Bab Tiga Puluh Enam: Menikmati Teh
Di sebuah ruang rahasia di markas Bayangan Malam, Kota Fengzhou.
“Apa! Masih belum ditemukan? Cepat cari lagi! Kirim lebih banyak orang!!” Seorang gadis cantik tampak cemas memerintah seorang lelaki berbaju hitam.
“Jing, jangan gelisah. Menurutku nasib Po Yun tidak akan berakhir singkat. Tenanglah,” seorang pria paruh baya yang berwibawa di kursi utama menghela napas.
“Benar, Kakak. Bahkan Dua Iblis Gunung Yin pun bukan tandingan Po Yun, kau tak perlu khawatir. Ayah yang biasanya mudah marah saja tidak bertindak gegabah, apalagi Po Yun yang cerdas, pasti akan lebih berhati-hati,” ujar seorang gadis yang wajahnya mirip dengan gadis cantik tadi, berusaha menenangkan.
“Justru karena Dua Iblis Gunung Yin saja bisa kalah, aku makin khawatir,” raut wajah Lian Jing dipenuhi kegelisahan. “Pertama kali saja Gerbang Petaka Petir sudah mengirim ahli sekelas Dua Iblis Gunung Yin, entah kali berikutnya akan mengirim siapa. Po Yun sendirian, bagaimana bisa melawan mereka?”
Chen Hao tertawa lepas, “Sejak kapan anakku Jing begitu memedulikan orang lain?”
Wajah Lian Jing merona, ia sedikit merajuk, “Ayah hanya tahu menggoda anakmu. Dulu memaksaku menikah, sekarang malah mengejekku. Andai saja Ibu masih hidup.” Mata indahnya pun memerah, tampak sangat berduka.
Kelopak mata Chen Hao bergetar, rona wajahnya suram dan ia berkata dengan suara rendah, “Benar. Jika ibumu masih ada, ia pasti tidak akan memaksamu. Ini salah ayah, memaksamu menikah dengan orang yang tidak kau sukai.” Ia menatap Lian Jing dengan penuh kasih, “Jing, Ayah tidak akan mengulanginya lagi. Tenanglah.”
Lian Jing merasa tersentuh, air mata bening menggenang di matanya.
Chen Hao menahan rindu pada istrinya yang kembali muncul karena Lian Jing, lalu kembali tertawa, “Mana mungkin anak-anak keluarga Chen bersikap cengeng. Tapi Po Yun memang luar biasa, mampu mengalahkan Dua Iblis Gunung Yin, sungguh di luar dugaan. Dengan adanya pengalaman itu, Po Yun pasti akan lebih waspada. Jing, tenangkan hatimu.”
Wajah Lian Jing sekali lagi memerah, bibirnya bergerak-gerak namun tak kunjung mengungkapkan asal-usul Po Yun, matanya menatap ke luar jendela, hatinya dipenuhi kerinduan dan kekhawatiran pada Po Yun...
Hutan pegunungan di awal musim semi masih tampak sepi dan mati.
Po Yun berjalan di jalan setapak di pegunungan.
Angin dingin berhembus, membawa kesejukan yang menyegarkan.
“Kali ini, yang paling menguntungkan dari latihanku adalah makin mengenal racun,” gumam Po Yun sambil tersenyum mengingat racun yang telah ia ramu. “Meskipun jurus Pedang Jisong akan berkurang daya rusaknya jika memakai belati, tetapi Miao Ren tetap senjata favoritku. Sedangkan teknik langkah luwak yang dipadukan dengan Langkah Naga Langit benar-benar ampuh di medan tempur. Kalau tak bisa menang, setidaknya aku bisa kabur.”
“Entah apa yang Chen Hao lakukan sekarang, apa yang sedang dilakukan Lian Jing?” Po Yun tersenyum hangat tiap kali memikirkan Lian Jing. Namun ingatannya juga melayang ke Ru Qiuqing, membuatnya tersenyum pahit. “Tak kusangka aku sampai terlibat dalam permainan seperti itu.” Ia menggelengkan kepala.
“Baiklah, aku akan pergi ke Gunung Zhenlong,” Po Yun menata pikirannya dan membuat keputusan.
Saat ia baru saja memutuskan, tiba-tiba terdengar suara seruling yang merdu.
Satu nada berubah menjadi dua, dua menjadi tiga. Lantunan seruling yang merdu dan jernih itu membuat hati Po Yun terasa lapang dan nyaman.
“Suara seruling ini bagai musik para dewa, aku harus tahu siapa sang peniupnya,” gumam Po Yun lalu bergegas mengikuti sumber suara.
