Bab 126: Identitas Sang Tokoh Besar Dipertanyakan
Wu Yingfan menatap Lu Zhan yang sedang bicara panjang lebar dengan ekspresi seperti melihat orang bodoh.
Ia mengusap dahinya dan berkata, "Bintang besar Lu, Kakak Man itu adalah Wildrose!"
"Hm?" Lu Zhan mengangkat alisnya, sudut bibirnya terangkat. "Lelucon yang bagus, menarik juga. Kalau begitu, semoga kerja samaku dengan Wildrose sukses?"
Ia mengulurkan tangan, hendak menjabat tangan Jiang Man.
Jiang Man tertawa kecil, ia sangat irit bicara dan tidak berniat memberikan penjelasan. Ia sekadar mengulurkan tangan untuk menyambut jabatan tangan pria itu.
Wu Yingfan menggelengkan kepala, tidak tahan hingga ia meninggikan suaranya, "Sial, bodoh sekali! Siapa yang sedang melucu? Kakak Man benar-benar Wildrose. Kakak Man, bagaimana kalau kita tidak jadi menjual lagunya padanya saja? Bicara dengannya sungguh melelahkan."
"Di mana etika kontrakmu?" Jiang Man meliriknya sekilas, lalu berjalan menuju sofa dan duduk sambil menyilangkan kaki. "Lu Zhan, aku tertarik dengan ide duet lagu cinta yang kau tawarkan. Untuk penyanyi wanitanya, aku tidak begitu mengenal penyanyi dalam negeri, tapi untuk penyanyi luar negeri, aku hafal di luar kepala. Bagaimana menurutmu tentang JOJO?"
Lu Zhan mematung. Saat mendengar nama JOJO, reaksi pertamanya adalah linglung.
JOJO adalah pemenang sapu bersih penghargaan Grammy, Billboard, Brit Awards, dan MTV Europe Music Awards. Ia debut pada usia 13 tahun dan telah berjaya di dunia musik selama 10 tahun. Meski kini baru berusia 23 tahun, namanya sudah dikenal luas di seluruh dunia.
Statusnya setara dengan Taylor Swift atau Avril Lavigne; ia bisa dibilang sebagai diva papan atas pemenang penghargaan musik global. JOJO memang sering menyanyikan lagu-lagu manis yang populer, dan gayanya memang cocok dengan lagu "Kentang untukmu" itu.
Namun... level setinggi itu, bagaimana mungkin bisa diundang?
Lu Zhan semakin merasa bahwa bibi kecilnya dan teman-temannya ini tidak bisa diandalkan; mereka berani membual tentang apa saja. Ya, bibi kecilnya itu baru berusia 20 tahun, wajarlah jika anak muda haus akan gengsi.
"JOJO tidak mungkin menyanyikan lagu Mandarin. Bagaimana kalau He Xiuyan, Bibi Kecil?" tanya Lu Zhan dengan halus, tanpa menolak secara langsung.
Mendengar nama He Xiuyan, Jiang Man mendongak, mengangkat alisnya. Ujung matanya tampak tajam seperti bilah pisau, tatapannya dingin dan mengintimidasi.
Lu Zhan merasa gentar, ia bingung karena merasa tidak mengatakan sesuatu yang menyinggung wanita itu.
"He Xiuyan tidak bisa, harus JOJO," ucap Jiang Man dengan nada rendah, suaranya terdengar tidak bisa dibantah.
Lu Zhan menarik sudut bibirnya dengan canggung, lalu tersenyum getir. "Bibi Kecil, aku juga ingin mengundang JOJO, tapi kau tahu sendiri, meski aku sangat populer di dalam negeri, levelku sama sekali tidak sebanding dengannya."
Di dunia hiburan, senioritas sangat diutamakan, terutama adanya tembok besar yang memisahkan antara artis dalam negeri dan luar negeri.
"Aku tidak menyuruhmu yang mengundang." Jiang Man menyingkirkan tatapan dinginnya, ia menyilangkan tangan di dada dan berpikir sejenak. "Bagaimana jika JOJO menyanyi dalam bahasa Inggris dan kau menyanyi dalam bahasa Mandarin? Perpaduan budaya yang berbeda, mungkin bisa menciptakan percikan yang baru."
"..." Lu Zhan terdiam, membiarkan wanita itu terus bermimpi di siang bolong.
"Nanti aku akan mengubah liriknya, sudah diputuskan." Jiang Man memantapkan pikirannya.
Lu Zhan menarik sudut bibirnya, ia tidak ingin meladeni sandiwara ini lebih lama. "Bibi Kecil, aku serius, tolong jangan mengada-ada."
Wu Yingfan memijat pelipisnya, ia merasa sangat kesal hingga tidak ingin bicara.
Namun, Jiang Man tetap tenang, suasana hatinya sama sekali tidak terpengaruh. "Tidak apa-apa, kau cukup bertanggung jawab untuk bagian suara pria, urusan lainnya biar Fanzi yang selesaikan."
