Atas dasar apa kau berani mengungkit kakinya yang terluka itu?
Angin di istana tidak sampai berembus ke lorong-lorong pasar. Saat Jiang Zhaotang berjalan menuju kediaman keluarga Xiao sambil menenteng kue yang baru saja matang, telinganya menangkap suara sekelompok cendekiawan berbaju putih yang sedang berbincang dengan lantang. Mereka tengah berdebat tentang siapa yang akan keluar sebagai juara dalam ujian kenegaraan musim semi tahun depan dan siapa yang akan berarak penuh kebanggaan di jalanan.
Begitu mendengar kata "ujian musim semi", Jiang Zhaotang mau tidak mau teringat pada Xie Yi yang membawa sial. Ia segera mengerutkan kening dan melangkah menjauh.
Alamat kediaman keluarga Xiao sangat mudah ditemukan, terletak di rumah pertama di kawasan Changxingfang. Berbeda dengan rumah lainnya, pintu masuk kediaman Xiao dijaga oleh dua pengawal yang mengenakan zirah lengkap, tampak begitu angker dan mematikan.
Lanyue, yang membawakan kotak kue di belakangnya, merasa gentar karena baru pertama kali melihat rumah seperti kediaman Xiao. Saat ia hendak membujuk Jiang Zhaotang untuk urung niat, ia terperangah melihat nonanya langsung melangkah maju dan hendak mengetuk pintu.
Tak ayal, Jiang Zhaotang dihentikan oleh kedua pengawal tersebut.
Lanyue merasa dunia seakan gelap, ia segera berlari kecil untuk menahan Jiang Zhaotang.
Melihat bilah pedang yang terhunus tepat di depan lehernya, Jiang Zhaotang mengangkat alisnya sedikit. Ia mengulurkan tangan untuk menahan bilah pedang itu, lalu menatap tajam ke arah pengawal yang sedang mengawasinya dengan garang. "Tolong sampaikan pesan, saya datang mencari tuan muda kedua kalian, Xiao Yanli."
Bilah pedang itu menekan lebih dekat, membenam ke jemari Jiang Zhaotang yang putih mulus hingga meninggalkan garis darah berwarna merah.
"Cih, galak sekali," gumam Jiang Zhaotang. Ia menekuk jari, mencengkeram bilah pedang itu, lalu perlahan mendorongnya ke samping. Di bawah tatapan kaget para pengawal, ia tersenyum tipis, "Apakah perlu uang agar kalian mau menyampaikan pesan untukku?"
Jiang Zhaotang merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan dua keping perak. Kedua keping perak itu meluncur di udara, tepat jatuh ke tangan kedua pengawal tersebut.
"Bagaimana? Sekarang bisakah kalian menyampaikan pesanku?" Jiang Zhaotang bersedekap sambil bertanya dengan senyum manis, "Ingat, minta tuan muda kedua kalian yang lemah itu untuk keluar menemui saya. Saya tidak berniat masuk ke kediaman Xiao."
Jiang Zhaotang memandang tembok tinggi kediaman Xiao yang tampak sunyi dan tanpa kehidupan itu; ia memang tidak berniat melangkah masuk.
Kedua pengawal itu saling berpandangan, keduanya masih terkejut dengan kemampuan yang ditunjukkan Jiang Zhaotang barusan.
Salah seorang dari mereka bertanya dengan ekspresi rumit, "Boleh kami tahu siapa nama Nona, dan apakah Nona memiliki surat undangan?"
Tuan rumah tidak memberikan perintah bahwa akan ada seorang gadis dengan kemampuan luar biasa yang datang hari ini, jadi mereka tidak berani sembarangan membiarkannya masuk.
Surat undangan? Jiang Zhaotang memutar bola matanya.
Keluarga Xiao adalah keluarga bangsawan terpandang di ibu kota Huajing, mana mungkin mereka mengirimkan surat undangan kepada keluarga Jiang yang sudah jatuh dan tidak berarti.
Jiang Zhaotang tentu tidak memilikinya, namun hal itu tidak menghalanginya untuk tetap mendatangi tempat itu.
"Tidak ada," jawab Jiang Zhaotang dengan percaya diri.
Kedua pengawal itu kembali tertegun. Ini adalah pertama kalinya mereka bertemu seseorang yang berani mendatangi gerbang kediaman Xiao tanpa surat undangan.
Tepat saat keduanya hendak membujuk Jiang Zhaotang untuk pergi karena khawatir dengan kemampuan bela dirinya, gerbang kediaman Xiao perlahan terbuka dari dalam. Seorang pemuda tampan yang duduk di kursi roda menatap keempat orang di depan pintu dengan senyum ramah.
"Xiao Chi, Xiao Shan, mundurlah." Suara pemuda itu tidak keras, lembut bagaikan embusan angin. Namun, kedua pengawal di hadapan Jiang Zhaotang segera menunduk penuh hormat dan mundur sembari memanggilnya "Tuan Muda Sulung".
Tuan Muda Sulung?
Jiang Zhaotang menunduk, matanya tertuju pada sepasang kaki yang terdiam tenang di balik jubah panjang berwarna hijau.
"Tadi di dalam saya mendengar Nona mencari Shenzhi. Bolehkah saya tahu siapa nama Nona?" Xiao Conghe hanya tersenyum tipis menanggapi tatapan Jiang Zhaotang, suaranya terdengar lembut.
Menyadari sikapnya yang kurang sopan, Jiang Zhaotang segera mengalihkan pandangannya ke wajah pria di hadapannya. Harus diakui, ia memang kakak dari Xiao Yanli, wajah mereka mirip delapan puluh persen.
