Bab 62 Pertandingan Persahabatan (4)
Baru saja duduk, rombongan Chu Ye berjalan mendekat.
“Selamat, Adik Moli!” sapa Chu Ye dengan hangat dan sopan. Chu Xiangxiang dan Lei Hao yang berdiri di sampingnya juga menyapa dengan akrab.
“Kakak Moli, kau tadi benar-benar hebat!” ujar Chu Xiangxiang dengan penuh semangat. Pandangannya sesekali terarah pada Beichen, namun ia mendapati Beichen terus menatap Moli dengan wajah lembut yang tak pernah ia lihat sebelumnya, membuat hatinya terasa pilu.
Meski ia sudah tahu Beichen dan Kakak Moli telah bersama, dan dirinya tak lagi punya kesempatan, tetap saja hatinya terasa sedih. Sejak kecil hingga dewasa, selain kakaknya sendiri, hanya satu pria ini yang pernah ia sukai. Cinta yang baru saja tumbuh itu sudah harus layu sebelum berkembang.
Sejak malam di mana kakaknya berbincang lama dengannya, Chu Xiangxiang pun mulai memahami perasaannya sendiri. Jika tak bisa memilikinya, maka ia memilih untuk merelakan. Bagaimanapun, Kakak Moli sangat luar biasa, dan hanya Kakak Moli yang pantas bersanding dengan Kakak Beichen, pemuda istimewa seperti dirinya.
Dengan pemikiran itu, hatinya pun terasa jauh lebih lega.
Moli juga bisa merasakan perubahan sikap Chu Xiangxiang terhadap Beichen. Meski sesekali masih memperhatikannya tanpa sadar, setidaknya ia tak lagi menunjukkan secara terang-terangan.
Walau merasa iba, Moli tetap memilih untuk bersikap seolah tak tahu apa-apa. Urusan hati memang selalu sulit untuk diungkapkan.
Namun, kini Beichen sudah menjadi miliknya, ia tak akan membiarkan siapa pun merebutnya.
Moli memang selalu tampak seolah tak peduli pada apa pun, tapi jika sudah menyangkut Beichen, ia sama sekali tak mau mengalah.
“Selanjutnya giliran pertandingan Kakak Chu Ye, semoga berhasil, Kakak Chu Ye!” ujar Moli sopan, namun Chu Ye hanya tersenyum.
“Terima kasih atas dukungannya, Adik Moli!”
Tak lama kemudian, pertandingan di atas panggung berakhir dan kini giliran Chu Ye tampil. Moli belum pernah benar-benar menyaksikan Chu Ye bertarung, tapi kabarnya kekuatannya setara dengan Beichen. Agaknya, pertandingan di arena ini bukanlah hal sulit baginya.
Melihat Moli serius memperhatikan pertarungan, Beichen merasa kurang senang.
Apa menariknya orang itu? Lebih baik melihatku saja! Tentu saja, kata-kata itu hanya berani ia simpan dalam hati.
Moli menganalisis bentuk pertarungan di atas panggung dengan saksama, sementara di telinganya terdengar teriakan nyaring dari You Ruo dan Xiangcao, bahkan juga para murid perempuan dari akademi lain. Suara teriakan mereka menggema, membuat semua orang tercengang.
“Kakak Chu Ye! Kakak Chu Ye!”
“Wah! Kakak Chu Ye tampan sekali!”
“Bisa bertarung melawan Kakak Chu Ye, sungguh beruntung!”
Para murid di bawah panggung tampak sangat antusias. Moli pun tak menyangka Chu Ye begitu populer di dalam akademi.
Di atas panggung, Chu Ye mengenakan pakaian biru muda, berwajah tampan dan berwibawa, berdiri di satu sisi dengan aura yang seolah tak tersentuh oleh dunia fana, benar-benar seperti seorang dewa.
Sementara itu, lawan yang berdiri di hadapan Chu Ye tampak begitu gugup, lalu wajahnya seketika memucat. Melawan Chu Ye, bukankah itu sama saja dengan menerima kekalahan? Ekspresi murid itu tampak putus asa.
“Kakak Chu Ye, mohon bimbingannya!”
Walau tahu akan kalah, ia tetap berusaha keras. Setelah berkata demikian, ia pun menyerang Chu Ye terlebih dahulu.
Pertarungan di atas panggung hanya berlangsung setengah batang dupa, dan Chu Ye pun keluar sebagai pemenang. Semua murid tampak sudah menduga hasil itu.
Jika Beichen adalah murid terbaik Akademi Shengde tahun ini, maka Chu Ye adalah murid terhebat Akademi Selatan, baik dari segi penampilan maupun kekuatan, keduanya seimbang.
Melihat kemenangan Chu Ye, para murid kembali bersorak riuh!
Moli mengangkat alis melihat pemandangan itu. Ia teringat saat di Akademi Shengde, setiap kali Beichen bertanding, para murid juga menjerit histeris seperti ini, membuatnya tanpa sadar tersenyum.
