Bab 25: Meminta Menjadi Murid
Keesokan harinya, Nangong Xuan membawa Mo Li menuju Puncak Yuhua.
Puncak Yuhua adalah tempat tinggal Sesepuh Keempat, Jiang Wan. Ia adalah keturunan utama keluarga Jiang, salah satu dari empat keluarga besar di Kerajaan Fengqing. Karena tidak menyukai intrik dan persaingan dalam keluarganya, ia memilih menjadi sesepuh di Akademi Shengde.
Sesepuh Wan juga merupakan satu-satunya sesepuh perempuan di akademi.
Di aula utama Puncak Yuhua.
“Sesepuh Xuan, ada angin apa hari ini sehingga kau sempat berkunjung ke Puncak Yuhua?” Suaranya terdengar lebih dulu sebelum orangnya terlihat.
Mo Li tertarik pada suara itu dan menoleh ke arah sumbernya. Dari pintu aula, masuklah seorang wanita paruh baya berpakaian biru langit. Wajahnya terawat dengan baik, kulitnya tampak seperti gadis dua puluhan.
Namun Mo Li tak berani sungguh-sungguh mengira bahwa sesepuh Wan di hadapannya itu benar-benar berusia dua puluhan. Bagaimanapun, para kultivator berumur panjang dan penuaan berjalan sangat lambat.
Pertama kali Mo Li bertemu Nangong Xuan, ia juga mengira gurunya itu baru berusia tiga puluhan. Namun kemudian kakak keduanya memberitahu bahwa sang guru sebenarnya sudah lebih dari tujuh puluh tahun, membuat Mo Li terkejut setengah mati.
“Tak ada urusan, tak bolehkah aku sekadar duduk-duduk?” Pikiran Mo Li ditarik kembali oleh ucapan Nangong Xuan.
“Sesepuh Xuan biasanya orang sibuk, ingin bertemu denganmu lebih sulit dari naik ke langit. Katakanlah, ada urusan apa kau ke sini hari ini?”
Sesepuh Wan duduk di hadapan Nangong Xuan, tidak menempati kursinya sendiri di puncak.
“Mo Li! Kemarilah dan beri salam pada Sesepuh Wan!” Mendengar namanya dipanggil, Mo Li segera melangkah ke hadapan Sesepuh Wan dan memberi salam hormat.
“Salam hormat, Sesepuh Wan!”
“Sesepuh Xuan, apa maksudmu ini?”
Mo Li berdiri diam di samping Nangong Xuan, tak berani menyela pembicaraan dua orang sesepuh itu.
“Sesepuh Wan, aku berharap kau sudi membantuku dengan mengajarkan teknik serangan suara pada Mo Li. Seperti yang kau tahu, di seluruh akademi hanya Puncak Yuhua yang mendalami teknik ini, jadi…”
Nangong Xuan menjelaskan maksud kedatangannya, namun Sesepuh Wan masih belum menjawab.
Sesaat, aula utama menjadi sunyi sehingga Mo Li merasa sedikit sesak.
Akhirnya, Sesepuh Wan memecah keheningan. “Memintaku mengajar bukan tidak mungkin, tapi Sesepuh Xuan pasti tahu, teknik serangan suara dari Puncak Yuhua tidak pernah diajarkan keluar, kecuali…”
“Kecuali muridmu juga harus menjadi muridku, menjadi murid utama di bawah bimbinganku, baru akan kuajarkan teknik ini. Bagaimana?” Setelah berpikir matang, Sesepuh Wan membuat keputusan itu.
“Baik! Begitu saja!” Mendengar syarat itu, Nangong Xuan langsung menyetujui tanpa ragu, takut Sesepuh Wan berubah pikiran.
Melihat jawaban Nangong Xuan, Sesepuh Wan tersenyum merekah, senyumnya begitu menawan dan menyejukkan hati.
Sesepuh Wan benar-benar merasa gembira.
‘Sekarang, aku dan kau telah terikat satu sama lain!’ Begitu pikir Sesepuh Wan dalam hati.
Ia dan Nangong Xuan sebenarnya adalah saudara seperguruan, dulu sama-sama menjadi murid Akademi Shengde. Meski berada di puncak berbeda, mereka tetap satu perguruan.
Dulu, Nangong Xuan di Shengde dikenal sebagai tokoh luar biasa dengan bakat mengagumkan. Banyak murid perempuan di akademi diam-diam mengaguminya, namun ia hanya fokus pada jalur kultivasi, membuat hati banyak gadis patah berkeping-keping.
