Bab Dua Puluh Tujuh: Kesedihan Hujan Hijau
Kediaman Long Fei dihancurkan!
Kabar ini menyebar ke seluruh Negeri Dewa Kun Han, menimbulkan kepanikan di antara banyak orang.
Tak seorang pun tahu siapa pelakunya, yang jelas setiap murid Long Fei telah dipotong kedua tangannya, jasad mereka diseret dengan tali dan dipaksa berlutut menghadap utara.
Huidi duduk di dalam Balairung Cang Yun, di sebelahnya duduk Jing Mo.
"Kami dari Pavilun Hujan Hijau sudah menutup diri selama lima belas tahun dan tidak mencampuri urusan dunia. Kali ini, terima kasih kepada adik Huidi yang telah datang membawa kabar. Kami akan lebih waspada."
"Itu bagus. Kakak Jing Mo, mohon maaf atas kelancanganku, sebenarnya apa yang terjadi pada sekte kalian lima belas tahun lalu? Apakah benar seperti desas-desus di luar?"
"Peristiwa lima belas tahun lalu, aku sendiri pun telah melupakannya. Untung ada Ketua Paviliun Wanqi yang memimpin, hingga Pavilun Hujan Hijau tetap aman hingga hari ini. Urusan lama, tak perlu dibahas lagi."
"Kakak Jing Mo benar, aku yang lancang. Ketua Wanqi memang seorang jenius luar biasa yang tetap tenang dalam bahaya. Sayang, waktuku datang kurang tepat, Ketua Paviliun sedang bertapa. Lain waktu jika ada kesempatan, aku akan berkunjung lagi. Sekarang aku masih ada urusan lain, pamit dulu."
"Baik, maaf tak bisa mengantarkan."
Pintu gerbang Pavilun Hujan Hijau tampak suram dan sepi, bahkan tak ada satu pun murid yang berjaga. Huidi menuruni tangga panjang, menatap langit biru dan awan putih, menggelengkan kepala dengan kecewa. Sebuah sekte besar dan ternama kini begitu merosot, orang yang ingin ia tanya pun tak sempat ia tanyakan.
Konon, dia melompat turun dari Tebing Long Ming.
"Kakak Jing Mo, jika apa yang dikatakan Huidi benar, Negeri Dewa kita mungkin akan kacau balau," kata Tang Yun yang duduk di samping, penuh kecemasan.
"Perkara ini memang sangat genting, aku harus segera melapor pada Ketua Paviliun."
"Tapi kakak, Pavilun Hujan Hijau sudah lama tak peduli urusan dunia luar, kekacauan di luar bukan urusan kita. Ketua sudah bertapa lama, apa kita perlu mengganggunya?"
Jing Mo menatap Tang Yun, matanya penuh kekhawatiran, lalu berkata, "Tang Yun, ke arah manakah Long Fei menghadap utara?"
"Long Fei menghadap utara? Aku tidak tahu."
"Long Fei menghadap utara, itu adalah Tebing Long Ming."
"Tebing Long Ming..." Wajah Tang Yun berubah, "Maksud kakak..."
Jing Mo menggeleng pelan, "Lima belas tahun lalu Pavilun Hujan Hijau tertimpa bencana besar, semua tetua tewas, Du Luozhi dinyatakan bersalah dan dihukum mati di Tebing Long Ming. Seharusnya dia tak mungkin masih hidup, tapi aku merasa kehancuran Long Fei ada kaitannya dengan tragedi lima belas tahun lalu."
"Kakak Jing Mo mengira Du Luozhi waktu itu difitnah?"
Wajah Jing Mo berubah, buru-buru menutup mulut Tang Yun dan berbisik, "Jangan bicara sembarangan. Tapi waktu itu, kita baru kembali beberapa hari setelah Du Luozhi, mereka sudah langsung mengeksekusinya, pasti ada yang aneh."
Jing Mo dan Tang Yun berjalan keluar dari Balairung Cang Yun, melewati jalan setapak yang rindang, berjalan beriringan.
"Aku dulu juga curiga dan ingin menyelidiki, tapi setelah kejadian itu Ketua Paviliun sangat terpukul, langsung mengurung diri dan menutup sekte, aku pun tak ada jalan untuk menyelidiki, akhirnya aku hentikan."
"Kakak masih merasa Du Luozhi difitnah?"
Jing Mo menatap Tang Yun dengan serius, "Kita berdua tahu betul tingkat kemampuan Du Luozhi, mana mungkin dia bisa membunuh Guru dan keempat paman guru?"
"Kakak, apakah kau pernah berpikir, mungkin saja Du Luozhi sebenarnya seorang ahli, hanya berpura-pura lemah selama ini?"
