Bab 149: Jiang Man adalah kakak ipar ketiga Lu Xingzhou?
Setelah meninggalkan sekolah, Jiang Man mengemudikan mobilnya menuju perusahaan Huayin.
JOJO terus-menerus mengiriminya pesan, dan ia pun merasa cukup penasaran bagaimana sahabatnya yang mirip rubah itu berhasil mendapatkan Lu Zhan.
Di saat yang sama.
Jiang Ruo mengendarai BMW merah miliknya dan menjadi yang pertama tiba di Huayin.
Wen Rui akan segera menjadi seorang bintang wanita, tentu saja ia harus datang untuk mencari muka dan menjilatnya.
Memarkirkan mobilnya tepat di pintu utama gedung perusahaan tersebut, ia menyerahkan kunci kepada satpam yang berjaga: "Pergi, tolong parkirkan mobilku, ingat dikunci ya."
Satpam tersebut tampak kebingungan, mengamatinya dari atas ke bawah, dan tidak ingat artis mana dia.
Namun melihat sikapnya yang begitu angkuh dan memerintah, sang satpam merasa sedikit gentar.
Bagaimana jika wanita ini adalah pendatang baru yang dikontrak oleh perusahaan, dan ia bersikap tidak tahu diri serta menyinggung calon bintang besar, itu tentu bukan hal yang baik.
Memikirkan hal ini, satpam itu mengangguk membungkuk dan dengan hormat menerima kunci mobil tersebut.
Jiang Ruo melirik sekilas, merasa semakin bangga.
Setibanya di area gerbang masuk, ia teringat akan kemegahan Jiang Man di Grup Lu kemarin.
Sungguh sangat berwibawa!
Ia tidak terburu-buru menjelaskan alasannya kepada satpam, melainkan menelepon Wen Rui.
"Halo?" Suara Mao Lili terdengar dari ujung sana.
Saat ini ia bertindak sebagai asisten sementara Wen Rui.
"Aku sepupu Rui-rui, cepat kirim orang ke bawah untuk menjemputku, aku di lobi lantai satu!"
"Sepupu Rui-rui?" Mao Lili mengernyitkan dahi.
Bukankah sepupu Rui-rui adalah Kak Man?
"Oh~ aku ingat, kalian adalah pasangan ayah dan anak yang membuat keributan di sekolah hari itu, wanita yang mengendarai BMW itu!" Mao Lili teringat sesuatu dan berseru kaget.
Jiang Ruo merasa sangat kesal: "Bukan aku yang membuat keributan, Ayah yang membuat keributan, kau harus memperjelasnya, jangan banyak bicara, cepat turun dan jemput aku!"
"Baiklah." Mao Lili mengerucutkan bibirnya, ia tidak menyukai sepupu ini, bahkan merasa wanita itu sangat menjengkelkan.
Beberapa menit kemudian, Mao Lili dan Zhang Ziqi turun bersama untuk menjemput Jiang Ruo.
Jiang Ruo memasang sikap seolah-olah dirinyalah sang bintang wanita, lalu memerintah kedua orang itu ke sana ke mari.
"Kakak, bolehkah aku bertanya dengan lancang, apakah Kakak adalah adik kandung Kak Man?"
"Betul." Jiang Ruo mendelik ke arah Mao Lili: "Kami memiliki ayah yang sama, menurutmu apakah kami saudari kandung?"
"Oh oh, begitu rupanya." Begitu mendengar mereka adalah saudari kandung, Mao Lili dan Zhang Ziqi seketika menjadi antusias.
Mereka mengantar wanita itu ke ruang istirahat dan menyajikan teh hangat, "Kakak, Rui-rui sekarang sedang merekam lagu di studio rekaman bersama Kak Zhan."
"Tidak apa-apa, kalian pergi saja urus pekerjaan kalian, aku duduk sendiri saja, aku hanya ingin datang dan melihat seperti apa bentuk perusahaan musik itu."
"Kalau begitu baiklah, jika Kakak membutuhkan sesuatu, telepon saja Rui-rui kapan pun, ponselnya ada padaku."
Jiang Ruo memberikan gestur OK dengan eksporsi sangat tidak sabar.
Nanti ia ingin berjalan-jalan berkeliling melihat situasi, keberadaan dua ekor pengikut ini cukup merepotkan, lebih cepat disingkirkan semakin baik.