Jiang Wan pun dulunya adalah sosok menonjol di Shengde. Cantik, berbakat dalam seni bela diri, dan berasal dari salah satu keluarga empat besar. Banyak murid laki-laki diam-diam memandangnya, namun ia terlalu dingin dan tertutup, seperti bunga di puncak gunung, hanya bisa dipandang dari jauh, tak bisa dimiliki.
Namun tak ada yang tahu, sejak bertahun-tahun lalu hati cantik Jiang sudah jatuh pada Nangong Xuan dari Puncak Bambu Ungu. Semua orang mengira ia datang ke Shengde untuk menghindari tekanan keluarga, padahal sejatinya, ia hanya ingin dekat dengan orang yang dirindukannya.
Keluarga Jiang ingin menjodohkannya, namun karena hatinya sudah terisi, ia tak pernah setuju. Maka, ia tetap tinggal di Puncak Yuhua, asal bisa bertemu dengan orang itu sudah cukup.
Bunga jatuh bertepuk sebelah tangan, air mengalir tiada rasa…
‘Mo Li adalah murid utama Nangong Xuan, dan sekarang ia menjadi muridku, berarti Mo Li akan menjadi murid didikan kami bersama!’ Begitu pikir Sesepuh Wan, sorot matanya pada Mo Li penuh kasih sayang.
“Mo Li! Cepat beri salam pada gurumu!” Mo Li yang masih bingung pun segera memberi salam, dan dengan demikian, ia mendapatkan seorang guru cantik lagi.
“Salam hormat, Guru!”
“Bangunlah! Mulai hari ini, kau adalah muridku yang kesebelas!” Kemudian ia mengeluarkan sebuah kotak kristal dari cincin penyimpanan dan memberikannya pada Mo Li.
“Ini hadiah pertemuan dariku. Maaf, aku belum sempat menyiapkan sebelumnya. Pegang saja dulu, nanti aku akan menyiapkan yang lebih baik.”
Sesepuh Wan benar-benar menyukai gadis kecil ini. Mata Mo Li yang jernih tampak begitu cerah, membuat siapa saja yang melihat jadi merasa damai.
Mo Li memandang Nangong Xuan, dan setelah melihat gurunya mengangguk, ia pun menerima hadiah itu.
“Tiga tahun ke depan, kau akan tinggal di Puncak Yuhua. Hari ini pulanglah dan bereskan barang-barangmu, besok sudah bisa pindah ke sini.” Selesai berkata, Sesepuh Wan mengeluarkan sebuah tanda pengenal putih dan menyerahkannya pada Mo Li. Tanda itu tampaknya sama fungsinya dengan tanda dari Puncak Bambu Ungu.
Mo Li bingung harus menjawab apa. Ia pun menatap Nangong Xuan.
“Kalau begitu, ikuti saja kata gurumu Wan. Pergi-pulang setiap hari tentu merepotkan. Pulanglah, berkumpul dulu dengan kakak-kakakmu sebelum pindah.” Nangong Xuan mempertimbangkan semuanya untuk Mo Li.
Mo Li mengangguk!
“Terima kasih, Guru Wan!” Ia menerima tanda Puncak Yuhua.
Agar tidak membingungkan antara Nangong Xuan dan Sesepuh Wan, Mo Li memutuskan memanggil mereka dengan sebutan berbeda. Sesepuh Wan hanya tersenyum.
“Guru Wan? Nama itu terdengar indah!” Sesepuh Wan tersenyum lembut, membuat jarak di antara mereka terasa semakin dekat.
“Besok, setibanya di Puncak Yuhua, salurkan saja kekuatanmu ke dalam tanda itu, nanti akan ada orang yang menjemputmu,” kata Sesepuh Wan, mengusap kepala Mo Li dengan penuh kasih.
“Baik, terima kasih Guru Wan!”
Setelah itu, Mo Li mengikuti Nangong Xuan kembali ke Puncak Bambu Ungu…
“Apa? Adik bungsu kita akan tinggal di Puncak Yuhua selama tiga tahun?” Song Ye bertanya tak percaya. Tak hanya dia, kakak kedua dan kakak tertua pun tampak berat melepas kepergian Mo Li.
“Mo Li, kau yakin bisa sendirian di sana?” Mo Li baru setahun lebih tinggal di Puncak Bambu Ungu, baru saja akrab dengan semua, kini harus pergi.
“Kakak, Guru Wan sangat baik, sangat lembut, dan sangat perhatian padaku. Kalian tak usah khawatir. Tiga tahun akan berlalu dengan cepat.” Mo Li menatap orang-orang yang paling dekat dengannya, hatinya terasa hangat.
