasanya.
Sayang, Moli tidak mengerti.
“Oh!” Moli selalu menganggap Beichen orang baik, tapi andai tahu bahwa sosok yang ia anggap bak dewa rupanya menyimpan niat lain, mungkinkah Moli masih tetap menganggapnya baik?
Namun, semua itu urusan nanti. Saat ini, Moli masih polos seperti kelinci kecil yang tak paham apa-apa.
Sambil memegang pinggang ramping Moli, Beichen mengernyit, berpikir,
‘Kenapa kurus sekali, sedikit ditekan saja bisa patah. Harus diberi makan lebih banyak!’
Beichen terus memikirkan bagaimana cara membesarkan gadisnya, harus dibuat sedikit lebih gemuk, supaya makin menggemaskan.