Bab 148 Perubahan Mengejutkan
Di hadapan gerbang istana kerajaan, sang gadis berdiri dengan tenang, tanpa sepatah kata pun, namun memancarkan wibawa alami yang membuat siapa pun merasa gentar.
Di belakangnya, Mu Feng tampak ramah dengan sikap lembut bagaikan giok murni.
Di dekatnya, Xiaobai sedang berputar-putar mengejar ekornya sendiri seperti anak anjing biasa, hanya saja bentuk tubuhnya yang menyerupai kucing memberikan kesan imut yang luar biasa.
Di sisi lain, melihat Xiaobai terus berputar mengejar ekornya namun tak pernah berhasil, Taiji yang tampak polos dan sedikit konyol menunjukkan ekspresi cemas, seolah ingin turun tangan langsung untuk membantu Xiaobai.
Suasana tenang ini berlangsung selama sekitar waktu pembakaran satu dupa. Tiba-tiba, dari dalam istana kerajaan, terdengar seruan demi seruan yang meninggi.
"Menghadap Paduka Raja!"
"Menghadap Baginda Raja!"
"Baginda!"
Sapaan dari para pengawal tersebut membuat pandangan semua orang di luar gerbang tertuju ke arah pintu istana.
Di sanalah, sesosok pria paruh baya berusia sekitar tiga puluh tahun, yang memancarkan wibawa alami tanpa harus marah, melangkah keluar dari dalam gerbang istana dengan raut wajah yang sedikit tergesa-gesa.
"Di mana sang putri?" Sambil melangkah keluar dari gerbang istana, pria itu bertanya kepada para pengawal di sisinya.
Begitu ia melangkah keluar gerbang dan melihat sang gadis yang berdiri dengan tenang di depannya, ia tidak perlu bertanya lagi; ia sudah mengetahuinya.
Tidak butuh bukti apa pun, tidak perlu mengajukan pertanyaan apa pun. Hanya dengan sekilas pandang, ia tahu bahwa gadis di hadapannya ini adalah sang putri yang telah meninggalkan istana selama sebelas tahun.
Bukan karena ia bisa merasakan ikatan darah yang menghubungkan mereka, melainkan... karena gadis di hadapannya memiliki rupa yang persis sama dengan selir tercintanya dahulu.
"Li'er... benarkah ini kau?" gumam pria itu pelan. Qin Yi melangkah maju dua langkah, menghampiri sang gadis.
"Li'er, apakah kau akhirnya bersedia memaafkan Ayahanda, apakah kau akhirnya bersedia kembali menemui Ayahanda?"
Melihat gadis di hadapannya, Qin Yi mau tak mau teringat pada wanita berparas jelita yang dulu mati setelah ia suapi racun dengan tangannya sendiri.
Wanita yang dahulu dijuluki sebagai wanita tercantik di Da Qin, wanita yang mencintainya dengan sepenuh hati dan tidak pernah meragukannya sedikit pun, wanita yang memiliki bakat lebih tinggi darinya, yang cukup kuat untuk melindungi Da Qin-nya agar tetap berjaya selama ribuan tahun.
Hanya karena kebodohannya sesaat, kini wanita itu telah tiada.
Mengingat kembali peristiwa absurd di masa lalu itu, Qin Yi merasa semakin bersalah di dalam hatinya terhadap gadis di depannya, hingga ia tak kuasa menahan diri untuk mengulurkan tangan guna mendekap sang gadis.
Namun, di luar dugaannya, begitu tangannya mengulur, gadis di depannya sedikit menggerakkan kaki, dengan sangat mudah dan anggun menghindari kedua tangannya.
Kedua tangannya tergantung di udara. Melihat sang gadis yang sedikit mengerutkan kening, ekspresi Qin Yi tampak canggung sekaligus tidak senang.
Meski demikian, mengingat dirinya memang bersalah pada gadis di hadapannya, Qin Yi menekan rasa tidak senangnya dan mencoba berbicara dengan nada selembut mungkin.
"Li'er, apakah kau masih marah pada Ayahanda? Sudah sebelas tahun, Ayahanda merindukanmu setiap detik! Sekarang kau akhirnya kembali, berikanlah Ayahanda kesempatan untuk menebus rasa bersalah ini!"
Benar, menebus rasa bersalah.