"Kontraknya akan disusun ulang nanti, tunggu saja kabarnya." Setelah berkata demikian, Jiang Man tiba-tiba berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Gayanya benar-benar seperti seorang bos besar, keren dan angkuh.
Wu Yingfan bergegas mengikuti langkah Jiang Man yang pergi. Ia berseru, "Kakak Man, kenapa harus bekerja sama dengan orang bodoh itu? Jangan karena dia keponakan Paman, lalu kau memberinya kemudahan."
"Bukan memberi kemudahan," jawab Jiang Man datar. "Anak itu punya mata yang jeli. Dia berani membayar 10 juta untuk hak cipta lagu tanpa tahu identitas asliku, itu membuktikan dia punya kemampuan. Lagipula, usulannya untuk duet pria-wanita menurutku tidak buruk."
"Baiklah, baiklah." Wu Yingfan merasa pasrah. "Tapi anak itu tidak percaya kalau kau adalah Wildrose, itu sungguh membuatku terdiam."
"Tidak masalah," ekspresi wajah Jiang Man tetap datar tanpa emosi. "Nanti lagunya tidak perlu mencantumkan nama Wildrose, tulis saja nama Jiang Man."
"Hah? Apa maksudnya, aku tidak mengerti?" Wu Yingfan mengerjapkan mata.
Jiang Man mengangkat tangannya dan menepuk kepala pria itu. "Tentu saja untuk menampar wajah Rolling Stone, menampar wajah Liu Pei dan He Xiuyan. Bukankah lagunya dikembalikan oleh mereka? Kalau begitu, biarkan Lu Zhan yang mempopulerkannya. Hal-hal lain yang tidak perlu tidak usah disangkutpautkan."
"Baiklah kalau begitu." Wu Yingfan mengangguk setuju.
Anggap saja anak Lu Zhan itu sedang beruntung, dia sudah memeluk kaki sang bos besar tanpa menyadarinya. Dengan bantuan JOJO, popularitas Lu Zhan pasti akan melonjak drastis. Saat itu tiba, dia bukan lagi sekadar aktor muda populer dalam negeri, melainkan bintang papan atas dunia!
...
Huayin dan Rolling Stone hanya terpisah satu blok.
Saat Jiang Man dan Wu Yingfan pergi dengan mobil, tiba-tiba sebuah Maserati berwarna merah muda mencolok memotong jalan di persimpangan. Untungnya Jiang Man bereaksi cepat dan segera membanting setir ke kiri.
Maserati itu mengerem mendadak, hanya berjarak beberapa sentimeter dari mobil Mercedes-Benz G-Wagon milik Jiang Man.
"Apa-apaan ini?" Wanita cantik yang tampak mencolok di dalam mobil itu memukul setir sambil mengunyah permen karet dengan kesal.
Melihat Jiang Man tidak berniat memberinya jalan, wanita itu menekan klakson dengan keras.
*Tin, tin, tin!* Suaranya membuat Wu Yingfan yang berada di belakang dengan mobil Lamborghini-nya langsung turun dari mobil. Ia melangkah cepat menuju jendela Maserati tersebut.
Pemilik Maserati itu tidak lain adalah He Xiuyan!
Dia adalah tipe orang yang menilai orang dari penampilan. Dia mengira mobil G-Wagon itu hanya seharga satu atau dua juta, jadi dia berani membunyikan klakson. Namun, melihat Lamborghini di belakang yang berharga puluhan juta, dia ragu sejenak dan memutuskan untuk tidak mencari masalah.
Perlahan dia menurunkan jendela mobil dan tersenyum pada Wu Yingfan. "Tampan, bisakah kau menepi sebentar? Aku mau belok kiri."
"Menepi? Kau hampir menabrak Kakak Man-ku, turun dan minta maaf padanya," ujar Wu Yingfan dengan tegas.
He Xiuyan tertawa mendengar itu. Ia menarik kacamata hitam besar yang bertengger di hidungnya yang mancung, lalu menunduk menatap Wu Yingfan. "Apa kau tahu siapa aku? Memintaku minta maaf padanya, apa mungkin?"
"Peduli setan siapa kau!" Wu Yingfan yang sudah tidak sabar menendang badan mobil itu. "Cepat turun, atau aku panggil polisi."
"Apa kau sakit jiwa? Polisi apa?"
"Menerobos lampu merah dan hampir menabrak orang, apa itu alasan yang cukup?" Wu Yingfan sama sekali tidak berniat bersikap lembut pada wanita itu.
He Xiuyan mengerutkan kening, ia segera menaikkan jendela mobil dan menelepon manajernya, Liu Pei, agar segera turun dan menangani masalah besar ini.
Awalnya Jiang Man berniat melepaskan mereka karena toh tidak terjadi tabrakan. Namun, saat ia melirik ke kaca spion dan melihat siapa pemilik Maserati itu, ia segera mengubah pikirannya.
Dunia ini sempit sekali, ternyata itu He Xiuyan!
Jiang Man melompat turun dari G-Wagon miliknya, memasukkan kedua tangan ke saku celana, melangkah dengan cepat, lalu menendang kap depan Maserati itu.
"Kebetulan sekali, Xiuyan-simida?"