……
Setengah jam kemudian, Jiang Man tiba agak terlambat.
JOJO duduk di kursi istirahat di luar studio rekaman sambil meminum kopi, memegang ponselnya berniat mengirim pesan suara kepada Jiang Man.
Begitu ia mengangkat ponsel dan mendongak, ia melihat Jiang Man sedang berjalan menghampirinya.
"Hm? Kenapa duduk di sini?" Jiang Man mengangkat alisnya.
JOJO mengangkat bahunya: "Zhan masih di dalam, aku menunggu di sini."
Jiang Man merasa cukup terkejut.
JOJO adalah sosok yang aktif dan periang, jarang sekali ia bisa duduk dengan tenang seperti ini.
Sepertinya kali ini ia benar-benar serius.
Di dalam studio rekaman.
Kerjasama antara Wen Rui dan Lu Zhan terjalin dengan sangat selaras, suasana perekaman lagu pun terasa sangat menyenangkan.
Di antara keduanya seolah dikelilingi oleh gelembung-gelembung merah muda, membuat pengarah suara pun ikut terinfeksi, seolah-olah baru saja menelan makanan anjing.
"Bagus! Terima kasih atas kerja kerasnya, Guru Lu, Guru Wen."
DJ memberikan gestur kepada keduanya, dan penata suara mendengarkan sekilas efeknya.
Setelah itu, rekaman tersebut harus diserahkan kepada teknisi penyunting vokal untuk diperhalus.
"Apakah ini pertama kalinya kamu merekam lagu?" Lu Zhan duduk di atas kursi tinggi, sepasang kaki jenjangnya diletakkan dengan santai.
Kakinya yang terlalu panjang bisa menyentuh lantai secara langsung.
Wen Rui tidak bisa menggapai lantai, kedua kakinya menggantung, lalu ia mengangguk: "Iya, ini pertama kalinya merekam, kuharap Guru Lu tidak keberatan..."
Sambil berkata demikian, ia menunduk, tampak sangat tidak percaya diri.
Lu Zhan tersenyum kepadanya: "Merekam lagu untuk pertama kalinya dan sudah mencapai standar seperti ini, itu sudah sangat hebat! Tenang saja, sisanya serahkan pada teknisi penyunting."
Teringat sesuatu, ia bangkit dari kursi tinggi, berjalan menuju meja pajangan di samping, dan mengangkat sebuah kantong kertas.
"Untukmu."
"Ah?" Wen Rui merasa tersanjung.
Sebuah kantong ponsel bermerek HUAWEI, ia sudah melihatnya sejak pertama kali masuk, dan mengira Lu Zhan hendak mengganti ponselnya sendiri, tak disangka, itu diberikan untuknya?
"Ponselmu itu kelihatannya sudah terlalu tua, gantilah dengan yang baru. Nanti kalau kamu benar-benar menjadi terkenal, kamu juga harus memiliki ponsel yang bagus sebagai representasi wajah bukan?"
Wen Rui mengatupkan bibirnya, sepasang mata indahnya mendongak, dipenuhi dengan rasa bingung.
Ia tidak mengerti mengapa Lu Zhan memberinya barang semahal itu.
Apakah... kasihan padanya?
Seolah bisa membaca isi hatinya, Lu Zhan buru-buru berkata: "Ini dibiayai oleh perusahaan, ini adalah fasilitas yang diberikan oleh perusahaan untukmu, tenang saja, aku juga punya ponsel yang sama."
"Begitu rupanya." Mendengar itu, Wen Rui baru menerimanya dengan senang hati.
Saat ia mengeluarkan ponsel tersebut dan melihat itu adalah model terbaru, matanya langsung berbinar-binar.
Melihat teman sekelas lainnya menggunakan ponsel yang bagus, di dalam hatinya ia merasa sangat iri.
Perasaan sangat menginginkan sesuatu, lalu tiba-tiba mendapatkannya, kegembiraan semacam itu tidak dapat dideskripsikan dengan kata-kata.
"Guru Lu, terima kasih banyak!" ucap Wen Rui gembira, wajah kecilnya yang biasanya selalu tampak murung, akhirnya memamerkan senyuman.
"Senyumanmu sangat indah, perbanyaklah tersenyum di masa depan," kata Lu Zhan.