Di dalam lubuk hati Qin Yi, perasaannya terhadap gadis di hadapannya lebih didominasi oleh rasa bersalah—rasa bersalah karena telah membunuh ibunya dengan tangannya sendiri di masa lalu.
Melihat reaksi pria paruh baya tersebut, kening sang gadis semakin mengerut, dan wajahnya menampilkan secercah ekspresi dingin.
Melihat ekspresi sang gadis, hati Qin Yi semakin tidak senang. Ia telah merendahkan dirinya, tetapi anak ini masih saja keras kepala dan tidak mau mengalah. Apakah dia benar-benar mengira seorang penguasa negeri tidak memiliki amarah?
"Li'er, Ayahanda merasa bersalah atas apa yang terjadi di masa lalu, itulah sebabnya Ayahanda membiarkanmu bertindak semaunya. Namun, kau juga harus mempertimbangkan posisi Ayahanda.
Katakanlah, apa yang harus Ayahanda lakukan agar kau mau memaafkan Ayahanda!"
Meskipun dalam hati ia merasa murka karena sang gadis tidak tahu aturan, demi rasa bersalahnya, Qin Yi tetap menahan semua itu.
Mendengar perkataan Qin Yi, rasa kecewa di hati sang gadis terhadap sikap pria itu semakin mendalam. Sambil sedikit mengerutkan kening, untuk pertama kalinya sejak Qin Yi keluar, ia membuka suara!
"Tiga syarat:
Pertama, hapuskan sendiri Inti Sastra milikmu sebagai penebusan dosa.
Kedua, lepaskan takhta kerajaan dan serahkan kekuasaan.
Ketiga, jaga makam ibunda tercinta selama seratus tahun, hingga ajal menjemput."
Mendengar ucapan sang gadis, wajah Qin Yi langsung mendingin seketika.
Ia memang merasa bersalah kepada putrinya ini dan berniat untuk menebusnya, tetapi semua itu ada syaratnya.
Syaratnya adalah, putri ini harus menuruti kehendaknya, patuh dan pengertian, serta tidak menimbulkan masalah baginya.
Kompensasi yang disebut-sebut itu tidak lebih dari cara untuk mencari kenyamanan psikologis bagi dirinya sendiri, selama hal itu tidak mendatangkan kerugian baginya.
Sekarang, putrinya yang tidak tahu di untung ini justru menuntut agar ia menghapuskan sendiri Inti Sastra miliknya hingga menjadi orang biasa, memaksanya turun takhta dan menyerahkan kekuasaan, bahkan memintanya menjaga makam mendiang ibunya hingga akhir hayat.
Tuntutan-tuntutan ini, jangankan tiga syarat, bahkan satu syarat pun tidak akan ia kabulkan.
Pada saat yang sama, amarah yang membara memenuhi dadanya. Ia merasa bahwa sejak pertemuan tadi, dirinya bersikap terlalu lunak, hingga membuat anak yang tidak tahu aturan ini mengira bahwa rasa bersalahnya bisa dijadikan modal untuk bertindak semena-mena.
Namun, bukankah kalimat "keluarga kekaisaran adalah yang paling kejam" itu berlaku di sini? Apakah ia tidak memahami arti kalimat itu?
Ketika tindakan pihak lain telah mengancam kedudukannya, ia sama sekali tidak keberatan untuk membunuh beberapa anggota keluarganya lagi.
Alasan mengapa ia dulu menggunakan racun mematikan untuk membunuh ibu sang gadis, selain karena mempercayai fitnah dan sungguh-sungguh percaya bahwa membunuh istri dari seorang Semi-Orang dapat membantunya membuktikan jalannya dengan tekad dan keteguhan yang besar...
Alasan yang lebih besar, bukankah karena dirinya sendiri terjebak di tingkat Sarjana Agung dan tidak bisa maju lagi, sementara selir itu adalah seorang Semi-Orang yang dikhawatirkan dapat mengancam kedudukannya?
Meskipun selir itu sungguh-sungguh mencintainya dan tidak pernah melakukan tindakan apa pun yang merugikannya, di dalam keluarga kerajaan, selama ada kemungkinan kecil seperti itu, hal itu sudah lebih dari cukup untuk memusnahkan bahaya sejak dalam kandungan.
Memikirkan hal itu, tatapan yang kini dilayangkan Qin Yi kepada gadis di depannya telah menyiratkan secercah niat membunuh yang dingin.
