Bab 67: Pertandingan Peringkat (1)
“Lili, kenapa kamu menggunakan api asing?” Begitu Moli baru saja duduk, suara Bei Chen langsung terdengar di telinganya.
Begitu kabar tentang api asing tersebar, Moli pasti akan terjerat dalam perebutan yang tiada akhir.
“Tidak apa-apa, Huohuo bilang belakangan ini ia telah membentuk Mutiara Roh Api. Di dalam mutiara itu terkandung unsur api yang sangat kental, jadi nanti kalau aku menggunakan api asing, aku punya alasan untuk menutupi identitas asliku,” jawab Moli pelan.
Di mata orang lain, mereka hanya melihat Moli dan Bei Chen saling bertukar pandang penuh makna, tanpa tahu apa yang sedang mereka diskusikan diam-diam.
Mendengar jawaban Moli, kerutan di dahi Bei Chen pun sedikit mengendur.
“Malam ini, Penatua Agung dan Penatua Chang Feng pasti akan memanggilmu bicara.”
“Tak masalah,” sahut Moli ringan.
Di atas arena, hanya tersisa dua pasang lawan yang belum bertanding—salah satunya adalah Chu Ye. Melihat sosok di atas panggung dengan pakaian sederhana, seanggun pinus di tepi tebing, Moli pun merasa penasaran. Jika Chu Ye bertemu Bei Chen, siapakah yang akan menang?
Selama beberapa hari ini, Moli sudah mendengar banyak kabar tentang Chu Ye.
Ia adalah putra mahkota dari Kerajaan Zixiao, kedudukannya mulia, juga merupakan bakat langka dalam seni bela diri. Ia berguru pada Penatua Agung Akademi Angin Selatan, menguasai unsur angin dan air, serta seorang ahli serangan suara. Tak heran ia menjadi tokoh terkemuka di Akademi Angin Selatan.
Dalam pujian mereka: “Laksana batu giok di padang asing, tiada duanya di dunia!” Para murid Akademi Angin Selatan sangat mengagumi Chu Ye.
Mungkin saja rumor itu tidak sepenuhnya salah.
Di atas panggung, Chu Ye tidak mengeluarkan senjata spiritualnya. Ia justru melepas seruling zamrud yang tergantung di pinggang, lalu meniupnya perlahan.
Suara seruling mengalun merdu, membawa suasana riang, ringan, dan penuh kebebasan. Rasanya seperti berada di tengah musim semi, bunga bermekaran, air mengalir jernih, angin semilir lembut, udara segar, dan warna-warni di sekeliling mata.
Membuat semua orang lupa bahwa mereka sedang berada di arena duel, lupa bahwa yang sedang berlangsung adalah pertarungan yang sengit.
Lupa keramaian dan hiruk pikuk di sekitar.
Lupa urgensi pertandingan, hanya tenggelam dalam keindahan ilusi sekejap itu.
“Apa ini...” Ilusi.
Moli terkejut. Tak disangka, serangan suara Chu Ye begitu kuat, mampu menciptakan ilusi lewat nada.
Meliha sekeliling, selain segelintir orang yang punya kekuatan lebih tinggi, hampir semua penonton terhanyut dalam suara seruling itu. Jika saja Moli tidak pernah belajar serangan suara, mungkin ia pun akan terjebak seperti yang lain.
Memandang kembali ke arena, lawan Chu Ye kini benar-benar terbuai suara seruling itu, lupa bahwa mereka seharusnya bertarung, justru tampak menikmati alunan nada.
“Kau tidak apa-apa?”
Moli menoleh dan melihat Bei Chen yang tetap segar bugar, sama sekali tak terpengaruh oleh suara seruling.
“Hanya kemampuan segitu, belum cukup untuk menjeratku,” jawab Bei Chen tenang.
Tentu saja Bei Chen tidak akan mengakui, bahwa saat suara seruling itu mulai, ia memang sempat terhanyut sekejap. Namun bukan karena nada seruling, melainkan karena dalam ilusinya, ia melihat Moli.
Tentu hal seperti ini tidak akan pernah ia katakan pada Moli.
Mendengar jawaban Bei Chen, Moli paham. Bagaimana pun kekuatan mereka berimbang, mustahil Bei Chen bisa dengan mudah diperdaya.
Moli dengan serius merasakan kekuatan serangan suara yang mengalir di seluruh ruang, sambil terus memikirkan kekurangan teknik serangan suara miliknya sendiri, berharap bisa mendapat pencerahan baru.
“Andaikan aku bisa berlatih tanding dengan dia, pasti menyenangkan!” keluh Moli pelan. Serangan suara Chu Ye jauh lebih kuat darinya, jika bisa bertanding, mungkin ia akan mendapat pemahaman baru.
Nada seruling terus berubah, hingga akhirnya satu suara tajam yang memekakkan telinga terdengar. Para penonton di bawah panggung pun tersadar, semuanya terkejut.
Apa yang baru saja terjadi?
Sementara itu, lawan Chu Ye sudah turun sendiri dari panggung, dan ketika sadar kembali, ia tampak sangat menyesal karena begitu mudah diperdaya.
