Bagaimana bisa kau memakan kudapan yang sudah kusentuh?
Jiang Zhaotang menyantap bubur beras dengan terburu-buru, membasuh tangannya lalu mengelapnya dengan kain. Setelah itu, ia mengantongi segenggam camilan dan menaiki kereta kuda untuk menjemput Xiao Yanli.
Aturan di istana sangat ketat, ditambah lagi dengan keberuntungan Xiao Yanli yang entah bagaimana bisa menjadi pengajar bagi tiga pangeran, membuat aturannya kian berlipat ganda. Jiang Zhaotang menepuk-nepuk kantongnya yang menggembung berisi camilan; ia tak akan membiarkan siapa pun kelaparan, apalagi mulutnya sendiri.
Begitu tiba di kediaman keluarga Xiao, Jiang Zhaotang menyingkap tirai. Saat wajahnya yang putih bersih hendak menjulur keluar, ia mendengar suara omelan seorang wanita dari gerbang depan. Suara itu terasa sangat familier.
"Xiao Yanli, nyalimu sekarang sudah besar sekali, ya! Berani-beraninya kau tidak pulang semalaman!"
Alis Jiang Zhaotang terangkat. Ia segera melepas tirai dan duduk kembali. Sambil mengupas jeruk, ia memasang telinga untuk menguping.
Sembari menyuapkan potongan jeruk yang manis dan sedikit asam ke mulutnya, ia mendengarkan Nyonya Xiao memarahi Xiao Yanli. Rasa kesal karena harus bangun pagi tadi pun lenyap seketika.
Benar saja, burung yang bangun lebih pagi akan mendapatkan tontonan yang menarik.
Semakin lama didengar, suara Nyonya Xiao kian merendah. Jiang Zhaotang menegakkan tubuh, menempelkan dirinya pada dinding bagian dalam kereta kuda, dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Srek." Tirai tiba-tiba tersingkap. Dua pasang mata dengan ekspresi berbeda saling beradu pandang.
Satu merasa bersalah, yang lain tampak dingin.
Xiao Yanli meliriknya sekilas, lalu matanya tertuju pada tumpukan kulit jeruk di atas meja kecil. Ia mengulurkan tangan mengambil sepotong, lalu menatapnya, "Bagaimana? Kau datang ke sini tanpa sarapan?"
Jiang Zhaotang menjilat sisa sari jeruk di bibirnya. Ia menunduk, tidak berani menatap lawan bicaranya, lalu bergumam, "Ah, iya. Aku takut terlambat untuk jadwalmu masuk ke istana, jadi tidak sempat sarapan."
Ia mengira alasan klise ini akan segera dibongkar oleh pria itu, dan mungkin ia akan dihujani sindiran tajam.
Namun di luar dugaan, tiba-tiba muncul bungkusan kertas minyak di hadapannya. Kertas berwarna kuning keemasan itu membungkus kue madu yang lembut, masih mengepulkan uap panas.
"Jangan makan yang seperti itu di pagi hari, tidak baik untuk lambung," ucapnya. Tangan dengan jemari ramping yang pucat pasi terulur ke arahnya.
Jiang Zhaotang memegang kue madu itu dan mengendus aromanya, lalu menatapnya dengan bingung, "Hm?"
"Jeruknya, berikan padaku," ujar Xiao Yanli singkat dan padat. Ia menunjuk kue madu yang masih ada bekas gigitannya, "Kau makan itu saja."
Jiang Zhaotang tidak mengerti, namun ia mengeluarkan dua buah jeruk yang tersisa dari kantongnya dan meletakkannya di telapak tangan pria itu.
Telapak tangannya terasa geli saat disentuh lembut oleh jemari Xiao Yanli. Tatapan pria itu sedikit bergetar. Ia meletakkan jeruk-jeruk itu di meja dan memejamkan mata untuk beristirahat.
Kereta kuda melaju dengan derit roda yang berirama. Tirai bergoyang pelan, sesekali membiarkan cahaya matahari menyelinap masuk dan jatuh di wajah pria yang sedang memejamkan mata itu. Cahaya yang mengganggu membuat alisnya sedikit berkerut, tampak seperti seseorang yang tidurnya terganggu.
Jiang Zhaotang menggigit kue madu yang manis itu, lalu dengan tenang bergeser untuk menghalangi cahaya dari tirai.
Di dalam kereta kembali meredup, hanya menyisakan suara gesekan kertas minyak dan deru napas yang pelan.
***
Ukuran kue madu itu cukup besar, dan Jiang Zhaotang sebenarnya sudah sarapan tadi, sehingga ia merasa kenyang setelah memakan setengahnya. Ia menatap sisa kue itu dengan sayang, bingung harus diapakan.
Saat itu, kereta kuda terguncang. Xiao Yanli, yang tadi beristirahat dengan menopang dagu, perlahan membuka mata dan tepat melihat gadis kecil itu sedang memegang separuh kue dengan alis berkerut penuh penyesalan.
Di wajahnya masih menempel remah kue, membuatnya terlihat seperti anak kucing yang dikirim oleh Jiang Shubai.
"Sudah kenyang?" Xiao Yanli menggerakkan bahunya yang pegal, suaranya terdengar sedikit serak.
Jiang Zhaotang bergumam dan mengangguk.
"Kalau tidak sanggup menghabiskannya, berikan padaku," kata Xiao Yanli.
Jiang Zhaotang mengira pria itu ingin membuang kue tersebut, maka dengan berat hati ia menyodorkannya.
Tanpa diduga, Xiao Yanli menerimanya dan langsung menggigit bagian yang tadi sudah digigit oleh gadis itu.
"!" Jiang Zhaotang terbelalak.
