Babak 14 Pesta Kuliner yang Meriah (2)
Saat suasana di rumah kaca sedang sibuk luar biasa, halaman depan rumah justru lebih meriah lagi. Sebagai tokoh nomor satu di pelabuhan Fengming, jaringan pertemanan dan wibawa Chen Hanzhong sungguh luas dan tinggi. Hari ini adalah ulang tahunnya yang ke-60, tak heran tamu-tamu berdatangan silih berganti.
Sanak saudara, kerabat, teman, tetangga, rekan-rekan dari dunia bawah, juga para pejabat instansi, baik yang akrab maupun hanya kenal sekilas, jumlah mereka benar-benar banyak. Umumnya, orang menggelar pesta ulang tahun cukup dengan belasan meja, tapi pemandangan di halaman kali ini benar-benar luar biasa, paling tidak seratus meja telah terisi.
Menjelang jam makan, semua meja sudah penuh, dan setiap tamu yang melihat kemegahan ini tak henti-hentinya terkagum dan memuji kehebatan Chen Hanzhong. “Benar-benar orang besar, pergaulannya luas.”
Di kursi paling utama, di meja paling terhormat di tengah-tengah, sudah pasti duduk si empunya hajat, Chen Hanzhong. Di meja yang sama, ada tujuh orang lainnya, tentu saja mereka adalah orang-orang penting, entah karena status, bobot, atau hubungan khusus dengan sang tuan rumah.
Dua orang di sisi kiri adalah para sesepuh, satu di antaranya adalah paman kandung Chen Hanzhong, satu-satunya kerabat dekat yang masih hidup. Satunya lagi adalah kepala sekolah SD Fengming yang sudah pensiun, lelaki berusia lebih dari delapan puluh tahun yang terkenal jujur dan berdedikasi, mengabdi seumur hidupnya untuk sekolah itu dan telah mengajar banyak murid, termasuk Chen Hanzhong, Chen Hui, Chen Lu, juga Ye Hua. Ia sangat layak duduk di sini.
Di sisi kanan ada dua orang seumuran dengan Chen Hanzhong, Ye Hua mengenal mereka sebagai sahabat karib Chen Hanzhong yang berasal dari luar Fengming, juga berpengaruh di wilayahnya masing-masing.
Di seberang, duduk dua pejabat utama dari kantor kecamatan, sebab hampir seluruh pejabat penting hadir hari itu, namun hanya dua orang ini yang pantas duduk semeja dengan Chen Hanzhong.
Meja utama inilah pusat perhatian semua hadirin, dan kursi paling mencolok di meja itu diduduki oleh seseorang yang setara dengan Chen Hanzhong: tak lain adalah ayah Ye Hua, Ye Qingshan. Dari sini bisa dilihat betapa berartinya Ye Qingshan dan keluarga Ye bagi Chen Hanzhong.
Ye Qingshan sendiri sebenarnya enggan duduk di sana, merasa terlalu mencolok dan canggung. Tapi ia tak bisa menolak keinginan keras Chen Hanzhong, apalagi setelah tuan rumah berkata dengan suara lantang, “Qingshan, kalau kau tidak duduk di sini, meja ini lebih baik dibiarkan kosong.”
Semua yang mendengar ucapan itu terperangah dan bertanya-tanya, “Siapa dia?” Karena sebagai seorang nelayan kecil, sangat sedikit orang di kecamatan yang mengenal Ye Qingshan.
Bahkan dua pejabat utama itu pun tampak bingung, menatap Ye Qingshan yang berpakaian sederhana dan berpenampilan seperti petani. Mereka tidak mengerti mengapa orang ini mendapat kehormatan begitu tinggi dari Chen Hanzhong. Namun tentu saja mereka tidak mungkin bertanya langsung di situ, melainkan mencatatnya dalam hati untuk mencari tahu nanti.
Dentuman petasan pun menggema, menandakan pesta telah resmi dimulai.
Liu Erhan dan para asistennya sejak tadi sudah menyiapkan minuman di setiap meja, sesuai tradisi tak tertulis. Minuman yang disajikan terdiri dari satu botol minuman ringan besar, dua botol bir, dan satu botol arak putih. Jumlahnya bisa ditambah, tapi jenisnya harus ada semua, agar setiap tamu bisa memilih sesuai selera; ada yang suka arak, ada yang doyan bir, ada pula yang tak minum alkohol dan memilih minuman ringan.
Para asisten mulai menghidangkan makanan pembuka berupa hidangan dingin dan buah-buahan. Di Fengming, bahkan di seluruh utara Xiang atau provinsi Xiang, hidangan dingin biasanya terdiri dari masakan pedas atau makanan yang diasinkan.
Ikan kecil pedas, salah satu hidangan wajib di setiap pesta di Fengming, adalah makanan khas provinsi Xiang. Sebenarnya, ikan kecil pedas yang paling otentik berasal dari Xiang Utara, yang letaknya dekat dengan Danau Dongting. Ikan pedas yang dihidangkan hari itu dibeli segar dari pasar, jauh lebih enak daripada yang dikemas, rasa pedasnya benar-benar menggigit.
Hidangan kedua adalah daging sapi tusuk gigi, juga dibuat segar. Yang satu ini bahkan lebih pedas dan lebih nikmat, semua yang pernah mencicipi pasti rindu rasanya.