Setelah melewati sebuah bukit, ia melihat dari kejauhan sebuah gubuk beratap jerami yang mengeluarkan asap tipis.
Po Yun mendekati gubuk itu, suara seruling langsung terhenti.
“Aku datang dari jauh, tertarik oleh suara seruling ini, mohon maaf jika lancang datang tanpa diundang,” seru Po Yun dengan suara sopan di depan pintu kayu gubuk.
Pintu kayu berderit terbuka. Seorang lelaki tua berambut putih, dengan seruling bambu di tangan, berdiri di ambang pintu dengan senyum ramah.
Orang tua itu bertubuh sedang, wajahnya tenang dan bersahaja, penuh keramahan. Ia bertanya dengan senyum, “Anak muda, apa kau mengerti tentang musik?”
Po Yun membalas dengan senyuman, “Terus terang saja, saya sama sekali tidak paham musik. Tapi suara seruling kakek sangat merdu hingga membuat saya tak tahan untuk datang.”
Wajah orang tua itu tampak sedikit kecewa, namun ia tetap tersenyum, “Tamu dari jauh harus dihormati. Silakan masuk, Nak.”
Po Yun mengikuti sang kakek masuk ke dalam gubuk.
Gubuk itu sangat sederhana, di tengahnya ada tungku kecil yang sudah tua, di atasnya terdapat teko dan cangkir. Di sekitarnya diletakkan beberapa alas duduk dari rumput kering.
Orang tua itu duduk di atas tikar sambil tersenyum, “Rumah ini sangat sederhana, mohon maklum.”
Po Yun duduk bersila di atas alas duduk, “Tak masalah, justru saya yang lancang mengganggu.”
Orang tua itu tersenyum, “Di pegunungan ini tak ada apa-apa untuk menjamu tamu.” Ia menuangkan secangkir teh untuk Po Yun.
Begitu menerima cangkir itu, keharuman lembut langsung menyeruak. Ternyata itu bukan arak, melainkan teh harum.
“Teh yang luar biasa!” Begitu menyesap tehnya, Po Yun spontan memuji, “Daunnya hijau dengan pinggiran merah, bahkan setelah diseduh berkali-kali aromanya tetap bertahan! Sungguh teh Tieguanyin yang istimewa!”
Mata orang tua itu berbinar, “Jadi kau juga mengerti teh?”
Po Yun merendah, “Saya hanya tahu sedikit saja. Tieguanyin daunnya hitam mengkilap, padat, berat bagai besi mati, aromanya harum dan bentuknya indah, itu sebabnya saya bisa langsung mengenalinya.”
Orang tua itu mengangguk memuji, “Benar sekali, harum dan indah bentuknya.” Ia bertanya dengan penuh minat, “Tahukah kau bagaimana membedakan kualitas Tieguanyin?”
Po Yun berpikir sejenak, “Tieguanyin bisa dinilai dari bentuk, suara, warna, aroma, dan rasa, namun tidak selalu yang paling harum adalah yang terbaik.” Ia menatap kakek itu, “Pengetahuan saya hanya sebatas itu.”
Po Yun memang tidak suka minum arak, ia lebih gemar minum teh. Ia selalu menganggap dirinya harus selalu jernih.
Orang tua itu tertawa, “Tak perlu merendah. Pengetahuanmu soal teh sungguh mendalam.” Ia menyesap Tieguanyin, lalu bertanya, “Belum sempat kutanyakan, siapa namamu, Nak?”
Po Yun tersenyum rendah hati, “Nama saya Po Yun. Bolehkah saya tahu siapa nama kakek?”
Entah mengapa, Po Yun merasa sangat dekat dengan kakek ini, sehingga ia tanpa sadar menyebutkan nama aslinya.
Orang tua itu menyipitkan mata sambil tersenyum, “Namaku Dong. Tahukah kau, dari mana asal mula pohon teh ini...”
Po Yun tak menyangka kakek ini tidak hanya mahir musik, tetapi juga sangat paham soal teh. Padahal, selain berlatih bela diri, minum teh adalah hobi terbesar Po Yun. Maka mereka pun larut dalam obrolan panjang selama hampir satu jam.
Po Yun memberi hormat, “Pengetahuan kakek tentang teh sungguh membuat saya kagum.”
Orang tua itu tertawa lepas, “Haha, menyenangkan! Sudah lama aku tidak berbincang sepuas ini. Anak muda, kau benar-benar cocok dengan seleraku.”
Po Yun hanya tersenyum.