Ia mengira dirinya berhalusinasi karena kurang tidur semalam. Bagaimana mungkin Xiao Yanli yang memiliki sejuta kebiasaan aneh—bahkan tidak membiarkan orang lain menyentuh pakaiannya—kini memakan kue yang sudah ia santap?
Jiang Zhaotang mengucek matanya, lalu membukanya kembali dengan rasa tidak percaya.
Namun, orang di depannya tampak tenang dan santai. Jemarinya yang ramping memegang kue madu itu, gerakannya elegan, namun makannya tidak lambat. Dalam dua tiga kali gigitan, kue itu ludes.
Jiang Zhaotang menyaksikan pria itu menghabiskan kue bekas makanannya sampai tak bersisa.
"Kau—" Alis Jiang Zhaotang bertaut rapat. Setelah ragu sejenak, ia bertanya dengan nada khawatir, "Apakah otakmu juga ikut rusak karena demam?"
Xiao Yanli menunduk, meremas kertas minyak menjadi gumpalan dan membuangnya ke keranjang bambu di samping. Ia mengangkat kelopak matanya dan menatap gadis itu, "Juga?"
Jiang Zhaotang segera menutup mulut, takut pria itu akan membahas kembali soal rebusan jahe. Ia berbisik dengan nada canggung, "Kue itu sudah kumakan, untuk apa kau memakannya?"
Itu membuatnya merasa malu.
Selama beberapa tahun di perbatasan, Xiao Yanli pernah merasa sangat lapar hingga akar rumput pun ia gali dan bagi dengan orang lain. Kue madu sekecil ini tentu bukan apa-apa baginya.
Meskipun biasanya ia memiliki banyak aturan dan tidak mengizinkan orang lain menyentuh barang-barangnya, ia sangat menghargai makanan.
Lagipula—
Semalam ia telah menjadi "pencuri" sepanjang malam, diikuti oleh orang-orang bodoh dari keluarga Xie hingga fajar menyingsing sebelum akhirnya berhasil meloloskan diri kembali ke kediaman.
"Bukankah kau sudah mendengar semuanya?" ujar Xiao Yanli datar. "Tadi pagi, baru saja kaki kiriku menginjak ambang pintu rumah, kaki kananku bahkan belum sempat masuk, aku sudah diusir keluar oleh Ibu."
"Apa tidak boleh aku memakan sepotong kue madumu karena lapar?"
Mendengar pria itu blak-blakan, Jiang Zhaotang terbatuk karena merasa bersalah, "Boleh, boleh, tentu saja boleh. Kue yang kau beli, terserah kau saja."
"Tapi, semalam kau pergi ke mana? Pergi ke rumah bordil?" Jiang Zhaotang mengalihkan topik.
Selain hal semacam itu, ia tidak bisa memikirkan alasan lain mengapa seorang pria tidak pulang semalaman.
Xiao Yanli menatapnya dengan pandangan yang dalam, lalu tiba-tiba tertawa kecil. Tawanya terasa dingin, membuat Jiang Zhaotang merasa tidak nyaman.
"Pengetahuanmu luas juga, ya."
Mendengar nada bicara yang tajam seperti biasanya, Jiang Zhaotang justru merasa tenang. Ia mendongak dan memelototinya, "Kenapa? Aku benar?"
"Kalian para pria memang sama saja, tidak ada yang benar," gumam Jiang Zhaotang pelan.
Ia bahkan tidak tahu apakah dengan temperamen seperti itu, jika Xiao Yanli pergi ke rumah bordil, ia akan meminta para pelacur untuk berpuasa tiga hari, mandi kembang, dan membakar dupa sebelum bisa melayaninya.
Kuda yang menarik kereta tiba-tiba meringkik panjang. Kereta berguncang dua kali lalu berhenti.
Jiang Zhaotang hendak menyingkap tirai untuk bertanya, namun Xiao Yanli lebih cepat darinya, "Ada apa?"
Kusir kereta adalah pelayan keluarga Xiao. Melihat beberapa orang pelayan yang tiba-tiba muncul di depan, ia menyeka keringat di dahinya, "Lapor Tuan Muda Kedua, orang-orang dari keluarga Xie sedang menuju kantor pemerintahan untuk melapor. Mereka hampir menabrak kereta kita."
Setelah berkata demikian, kusir itu mengerutkan kening dan menatap tajam ke arah para pelayan yang terburu-buru tadi, lalu mengeluh pelan.
Berlari secepat itu di jalanan, seolah dikejar hantu.
Saat mendengar kata "keluarga Xie melapor", mata Jiang Zhaotang melebar. Ia menyingkap sedikit sudut tirai untuk melihat ke luar.
Xiao Yanli meliriknya, lalu menariknya kembali agar duduk dengan benar, "Apa yang kau lihat? Apakah tontonan keluarga calon suamimu begitu menarik?"
Mendengar kata "calon suami", Jiang Zhaotang merasa mual. Ia menatap Xiao Yanli dengan kesal, "Jangan gunakan kata itu untuk membuatku jijik. Aku hanya ingin melihat apa yang mereka lakukan di kantor pemerintahan."
Tusukannya pada Xie Yi kemarin cukup dalam. Sepanjang hari kemarin tidak ada orang dari keluarga Xie yang datang. Siapa tahu mereka sedang merencanakan sesuatu dan hari ini melapor untuk menangkapnya.
Xiao Yanli melihat gadis yang duduk gelisah dan terus-menerus ingin mengintip ke luar jendela itu. Ia berkata dengan nada tenang, seolah sedang membicarakan menu makan malam semalam, "Semalam kaki Xie Yi dipatahkan orang. Keluarga Xie melapor ke pihak berwenang kemungkinan besar karena masalah itu."