"Itulah yang paling menakutkan. Jika benar Du Luozhi seorang ahli dan membunuh Guru beserta keempat paman guru, pasti dia punya tujuan dan pasti ada komplotan. Maka kehancuran Long Fei kali ini..." Jing Mo tak melanjutkan, Tang Yun mengangguk mengerti.
"Itulah sebabnya aku harus melapor pada Ketua Paviliun, bersiap untuk segala kemungkinan."
Pintu batu gua kecil tertutup rapat, Jing Mo berdiri di luar dan menyampaikan semua yang dikatakan Huidi.
Sejak lima belas tahun lalu Wanqi Lirang bertapa, ia jarang sekali menampakkan diri dan semua urusan diserahkan pada Jing Mo. Terakhir kali Jing Mo menemuinya, sudah setahun lalu.
"Baik, aku sudah tahu," suara Wanqi Lirang terdengar dari balik pintu, terdengar letih, tak seperti dulu yang penuh semangat.
"Ketua, apa kita tak akan mengambil tindakan?"
Sunyi cukup lama, barulah suara dari dalam berkata, "Jing Mo, beritahu seluruh murid, lima belas menit lagi, kenakan pakaian lengkap, berkumpul di Balairung Cang Yun, ada hal penting yang ingin kusampaikan."
"Baik." Jing Mo menerima perintah dan pergi.
Balairung Cang Yun yang sudah lama sunyi, sudah lama tak seramai ini. Para murid pun sudah mendengar kabar kehancuran Long Fei, mereka ramai membicarakannya.
Du Nianxue berdiri di bagian depan, tatapannya kosong. Ia yang dulu gadis muda nan anggun, kini telah tumbuh menjadi wanita menawan, namun di antara alis dan sorot matanya selalu tersembunyi kesedihan. Ia tak lagi ceria seperti dulu, kata-katanya makin sedikit, dan makin sedikit pula yang bisa bicara dengannya.
Meski begitu, Wanqi Lirang tetap menempatkannya sejajar dengan Jing Mo, Tang Yun, Qing Xuan, dan Lu Xichen sebagai lima tetua, mengatur seluruh urusan Pavilun Hujan Hijau, sementara dirinya sendiri terus bertapa sepanjang hari.
"Sudah lama juga, kenapa Ketua belum datang? Jangan-jangan lupa?"
"Ketua masih muda, bukan kakek tua, mana mungkin lupa."
"Dulu Ketua sangat terpukul oleh... urusan Du itu, setelah itu dia bagai naga yang tak pernah menampakkan diri, tindakannya pun jadi ganjil."
"Diamlah, tak ada topik lain ya?" Lu Xichen membentak adik seperguruannya yang cerewet. Dengan alis tegas dan raut wajah keras, ia sangat kontras dengan Jing Mo yang selalu ramah.
Saat mereka berbicara, Wanqi Lirang masuk perlahan mengenakan jubah biru sederhana seperti murid biasa. Tangan kanannya membawa sepasang jubah hijau tua, sementara lengan kirinya yang kosong berayun mengikuti langkahnya.
Begitu ia masuk, Balairung Cang Yun langsung hening, para murid menajamkan mata, lalu terdengar seruan kaget.
Secara usia, Wanqi Lirang kini baru tiga puluh dua atau tiga puluh tiga, namun pria yang masuk ini wajahnya penuh kepenatan, keriput dalam, dan di pipi kirinya terdapat luka mengerikan seperti bekas gigitan serangga dari dahi hingga dagu yang baru mengering.
Juga lengan kirinya yang kosong.
Hanya garis wajahnya yang masih bisa dikenali.
Semua orang menatap Wanqi Lirang dengan tak percaya, atau tepatnya, menatap orang asing ini.
Benarkah dia pemuda penuh semangat lima belas tahun lalu?
Jing Mo yang selalu tenang pun tertegun, beberapa saat kemudian baru sadar dan memberi hormat, "Sa...lam Ketua."
Barulah yang lain tersadar dari mimpi, buru-buru memberi hormat.
"Ketua, ada apa?" tanya Jing Mo pelan.
Wanqi Lirang menggeleng, menyuruhnya tak perlu khawatir, lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan berseru lantang, "Murid Pavilun Hujan Hijau, Jing Mo, dengarkan perintah."
"Saya di sini."
"Aku menunjuk Jing Mo menjadi Ketua Pavilun Hujan Hijau yang baru, mulai saat ini juga."
"Apa?" Jing Mo kehilangan kata-kata, "Ketua..."
"Murid Pavilun Hujan Hijau, Jing Mo, terima tongkat perintah Ketua." Wanqi Lirang tak memberinya kesempatan membantah, suaranya penuh kelelahan.
Yang lain memandang kedua orang di tengah balairung dengan bingung.