"Li'er, Ayahanda benar-benar ingin menebus rasa bersalah kepada-mu, tetapi janganlah kau meminta terlalu banyak. Kembalilah bersama Ayahanda, mulai sekarang kau akan menjadi Putri Sulung yang paling disayangi di Negeri Qin, dan seorang..."
Perkataan Qin Yi belum selesai ketika sang gadis memotongnya dengan nada dingin.
"Lakukan, dan aku akan melindungi Negeri Qin. Jika tidak, mati!"
Acuh tak acuh, tanpa kompromi, dan mutlak.
Ucapan sang gadis bahkan lebih kejam daripada seorang kaisar, membuat Qin Yi secara tidak sadar merasakan hawa dingin merayap.
Ia tidak mengerti apa yang telah dialami oleh putri yang telah menghilang selama sebelas tahun dan tidak pernah ia pedulikan ini, hingga ia bisa muncul secara tiba-tiba hari ini.
Mengapa di dalam diri gadis itu terdapat aura yang bahkan jauh lebih mengerikan daripada dirinya sendiri?
Dibandingkan dengan keterkejutan dan kecurigaan Qin Yi, kesabaran sang gadis justru telah habis sepenuhnya.
Kedatangannya kali ini adalah karena gurunya melihat bahwa kondisi batinnya tidak sempurna dan masih menyimpan semacam obsesi di dalam hatinya, yang membuat Jalan Bela Diri miliknya tidak dapat sepenuhnya disempurnakan.
Jika masalah ini tidak diselesaikan, seiring berjalannya waktu, hal itu akan berubah menjadi Iblis Batin dalam perjalanan kultivasinya.
Oleh karena itu, gurunya membawanya serta.
Sepanjang perjalanan, setelah mengetahui kebenaran tentang masa lalu, ia terus memikirkan bagaimana cara menghadapi urusan masa lalu tersebut.
Qin Yi, ayah kandungnya, telah memberinya kehidupan, namun sekaligus merenggut nyawa ibunya, membuatnya terlunta-lunta. Jika ia tidak bertemu dengan gurunya, entah apakah ia bisa bertahan hidup sampai sekarang adalah sebuah misteri.
Dilihat dari segi kebencian semata, saat bertemu dengan Qin Yi tadi, ia pasti akan langsung melangkah maju dan melenyapkannya tanpa ragu demi membalaskan dendam.
Namun, Qin Yi ini bukanlah musuh biasa, melainkan ayah kandungnya sendiri. Hal ini membuatnya sempat merasa bingung bagaimana seharusnya ia menangani jalinan kebencian dan kasih ini.
Pada akhirnya, ia memutuskan untuk menyerahkan segalanya kepada pilihan Qin Yi sendiri; sikap dan tindakan pria itulah yang akan menentukan akhir hidupnya.
Tiga syarat yang diajukannya sebelumnya sudah merupakan kondisi terbaik yang ia berikan demi membalas budi atas anugerah kelahirannya. Namun, Qin Yi justru menolaknya mentah-mentah tanpa pertimbangan sedikit pun, bahkan kata-katanya menyiratkan ancaman, dan matanya memancarkan niat membunuh.
Jika pihak lawan benar-benar terus-menerus membuatnya kecewa, ia memang bukanlah tipe orang yang ragu untuk membunuh.
Setuju, selamatkan Negeri Qin; tidak setuju, mati!
Itulah ultimatum terakhir yang diberikan sang gadis.
Mendengar kata-kata dingin sang gadis, sempat terbersit di benak Qin Yi untuk mempercayainya selama sedetik.
Namun, ia segera sadar bahwa gadis ini hanyalah seorang anak berusia empat belas tahun, dari mana ia bisa memiliki kemampuan sehebat itu?
Sambil menertawakan dirinya sendiri di dalam hati karena menjadi penakut akibat peperangan bertahun-tahun, ekspresi Qin Yi berubah menjadi sangat dingin.
"Aku adalah penguasa Negeri Qin, yang dengan sepatah kata bisa menentukan hidup mati jutaan rakyat. Sekarang, kau terus-menerus bersikap tidak masuk akal. Apakah kau benar-benar mengira aku tidak berani membunuh?"
Selesai berkata demikian, aura puncak tingkat Sarjana Agung melonjak dari tubuhnya, menekan ke arah gadis di hadapannya. Namun, tekanan auranya itu terasa bagaikan angin sepoi-sepoi bagi sang gadis, sama sekali tidak mampu menimbulkan riak sedikit pun.