Hidangan ketiga adalah tahu kering masak kecap, keempat adalah urat sapi rebus, semuanya hidangan berkualitas.
Selain itu, ada dua mangkuk buah, satu berisi semangka potong, satu lagi tomat ceri.
“Empat hidangan dingin, dua mangkuk buah, biasanya orang cuma sajikan dua hidangan dingin dan satu buah. Luar biasa, Chen Hanzhong memang murah hati dan mewah!”
“Hidangan dingin dan buahnya benar-benar pilihan, rasanya mantap. Siapa ya, hari ini yang jadi koki?”
“Benar, siapa kokinya?” Para tamu pun asyik berbincang sambil makan dan minum, sebab soal koki selalu jadi topik hangat di pesta, apalagi ini ulang tahun Chen Hanzhong.
Setelah makanan pembuka terhidang, banyak meja mulai membicarakan soal koki.
“Tidak tahu, sepertinya koki hebat yang diundang,” kebanyakan tamu hanya ikut-ikutan.
“Aku dengar diundang dari kota kabupaten, kabarnya jago masak, hari ini kita bakal puas makan.” Ada yang asal bicara.
“Wah, mantap, pesta Chen Hanzhong memang layak disantap,” banyak tamu lain pun bersorak senang.
Di Fengming, menghadiri pesta juga ada tradisinya, yaitu memberikan amplop merah. Selain kerabat dekat atau tamu khusus, umumnya tamu biasa memberi sumbangan seratus yuan. Ada orang khusus yang bertugas menerima dan mencatat sumbangan itu, yang nantinya harus dibalas oleh tuan rumah, sesuai adat timbal balik.
Saat pesta ulang tahun seperti ini, tuan rumah juga membagikan hadiah atau angpao kepada tamu, baik anak-anak maupun orang dewasa, asalkan duduk di meja pasti dapat bagian.
Ada juga yang langsung membagikan hadiah saat tamu memberi angpao, biasanya ini dilakukan keluarga yang perhitungan, sebab satu angpao kadang hanya diwakili satu orang, tapi yang ikut makan satu keluarga.
Tak jarang pula ada orang yang datang tanpa undangan hanya untuk makan gratis. Dulu, Ye Hua waktu SMP pernah beberapa kali ikut nebeng makan bersama Wu Gangmeng. Saat ramai seperti ini, tuan rumah biasanya tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, dan kalau pun tahu, hanya akan tersenyum maklum.
Namun, tidak selamanya segalanya berjalan mulus. Dulu, di provinsi Guangdong pernah terjadi peristiwa lucu.
Saat pesta pernikahan di hotel, ada orang yang datang nebeng makan. Satu meja tertawa dan bercakap-cakap, hanya orang itu saja yang makan rakus seperti sudah tiga hari tak makan. Melihat tingkahnya, mereka bertanya, “Kamu keluarga pihak pengantin pria atau wanita?”
Orang itu tidak siap, gugup dan ketahuan. Maka tamu di meja memanggil kedua mempelai. Ketika mereka datang, kedok si tamu terbongkar. Wah, datang nebeng di pesta kami? Tidak bisa dibiarkan!
Kedua mempelai rupanya orang yang berani, langsung memanggil polisi. Polisi datang dan memutuskan bahwa si penumpang makan tidak akan dihukum berat, cukup membayar sumbangan.
Akhirnya, ia benar-benar membayar dengan uang asli! Cerita ini viral di internet dan membuat banyak netizen tertawa.
Kembali ke soal koki di pesta Chen Hanzhong.
“Bukan koki hebat, tadi aku ke dapur, yang masak hari ini Liu Erhan,” seseorang yang tahu fakta sebenarnya membocorkannya.
“Serius? Liu Erhan yang masak?” Banyak tamu terkejut, sebab di Fengming, koki tidak banyak, dan hampir semua orang pasti pernah makan masakannya.
Mayoritas orang kenal Liu Erhan.
“Benar, mana mungkin aku bohong soal beginian. Tuh, tanya saja ke asisten yang baru lewat ini,” kata orang itu sambil menunjuk salah satu asisten yang membawa makanan.
Semua pun bertanya, dan setelah memastikan memang Liu Erhan yang jadi koki, semangat mereka langsung anjlok.
“Habis sudah, siang ini kita bakal kelaparan. Masakan Liu Erhan biasa saja untuk beberapa meja, kali ini lebih dari seratus meja, jangan harap enak...”
“Benar juga, kenapa Chen Hanzhong memilih dia? Waduh, aku makan buah sama hidangan dingin saja deh.”
Kabar Liu Erhan jadi koki menyebar cepat di seluruh halaman, semua orang terkejut, bingung, lalu mengeluh dan segera menghabiskan hidangan dingin dan buah.
Banyak pandangan aneh tertuju pada Chen Hanzhong, sang tuan rumah, yang hanya tersenyum, “Kenapa kalian semua lihat aku? Masakan Liu Erhan bukannya enak? Menurutku sih enak, kalian harus menghargai dan makan lebih banyak.”
Melihat sikap keras kepala dan santai tuan rumah, semua orang hanya bisa terdiam.
Suasana pesta ulang tahun pun berubah, sedikit lucu, sedikit aneh.