Orang tua itu menatap Po Yun dengan penuh arti, mengangguk, “Nak, sangat baik. Ini ada sebungkus Longjing dari Danau Barat, simpanlah. Aku pamit!” Ia mengeluarkan sebungkus teh, meletakkannya di lantai, lalu tubuhnya melesat menghilang dari pandangan.
Po Yun terkejut bukan main, betapa cepatnya gerakan kakek itu!
Ia benar-benar tidak menyangka kakek itu adalah seorang pendekar besar yang menyembunyikan kemampuannya, sedikit pun tak tampak seperti ahli bela diri.
“Ilmu bela dirinya benar-benar langka, dibandingkan dengan ayah Lian Jing, Chen Hao, pun pasti kalah jauh,” Po Yun tersenyum pahit dalam hati, “Andai kakek itu ingin menghabisiku, mungkin semudah membunuh seekor semut. Aku malah sempat berbincang panjang lebar dengannya.”
Po Yun mengambil bungkusan teh, harum lembut langsung menyeruak ke hidung.
“Teh yang luar biasa!” Po Yun spontan memuji. Ia menyimpan bungkusan teh itu dengan hati-hati, dalam hati makin penasaran dengan sosok kakek itu.
Po Yun berjalan keluar dari gubuk, menatap hutan gundul yang tersapu angin dingin. Ia menoleh pada tungku yang masih hangat, hatinya serasa bermimpi.
Ia menggeleng, tersenyum pahit, dan melangkah pergi...
Beberapa saat setelah Po Yun pergi, sebuah bayangan kecil melompat ke luar gubuk, menatap asap yang perlahan menipis sambil bergumam, “Sepertinya baru saja pergi.” Mata kecilnya berkilat, lalu tubuhnya melesat hilang ke dalam hutan...
Tiba-tiba Po Yun merasa merinding, nalurinya segera membuatnya waspada.
Kewaspadaan Po Yun terhadap bahaya memang di atas rata-rata. Sejak masa kecil yang penuh rintangan, ditambah didikan Chen Yin dan latihan sebagai pembunuh Bayangan Malam, Po Yun telah tumbuh menjadi pemburu yang sarafnya selalu tegang, siap menghadapi bahaya kapan saja.
Ia memandangi hutan yang kosong, lalu melanjutkan perjalanan dengan ekstra hati-hati.
Tiba-tiba, di tengah jalan, ia melihat seorang gadis kecil berdiri kebingungan. Mata gadis itu besar, menatap sekeliling dengan penuh takut dan heran.
Po Yun merasa tegang, ia perlahan mendekati gadis kecil itu.
Gadis itu, sekitar sepuluh tahun, berambut dua kuncir besar, matanya yang bulat penuh rasa takut dan kebingungan.
Po Yun menengok ke sekeliling, memastikan tak ada orang. Ia bertanya dengan suara dalam, “Adik kecil, siapa namamu? Kenapa sendirian di pegunungan sunyi seperti ini?”
Gadis kecil itu tampak sangat takut, menatap Po Yun dan menjawab dengan suara gemetar, “Namaku Xie Bing. Tadi ada seorang pria berjanggut lebat yang mengajakku bermain. Aku berjalan mengikutinya, lalu tiba-tiba sadar sudah sendirian di sini.” Ia pun mulai menangis, lalu memegang lengan baju Po Yun sambil terisak, “Kakak… aku ingin ayah dan ibuku! Aku sangat takut!”
Po Yun memeluk gadis itu, menenangkan, “Adik kecil, jangan takut. Ada kakak di sini, semuanya akan baik-baik saja.”
Air mata menetes di mata Xie Bing, ia balik memeluk Po Yun dan menangis sejadi-jadinya.
Po Yun menepuk-nepuk punggung si gadis kecil, menenangkan hingga tangisnya mereda.
Dengan suara lembut, Po Yun bertanya, “Adik, kau tahu di mana rumahmu?”
Xie Bing masih terisak, “Aku… aku tinggal di Desa Huitou… tapi aku tidak tahu di mana desa itu dari sini…”
Po Yun mengerutkan kening, lalu berkata lembut, “Kalau begitu, kakak akan antarkan kau keluar gunung, lalu pulang, ya?”
Xie Bing mengangguk pelan, matanya masih basah oleh air mata, membuat siapa pun yang melihat pasti iba.
Po Yun pun menggendong Xie Bing dan melangkah perlahan.
Xie Bing memeluk pundak Po Yun yang bidang, dan tiba-tiba, di balik matanya yang polos, tampak kilatan penuh kebencian dan kejam. Tanpa sepengetahuan Po Yun, sebuah jarum baja tipis telah muncul di tangannya!
Setelah memastikan, ia pun menusukkan jarum itu tepat ke leher Po Yun!