Bab 131. Kalian berdua saling menyayangi, jadi aku tenang.
Halaman (1/3)
Udara di dalam ruangan terasa pengap. Bau darah, keringat manusia, bahkan berbagai aroma lain yang tak jelas bercampur menjadi satu.
Jiang Man mengernyitkan kening, melirik Zhao Huai sekilas, lalu berkata acuh tak acuh, “Jangan sampai orangnya mati.”
Setelah itu, ia menunjuk He Xiuyan yang telah pingsan tak sadarkan diri. “Kalau dia, untuk sementara biarkan saja. Anggap sebagai penghormatan kepada Song Xiao.”
Zhao Huai sempat tertegun. Melihat Lu Xingzhou tidak keberatan, ia segera menjawab, “Baik!”
Jiang Man menyampirkan handuk di bahunya. Sebelum pergi, ia menatap Lu Xingzhou. “Aku akan berganti pakaian. Paman memanggil kita berdua untuk mampir ke tempatnya kalau ada waktu. Malam ini kau senggang?”
“Aku senggang. Aku akan menunggumu di luar.” Lu Xingzhou juga tidak menyukai bau di tempat ini.
Setelah Jiang Man pergi, ia mengeluarkan saputangan, menutup hidung, lalu melirik sangkar segi delapan yang berlumuran darah itu.
Liu Pei telah digigit anjing serigala hingga tubuhnya koyak dan bersimbah darah. Lu Xingzhou melambaikan tangan. “Lepaskan dia. Bawa ke rumah sakit.”
“Baik!” Zhao Huai segera memerintahkan para pengawal untuk mengeluarkan anjing serigala itu dan mengangkat Liu Pei yang sekarat.
Ketika Jiang Man keluar setelah berganti pakaian, ia mendapati beberapa mobil mewah terparkir di tepi jalan.
Ia berjalan ke arah Maybach yang berada paling depan. Seorang pengawal segera membukakan pintu dengan hormat.
Dari kursi penumpang depan, Wu Yingfan melambaikan tangan dengan gembira. “Aku ikut makan!”
Jiang Man memutar bola mata, tetapi tidak berkata apa-apa.
Dengan hubungan antara dirinya dan Wu Yingfan, paman Jiang Man juga merupakan paman Wu Yingfan.
Yang justru membuatnya heran adalah hubungan Lu Xingzhou dan Wu Yingfan yang semakin harmonis.
Dulu, Lu Xingzhou menganggap Wu Yingfan sebagai saingan imajiner. Sekarang, ia malah larut dalam panggilan “kakak ipar” yang terus-menerus dilontarkan pemuda itu.
Apakah karena terlalu lama berpura-pura menjadi suami istri, sampai-sampai terlalu mendalami peran?
Begitu masuk ke dalam mobil, Jiang Man mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Hu Guanghua, memberi tahu bahwa mereka akan segera datang.
Sekitar satu jam kemudian, mereka bertiga tiba di tujuan.
Seorang pelayan menyambut mereka dengan ramah dan membukakan pintu. Hu Guanghua sedang menyiram bunga di taman terbuka. Begitu mendengar suara kedatangan mereka, ia segera meletakkan penyiram di tangannya.
Mengenakan pakaian rumahan dan kacamata baca, penampilannya sangat berbeda dari biasanya yang selalu mengenakan setelan jas rapi.
Dengan pakaian seperti itu, ia tampak seperti seorang tetua yang ramah dan penuh kasih.
“Paman Besar!” Wu Yingfan berseru dengan manis, bahkan lebih antusias daripada Jiang Man.
Jiang Man dan Lu Xingzhou berseru hampir bersamaan, “Paman Besar!”
“Ya!” jawab Hu Guanghua sambil tersenyum lebar.
Ketiga anak itu datang menjenguknya. Ia sangat bahagia.
Sembari menunggu pelayan menyiapkan makanan, ia membawa ketiga anak muda itu ke taman di atas gedung. Mereka duduk di depan meja teh, lalu Hu Guanghua mulai menyeduhkan teh untuk mereka.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Manman, Xingzhou, dua hari lagi aku harus kembali ke Kota Pelabuhan. Di sana masih ada banyak urusan besar dan kecil yang menunggu keputusan dariku.”
Nada suara Hu Guanghua terdengar enggan. Ia sebenarnya ingin tinggal lebih lama, tetapi ada puluhan ribu karyawan di bawahnya yang menunggu gaji. Bahkan untuk beristirahat pun ia tidak bisa.
“Paman, kalau ada urusan, pulanglah dan selesaikan. Tidak lama lagi aku juga akan pergi ke Kota Pelabuhan untuk menemui Kakek,” kata Jiang Man. Ia berencana pergi setelah pelatihan militer selesai.
“Jadi saat Hari Nasional?” Hu Guanghua bertanya.
“Ya.”
“Baik.” Hu Guanghua tampak senang. Setelah teh selesai diseduh, ia menuangkannya ke dalam tiga cangkir, lalu menyerahkannya satu per satu kepada mereka.
Tatapannya jatuh pada Lu Xingzhou, penuh harap. “Xingzhou, kau ikut juga?”
Ia tahu Lu Xingzhou sangat sibuk dan belum tentu bisa meluangkan waktu.
Lu Xingzhou tidak langsung menjawab. Ia hanya berkata datar, “Akan kuusahakan.”
Jiang Man sendiri tidak terlalu berharap.
Selama perjanjian itu masih ada di antara mereka, ia selalu sadar betul akan hubungan mereka dan tidak pernah terlalu larut dalam peran.
Ia mengangkat cangkir porselen biru-putih, menyesap teh, lalu mengangkat alis karena terkejut. “Teh Da Hong Pao dari pohon induk Gunung Wuyi?”