Wen Rui mengangkat kelopak matanya, tertegun sejenak, mata besarnya yang menyerupai batu akik hitam tampak legam.
Mulanya ia terpaku, namun sesaat kemudian matanya melengkung membentuk bulan sabit: "Baik! Aku akan mendengarkan perkataan Guru Lu!"
"Aku ingin mendengarkan hasil rekamannya." Lu Zhan memberi isyarat.
"Kalau begitu, aku keluar dulu." Wen Rui merasa sangat gembira, sedikit membungkuk, lalu berjalan pergi menenteng ponselnya bagaikan seekor kelinci kecil yang ceria.
Melihat sosoknya yang berjalan menjauh, sang asisten tidak dapat menahan diri untuk berkata: "Kak Zhan, ponsel itu jelas-jelas kamu beli dengan uangmu sendiri, kenapa malah dibilang dibelikan oleh perusahaan?"
"Dia cukup sensitif, aku tidak ingin membuatnya merasa terlalu rendah diri," jawab Lu Zhan sambil tersenyum tipis.
Sang asisten menggaruk kepalanya, merasa sedikit curiga.
Apakah Kak Zhan ini sedang... merasa kasihan padanya?
Saat Wen Rui keluar menenteng ponselnya, JOJO langsung bangkit berdiri.
Begitu melihat bahwa itu bukanlah Lu Zhan, ekspresi kecewa langsung terbesit di wajahnya.
"Sepupu! Kak JOJO." Wen Rui menyapa dengan sangat patuh.
Jiang Man melangkah maju: "Bagaimana hasil rekaman nya?"
"Sangat lancar." Wen Rui mengangguk, tak lupa menggoyangkan ponsel di tangannya: "Perusahaan juga memberiku sebuah ponsel baru."
"Baguslah kalau begitu." Melihat itu, Jiang Man mengangkat alisnya.
Hanya gadis bodoh seperti Wen Rui yang akan mempercayai bahwa ponsel itu dibelikan oleh perusahaan.
Jika ingin memberikan hadiah, kenapa hanya memberikannya kepada satu orang saja? Apakah JOJO tidak dapat?
Tatapan mata Jiang Man menjadi tajam, ia pun menoleh ke arah JOJO.
Sepertinya keponakannya itu tidak menyukai tipe wanita seperti seorang bintang wanita, melainkan lebih menyukai gadis malang yang manis.
"Nanti aku yang traktir, mari kita pergi makan bersama." Usai berkata demikian, Jiang Man mengirim pesan kepada Wu Yingfan, memintanya untuk ikut bergabung meramaikan suasana.
Begitu mendengar ada makanan gratis, Wu Yingfan sangat antusias dan bersemangat, bahkan bersikeras ingin mencari restorannya sendiri.
"Ayo, kita pergi ke ruang istirahat untuk menunggu." Ucap Jiang Man, lalu mengirim pesan kepada Lu Zhan.
Setelah menerima pesan tersebut, Lu Zhan langsung keluar dari studio rekaman.
Namun rombongan di depan pintu sudah sejak lama pergi ke ruang istirahat, hanya menyisakan JOJO yang berdiri menanti dengan penuh harap.
"Guru JOJO." Lu Zhan bersikap sangat hormat sekaligus sopan kepada JOJO.
JOJO memiliki sifat terbuka khas orang Barat tanpa ada kepura-puraan sedikit pun, ia langsung menarik tangan pria itu: "Man dan yang lainnya sedang menunggu kita, bagaimana kalau kita makan bersama siang ini?"
"Baiklah." Lu Zhan menatap pergelangan tangan putih yang sedang menggenggam tangannya, kulit khas orang Kaukasia asli yang putih hingga bersinar.
Ia merasa sedikit canggung dengan kontak fisik dan keantusiasan semacam itu.
Namun di sisi lain, ia merasa tidak enak hati untuk menolak muka seorang senior.
Jiang Ruo berjalan-jalan berkeliling di dalam perusahaan secara sembunyi-sembunyi, menggunakan ponselnya untuk mengambil banyak foto candid para penyanyi yang lewat.
Rkan kerjanya adalah penggemar berat Lu Zhan, seorang fans garis keras.
Oleh karena itu, ia berencana mengambil beberapa foto lagi ketika berhasil menemukan Lu Zhan nanti, agar bisa dipamerkan di hadapan rekan kerjanya.
