Babak 37: Siaran Langsung Memanen Padi (2)
Chen Lu sangat menikmati permainannya, meski Ye Hua agak kurang senang, ia tetap tidak melarangnya. Siaran langsung yang dilakukan Chen Lu juga tidak masalah, ini mungkin kali pertama Desa Yan Yun muncul di hadapan publik, jadi setidaknya bisa menjadi ajang promosi bagi desa ini.
Untuk masa depan, apakah akan dilakukan atau tidak, banyak hal yang belum pasti bagi Ye Hua. Namun ada satu hal yang benar-benar ia yakini, yakni membawa kemakmuran bagi warga desa, membuat kampung ini sejahtera.
Dulu, pemandangan Desa Yan Yun begitu indah hingga membuat siapa saja terpana. Ditambah lagi dengan keberadaan Danau Dong Ting, sebuah anugerah alam yang luar biasa. Ye Hua pernah berpikir, jika suatu saat kondisi sudah memungkinkan, ia akan mengembangkan pariwisata di Yan Yun.
Begitu pariwisata dapat berjalan, desa ini benar-benar akan makmur. Para warga bisa menjadi pengusaha rumahan—duduk di rumah pun bisa menghasilkan uang.
Soal daya tarik wisata yang akan diandalkan, itu nanti bisa dipertimbangkan sesuai kondisi.
“Xiao Lu, kamu sedang video call dengan siapa?” tanya Ye Qingshan.
Meski kini ponsel pintar sudah umum digunakan, dan banyak orang tua di desa pun memakainya, bagi mereka ponsel tetap lebih sering digunakan untuk menelepon daripada berselancar di internet. Kalaupun online, paling-paling hanya bermain WeChat.
Siaran langsung adalah sesuatu yang baru di internet beberapa tahun terakhir. Generasi muda umumnya tahu apa itu live streaming, tapi generasi tua di pedesaan masih banyak yang belum paham.
Ye Qingshan dan Lin Lizhi memandang Chen Lu yang asyik bicara sendiri dengan gaya aneh, merasa sangat penasaran dan bertanya kepadanya.
“Paman, Bibi, ini bukan video call, ini siaran langsung, mirip acara di televisi, hanya saja disiarkan secara real time,” jelas Chen Lu.
“Lulu, kapan kamu mulai kerja di stasiun TV? Kamu jadi pembawa acara, ya? Lagi membawakan acara?” tanya Lin Lizhi.
“Aku memang jadi pembawa acara, bisa dibilang seperti itu, tapi aku tidak bekerja untuk stasiun TV, aku bekerja untuk diriku sendiri... Sekarang zamannya internet, di dunia maya, siapa saja bisa jadi reporter, fotografer, atau pembawa acara selama mau,” lanjut Chen Lu menjelaskan.
Ye Qingshan dan Lin Lizhi tampak setengah paham. Ye Qingshan lalu bertanya, “Jadi sekarang kamu membawakan acara apa?”
“Bukan acara khusus, aku hanya menyiarkan kegiatan kita memanen padi, biar para penonton di internet bisa melihat,” ujar Chen Lu.
“Orang mau nonton kita panen padi? Apa menariknya?” Ye Qingshan keheranan.
“Aku juga nggak tahu menarik atau tidak, yang jelas banyak yang nonton, sekarang di ruang siaranku sudah lebih dari tiga ribu orang,” jawab Chen Lu dengan gembira. Baru saja mulai siaran, jumlah penontonnya langsung melonjak, dan banyak pula yang memberi hadiah.
“Orang-orang macam apa itu, kok bisa-bisanya nonton orang panen padi? Benar-benar tak ada kerjaan. Waktu itu sangat berharga, kenapa tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat?” komentar Ye Qingshan dengan nada tak setuju.
Chen Lu tak berani menanggapi, apalagi mengatakan ada yang rela mengirim uang sebagai hadiah. Saat ini ia sedang siaran langsung, jangan sampai para penggemarnya mendengar hal itu.
Ye Qingshan dan Lin Lizhi pun kehilangan minat. Mereka benar-benar tidak bisa memahami orang-orang yang suka menonton siaran langsung, menganggapnya hanya buang-buang waktu dan tidak bertanggung jawab.
Setelah berinteraksi sebentar dengan para penonton, Chen Lu memasang ponsel pada posisi yang pas, lalu mulai membantu Ye Hua mengangkat batang padi.
Pekerjaan ini sangat mudah, bahkan Ximi pun bisa melakukannya, apalagi Chen Lu. Saat bekerja, ia tetap memainkan peran sebagai pembawa acara.
Beberapa saat bekerja, ia kembali mendekat ke kamera untuk berinteraksi dengan penonton. Melihat jumlah penonton yang terus bertambah, serta hadiah virtual seperti kapal pesiar dan mobil sport yang terus berdatangan, wajah Chen Lu pun sumringah.
Selesai berinteraksi, ia kembali bekerja, lalu mengobrol dengan penonton, dan begitu seterusnya.
