Bab 123: Penginapan Youjian
Mu Feng menarik tangan kanannya dengan lembut, menyaksikan pria bertubuh kekar dengan bekas luka itu lenyap tak berbekas, seolah baru saja menyelesaikan hal sepele. Ia mengalihkan pandangannya ke arah gadis kecil yang masih terdiam, tampak bingung bagaimana dirinya bisa hidup kembali. Ekspresi dingin di wajah Mu Feng mencair, seperti gunung es yang meleleh.
"Ah!" Gadis kecil itu tersentak saat melihat senyuman Mu Feng, baru menyadari bahwa saat ini ia masih berada dalam pelukan pria itu.
Dengan sedikit gerakan, ia melepaskan diri dari dekapan Mu Feng dan berdiri di atas tanah dengan satu kaki telanjang. Salah satu sepatunya telah terlepas saat didorong oleh pria bertubuh kekar tadi, sementara sepatu lainnya pun sudah berlubang, memperlihatkan jari-jarinya.
"Kakak, maafkan aku, Nannan tidak sengaja!" ucap gadis kecil itu. Ia mendongak menatap jubah putih Mu Feng yang kini sedikit kusut. Suaranya semakin mengecil hingga hampir tak terdengar, dan kepalanya yang semula menengadah kini tertunduk dalam.
Melihat kepala gadis itu tertunduk begitu dalam, Mu Feng sampai khawatir ia akan terbentur.
"Tidak apa-apa," ucap Mu Feng dengan senyum hangat. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap kepala gadis itu. Bersamaan dengan itu, jubah putihnya memancarkan cahaya redup, dan dalam sekejap kembali bersih serta rapi tanpa noda sedikit pun.
Pakaian yang dikenakan Mu Feng adalah busana eksklusif Guru Suci dari sistem; bersih dari debu serta tahan api dan air hanyalah fungsi dasarnya. Sebelumnya, saat menangkap gadis itu, Mu Feng sengaja mematikan pola susunan sihir pada jubahnya agar tidak melukai sang gadis. Itulah sebabnya pakaiannya sempat menjadi kusut. Kini, setelah susunan sihir itu aktif kembali, pakaiannya pun kembali ke wujud asalnya.
Merasakan kebaikan hati Mu Feng, gadis itu mendongak dan melihat jubah putih pria itu kembali bersih. Melihat keajaiban tersebut, ia membelalakkan matanya dengan mulut sedikit terbuka, tampak sangat menggemaskan.
Mu Feng terkekeh dan kembali mengusap kepalanya. "Siapa namamu, anak manis?"
"Kakak, namaku Nannan!" jawab gadis itu dengan mata berbinar.
Mendengar nama itu, Mu Feng tersenyum tipis. Sebenarnya, saat gadis itu menjawab, ia sudah mengetahui nama aslinya, serta alasan mengapa gadis itu enggan menyebutkannya. Namun, melihat betapa ia menghargai panggilan kasih sayang dari orang lain sebagai namanya sendiri, Mu Feng merasa geli sekaligus haru.
Nannan, ya? Baiklah, Nannan saja.
Saat hendak berbicara kembali, tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan yang nyaring. Melihat gadis itu tersipu malu dan kembali menundukkan kepala, Mu Feng tidak bisa menahan senyumnya.
"Lapar ya? Bagaimana kalau aku traktir makan?" tanya Mu Feng lembut.
"Baik," gadis itu mengangguk patuh dengan tatapan penuh harap. "Kakak, Nannan sangat lapar. Nannan sudah lama sekali tidak makan kenyang. Biasanya, paman dan bibi yang baik hati memberi Nannan sedikit makanan, tapi mereka sendiri juga kekurangan. Nannan tidak berani meminta banyak, sehari cukup dua suap saja!"
Hati Mu Feng mencelos. Meski ia sudah menduga betapa pahit pengalaman hidup gadis itu dari perilakunya, mendengar pengakuan langsung itu tetap membuatnya merasa iba. Terlebih lagi, gadis itu tidak menunjukkan kebencian atau kepedihan, melainkan optimisme dan harapan. Seolah-olah bisa bertahan hidup dengan dua suap makanan sehari sudah merupakan anugerah baginya.
Mu Feng adalah seorang manusia yang bertransformasi menjadi abadi. Meski telah mencapai tingkat keabadian Daluo Jinxian dan memiliki hati yang teguh, ia tidak akan pernah melupakan jati dirinya sebagai manusia.
"Hari ini, Kakak akan mentraktirmu banyak sekali makanan enak. Makanlah sampai kenyang, sampai tidak sanggup lagi, bagaimana?" Mu Feng menggendong gadis itu dan menggunakan indra spiritualnya untuk mencari hidangan terbaik di Benua Shenzhou.
