Babak 86 Epilog
Pesta Desa tidak seperti Desa Nelayan Bahagia; yang terakhir adalah konsep baru, didirikan di tempat terpencil, sehingga sebelum dibuka pun nyaris tak dikenal siapa-siapa. Sedangkan yang pertama, selain lokasinya yang sangat strategis, dulunya adalah Hiburan Ikan yang sudah lama digemari para pecinta kuliner. Maka, bahkan sebelum Pesta Desa resmi dibuka, sudah menjadi sorotan banyak orang.
Ketika akhirnya dibuka, antusiasme orang-orang sungguh luar biasa. Daya tariknya semakin bertambah karena keahlian memasak si Dua Bodoh yang memang tiada tanding, setiap hidangan yang dibuat selalu memuaskan. Singkat kata, Pesta Desa langsung melejit, sukses besar tak terkira.
Model usaha pesta rakyat seperti ini membangkitkan nostalgia bagi penduduk desa yang kini tinggal di kota, sementara bagi para pendatang dari luar negeri, pengalaman ini terasa sangat baru dan eksotis. Namun yang paling utama, sajian khas desa yang unik, lezat, serta puluhan meja yang dipenuhi tamu yang makan bersama secara serentak, menciptakan suasana hangat nan meriah—sesuatu yang tak akan ditemukan di restoran manapun.
Dalam waktu singkat, bisnis Pesta Desa bahkan melampaui kejayaan Hiburan Ikan sebelumnya. Di dunia maya, kalau tidak memesan setidaknya setengah bulan sebelumnya, jangan harap bisa mendapatkan meja. Terlebih lagi untuk acara ulang tahun, pernikahan, dan pesta-pesta lain, Pesta Desa menjadi tempat favorit yang tak tertandingi. Mana ada hotel atau restoran yang lebih cocok untuk jamuan seperti itu?
Pesta Desa benar-benar menjadi perhatian di dunia kuliner. Namun, sudah menjadi kebiasaan di negeri ini, bila ada satu bisnis atau metode yang sukses, para peniru pasti akan bermunculan. Tak butuh waktu lama, di seluruh penjuru negeri, berbagai 'Pesta Desa' bermunculan bak jamur di musim hujan, dan jumlahnya terus bertambah. Di Kota Pasir saja sudah ada puluhan tempat serupa, sebagian besar adalah restoran lama yang langsung beralih konsep.
Entah di tempat lain bagaimana, namun di Kota Pasir, Pesta Desa tetap tak ada tandingannya. Bisnis kuliner, apa pun triknya, pada akhirnya tetap bergantung pada kualitas hidangan. Siapa yang bisa menandingi keahlian Dua Bodoh yang sudah ditempa langsung oleh Ye Hua?
Pesta Desa saja sudah banyak ditiru, apalagi Desa Nelayan Yanyun, lebih banyak lagi yang meniru dan mencoba peruntungan dengan memakai berbagai nama. Tapi maaf saja, kalau Pesta Desa masih bisa diikuti selama kualitas masakan tak terpaut jauh, Desa Nelayan Yanyun benar-benar tak bisa ditiru. Ye Hua punya 'alat bantu super', wajar saja bisnisnya selalu lancar. Para peniru, adakah kalian punya alat seperti itu? Tidak? Maaf, silakan relakan diri kalian gagal di tengah jalan.
Faktanya, beberapa bulan kemudian, hampir sembilan puluh persen para peniru sadar bahwa mereka salah langkah. Bisnis ini memang bukan sesuatu yang mudah untuk diikuti. Tapi sudah terlambat, uang sudah terbuang, dan mereka harus menerima kenyataan pahit kehilangan modal.
Waktu berlalu, tibalah bulan pertama di tahun yang baru.
Desa Nelayan Bahagia sudah beroperasi cukup lama, menghasilkan banyak keuntungan hingga saldo di rekening sudah lebih dari sepuluh juta. Atas usulan Ye Hua, para pemegang saham membagikan dividen. Siapa dapat berapa tidaklah penting. Yang menarik, hari itu juga Wu Gangmeng langsung pergi ke toko mobil mewah, membayar tunai sebuah S600, dan membawanya pulang ke kampung. Begitu kembali ke kota kecilnya, ke desa asalnya, hidungnya pun kian terangkat, gayanya luar biasa.
Hampir seketika juga, para mak comblang di Kota Fengming berdatangan seperti lalat mencium bau telur busuk, berlomba-lomba menawarkan calon pasangan terbaik, nyaris membuat ambang pintu rumahnya rusak karena terlalu sering diketuk. Tapi Wu Gangmeng yang kini kecipratan keberuntungan dari Ye Hua, sudah berubah selera dan pandangan, tak lagi tertarik dengan pilihan para mak comblang. Dia ingin mencari sendiri. Sepulang ke ibu kota provinsi, ia sering parkir di depan kampus-kampus, membuka kaca jendela, menunggu gadis-gadis mendekat.