Melihat sang gadis sama sekali tidak terpengaruh oleh auranya, ekspresi Qin Yi sedikit berubah. Baru saja ia hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba ia mendengar suara tawa ringan dari belakangnya.
"Heh! Penguasa Negeri Qin, yang dengan sepatah kata bisa menentukan hidup mati jutaan rakyat. Sungguh wibawa yang hebat, sungguh ambisi yang luar biasa."
Suara itu datang dari kejauhan dan mendekat dengan cepat, dalam sekejap telah tiba di dekat mereka.
Terkejut di dalam hati, mendengar suara wanita yang begitu familiar itu, Qin Yi menoleh ke belakang dan yang terlihat olehnya adalah wajah yang sangat tidak asing baginya.
Wajah ini telah ia lihat selama belasan tahun dan sudah sangat ia hafal di luar kepala. Namun, ia tidak dapat memhami mengapa selir kesayangannya yang di dalam ingatannya jelas-jelas hanyalah seorang wanita biasa, kini justru mampu melayang di udara.
"Kau..." Menatap wanita yang telah tiba di dekatnya dalam sekejap mata itu, raut wajah Qin Yi langsung memburuk.
"Hehehe, Paduka Raja yang amat kurnia, di dalam istana kerajaan ini, di dalam aula agung tersebut, Anda memang adalah penguasa Negeri Qin yang dengan sepatah kata bisa menentukan hidup mati jutaan rakyat.
Namun, begitu melangkah keluar dari istana kerajaan Anda, selain tingkat kultivasi puncak Sarjana Agung yang menjadi kebanggaan Anda itu, apa lagi yang Anda miliki?"
Melihat perubahan warna wajah Qin Yi yang terjadi seketika, wanita itu menampilkan senyuman manis di wajahnya dan bertanya dengan nada lembut.
Namun, senyumannya begitu lembut, dan nadanya begitu ramah, entah mengapa, ucapan itu justru membuat Qin Yi merasakan hawa dingin merambat di sepanjang tulang punggungnya.
Benar juga, di dalam istana kerajaan, berkat perlindungan takdir langit, dirinya adalah penguasa Negeri Qin. Kecuali jika negeri Qin dihancurkan terlebih dahulu, bahkan seorang Semi-Orang pun akan kesulitan untuk menyentuhnya barang sedikit pun.
Namun, begitu melangkah keluar dari gerbang istana, perlindungan takdir langit itu terlepas, dan ia hanyalah seorang Sarjana Agung biasa.
Selir Li, kau..." Qin Yi tidak sempat lagi memikirkan masalah putrinya. Pada saat ini, bahkan jika kapasitas otaknya selebar Ngarai Yarlung Tsangpo, ia tetap bisa melihat bahwa Selir Li ini bermasalah.
Selama lebih dari sepuluh tahun menyamar sebagai orang biasa, dan sekarang, tepat pada saat ia meninggalkan istana dalam keadaan paling lemah, pihak lain justru menunjukkan tingkat kultivasi yang tidak kalah dari seorang Sarjana Agung. Bahkan orang bodoh pun bisa melihat bahwa wanita ini menyimpan niat tersembunyi.
"Aku? Aku baik-baik saja, justru Baginda, sepertinya Anda akan segera bernasib buruk!"
Selir Li tersenyum ringan, berjalan menghampiri Qin Yi dengan ekspresi lembut, lalu tersenyum sambil mengulurkan tangan kanannya dan menotolkan satu jari ke dada Qin Yi.
Seketika, Qin Yi seperti disambar petir, matanya dipenuhi dengan rasa tidak percaya.
Saat Selir Li mendekatinya, ia sudah berniat untuk menghindar. Namun, tubuhnya belum sempat bergerak mengikuti kehendaknya, jari Selir Li sudah menotol tepat di bagian dadanya, di atas jantungnya.
Setengah detik kemudian, sebersit darah kehitaman meluap dari mulut Qin Yi dan langsung membasahi jubahnya.
"Di dalam istana kerajaan milikku, ternyata masih tersembunyi seorang Semi-Orang sepertimu, aku..."
Kalimatnya belum selesai, Qin Yi langsung jatuh terpental ke belakang.
Di dalam matanya, tersisa rasa enggan yang mendalam, beserta penyesalan yang tiada tara!