Bab 147: Suruh dia keluar dan temui aku
Di luar istana Xianyang.
Melihat sang murid kecil yang menunjukkan raut wajah rumit dan tampak penuh kekhawatiran, Mu Feng mengulurkan tangan lalu mengusap lembut rambut panjang gadis itu.
"Pergilah! Ada beberapa hal yang memang harus dihadapi!"
Suaranya sangat lembut, tetapi seolah mengandung semacam kekuatan magis, bagaikan embusan angin sepoi-sepoi yang menyapu kegelisahan di lubuk hati sang gadis, membuat perasaannya seketika membaik.
Mengangkat kepala untuk menatap sang Guru sesaat, gadis itu mengangguk. Ia melangkah lebih dulu, berjalan menuju gerbang utama istana kerajaan yang dijaga dengan sangat ketat.
Sebelas tahun lalu, ia dibawa pergi secara diam-diam dari istana kerajaan pada tengah malam oleh pelayan pribadi ibunda tercinta. Saat itu, ia yang masih polos sama sekali tidak mengerti arti dari kepergian tersebut.
Bahkan, ketika ibunya terbaring di atas tempat peristirahatan tanpa warna darah di wajah, mengabaikan segala panggilan darinya, ia pun tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mengapa ibunda yang biasanya sangat takut jika dirinya merasa sedikit saja tidak bahagia, kini bersikap acuh tak acuh saat ia mencucurkan air mata?
Kala itu, tidak lama setelah Bibi Bing membawanya meninggalkan istana kekaisaran, wanita tersebut berpulang karena penyakit menahun yang dideritanya. Ia sempat mengira bahwa Bibi Bing benar-benar jatuh sakit, tetapi setelah beranjak dewasa, barulah ia menyadari—mana mungkin seorang sarjana besar tewas akibat penyakit menahun? Jelas sekali bahwa luka parah telah menghancurkan fondasi hidupnya, dan tanpa ada cara untuk menyembuhkannya, ia perlahan-lahan disiksa hingga ajal menjemput!
Selama sebelas tahun, dulunya ia diseret keluar dari kota raja bagaikan seekor anjing piaraan yang kehilangan majikan. Kini, setelah kembali untuk kesekian kalinya, perasaan gadis itu dipenuhi dengan berbagai macam emosi yang berkecamuk.
Meskipun, berkat permohonannya, Guru sekaligus Kakaknya telah menggunakan kekuatan agung pembalik masa lampau untuk menelusuri kembali peristiwa masa lalu dan membuatnya mengetahui segalanya.
Meskipun, kini dirinya telah memiliki kemampuan untuk melawan seluruh negeri seorang diri.
Meskipun, ia dapat membalaskan dendamnya dengan mudah.
Namun, ketika tiba di tempat ini, baik paras maupun hatinya kembali dipenuhi oleh keraguan.
Sebab, sosok yang secara pribadi merenggut nyawa ibundanya hingga tewas tidak lain adalah ayah kandungnya sendiri!
"Berhenti! Ini adalah Istana Kerajaan Qin, orang yang tidak berkepentingan dilarang mendekat!"
Di tengah gejolak perasaan sang gadis, langkah kakinya telah tiba di depan gerbang utama Istana Kerajaan Qin.
Bentakan yang penuh dengan rasa tanggung jawab itu berhasil menarik kembali kesadaran sang gadis ke dunia nyata.
"Hehe! Orang yang tidak berkepentingan? Sejak kapan pulang ke rumah sendiri pun harus dihalang-halagi!"
Mendengar ucapan para pengawal itu, gadis tersebut sama sekali tidak menunjukkan kemarahan.
Ia tertawa kecil dengan suara rendah. Raut wajahnya tampak seperti hendak menangis sekaligus tertawa, penuh duka sekaligus kepedihan, ada secercah kebahagiaan, tetapi juga tampak seperti memaksakan senyuman.
Di belakangnya, meskipun telah mengalami berbagai peristiwa dan hidup selama bertahun-tahun, Mu Feng tetap merasa sedikit bingung bagaimana cara memberikan penghiburan dalam situasi seperti ini.
Sejak saat pertama menyelamatkan gadis itu, ia telah mengetahui nama aslinya. Begitu pula dengan teknik ramalan tanpa tanding yang dimilikinya, hanya dengan terlintas secercah pikiran di benaknya saat itu, ia langsung memahami alasan mengapa gadis tersebut enggan menyebutkan nama itu.