Du Nianxue menatap Wanqi Lirang yang kini berwajah tua dan letih, matanya memerah. Pria ini, harusnya ia cintai atau benci, ia pun tak tahu, yang jelas saat ini hatinya sangat sakit. Ia ingin maju, memegangnya dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah beberapa lama, Jing Mo berlutut dengan satu lutut, mengangkat kedua tangan dan berkata, "Saya menerima perintah."
Jubah hijau tua dan tongkat perintah diserahkan ke tangan Jing Mo, Wanqi Lirang tersenyum tipis dan menghela napas panjang.
"Salam Ketua," seluruh orang di Balairung Cang Yun, kecuali Wanqi Lirang, berlutut memberi hormat.
"Ada satu hal lagi yang ingin kukatakan," suara Wanqi Lirang terdengar, mengandung wibawa yang tak terbantahkan.
Balairung segera hening, semua mata menatapnya, menunggu kelanjutannya. Tindakan Wanqi Lirang hari ini benar-benar sulit ditebak.
Apakah ia akan menjelaskan tentang tangan kirinya yang buntung? Atau luka di wajahnya? Atau mengapa selama bertapa ia bisa menua dua puluh tahun?
"Hari ini, di hadapan semua orang, aku ingin menuntut keadilan untuk seseorang." Matanya menunduk, suaranya rendah dan pelan, penuh duka dan kepedihan, "Lima belas tahun lalu, dia adalah pemuda gagah, namun mati dengan penuh dendam karena difitnah, di Tebing Long Ming, di tepi Sungai Xiuyao, tulangnya pun tak dikuburkan."
"Namanya, Du Luozhi."
Nama yang telah lama terkubur itu kini menggema di benak semua orang. Nama itu adalah tabu di Pavilun Hujan Hijau, selama lima belas tahun tak seorang pun berani menyebutnya.
Tak seorang pun berani bernapas, jantung mereka seolah berhenti berdetak, bayangan peristiwa lima belas tahun lalu muncul di hadapan mereka: murid durhaka yang membunuh guru dan sesepuh, mata merah penuh darah, membuat siapa pun yang mengingatnya merasa ngeri.
"Lima belas tahun lalu, Jing Mo, Tang Yun, Lu Xichen, Su Qingqing, dan Du Luozhi berlima diutus ke Villa Lianshui untuk menghadiri ulang tahun. Saat itu, Ketua Paviliun, nenek tua, tiba-tiba terkena bencana petir lebih awal dari yang diduga, dan wafat. Semua orang dilanda duka, namun malapetaka datang bertubi-tubi, kelima tetua mulai merasakan tubuh mereka sakit, awalnya lemas dan sering mengantuk, dalam beberapa hari tubuh membusuk, energi dalam bocor, dan setiap hari merasakan derita luar biasa. Karena Ketua Paviliun baru saja wafat, mereka tak berani mengumumkan, semua urusan diserahkan padaku sementara, dan secara diam-diam memanggil Jing Mo, namun aku tak berhasil menghubungi mereka. Demi mencegah kepanikan, para tetua menyembunyikan penyakit mereka, mereka menahan sakit yang seperti menggerogoti tulang dan daging, hingga akal mereka mulai terganggu, kadang kala bahkan saling membunuh di dalam kamar!"
"Paman Guru Li menduga dirinya terkena racun aneh, sudah berkali-kali mencari obat tapi gagal, beberapa hari kemudian, Paman Guru Du jadi benar-benar gila, melarikan diri dari kamar dan membunuh dua murid di belakang gunung!"
Suara Wanqi Lirang bergetar saat menceritakan kisah kelam yang tak diketahui siapa pun, "Dua hari kemudian, Paman Guru Xu juga jadi gila. Racun ini benar-benar aneh, makin sadar mereka, makin lemas tubuhnya, pada puncaknya bahkan tak bisa turun dari ranjang. Suasana mencekam meliputi semuanya, tiga paman guru yang lain akhirnya memutuskan untuk memintaku..."
Wanqi Lirang menarik napas dalam-dalam, suaranya bergetar, "Memintaku membunuh mereka."
Para murid terkejut hingga lupa bersuara, hati mereka bergejolak hebat, menatap Wanqi Lirang dengan tak percaya, melihat air mata yang menetes di wajahnya.
Bahkan Jing Mo sendiri, hatinya seakan disambar petir. Ia tak pernah mendengar kisah ini sebelumnya.
"Awalnya aku menolak, tapi para paman guru itu memohon sambil berlutut, mereka benar-benar tak tahan, sudah tak sanggup menunggu Jing Mo kembali. Otakku kosong, tak tahu harus berbuat apa, akhirnya aku setuju juga."
"Sebelum meninggal, mereka memberitahuku sebuah rahasia yang menentukan hidup mati Pavilun Hujan Hijau."