Ye Hua tak ambil pusing, membiarkan Chen Lu sesuka hati.
Sementara Ximi, bocah kecil itu sama sekali tidak tertarik pada apa yang dilakukan tante cantik nan ceria itu. Ia lebih asyik mencari lubang dan menangkap ikan kecil di sawah. Jika gagal, ia pun tidak meminta bantuan ayahnya, karena di sawah memang banyak ikan kecil.
Menjelang pukul tiga sore, panen masih berlangsung. Wu Gangmeng akhirnya kembali, dan langsung menuju pinggir sawah.
“Hua, Hua...” teriaknya sambil tersenyum lebar, seperti pengemis yang tiba-tiba mendapat hadiah lima ratus juta.
“Kamu datang tepat waktu, cepat bantu kami,” kata Ye Hua, senang akhirnya tenaga tambahan dari kota sudah kembali.
“Membantu sih boleh, tapi dengar dulu ceritaku,” ujar Wu Gangmeng sambil melepas sepatunya dan berjalan dengan langkah riang. Saat melihat Chen Lu sedang siaran langsung, ia pun penasaran dan mendekat. Begitu melihat jumlah penonton, ia terperangah, “Astaga, penontonnya sudah sepuluh ribu? Hadiah mobil sport, pabrikan Ferrari saja setahun belum tentu produksi sebanyak itu. Hadiah kapal pesiar juga luar biasa. Wah, ternyata menyiarkan panen padi bisa seheboh ini! Uangnya mengalir deras! Aku juga mau coba siaran langsung!”
Chen Lu tertawa bangga. Siaran hari ini sangat sukses, hadiah datang seperti air mengalir, jumlah penggemar bertambah, dan hadiah pun semakin sering berdatangan. Wahahaha.
“Kamu? Jangan mimpi siaran langsung! Kamu kira kamu gadis cantik? Penonton live itu, sebagian besar pria, dan mereka tak akan tertarik pada sesama pria,” sindir Ye Hua. Meski ia tak terlalu suka dunia siaran langsung, sebagai pria, ia paham betul isi hati para penonton pria.
“Baiklah, lebih baik aku jual ikan saja,” kata Wu Gangmeng sambil menggaruk hidung, lalu berjalan ke mesin perontok padi. Ia teringat perlakuan ramah yang ia terima dari Yu Yanni hari ini di restoran ikan bakar, dan berkata dengan penuh semangat, “Hua, kamu tahu nggak, hari ini Xiao Yanni sangat baik padaku. Dia sengaja mengajakku makan siang berdua, ngobrol panjang soal hidup, kami sangat akrab. Dia sekarang memanggilku Kak Mengzi, setiap kata selalu ‘Kak Mengzi’, membuat hatiku meleleh... Aku yakin, tak lama lagi aku bisa pacaran dengannya.”
“Pacaran apanya, jangan-jangan nanti kamu malah jadi korban dimanfaatkan. Sudahlah, kamu itu sedang digiring ke jebakan, percayalah,” ujar Ye Hua sambil menggeleng. Ia memang tak terlalu mengenal Yu Yanni, tapi ia paham sifat manusia, memahami watak pedagang, dan bisa menganalisis situasi. Ia yakin, Yu Yanni sedang menyiapkan jebakan untuk Wu Gangmeng.
Jebakan itu bukan untuk mendapatkan orangnya, tapi untuk mendapatkan ikannya.
“Halah, Hua, jangan remehkan aku. Aku juga punya pesona. Meskipun sekarang Yanni belum tertarik, aku yakin dengan usaha, besi pun bisa jadi jarum. Suatu saat dia pasti jatuh hati padaku!” Wu Gangmeng menepuk dada dengan bangga. Sepanjang perjalanan mencari jodoh, ia sudah sering terjatuh, namun ia tidak bodoh. Ia lebih memahami kenyataan dan sifat wanita dibanding kebanyakan orang. Ia tahu kedekatan Yu Yanni kepadanya pasti ada alasannya.
“Semoga saja. Yang penting kamu tahu batasan. Jangan sampai jatuh cinta sepihak dan akhirnya terjebak sendiri,” Ye Hua hanya bisa mengingatkan, karena tahu tak mungkin menghentikan niat Wu Gangmeng.
“Tenang saja, aku sudah sering menghadapi banyak wanita,” kata Wu Gangmeng membual.
“Itu waktu kamu masih kecil, menggembala sapi di gunung, dan sering memetik bunga liar, kan?” sindir Ye Hua.
“Haha, kamu tahu juga ya, keren kamu, Bro,” Wu Gangmeng tertawa lalu berkata, “Hua, ada satu hal penting. Yanni bilang, dalam waktu dekat dia akan sempat-sempatin datang ke sini.”
“Jangan ajak dia ke rumahku, mending ke rumahmu saja. Kalian bisa bicara soal ‘pacaran’ di sana,” jawab Ye Hua tanpa minat.