Ya, bagi Mo Li, merekalah keluarga terdekatnya, merekalah yang memberinya kehangatan rumah.
“Hah? Guru Wan sangat lembut? Adik kecil, meskipun kau tak ingin kami khawatir, tak perlu berbohong sampai seperti itu! Kami semua mengerti kok.” Song Ye merasa sangat tersentuh, adik kecilnya bahkan rela berkata bohong demi menenangkan mereka!
Semua orang tahu, di Akademi Shengde hanya ada satu sesepuh perempuan, yang terkenal aneh, sangat serius, jarang tersenyum, dan tegas pada murid-muridnya. Kini Mo Li malah mengatakan dia lembut dan penyayang, tampaknya ia memang terlalu polos dan mudah tertipu oleh penampilan luar.
Mo Li merasa heran, karena memang Guru Wan sangat lembut padanya! ‘Sepertinya mereka semua salah paham tentang Guru Wan,’ pikir Mo Li.
“Sudah, besok adik kecil akan berangkat ke Puncak Yuhua. Malam ini, mari kita masak banyak makanan enak untuk mengantarnya!” Kakak tertua berkata, semua pun mulai menunjukkan kemampuan memasak masing-masing.
Malam harinya, di aula utama.
“Adik kecil! Cepat kemari!” Suara Song Ye menggema dari jauh.
Begitu Mo Li masuk, ia langsung diarahkan ke tempat duduk oleh Song Ye. Setelah semua duduk, barulah Nangong Xuan berbicara.
“Besok Mo Li akan pergi ke Puncak Yuhua untuk belajar, dan akan tinggal di sana selama tiga tahun. Malam ini, anggap saja sebagai perpisahan untuk Mo Li!”
“Mo Li, jaga dirimu baik-baik ya!” Kakak kedua tampak berat melepas kepergiannya, seperti seseorang yang selama ini selalu di dekatnya tiba-tiba harus pergi jauh, membuat hati tak tenang.
Andai Mo Li pindah ke puncak lain masih mending, tapi ini ke Puncak Yuhua. Guru Wan dikenal aneh, tak pernah menerima murid laki-laki, jadi Puncak Yuhua hanya berisi murid perempuan. Murid di puncak itu pun jarang keluar, apalagi menerima tamu dari luar!
Jadi, mereka pun tak punya kesempatan menjenguk, baru bisa bertemu lagi tiga tahun ke depan!
“Eh, adik kecil kita kan ke sana untuk belajar, ini kesempatan bagus! Nanti kalau adik kecil sudah kembali, kita bisa berpetualang bersama. ‘Lima Jawara Puncak Bambu Ungu’ akan keluar gunung!” kata Song Ye dengan santai. Mendengar itu, suasana pun mencair, semua mulai mendoakan Mo Li.
Mo Li memang kurang nyaman dengan suasana haru seperti ini, untung kakak ketiga segera mengalihkan perhatian.
“Ayo, adik kecil, coba masakan ini. Aku sendiri yang masak khusus untukmu!” Song Ye mendorong sepiring makanan berwarna hitam ke hadapan Mo Li, menatapnya penuh harap.
“Itu apa? Bisa dimakan nggak? Mo Li, coba ini buatan kakak kedua.” Mo Li melirik semangkuk makanan merah menyala yang disodorkan kakak keduanya. Belum sempat mengambil, ia sudah mencium aroma pedas yang menusuk hidung.
‘Berapa banyak cabai yang dimasukkan? Jangan-jangan makan ini malah sakit perut!’ gumam Mo Li dalam hati.
“Apa-apaan makanan kalian ini, coba dulu sendiri, layak makan atau tidak!” Bei Chen tampak tak puas. Baginya, ini bukan jamuan makan, tapi seperti percobaan racun saja! Ia langsung menyingkirkan dua piring makanan tadi dan mengeluarkan hidangan yang dipesan dari restoran.
Dari semua, hanya masakan kakak tertua yang layak makan. Maka biasanya, mereka memang hanya makan masakan kakak tertua. Namun karena mereka sering berkultivasi dan menjalani puasa latihan, makan bersama menjadi momen langka.
Malam itu, semua makan dengan lahap.
Masakan dari “Yingxian Lou” memang selalu enak. “Nanti kalau adik kecil pulang, kita makan bersama lagi di sana!” ujar Song Ye sambil memainkan kipas batu gioknya.
Semua setuju dengan usulan Song Ye, sepakat bahwa nanti saat menyambut kepulangan Mo Li, mereka akan merayakan di restoran langganan mereka.
…