Bab 36: Siapa Cepat, Dia Dapat
Lorena sangat terkejut dengan kedatangan Su Yu.
“Wah, bukankah ini sang kepala pelayan dari Tiongkok? Kenapa hari ini punya waktu senggang datang ke tempatku yang sederhana ini?”
“Kau tampaknya tidak terlalu senang dengan kedatanganku,” Su Yu tersenyum, “Kau adalah penyelamatku, jadi kalau ada waktu tentu aku harus mampir menengokmu.”
Lorena memeluknya ringan, “Selamat datang, temanku. Silakan masuk.”
Di dalam rumah, ia menuangkan secangkir kopi untuk Su Yu.
“Sepertinya kau sudah menetap di Kota Pinus Sepi, tak lagi membutuhkan perlindunganku,” ujar Lorena, “Dan tampaknya telah terjadi sesuatu yang aku tidak tahu.”
Su Yu mengangkat bahu, “Memang terjadi sesuatu yang di luar dugaan, seperti Tuan Bari yang tiba-tiba diangkut dari rumahnya dan dihabisi, sungguh mengerikan.”
“Kalau kau tidak bilang, aku pasti mengira itu perbuatanmu,” Lorena terkekeh, “Tapi kalau dia sudah mati, tak perlu dipedulikan lagi, lagipula kita bukan petugas penegak hukum, siapa pun pelakunya, bukan urusan kita.”
“Itu juga benar.” Su Yu mengangguk, “Terima kasih atas bantuanmu malam itu, tanpa pertolonganmu, aku sama sekali tak mungkin bisa mengalahkan sepuluh orang itu.”
“Aku hanya sekadar membantu, lagipula aku juga dapat hampir dua ratus dolar dari Scott.” Lorena tersenyum mengganti topik, “Kau datang hari ini, apakah ada urusan serupa yang membutuhkan bantuanku?”
“Tidak juga, aku hanya ingin melihatmu,” jawab Su Yu, “Kalau ada urusan, pasti kutawarkan padamu.”
“Baiklah, itu janji kita.” Lorena mengangguk.
Mereka mengobrol santai beberapa saat.
Setelah itu, Su Yu berpamitan, hendak pergi, tapi Lorena tiba-tiba memanggilnya, “Sekarang kau sudah menjadi perwakilan dua keluarga, kalau aku ingin cari pekerjaan, seharusnya tidak sulit, bukan?”
“Pekerjaan seperti apa?” tanya Su Yu, sebab ia belum tahu bidang apa yang diinginkan Lorena.
“Kau kekurangan orang di keluarga Karnegi dan Bari, kenapa tidak mempekerjakanku saja? Bagaimana kalau aku menjadi pengawalmua?” ucap Lorena serius, “Setiap bulan cukup beri aku tiga puluh dolar, menurutku itu harga yang sangat adil dan wajar.”
Tanpa berpikir lama, Su Yu langsung mengangguk setuju.
“Tentu saja tidak masalah, tiga puluh dolar memang wajar. Kalau kau tidak sibuk hari ini, kau bisa langsung mulai bekerja.”
“Kebetulan aku memang tidak ada kegiatan. Baiklah, hari ini aku mulai mengikutimu.” Setelah membereskan barang-barangnya, Lorena pun pergi bersama Su Yu menuju keluarga Karnegi.
Ini bisa dibilang bawahan pertama Su Yu.
Di perjalanan, Lorena bertanya,
“Bagaimana pendapatmu tentang aliansi antara keluarga Karnegi dan Bari?”
“Untuk saat ini aku tidak punya pendapat. Itu urusan mereka, aku tidak bisa memutuskan.” Su Yu sama sekali tidak memberitahu Lorena bahwa Natasha dan Sofia adalah saudara kandung.
Karena semakin banyak orang yang tahu, semakin besar risikonya.
Selain itu, menyebarkan kabar itu pun tidak akan membawa keuntungan baginya.
“Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanya Lorena lagi, “Apakah akan memperlakukan mereka seperti Daniel dan kawan-kawannya?”
“Tentu tidak. Aku tidak punya hak untuk mengurus urusan seperti itu.” Su Yu menggeleng, “Keputusan akhir tetap berada di tangan Natasha dan Nyonya Bari.”
“Baguslah, aku sempat khawatir kau yang gila akan mencari cara menghadapi mereka.”
“Aku memang gila, tapi aku masih punya akal sehat.” Su Yu memandangnya, “Jadi, kau tak perlu khawatir hal semacam itu akan terjadi.”
…
Tak lama kemudian, mereka berdua menunggang kuda kembali ke perkebunan Karnegi.
Natasha sangat terkejut melihat Lorena datang bersama Su Yu.
Meski ia sudah mengenal Lorena dan tahu hubungan mereka, tapi tetap saja ia penasaran kenapa Su Yu membawanya ke perkebunan.
“Selamat pagi, Nona Natasha,” Lorena menyapa Natasha dengan sopan.
Natasha mengangguk, lalu menoleh pada Su Yu, seolah bertanya lewat tatapan.
“Nona Natasha, kau pasti sudah mengenal Nona Lorena, jadi aku tak perlu memperkenalkan lagi,” Su Yu menatap balik, “Mempertimbangkan posisiku yang lemah di keluarga Karnegi dan Bari, mulai hari ini dia akan menjadi rekanku.”
“Rekan?” Dahi Natasha sedikit berkerut, tapi ia tidak mengusir Lorena, “Kalau kau sudah membawanya kemari, biarkan saja dia mengikutimu. Tapi rekan dan pelayan adalah dua hal berbeda, Mevis tetap menjadi pelayanmu.”
“Baik.” Su Yu mengangguk.
Natasha berkata, “Aku masih harus berdiskusi dengan Nyonya Bari. Kau ajak dia berkeliling dulu agar terbiasa dengan lingkungan perkebunan.”
Setelah berkata demikian, Natasha berbalik pergi.
Lorena bertanya penasaran, “Siapa itu Mevis?”
“Seorang asisten kecil,” jawab Su Yu, “Di keluarga Karnegi aku hanya sendirian. Mulai sekarang, satu-satunya orang yang bisa kuandalkan dan percaya hanyalah kau. Aku yakin kau tidak akan mengecewakanku, kan?”
“Tentu saja tidak, jangan lupa kita ini sahabat,” jawab Lorena.
Natasha dan Sofia sedang mendiskusikan sesuatu, Su Yu tidak terlalu peduli. Ia mengajak Lorena berkeliling perkebunan.
Setelah kembali ke rumah, Natasha memanggilnya ke ruang kerja.
Meski Lorena ingin ikut masuk, ia tak diizinkan.
“Sekarang kedua keluarga sudah membentuk aliansi, menurutmu langkah apa yang harus kita ambil selanjutnya?” tanya Natasha to the point, “Apa kau punya saran bagus?”
Sofia di sampingnya juga menatap Su Yu.
Su Yu berpikir sejenak, “Bagaimana reaksi anggota keluarga Bari saat tahu aku menjadi perwakilan dua keluarga?”
“Ada yang menentang, tapi ada juga yang tampak acuh,” jawab Sofia, “Tapi mereka hanya berani menentang lewat mulut, tidak ada tindakan nyata.”
“Setenang itu?” Su Yu hampir tidak percaya.
Natasha berkata, “Sekarang ini mencari pekerjaan sangat sulit, apalagi musim dingin begini, ditambah lagi insiden Daniel dan kawan-kawannya membuat mereka tidak berani bertindak gegabah. Jadi meski ada ketidakpuasan, mereka hanya bisa melampiaskan lewat kata-kata.”
“Kalau begitu, langkah pertama kita adalah mendirikan perusahaan,” usul Su Yu, “Hanya dengan mendirikan perusahaan, situasi yang kacau ini bisa diatur dengan baik.”