Namun, tidak seperti Xiao Yanli yang terkesan angkuh dan dingin, pria di depannya ini terlihat lebih dewasa dan terasa lebih hangat saat tersenyum.
"Sujun, Jiang Zhaotang."
Xiao Conghe menggumamkan ketiga kata itu beberapa kali, lalu mendongak menatap Jiang Zhaotang dan tersenyum, "Ternyata putri dari Tuan Jiang Jing, sang menteri."
Jiang Zhaotang merasa terkejut. Setelah bertahun-tahun berlalu, ia mengira tidak akan ada lagi yang mengingat orang tuanya. Ia tidak menyangka pria yang usianya tidak jauh lebih tua darinya ini justru mengenal mendiang ayahnya.
Seolah memahami keterkejutan di mata Jiang Zhaotang, Xiao Conghe tertawa kecil dan bercerita dengan tenang, "Ayah saya dulu memiliki hubungan baik dengan Tuan Jiang. Semasa kecil, saya sering mendengar ayah memuji ayah Nona sebagai seorang budiman yang santun dan lembut."
"Dulu saya sering berharap bisa bertemu Tuan Jiang. Hari ini melihat Nona yang begitu mirip dengan mendiang ayah Nona, keinginan masa kecil saya pun akhirnya terwujud."
Jika bukan karena Jiang Zhaotang tahu bahwa Xiao Conghe adalah seorang jenderal besar yang memimpin pasukan untuk menumpas pemberontakan di usia enam belas tahun, ia pasti akan mengira pria ini hanyalah seorang pedagang yang pandai bersilat lidah.
Lihatlah, hanya dengan dua kalimat, ia mampu membuat orang lain merasa sangat nyaman. Sangat jauh berbeda dengan cara bicara Xiao Yanli yang seperti bumi dan langit.
Menurutnya, kemampuan bicara Xiao Conghe sebagai jenderal terlalu disayangkan. Jika ia berbisnis, dengan mulut manisnya itu, Jiang Zhaotang pasti akan datang berbelanja setiap hari.
Jiang Zhaotang berbincang beberapa patah kata lagi dengan Xiao Conghe, lalu ia dituntun menuju ruang tamu. Ia benar-benar lupa akan niat awalnya yang enggan menginjakkan kaki di kediaman Xiao yang dingin.
Setibanya di ruang tamu, Jiang Zhaotang teringat akan kedua kaki Xiao Conghe yang lumpuh setelah jatuh dari kuda. Ia pun memberanikan diri, berjalan ke hadapan Xiao Conghe, dan berkata dengan ragu, "Saya memiliki seorang kakak seperguruan yang sangat ahli dalam ilmu pengobatan. Jika Jenderal tidak keberatan, saya bisa memperkenalkan beliau kepada Anda."
Mendengar Jiang Zhaotang menyinggung kakinya, Xiao Conghe tertegun sejenak, lalu menunjukkan senyum khasnya, "Tidak perlu merepotkan diri."
"Nona Jiang, panggil saja saya Conghe. Saya sudah menyerahkan segel militer, gelar jenderal itu sudah tidak pantas bagi saya."
Jiang Zhaotang tahu pria itu hanya berbasa-basi. Teringat kakaknya yang memiliki kemampuan medis luar biasa—meskipun temperamennya buruk, sering berkata pedas, dan sering dikeluhkan oleh pasien—Jiang Zhaotang tetap mencoba membujuk, "Saya melihat kaki Anda belum sepenuhnya rusak, seharusnya masih ada kemungkinan untuk sembuh."
Di dunia ini, tidak ada orang yang tidak bisa disembuhkan oleh kakaknya, yang ada hanyalah orang yang tidak ingin diobati olehnya.
Melihat gadis muda yang polos itu menggembungkan pipinya sambil menatap kakinya, dengan tatapan yang tenang dan bukan tatapan jijik atau kasihan yang selama ini ia terima, Xiao Conghe kembali tertegun.
Ia menatap Jiang Zhaotang dengan tatapan yang penuh arti. Ia penasaran bagaimana mungkin Shenzhi bisa mengenal gadis yang menarik ini.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Sebuah suara dingin yang tajam tiba-tiba meledak dari belakang Jiang Zhaotang.
Ia menoleh dan mendapati Xiao Yanli berdiri di pintu masuk ruang tamu dengan wajah dingin. Matanya menatap tajam ke arahnya dan kaki Xiao Conghe, seolah badai akan segera menerjang.
"Aku datang untuk menanyakan sesuatu padamu." Saat melihat Xiao Yanli datang, Jiang Zhaotang teringat urusannya hari ini. Ia merogoh saku dan hendak memberikan naskah-naskah itu kepada Xiao Yanli, namun ia langsung memotongnya.
"Aku bertanya, apa yang sedang kau bicarakan dengan kakakku?" Xiao Yanli menatap mata Jiang Zhaotang dengan dingin, bertanya kata demi kata, "Atas hak apa kau menyinggung kakinya? Apa yang sebenarnya kau ketahui?"
Jiang Zhaotang merasa bingung dengan pertanyaan mendadak dari Xiao Yanli, dan ia semakin tidak mengerti dari mana kemarahan yang tidak beralasan itu muncul.
Xiao Conghe menyipitkan matanya, "Shenzhi, jangan tidak sopan."
Xiao Yanli dengan wajah kaku mengambil selimut tipis dari tangan Cang Xun dan menyelimuti kaki Xiao Conghe, menutupi kakinya sepenuhnya.
Setelah melakukan itu, Xiao Yanli menoleh ke arah Jiang Zhaotang dengan tatapan dingin yang belum pernah ia lihat sebelumnya, "Keluar."