Dalam pelukan Mu Feng, gadis itu merasa bimbang. Di satu sisi, ia menyukai kehangatan dekapan ini yang mengingatkannya pada ibunya, namun di sisi lain, ia merasa sungkan. Ia sadar pakaian Mu Feng begitu mewah, sedangkan dirinya kotor dan lusuh. Ia takut mengotori jubah pria itu.
"Kakak, turunkan aku saja, Nannan bisa berjalan sendiri," bisiknya ragu.
Mu Feng tersenyum memahami isi hatinya. "Tidak apa-apa. Pakaian seperti ini, Kakak punya banyak, tidak takut kotor. Lagipula, di mata Kakak, Nannan sama sekali tidak kotor. Nannan jauh lebih bersih daripada mereka yang berpakaian mewah tapi tak punya kemanusiaan!"
Ia telah menemukan tujuannya. "Sudah ketemu. Aku akan membawamu makan makanan paling lezat di dunia ini. Makanlah sepuasnya!"
Gadis itu mengangguk patuh. Namun, ia kembali bertanya dengan ragu, "Kakak, Nannan tidak perlu kenyang sekali. Cukup sampai tidak lapar saja. Sisanya, bolehkah Nannan bawa pulang untuk paman dan bibi yang baik hati?" Ia menambahkan dengan nada sedih, "Nannan takut jika makan terlalu kenyang, nanti saat tidak ada makanan lagi, Nannan tidak akan sanggup menahan rasa lapar."
Mendengar itu, Mu Feng tertegun sejenak. Setelah terdiam beberapa saat, ia mengeratkan pelukannya. "Tenang saja, mulai sekarang, aku tidak akan membiarkanmu kelaparan lagi!"
Seketika itu juga, ruang di sekitar mereka bergejolak, dan sosok Mu Feng serta gadis kecil itu menghilang dari jalanan ramai Ibu Kota Kerajaan Qi.
***
Di Kota Canghai, Kerajaan Chu, terdapat sebuah penginapan di ujung jalan yang paling ramai. Setiap pejalan kaki yang melewati tempat itu akan berhenti sejenak, menelan ludah karena aroma masakan yang menggoda. Namun, sebagian besar hanya bisa menghela napas panjang dan berlalu pergi, sadar bahwa mereka tidak memiliki cukup harta, apalagi kualifikasi untuk masuk ke sana.
Tiba-tiba, seorang pemuda berpakaian putih yang menggendong gadis kecil lusuh muncul di tengah keramaian. Kehadiran mereka begitu mendadak, seolah-olah mereka memang sudah ada di sana sejak awal.
Gadis kecil itu menatap papan nama di atas pintu penginapan, namun ia tidak mengenal aksara yang tertulis di sana.
Mu Feng tersenyum. "Dikatakan bahwa di ujung jalan paling ramai Kota Canghai, ada sebuah penginapan bernama Penginapan Youjian. Pemiliknya adalah Paoding, seorang juru masak legendaris yang mampu membuat hidangan paling lezat di dunia."
Mu Feng tidak peduli dengan peraturan atau sifat si juru masak. Ia hanya tahu bahwa anak kecil dalam pelukannya ini sudah setengah tahun tidak pernah kenyang. Karena ia telah memutuskan untuk menjaganya, ia akan memberikan yang terbaik.
Ia melangkah mantap menuju penginapan mewah itu. Dua penjaga di depan pintu sempat ragu melihat penampilan mereka yang kontras, lalu menghadang.
"Tuan, penginapan kami tidak menerima tamu luar. Silakan cari tempat lain," ujar penjaga di sebelah kanan dengan sopan.
Mu Feng tidak berniat membuat keributan. Ia bertanya, "Jika tidak menerima tamu luar, syarat apa yang diperlukan agar bisa menjadi tamu dalam?"
Penjaga di sebelah kiri menjawab dengan sedikit bangga, "Penginapan kami hanya melayani murid dari Aliran Mohis atau mereka yang memiliki gelar Sarjana Agung ke atas."
Namun, kesombongan di wajah penjaga itu lenyap seketika digantikan keterkejutan saat Mu Feng mengerahkan kekuatan hatinya, memancarkan aura seorang setengah suci.
"Ini... setengah... setengah suci!" seru penjaga itu.
Di saat yang sama, di kamar utama lantai atas, sepasang pria dan wanita yang sedang duduk di meja makan merasakan aura tersebut. Mereka saling pandang dengan terkejut, lalu mengarahkan pandangan mereka ke arah pintu masuk penginapan.