Ketika ia tidak sengaja melihat Lu Zhan dan JOJO berjalan beriringan sambil bergandengan tangan, ia terkejut hingga buru-buru merekam video dengan ponselnya.
Ini, ini, bukankah ini bisa dianggap sebagai berita yang sangat menggemparkan?
Berita semacam ini jika dijual kepada media, seharusnya bisa menghasilkan banyak uang, bukan?
Ia mengangkat ponselnya, pura-pura melakukan swafoto, lalu perlahan mendekati kedua orang itu.
Mereka berdua berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, karena kemampuan bahasa Inggrisnya yang buruk, ia hanya bisa menatap kosong seperti orang bodoh.
Setelah mereka berjalan menjauh dan sudah tidak bisa direkam lagi, Jiang Ruo baru membuka aplikasi penerjemah untuk menerjemahkan isi percakapan di dalam video tersebut.
"Kau dan Bibi Kecilku adalah sahabat baik?"
"Kau bilang Man? Betul, hubungan kami sangat baik."
"Aku benar-benar tidak menyangka Bibi Kecilku yang masih muda ternyata adalah seorang pencipta lirik dan lagu yang terkenal di seluruh dunia."
"Hahaha, kami berdua sama-sama meraih kesuksesan di usia muda, saling melengkapi."
Video tersebut hanya merekam beberapa kalimat itu saja, namun sudah cukup membuat Jiang Ruo merasa syok hingga tercengang!
"Bibi Kecil? Lu Zhan benar-benar memanggil Jiang Man sebagai Bibi Kecil?"
Jiang Ruo berbicara sendiri karena begitu terkejut.
Ia buru-buru membuka peramban untuk melakukan pencarian.
Lu Zhan memiliki tiga orang paman, dan saat ini ada dua yang masih lajang.
Yang satu adalah Paman Ketiga Lu Zhendong, dan satu lagi adalah Paman Keempat Lu Xingzhou.
Ya ampun!
Jiang Ruo terkejut hingga menutup mulutnya.
Ia segera berjalan menuju pintu darurat dan menelepon ayah angkatnya, Jiang Yueping.
Jiang Yueping masih membaca berita, mengulanginya berkali-kali setiap hari.
"Halo? Ruo-ruo."
"Ayah, ada berita besar! Aku akhirnya tahu pria paruh baya mana yang dinikahi oleh Kakak!"
"Dinikahi oleh siapa?" Nada bicara Jiang Yueping terdengar tegang, punggungnya langsung tegak dan ia memasang telinga baik-baik.
"Lu Zhendong, itu dia!" seru Jiang Ruo terkejut.
Jiang Yueping tertegun sejenak untuk beberapa saat.
Ia tahu siapa Lu Zhendong, lahir di tahun 80-an, tahun ini baru menginjak usia 42 tahun, pada masa dekade sepuluh sempat aktif di dunia bisnis, dan merupakan pengusaha dengan reputasi tertinggi serta paling terkenal saat itu.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, sepupunya Lu Xingzhou naik tahta, sehingga ia perlahan-lahan mulai mundur dari pandangan publik dan bersembunyi di balik layar.
Ada rumor yang beredar bahwa ia sudah menetap di luar negeri.
"Bagaimana kamu bisa tahu hal ini?" Jiang Yueping butuh waktu sejenak untuk mencerna fakta tersebut.
"Aku sedang berada di Huayin sekarang, barusan aku tidak sengaja berpapasan dengan Lu Zhan. Lu Zhan adalah keponakan Lu Zhendong, dan dia memanggil Kakak dengan sebutan Bibi Kecil!"
"Kalau begitu tidak salah lagi! Gadis sialan itu menyembunyikannya dengan sangat rapat, ternyata dia telah menjadi menantu keluarga Lu!" Jiang Yueping dipenuhi oleh kegembiraan yang tak terbendung. Keluarga Lu adalah keluarga nomor satu di ibu kota, jika gadis sialan itu menikah ke sana, ia akan menikmati kekayaan dan kemakmuran yang tak ada habisnya.
Sebagaimana pepatah bilang, saat seseorang meraih kesuksesan, ayam dan anjing keluarganya pun ikut terangkat.
Hari-hari cerah mereka akan segera tiba!