“Apa yang sedang dipikirkan sampai tersenyum begitu, Lili?” tanya Beichen pelan, mendekatkan diri ke telinga Moli sambil mengelus Lizi yang tidur pulas di pangkuannya.
“Aku teringat bagaimana para murid di Shengde juga terlihat begitu bersemangat saat melihatmu bertanding, lucu sekali,” jawab Moli dengan wajah serius.
“Lalu, apakah Lili pernah berteriak untukku?” goda Beichen.
“Tidak! Itu terlalu bodoh!”
“Hehe!” Melihat wajah serius Moli seolah benar-benar memikirkannya, Beichen merasa sangat senang, lalu dengan lembut mengelus bulu Lizi.
Sejak kedua makhluk kecil itu pernah ditangkap, mereka selalu tinggal di dekat Moli dan Beichen.
Terlebih, sinar matahari hari ini begitu hangat, dan belaian Beichen sangat nyaman, membuat Lizi tertidur di pangkuan Beichen.
Sementara Huohuo tetap diam di sela-sela rambut Moli, selalu waspada terhadap keadaan di alun-alun, siap melapor pada Moli jika ada hal mencurigakan.
Pertandingan di atas panggung terus berlangsung, begitu pun semangat para penonton di bawah.
“Kelompok berikut, nomor tiga puluh lima!”
Suara wasit terdengar, dan kakak beradik keluarga Fang yang duduk di kursi penonton saling bertukar tatap. Fang Zhi tersenyum dingin, lalu mengangguk pada seorang murid dari akademi, mengira tak ada yang memperhatikan. Ia tak tahu, semua gerak-geriknya telah dilihat oleh Huohuo yang langsung melaporkannya pada Moli.
“Nanti kau hati-hati, Huohuo bilang orang yang dulu menculik mereka mungkin masih dendam padamu, dan mungkin akan menjebakmu saat pertandingan nanti,” bisik Moli pelan di telinga Beichen.
Beichen menoleh ke arah Fang Zhi, dan saat beradu pandang, Fang Zhi malah tersenyum penuh kemenangan padanya.
Beichen mengabaikannya, lalu berpaling dengan dingin.
Di atas panggung, lawan Beichen adalah pria bertubuh kurus, berwajah licik dengan sepasang mata kecil penuh perhitungan, jelas bukan orang baik.
Keduanya saling memberi hormat sesuai aturan, lalu segera mengeluarkan senjata spiritual masing-masing.
Senjata pria kurus itu adalah cambuk lentur berwarna hitam pekat, penuh jarum halus di sepanjang permukaannya.
Melihat cambuk itu, hati Moli langsung tak enak. Senjata pria itu mengingatkannya pada senjata spiritual milik Tian Yun dahulu, keduanya sama-sama cambuk yang membuat siapa pun merasa tak suka.
Beichen menatap pria itu dengan ekspresi datar, lalu mengeluarkan senjata spiritualnya—Hunyin. Ia melafalkan mantra, dan seketika langit dipenuhi awan gelap, petir ungu bergulung-gulung di antara awan.
Baru saja dimulai, sudah langsung sekuat itu?
Pria kurus di seberang pun matanya berkedip-kedip, firasat buruk menyelimutinya.
Benar saja, dalam sekejap, di bawah kendali Beichen, seberkas petir ungu menyambar lurus ke arahnya. Tidak jelas apakah Beichen sengaja meleset atau pria itu yang terlalu cepat menghindar, namun petir itu menyambar arena tak jauh darinya. Aliran listrik menjalar di lantai, seperti ular-ular ungu yang berkeliaran.
Beichen berdiri tenang di satu titik, tak bergerak sedikit pun, menatap lawan yang terus menghindar dengan dingin. Petir itu pun tak pernah benar-benar menyambarnya, seolah Beichen hanya sedang mempermainkannya.
Para penonton di bawah panggung pun tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan itu. Moli pun tak kuasa menahan tawa melihat Beichen mempermainkan lawannya.
Sementara Fang Zhi di bawah panggung menggertakkan giginya kesal, memaki-maki pria kurus di atas yang menurutnya tak berguna.
Pria kurus di atas panggung pun sadar dirinya sedang dipermainkan. Wajahnya merah padam karena marah, lalu nekat menerobos petir dan melancarkan serangan ke arah Beichen.
Namun, petir ungu itu justru menyambar cambuk hitam miliknya, dan aliran listrik mengalir melalui cambuk langsung ke tubuhnya. Dalam hitungan detik, orang-orang hanya melihat pria kurus itu seperti disambar petir, kulitnya menghitam, rambutnya berdiri, dan ia terpaku di tempat.
Beichen mengirimkan gelombang kekuatan spiritual, membuat lawannya langsung terlempar keluar arena.
“Brak~”
“Akademi Shengde, Beichen menang!”
Dengan pengumuman wasit, Beichen turun dengan anggun dari arena.
Murid-murid Akademi Shengde di bawah panggung pun bersorak gembira!