Ucapan itu terlontar begitu saja. Wu Yingfan tercengang. Ia menelan teh dengan rakus seperti babi hutan yang sedang makan. Seandainya teh itu tidak panas, mungkin ia sudah menenggaknya langsung sampai habis.
“Oh?” Hu Guanghua mengangkat alis dengan gembira. “Kau bisa mengenalinya?”
Jiang Man tidak menjelaskan. Ia malah mengernyitkan kening. “Tiga pohon teh kuno di Jurang Jiulong, masing-masing berusia lebih dari tiga ratus lima puluh tahun. Teh persembahan sejak zaman kekaisaran. Daun teh ini sudah dilarang dipetik sejak tahun 2006 dan hanya boleh diperjualbelikan melalui lelang dengan harga sangat tinggi.”
“Benar. Aku membelinya dalam sebuah lelang. Harganya lebih dari sepuluh juta per setengah kilogram, tetapi saat pelelangan, yang tersedia hanya dua puluh gram.”
Hu Guanghua mengatakannya dengan nada ringan.
Mendengar itu, mata Wu Yingfan membelalak begitu lebar hingga hampir mencuat dari rongganya. “Paman Besar, jangan-jangan dua puluh gram teh mahal itu baru saja kita habiskan? Harganya lebih dari sepuluh juta per setengah kilogram, berarti dua puluh gram bernilai sekitar empat ratus ribu? Kita baru saja meminum teh seharga empat ratus ribu?”
Keluarganya memang kaya, tetapi ia tidak mampu menghargai benda-benda semewah itu.
Sebelumnya, ia hanya merasa teh tersebut memang lebih harum daripada teh biasa. Ia sama sekali tidak menyangka harganya bisa semahal itu.
Hu Guanghua tersenyum, lalu menatap Lu Xingzhou. “Untuk menjamu keponakan iparku, tentu aku harus menyajikan teh terbaik. Xingzhou, biasanya kau minum teh?”
“Minum, tetapi tidak pernah benar-benar mempelajarinya.” Lu Xingzhou tampak sedikit canggung.
Dalam kesehariannya di kantor, ia lebih sering minum kopi.
Ia benar-benar heran. Bagaimana mungkin Jiang Man mengetahui segala hal? Sebenarnya otaknya terbuat dari apa? Jangan-jangan isinya ensiklopedia?
“Kelak kau bisa lebih banyak mempelajari seni minum teh. Itu baik untuk menenangkan hati dan membentuk diri,” ujar Hu Guanghua.
Lu Xingzhou mengangguk pelan. “Aku akan banyak belajar dari Manman.”
Jiang Man hanya menjawab, “Hmm,” sambil heran karena tiba-tiba dirinya diseret ke dalam pembicaraan.
Mendengar itu, Hu Guanghua menepuk pahanya dengan gembira. “Bagus! Melihat kalian berdua begitu mesra, aku jadi tenang!”
Mesra?
Dari mana Paman Besar bisa menyimpulkan bahwa mereka berdua mesra?
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
…
Malam pun tiba.
Di bar Cahaya Rembulan, Wen Rui berdiri dengan tenang di atas panggung yang remang-remang. Di hadapannya berdiri sebuah mikrofon.
Sudah dua hari ia tampil sebagai penyanyi tetap di tempat ini, tetapi ia masih merasa gugup.
Terlebih lagi, pencahayaan bar itu redup dan sebagian besar pengunjungnya adalah pria.
Setiap kali ada pria yang melemparkan tatapan menilai ke arahnya, tubuhnya akan secara refleks menegang.
Telapak tangannya dipenuhi keringat, tetapi ia tetap harus mempertahankan senyum. Suara nyanyiannya pun tidak boleh terpengaruh.
“Dengar-dengar, hari ini ada masalah besar di Perusahaan Rekaman Batu Bergulir!”
“Masalah besar apa?”
Beberapa orang dari kalangan industri duduk bersama, menikmati waktu santai seusai bekerja sambil membicarakan gosip.
“Liu Pei telah dihajar seseorang! Katanya parah sekali. He Xiuyan, penyanyi yang ia besarkan dengan susah payah, sepertinya akan tamat.”
“Serius? Bagaimana ceritanya?”
“Katanya dia menyinggung seorang tokoh besar. Ia menolak lagu yang ditulis tokoh itu, bahkan mencoba mencari gara-gara dan menyusahkan orang tersebut. Akhirnya, ia justru dibereskan oleh tokoh yang jauh lebih berkuasa!”
“Wah, kedengarannya seru. Siapa tokoh besar itu sampai sehebat itu?”
“Jangan-jangan Lin Xi? Di dunia penciptaan lagu, dia adalah nomor satu!”
“Bukan dia. Kudengar orangnya seorang perempuan bernama Jiang entah siapa. Masih sangat muda.”
Di meja sebelah, Mao Lili dan Zhang Ziqi sedang menikmati koktail.
Mereka datang untuk mendukung Wen Rui.
Mao Lili memasang telinga, menyimak gosip itu. Ia mendekatkan wajahnya ke Zhang Ziqi dan berbisik, “Jiang entah siapa? Jangan-jangan Kak Jiang?”
Begitu mendengar nama Jiang Man, saraf Zhang Ziqi langsung menegang.
Dengan gugup, ia mengangkat cangkir besar dan menenggak segelas penuh minuman.
Mao Lili segera menggeleng. “Pasti bukan. Sepertinya Kak Jiang tidak bisa menulis lagu. Alat musik saja dia tidak punya.”
Teringat gaya Jiang Man saat mengacungkan pistol dengan gagah, Mao Lili pun secara otomatis memasukkannya ke dalam golongan anak olahraga.
Halaman (3/3)