Bahkan jika Jiang Man telah memutuskan hubungan keluarga dengan mereka, selama mereka membawa surat tes DNA untuk membuat keributan di kediaman keluarga Lu, cepat atau lambat mereka pasti masih bisa memeras sejumlah besar uang.
Tentu saja, memeras adalah pilihan terakhir ketika sudah tidak ada jalan keluar lagi.
Ada begitu banyak sumber daya di keluarga Lu, jika mereka memohon, dan diberikan sedikit saja, itu sudah cukup untuk membuat mereka hidup makmur selama beberapa waktu.
"Ruo-ruo, bukankah kamu bekerja di Grup Lu? Kamu harus banyak merayu kakakmu, memintanya untuk mengatakan hal-hal baik di depan Lu Zhendong agar dia mempromosikanmu dan memberimu kenaikan jabatan serta gaji."
"Baiklah, aku mengerti." Jiang Ruo menutup teleponnya. Di balik keterkejutannya, perasaan yang paling mendominasi adalah rasa iri, bahkan amarah.
Sebenarnya Lu Zhendong tidak bisa dikatakan sebagai pria paruh baya yang tua, usianya baru memasuki kepala empat, dan pria di usia seperti ini memiliki pesona tersendiri.
Ia mencari-cari foto Lu Zhendong di internet, tipikal paman paruh baya yang tampan dan sama sekali tidak terkesan berminyak.
Mengenakan jas dan dasi, berpenampilan sangat rapi tanpa cela, sekilas terlihat seperti kaum elit kelas atas, tipikal CEO yang dominan.
Jiang Man benar-benar bernasib mujur, di usianya yang masih muda sudah menikah dengan seorang konglomerat.
Sebenarnya apa kelebihannya!
Tidak heran saat Jiang Man pergi ke Grup Lu waktu itu, Zhao Hai bersikap begitu hormat.
Dengan kata lain, Jiang Man adalah ipar perempuan ketiga Lu Xingzhou?
Jiang Ruo dibuat gemetar pupil matanya hingga terkejut oleh hubungan kekerabatan ini, bahkan napasnya sempat tertahan sejenak.
Lalu jika suatu hari nanti ia menikah dengan Lu Xingzhou, bukankah ia akan menjadi ipar perempuan satu keluarga dengan Jiang Man?
Menjadi saudari tanpa ikatan darah saja sudah membuatnya merasa sangat kesal, dan di masa depan mereka masih harus menjadi ipar dalam satu keluarga.
Semakin dipikir, Jiang Ruo semakin merasa gelisah dan kesal.
Ia segera meninggalkan gedung Huayin.
Begitu tiba di dalam mobil BMW miliknya, ia mengambil tangkapan layar dari video yang baru saja direkamnya.
Membuka daftar kontaknya, ia mencari informasi kontak seorang wartawan hiburan.
"Halo, aku Jiang Ruo, ini nomor kontak yang diberikan oleh Kak Long."
"Halo, Anda adalah Nyonya Long, ya?"
Mendengar sebutan Nyonya Long tersebut, suasana hati Jiang Ruo menjadi sangat senang: "Aku ingin menjual sebuah berita kepadamu, ini tentang JOJO dan Lu Zhan."
Lu Zhan sangat populer di industri hiburan dalam negeri, tergolong sebagai bintang papan atas.
Wartawan hiburan tersebut sangat gembira mendengar berita ini: "Nyonya Long, sebutkan saja harga Anda."
"Lima juta." Jiang Ruo bahkan tidak berkedip sedikit pun, "Tidak ada negosiasi untuk harga rendah, kalau tidak aku akan menjualnya ke tempat lain."
"Lima juta... apakah itu tidak terlalu banyak?"
"Bagaimana bisa banyak? Yang satu adalah bintang papan atas di industri hiburan dalam negeri, dan yang satu lagi adalah diva musik yang populer di seluruh dunia. Kedua orang ini terlibat skandal, bukankah nilai dari skandal ini bernilai puluhan juta begitu saja dimulai?"
"Dua juta, kami bayar harga ini terlebih dahulu, nanti setelah melihat dampak beritanya, kami akan melunasi sisa tiga juta sisanya, bagaimana menurut Anda?"
"Baiklah kalau begitu." Jiang Ruo menerimanya dengan senang hati, toh itu adalah video yang ia rekam secara asal tanpa biaya produksi apa pun.