Apakah benar ada gadis yang datang, berapa banyak, dan apa yang terjadi setelah itu, hanya dia yang tahu. Sementara Ye Hua sendiri juga membeli mobil, sebuah Great Wall H9. Baginya, apapun kualitas atau konsumsi bahan bakar mobil itu, yang terpenting adalah menggunakan produk dalam negeri. Mau itu mobil lokal, hasil kerja sama, atau impor, dia tak akan mempertimbangkan yang lain.
Selain itu, Ye Hua juga membeli sebuah jetski. Kini, bila ingin diam-diam menyiram air ke danau di tengah malam, jauh lebih efisien. Di waktu senggang, ia membawa putranya Ximi berkeliling di danau, merasakan deburan ombak dan kabut air menyapu wajah, sungguh pengalaman yang menyenangkan. Setiap kali, Ximi memeluknya erat sambil berteriak kegirangan.
Tak lupa, si Tak Bisa Diandalkan akhirnya benar-benar masuk stasiun TV Mangga. Setelah ditempa oleh Ye Hua dengan berbagai metode unik, selama lebih dari dua bulan, akhirnya dia pun berhasil menjadi koki andal. Meskipun belum bisa menandingi Ye Hua, tapi dibanding para chef hotel berbintang, kemampuannya jauh lebih unggul.
Demi program kuliner di stasiun TV Mangga, Ye Hua bahkan secara khusus mengajarkan beberapa resep andalan. Masakannya sungguh luar biasa! Keterampilan memotong bahan makanannya juga sangat mengagumkan, setiap hari memotong bahan sebanyak satu truk! Berkat kehadirannya, acara kuliner TV Mangga langsung melejit, mengalahkan program serupa di stasiun lain, dengan rating yang terus menanjak dan menjadi nomor satu di jam tayang yang sama.
Si Tak Bisa Diandalkan membawa kesuksesan bagi program TV Mangga, dan sebaliknya, TV Mangga juga membuatnya terkenal. Mimpinya menjadi selebriti benar-benar terwujud; ke mana pun dia pergi, para penggemar mengejar, kilatan kamera selalu menyertainya.
Kakek dan nenek Ye Hua, melihat anaknya akhirnya berhasil, tersenyum lebar hingga kerutan di wajah pun seolah menghilang. Mereka sangat tahu, semua itu berkat peran besar sang keponakan. Kisah "keponakan menghajar paman" ini, jika suatu hari tersebar luas, pasti akan menjadi kisah yang dibicarakan orang.
Mantan istri Ye Hua, Li Xueling, berkali-kali menelepon, tapi Ye Hua selalu menolak mengangkatnya. Melihat keberhasilan Ye Hua, membayangkan masa depan yang lebih cemerlang, Li Xueling dan keluarganya menyesal setengah mati. Mereka ingin kembali menjalin hubungan, melanjutkan kisah lama, tapi Ye Hua hanya menanggapinya dengan senyuman sinis.
Li Xueling bahkan nekat datang ke Desa Yanyun, namun Ye Hua hanya melepas anjing-anjing besar, Awan dan Salju, hingga perempuan itu lari tunggang langgang dengan ketakutan.
Setahun berlalu, Desa Nelayan Yanyun sudah berkembang menjadi belasan cabang, tersebar di Hunan, Hubei, Guangdong, Guangxi, dan Jiangxi, semuanya selalu ramai. Kerajaan bisnis kuliner Ye Hua mulai terbentuk.
Dengan manajemen penuh dedikasi dari Yu Yanni, kerajaan itu berjalan lancar, tumbuh stabil dengan penambahan empat sampai lima cabang setiap bulan, dan terus berekspansi ke seluruh negeri. Persediaan ikan tak lagi menjadi masalah, karena Danau Yanyun sudah mulai menghasilkan ikan dalam jumlah besar, apalagi dengan adanya Dongting sebagai gudang ikan raksasa, serta bantuan 'alat curang', ikan seakan tak pernah habis.
Industri makanan matang pun berkembang pesat. Desa Yanyun, berkat adanya Desa Nelayan Bahagia dan bisnis makanan matang, kini sudah terkenal di seluruh negeri. Setiap hari ribuan wisatawan dari berbagai penjuru datang berkunjung, bahkan tim produksi sinetron pun memilih tempat ini untuk syuting.
Seperti yang pernah dibayangkan Ye Hua, para penduduk desa kini bisa berpenghasilan besar tanpa perlu merantau, atau jika mau keluar desa, bisa mendapat lebih banyak lagi.
Mentari merah condong di ufuk barat, sinarnya membasuh bumi. Kala senja, burung kembali ke sarang, dan di dermaga Desa Yanyun, ratusan perahu nelayan kembali bersamaan—pemandangan yang sangat mengesankan.
Di tanggul danau, Ye Hua menggandeng tangan putranya, Ximi, berjalan santai. Bayangan ayah dan anak itu menyatu dan memanjang dalam cahaya senja, semakin lama semakin panjang...