“Perusahaan?”
Natasha dan Sofia saling berpandangan, tampak kebingungan di mata keduanya.
Mereka tidak asing dengan istilah ‘perusahaan’.
Di Amerika, perusahaan pertama dan paling terkenal—yang juga penuh kontroversi—adalah yang didirikan pada tahun 1600, yaitu Perusahaan Hindia Timur Inggris.
Sekarang pun di Amerika banyak perusahaan besar.
Meskipun tidak pernah makan daging babi, mereka tahu seperti apa babi itu.
Natasha lebih dulu bertanya, “Tapi kami tidak mengerti perusahaan, bahkan tidak tahu bagaimana cara menjalankannya.”
“Benar, kami hanya bisa mengelola bisnis seperti biasa, tapi konsep perusahaan sama sekali asing bagi kami,” sambung Sofia, “Lagipula, apa untungnya mendirikan perusahaan bagi kita?”
Justru karena mereka tidak mengerti, mereka khawatir Su Yu akan memperdaya mereka diam-diam.
“Tentu saja banyak keuntungannya. Pertama, kita bisa lepas dari belenggu bisnis keluarga. Kedua, dapat meningkatkan reputasi dan citra keluarga,” jelas Su Yu, “Sekarang, bisnis kalian di Kota Pinus Sepi hanya disebut milik keluarga tertentu. Tapi kalau mendirikan perusahaan, namanya bisa menjadi perusahaan tertentu, sehingga lebih mudah dikelola secara terpadu.
Misalnya Perusahaan Senjata Karnegi, Perusahaan Pertambangan Karnegi, Perusahaan Pakaian Karnegi. Bukankah itu terdengar lebih baik daripada Toko Senjata Karnegi, Tambang Karnegi, atau Toko Pakaian Karnegi?”
Kedua bersaudari itu berpikir cukup lama.
“Sepertinya masuk akal, tapi aku ingin tahu, setelah perusahaan didirikan, siapa yang akan memimpinnya?” tanya Natasha.
Su Yu menatapnya, “Tentu saja kalian, Natasha atau Sofia. Atau kalian ingin aku yang mengelola?”
Keduanya terdiam, tidak mengangguk maupun menggeleng.
Su Yu melanjutkan, “Supaya perusahaan bisa berjalan dengan baik, usulku, kalian menjadi ketua dan manajer utama, sedangkan aku menjadi penasihat kalian. Dengan begitu, kalian akan lebih menguasai manajemen perusahaan, dan tidak perlu khawatir aku akan mengambil alih kekuasaan.”
“Lalu, apa nama perusahaannya?” tanya Sofia.
Su Yu berpikir sejenak, “Bagaimana kalau kita beri nama Perusahaan Listrik Umum?”
Ia malas mencari nama baru, lagipula Thomas Edison saat ini masih menjadi operator telegraf dan hidup seperti gelandangan.
Bukan hanya hidupnya tidak menentu, ia juga sudah berganti tempat kerja sepuluh kali; lima kali dipecat, lima kali mengundurkan diri.
Siapa cepat, dia dapat.
Selain itu, Su Yu memang ingin mengikuti jejak Edison, sehingga Edison tidak akan punya jalan.
Apa pun itu, bola lampu atau gramofon, semua yang bisa ia tiru akan ia tiru. Kelak, nama penemu benda-benda itu bukan lagi orang Amerika bernama Edison, melainkan orang Tiongkok bernama Su Yu.
Setelah kekayaan terkumpul, dengan uang di tangan, entah ingin memberontak atau menjadi taipan, semuanya jadi lebih terjamin.
Nanti jika Amerika melakukan diskriminasi terhadap orang Tionghoa, kalau pun harus memberontak, setidaknya ia punya modal untuk merekrut orang dan membeli senjata, bahkan menantang bangsa Amerika.
Kedua bersaudari itu berpikir sejenak, lalu Natasha berkata, “Baik, kita namakan Perusahaan Umum. Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya?”