Semua orang kagum pada kekuatan Chu Ye, kepercayaan mereka bahwa Chu Ye akan menjadi juara pun semakin besar.
“Untuk kelompok ini, pemenangnya adalah Chu Ye dari Akademi Angin Selatan!”
Sorak-sorai menggema dari para murid di bawah panggung. Sementara itu, Chu Ye berdiri di atas pentas dengan seruling zamrud di tangan, senyum tipis di bibirnya, membuat para gadis di bawah panggung jatuh hati hingga lupa waktu dan tempat.
Di bawah sorotan mata semua orang, ia melangkah turun dengan perlahan.
Pertandingan peringkat berlangsung sangat cepat. Hanya dalam setengah hari, sudah terpilih lima orang terbaik. Bi Chunmin juga tampil cukup baik, bahkan menempati posisi keenam.
Di luar perdebatan soal siapa yang akan menjadi juara, sosok yang paling menarik perhatian tentu saja Moli. Tak seorang pun menyangka Moli bisa menembus lima besar. Menurut mereka, seharusnya Moli sudah kalah di putaran pertama, nyaris mustahil lolos ke putaran kedua, apalagi ketiga...
Babak berikutnya adalah perebutan peringkat kelima, dan lawan Moli adalah salah satu murid lainnya.
Moli sudah memperhatikan pertandingan murid tersebut dan tahu bahwa ia menguasai unsur logam, serta memiliki monster logam—Macan Cahaya Suci.
“Adik Moli, keluarkanlah makhluk kontrakmu!”
Semua orang pun penasaran, makhluk kontrak seperti apa yang dimiliki Moli. Dalam begitu banyak pertandingan, hampir setiap murid memiliki makhluk kontrak, ada yang serigala, harimau, singa, bahkan ular—semuanya merupakan monster dengan kekuatan tempur tinggi.
Moli pun sadar, kali ini ia memang harus mengeluarkan Lizi.
“Lizi, kemarilah!”
Para penonton mendengar panggilan Moli, sekelebat bayangan putih melesat dari bawah panggung ke atas, lalu bertengger di bahu Moli.
Di bangku penonton, Fang Rou melihat rubah mungil di bahu Moli, matanya terpana. Ternyata rubah itu adalah miliknya.
“Hmph, kalau tahu itu milik perempuan itu, seharusnya dulu aku bunuh saja!” pikir Fang Rou. Ia masih dendam karena waktu itu Bei Chen melukainya demi membela rubah itu. Namun, yang sebenarnya ia benci adalah Moli, pemilik rubah itu.
Beberapa hari belakangan, Fang Rou tiap hari melihat Bei Chen dan Moli begitu akrab, hatinya sudah penuh kebencian. Kalau bukan karena sang ayah selalu melarangnya membuat masalah, mungkin sekarang juga ia sudah ingin merusak wajah perempuan itu.
Di atas panggung, Moli merasakan tatapan tajam, dan ketika melihat ke arah itu, ternyata Fang Rou. Moli mengerutkan alisnya.
Fang Rou tidak menghindar, malah menatap Moli dengan senyum penuh kemenangan.
Ayah Fang Rou sudah berjanji, malam ini ia dan Paman Tetua akan bertanya kepada Penatua Shengde soal hubungannya dengan Bei Chen. Tak lama lagi, Bei Chen pasti jadi miliknya.
“Hmph, Moli itu akhirnya hanya mainan saja. Aku ini putri Wali Kota, jelas lebih layak dinikahi daripada gadis desa yang tak punya apa-apa!” pikir Fang Rou lagi.
Beberapa hari ini, ia sudah menyelidiki asal-usul Moli. Ternyata Moli hanyalah gadis desa dari dusun kecil, sangat berbeda dengannya yang sejak lahir sudah menjadi putri kesayangan langit.
Rasa percaya diri yang berlebihan membuat Fang Rou kini memandang Moli dengan sombong. Meski sekarang Bei Chen membela Moli, nanti pasti akan meninggalkannya juga. Hahaha!
Fang Rou kini larut dalam khayalannya sendiri. Kadang terlihat kejam, kadang tertawa lirih, membuat orang-orang di sekitarnya diam-diam menjauh.
Sementara itu, Moli tidak mempedulikan apa yang dipikirkan Fang Rou. Yang harus ia hadapi sekarang adalah pertandingan di depan mata.
Melihat makhluk kontrak Moli hanyalah seekor kucing mungil berbulu belang, semua orang menggeleng, merasa hasil pertandingan sudah jelas.
“Kakak, silakan beri petunjuk!” seru Moli, lalu langsung menyerang. Murid di seberangnya pun mengangkat pedang untuk bertahan.
Di sisi lain, Macan Cahaya Suci dan rubah putih kecil saling berhadapan. Satu besar satu kecil, satu emas satu putih, benturan keduanya sangat kontras.
“Rubah putih kecil itu, mungkin tak cukup besar untuk mengisi celah gigi Macan Cahaya Suci!” celetuk seseorang dari bawah panggung, disambut gelak tawa penonton.