Omong-omong, latar belakang gadis ini benar-benar sedikit mirip dengan muridnya yang lain.
Sama-sama sebatang kara, sama-sama ditinggal mati oleh ibu di usia muda, dan sama-sama kehilangan ibu kandung di tangan ayah kandung mereka sendiri.
Hanya saja, perbedaannya adalah Hong Yi menjalani kehidupannya di kediaman Marquis Wuwen selama delapan tahun, di mana selama delapan tahun itu ia tidak pernah merasakan sedikit pun kepedulian dari Hong Xuanji, dan setiap langkah yang ia ambil dipenuhi dengan marabahaya luar biasa.
Bahkan ketika mengetahui kebenaran tersebut, Hong Xuanji sama sekali tidak ragu untuk melenyapkan Hong Yi yang pada masa itu bahkan tidak mampu mendatangkan ancaman sedikit pun baginya.
Sementara itu, gadis di hadapannya ini memiliki takdir yang agak mirip, tetapi pada malam ketika ibunya dianiaya, ia langsung dibawa kabur keluar dari kota raja oleh pelayan pribadi sang ibu. Meskipun harus menderita berbagai kesulitan karenanya, ia berhasil terhindar dari berbagai macam penganiayaan di dalam istana.
Tumbuh di dalam keluarga kekaisaran berarti tidak ada ikatan kasih sayang yang bisa diharapkan. Seorang putri yang kehilangan perlindungan ibunya pasti akan merasa jauh lebih sulit untuk bertahan hidup di istana yang kejam itu daripada harus hidup menggelandang di jalanan sebagai pengemis.
Terlebih lagi, ibu dari sang putri ini tewas di tangan Raja Qin. Siapa yang tahu apakah penguasa itu suatu hari nanti akan merasa curiga dan mencari-cari alasan sepele untuk merenggut nyawanya?
Berkat pelariannya, gadis itu terhindar dari banyak siksaan, dan oleh karena itu, rasa benci di dalam hatinya terhadap orang tersebut tidak mencapai tingkat kebencian yang tak berdamai.
Oleh sebab itu pula, dalam menghadapi masalah ini, Mu Feng tidak langsung memusnahkannya dengan lambaian tangan seperti yang ia lakukan terhadap Hong Xuanji di masa lalu.
Ia tahu, bahkan jika ia membantu sang gadis membalaskan dendamnya, gadis itu tidak akan menyalahkannya. Namun, ia juga sadar bahwa jika ia benar-benar melakukannya, hati sang gadis pasti akan menyisakan sebuah ganjalan batin yang sulit dihapuskan.
"Suruh Qin Yi keluar untuk menemuiku!"
Setelah sekian lama, gadis itu berhenti tertawa setelah merasa lelah, dan ia tidak lagi memiliki tenaga untuk mempertahankan senyuman di wajahnya. Menatap para pengawal yang bersiaga penuh di hadapannya, ia mengucapkan kalimat tersebut.
Permintaan ini, jika dipandang dari sudut pandang penguasa dan rakyat, adalah tindakan durhaka dan bentuk ketidaksetiaan kepada raja.
Jika dipandang dari sudut pandang ayah dan anak, ini adalah tindakan pembangkangan dan bentuk ketidakberbaktian kepada orang tua kandung.
Namun, bagi dirinya yang sekarang, mengucapkan kalimat ini dan mengajukan permintaan semacam itu seolah tidak menyisakan alasan bagi siapa pun untuk mendebbatnya.
Pria itu memberinya kehidupan, tetapi juga membuatnya menderita sekian banyak kesengsaraan.
Pria itu adalah ayah kandungnya, sekaligus musuh yang membunuh ibundanya.
Kini, setelah terlahir kembali dan memperoleh lembaran hidup baru, ia kembali sebagai satu-satunya putri kandung dari mendiang ibunya, menuntut agar musuh yang merenggut nyawa ibunya keluar untuk menemuinya. Segala sesuatunya tampak sangat masuk akal.
Hanya saja, apa yang dianggapnya wajar justru menyulut kemarahan para pengawal Kerajaan Qin di hadapannya.
Menyadari luar biasanya sosok yang datang, mereka awalnya berniat menasihati dengan baik-baik, tetapi sama sekali tidak menduga bahwa pihak lawan justru akan bersikap semakin lancang.
Menyuruh Qin Yi keluar untuk menemuinya?