Bisa mendapatkan dua juta begitu saja, mencari uang semudah ini sungguh menyenangkan.
"Deal kalau begitu, nanti aku akan langsung mengirimkan fotonya kepadamu."
Di satu sisi, Jiang Ruo dengan mudahnya memperoleh rezeki nomplok.
Di sisi lain, Wu Yingfan mengemudikan mobil Lamborghini miliknya dan meluncur ke lantai bawah gedung Huayin.
Rombongan tersebut keluar dari gedung secara berbondong-bondong.
Formasi berdiri mereka tampak sangat janggal, Jiang Man berjalan dengan santai di depan, sementara sekelompok orang tampak seperti pengikut kecil yang berjalan di belakangnya.
Sedangkan JOJO menaruh seluruh perhatian dan hatinya pada kekasih barunya, Lu Zhan, berjalan berdampingan dengan pria itu.
"Aku sudah memesan restoran masakan Beijing, ayo berangkat!" Wu Yingfan turun dari mobil dan berinisiatif mengajak semuanya.
Jiang Man mengemudikan mobilnya sendiri, lalu berjalan sendiri menuju mobil Mercedes-Benz G-Class miliknya.
Melihat itu, Wen Rui mengikuti langkah kakinya: "Aku ikut mobil Kakak."
"Kalau begitu JOJO, kamu naik mobilku?" tanya Wu Yingfan.
"Aku satu mobil dengan Zhan." JOJO tersenyum sumringah sambil menggandeng tangan Lu Zhan.
Mao Lili dan Zhang Ziqi saling berpandangan, lalu berkata secara kompak: "Kalau begitu Kak Fan, kami berdua naik mobilmu saja."
"Baiklah." Semangat Wu Yingfan langsung menurun drastis.
Tatapannya jatuh pada Zhang Ziqi dengan ekspresi sangat jijik.
Kenapa wanita ini masih punya muka untuk ikut serta? Bukankah dikabarkan telah menjiplak naskah asli milik Kak Man?
"Makan siang kali ini kamu tidak usah ikut, cari tempat teduh sana dan diam di sana saja."
Tangan Zhang Ziqi yang memegang gagang pintu mobil langsung terhenti, ia menggigit bibir bawahnya.
Mao Lili hendak mengatakan sesuatu namun urung.
Wu Yingfan mengangkat alisnya dengan kesal: "Mau naik mobil atau tidak? Kalau tidak mau, kalian berdua tidak usah ikut sekalian."
"Naik, naik, naik." Mao Lili buru-buru masuk ke dalam mobil.
Ia menatap Zhang Ziqi dengan ekspresi meminta maaf: "Kalau begitu Ziqi, kamu pulang ke asrama sendiri ya."
"Baiklah..." Zhang Ziqi menarik sudut bibirnya dengan canggung.
Setelah diusir secara terang-terangan seperti itu, setebal apapun muka yang dimilikinya, ia tidak akan punya muka untuk ikut bergabung.
Ia benar-benar menyesal, isi perutnya terasa mules karena penyesalan.
Seharusnya ia tidak gatal tangan mengambil naskah milik Kak Man, meskipun naskah itu sudah dibuang oleh Kak Man sekalipun.
Beberapa mobil pergi secara berurutan, sementara Zhang Ziqi berdiri terpaku di depan gerbang utama dengan tatapan penuh kerinduan.
Jiang Ruo yang duduk di dalam mobil baru saja selesai bertransaksi dengan wartawan hiburan tersebut dan bersiap untuk pergi, ketika sudut matanya menangkap sosok seseorang yang berdiri dengan kesepian di depan gerbang utama perusahaan.
Semua orang sudah pergi, dan hanya meninggalkan orang itu seorang diri.
Ia mengemudikan mobilnya mendekat dan membunyikan klakson: "Mau ke mana? Kuberi tumpangan."
Begitu melihat bahwa itu adalah adik perempuan Kak Man, Zhang Ziqi tidak berpikir panjang: "Aku mau kembali ke sekolah, Kakak lihat apakah searah, tumpangi aku sebentar saja."
"Boleh saja." Ada kilatan kelicikan tersembunyi di mata Jiang Ruo, ia mulai merencanakan sesuatu dalam hatinya...