Siapa Qin Yi? Di seluruh Kerajaan Qin, diyakini tidak ada seorang pun yang tidak mengenal sosok itu. Beliaulah sang Raja Qin.
Tokoh agung seperti itu, bahkan ketika menghadapi raja-raja dari negara lain yang datang berkunjung pun, sama sekali tidak mungkin keluar istana untuk menyambut.
Memintanya keluar untuk menemui seseorang, mana mungkin itu menjadi permintaan yang pantas diajukan oleh seorang gadis belasan tahun?
Kira-kira kau ini siapa, seorang setengah suci umat manusia, atau makhluk yang mulia bagaikan seorang suci?
Pengawal itu menjadi murka. Melihat nasihat baik tidak mempan, ia mencabut bilah pedang panjang dari sarungnya dan mengarahkannya kepada gadis pembuat onar yang berdiri di depan gerbang istana tersebut.
Sebenarnya, jika merujuk pada tabiat mereka sebelumnya, siapa pun yang berani membuat keonaran di depan gerbang istana pasti sudah lama mereka habisi dengan tebasan pedang yang bersih dan cepat.
Hanya saja, menghadapi gadis di hadapan mereka ini, mereka tidak berani bertindak gegabah.
Bukan karena mereka mengenali identitas sang gadis sebagai seorang putri, melainkan karena...
Mereka mengenali makhluk yang berada di belakang sang gadis—seekor anjing kecil berbulu yang tampak seperti anak kucing elok dengan hiasan tulang bagaikan kristal yang tergantung di lehernya, serta... makhluk di samping anjing itu, seekor beruang aneh berwarna hitam dan putih yang juga memiliki rupa mirip kucing.
Hampir tiga tahun telah berlalu sejak insiden berdarah yang dipicu oleh kelinci kedua tempo hari. Kebenaran di balik peristiwa kala itu memang sudah tidak begitu penting lagi, tetapi fakta bahwa kedua ekor makhluk buas itu mampu membantai puluhan ribu prajurit Kerajaan Chu dalam hitungan detik telah tersebar luas sejak lama.
Kini, berhadapan dengan sosok-sosok yang diduga kuat sebagai dua makhluk mengerikan itu, bagaimana mungkin mereka berani bertindak lancang terhadap gadis di hadapan mereka?
Melihat pengawal yang mengarahkan pedang panjang ke arahnya sementara sekujur tubuh orang itu masih sedikit gemetar, sang gadis menghela napas panjang tanpa berdaya.
Tangannya bergerak meraih pinggangnya, dan di bawah tatapan ngeri dari sang pengawal, ia mengeluarkan sebuah benda.
Benda itu ternyata adalah sebuah tanda pengenal berwarna emas, dengan ukiran aksara kuno yang membentuk satu karakter tunggal berbunyi: "Li".
"Bawa benda ini dan serahkan kepada Qin Yi. Katakan padanya, aku menunggunya di sini."
Menyerahkan token tersebut ke tangan pengawal itu, gadis tersebut mundur tiga langkah untuk menjaga jarak, lalu berdiri dengan tenang sambil memejamkan mata rapat-rapat tanpa berkata apa-apa lagi.
Di belakangnya, melihat tindakan sang gadis, Xiaobai melengkungkan bibirnya dengan nada meremehkan seraya bergumam, "Kurang kerjaan."
Begitu pula dengan Taiji, si panda dungu yang menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung, gagal memahami mengapa Guru kecil mereka kali ini bersikap begitu merepotkan.
Hanya berurusan dengan para pengawal istana ini saja, Tuan Besar Taiji seorang diri sudah mampu menerobos masuk dan keluar sebanyak tujuh kali, apa perlunya berdiri di sini menunggu untuk melapor dan menunggu orang keluar untuk ditemui?
Gadis itu sama sekali tidak memedulikan pikiran kedua ekor binatang tersebut.
Sejatinya, ia sepenuhnya mampu mengabaikan para pengawal ini dan menerobos masuk ke dalam istana seorang diri.
Para pengawal istana ini benar-benar tidak ada artinya di hadapannya.
Namun, ia tidak melakukan hal itu. Ia justru mengeluarkan satu-satunya benda yang dibawanya saat kabur dari istana kekaisaran di masa lalu—tanda pengenal emas yang melambangkan identitasnya.
Ini adalah sebuah ujian yang ia berikan kepada Qin Yi, sebuah kesempatan yang ia berikan kepada pria itu, sekaligus kesempatan bagi dirinya sendiri.
Ketika token ini diserahkan di hadapan Qin Yi, keputusan yang diambil oleh pria itu akan menentukan jalannya pilihan sang gadis.
Saat melihat token yang diserahkan oleh sang pengawal, seorang pengawal yang berusia lebih tua mendadak teringat akan sesuatu. Ia menerima token tersebut, memberikan beberapa instruksi singkat kepada para pengawal lainnya, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam gerbang istana.
Di tengah lamunan sang gadis yang dipenuhi kerumunan emosi yang rumit, token itu telah dibawa masuk ke aula utama istana dan dipersembahkan di hadapan Qin Yi.
Qin Yi, yang sedang termenung memikirkan kembali perbuatan konyolnya di masa lalu, tiba-tiba dikejutkan oleh suara laporan seseorang. Ia sedikit mengerutkan keningnya, menunjukkan raut ketidaksenangan di wajahnya.
Namun, begitu ia melihat token emas yang diserahkan tepat di hadapannya, segala ketidaksenangan itu sirna dalam sekejap tanpa bekas.
Yang tersisa justru adalah tatapan kosong yang berkepanjangan.
"Li'er! Apakah itu... kau yang kembali?"
"Kembali itu bagus! Kembali itu bagus sekali!"
"Dulu, Ayah yang salah. Ayah telah berbuat salah pada ibundamu, dan terlebih lagi... berbuat salah padamu!"
Sambil menerima token emas itu dengan tangan yang gemetar, Qin Yi bergumam lirih. Tanpa disadarinya, sudut matanya telah basah oleh jejak air mata.
"Putri... berada di mana? Kenapa kalian belum juga mengundang orang masuk!" Selah sekian lama berhasil menenangkan emosinya, Qin Yi memelototi para pejabat sipil dan militer yang menundukkan kepala tanpa berani menatapnya. Ia menghapus air mata di sudut matanya, lalu membentak pengawal tersebut dengan alis bertaut.
"Ini..." Mendengar titah Qin Yi, pengawal itu menunjukkan raut ragu-ragu di wajahnya, bingung apakah ia harus mengungkap fakta yang sebenarnya.
"Katakan!" Menangkap keraguan sang pengawal, Qin Yi berseru dengan suara dingin.
"Baik... Lapor Baginda, Putri... Putri sedang berada di luar gerbang istana..." Kening pengawal itu mengeluarkan butiran keringat dingin.
"Di luar gerbang? Kenapa kalian tidak segera mengundang Sang Putri masuk? Apa harus Kukirim orang untuk menjemputnya secara pribadi? Buat apa kalian dipelihara!" Mendengar para pengawal ini ternyata telah menolak Sang Putri di luar gerbang, kening Qin Yi semakin berkerut dalam.
"Ba... Baginda, pe... perintahnya adalah Putri yang meminta... meminta Anda... meminta Anda untuk keluar menemuinya!"
Setelah merampungkan kalimat itu, sang pengawal merasa seluruh punggungnya telah basah oleh keringat dingin.
Keheningan...
Keheningan yang amat panjang menyelimuti seluruh ruang sidang istana.
Mendengar ucapan sang pengawal, Qin Yi sedikit mengerutkan keningnya, merasa tidak suka di dalam hati. Putrinya ini tampaknya agak kurang memahami tata krama.
Kendati demikian, mengingat rasa bersalahnya selama bertahun-tahun terhadap anak itu, ia diam-diam memaafkan ketidaktahuan sang putri akan tata krama tersebut. Bagaimanapun, anak itu hidup terlunta-lunta di luar sejak kecil dan sama sekali tidak mendapatkan pendidikan yang semestinya selayaknya seorang putri.
Sementara itu, para menteri sipil dan militer di bawah sana, melihat ekspresi kerut di dahi penguasa, bahkan tidak berani bernapas dengan kencang karena takut memicu kemarahan Qin Yi.
"Ah, sudahlah!" Tepat ketika seorang pejabat sipil hendak melangkah maju untuk menghaturkan petuah bahwa sang putri terlalu bersikap kurang ajar karena berani menyuruh sang Raja untuk keluar menemuinya, Qin Yi tiba-tiba melepaskan desahan napas panjang.
"Memang aku yang berhutang budi pada kalian berdua.既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既然既定事實。