Bab 124: Menerima Murid
Berkat tuntunan Xiaoyue, mereka bertiga akhirnya berhasil keluar dari gua lava dan kembali ke kawah gunung berapi tempat mereka memulai perjalanan.
Kawah itu kini tampak berbeda dari saat mereka baru turun. Lava sudah merembes keluar dari celah-celah lubang lainnya, membentuk genangan di sudut-sudut kawah. Kecepatannya sungguh luar biasa!
Mo Li segera mengeluarkan pedang Jiu Jue dan terbang mengikuti di belakang Beichen menuju bibir kawah. Saat itu, asap hitam pekat terus mengepul, disusul abu vulkanik yang membubung tinggi ke angkasa; dari kejauhan, pemandangan itu tampak seperti naga raksasa yang sedang melesat ke langit.
Mo Li dan kedua rekannya menembus kepulan asap hitam itu dengan mata yang sedikit menyipit, melesat cepat menuju jalan keluar. Lava yang naik dengan sangat cepat membuat Mo Li bisa merasakan hawa panas yang membakar di bawah kakinya. Jika mereka kurang waspada dan terjatuh, tidak akan ada jejak yang tersisa dari tubuh mereka.
Setelah menempuh jarak ratusan meter, ketiganya akhirnya berhasil keluar dari kawah.
"Cepat pergi!"
Gunung berapi itu akan segera meletus, dan berada di sekitar kawah sangatlah berbahaya. Mo Li memberi perintah dengan tegas dan terbang memimpin ke satu arah, diikuti rapat oleh Beichen yang masih menggendong pria bertubuh besar itu. Mereka bertiga tidak berhenti sejenak pun, terus memacu diri menuju pinggiran hutan.
Dari udara, Mo Li dan Beichen bisa melihat jelas kawanan siluman di bawah sana yang sedang panik dan berlarian ke segala arah. Bahkan siluman yang sesekali melintas di dekat mereka pun tidak memedulikan ketiganya; menyelamatkan nyawa adalah prioritas utama.
Tepat setelah Mo Li dan Beichen menjauh, lava yang menyembur dari kawah menerangi seluruh langit. Lava merah membara itu melesat ke angkasa, menyerupai kembang api yang meledak di udara dan terpencar ke segala penjuru. Namun, daya hancurnya jauh berkali-kali lipat lebih dahsyat daripada kembang api.
Setelah menempuh perjalanan jauh dan benar-benar meninggalkan kawasan gunung berapi, rombongan itu pun berhenti. Mo Li berdiri di tanah dengan napas terengah-engah; melihat lava tidak menjangkau tempat itu, ia akhirnya bisa menghela napas lega. Beichen langsung melemparkan Zhang Lin ke samping. Membawa pria itu selama pelarian benar-benar sebuah beban.
Mo Li tahu racun dalam tubuh Zhang Lin belum sepenuhnya hilang. Ia segera mencari tempat untuk beristirahat sekaligus menawar racun 'Mabuk Samar' yang diderita Zhang Lin. Saat Zhang Lin terbangun, bulan sudah menggantung tinggi di dahan pohon.
Mo Li telah menghabiskan banyak tenaga untuk meracik obat penawar bagi Zhang Lin. Kini, ia tertidur lelap dalam dekapan Beichen. Beichen mendekap Mo Li sambil bersandar di bawah pohon besar untuk memulihkan diri, ia sama sekali tidak peduli saat Zhang Lin terbangun.
Zhang Lin memperhatikan sekelilingnya, namun ia tidak terkejut mendapati dirinya berada di tempat itu. Ia sadar telah terkena racun di dalam gunung berapi, meski saat itu ia mengira Mo Li dan Beichen juga ikut teracuni. Ia mengira dirinya akan mati di sana, namun tidak disangka, Mo Li sekali lagi menyelamatkan nyawanya. Rasa terima kasih Zhang Lin kepada Mo Li dan Beichen tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata.
...
Mo Li dan Beichen meninggalkan Hutan Yangze dan melanjutkan perjalanan menuju Sekte Wuliang. Namun, sebelum mencapai sekte tersebut, mereka harus mengatur masa depan Zhang Lin terlebih dahulu; tentu ada alasan mengapa mereka menyelamatkannya.
Kota Yangming adalah kota yang harus dilewati untuk menuju Sekte Wuliang. Karena lokasinya yang terpencil dan sepi, kota ini biasanya hanya disinggahi oleh para praktisi yang sedang melintas. Mo Li telah berkomunikasi dengan An Xian bahwa dalam beberapa hari ke depan, An Xian akan menunggu mereka di sini.
Di Restoran Fulai, lantai dua hanya diisi oleh segelintir pengunjung. Mo Li duduk di dekat jendela, memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di bawah. Satu tangannya menopang dagu, sementara jemari tangan lainnya mengetuk meja dengan irama yang terdengar ritmis. Beichen duduk di sampingnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, menuangkan secangkir teh panas untuk Mo Li, tanpa melirik Zhang Lin yang duduk di hadapannya.
"Nona Mo Li, katakan saja jika ada sesuatu. Sikapmu membuatku merasa canggung," ujar Zhang Lin sambil menyesap cangkir di depannya untuk menutupi kegugupannya.
"Kak Zhang, tenanglah. Nanti aku akan memperkenalkan seseorang padamu," jawab Mo Li dengan santai. Matanya berbinar saat melihat sepasang kakak-beradik masuk ke restoran.
"Mereka datang!"
Zhang Lin menoleh mengikuti arah pandang Mo Li dan melihat dua anak kecil menaiki tangga, berjalan menuju meja mereka.
"Tuan!"
Ini pertama kalinya Mo Li bertemu An Xian dan An Jing setelah meninggalkan Kota Nanfeng. Beberapa bulan berlalu, An Xian tampak tumbuh semakin tangguh; jubah abu-abu yang dikenakannya membuatnya terlihat lebih teguh. An Jing berdiri dengan tenang di samping An Xian, wajahnya kini tampak segar setelah racun di tubuhnya hilang. Melihat keduanya, senyum di wajah Mo Li sedikit mengembang.
Begitu mereka muncul, Beichen segera meminta pelayan mengganti meja ke ruang pribadi yang lebih besar, sekalian memasang segel pelindung untuk mencegah percakapan mereka terdengar dari luar. Melihat An Xian dan adiknya dalam kondisi baik, hati Mo Li merasa lebih tenang.
"An Xian, bagaimana dengan tugas yang kuberikan?"
"Menjawab Tuan, saya telah merekrut beberapa orang. Mereka semua yatim piatu, yang tertua baru berusia sepuluh tahun, dan yang termuda tiga tahun. Hanya saja, mereka tidak memiliki kitab latihan, sehingga belum bisa mulai berlatih." An Xian berdiri di samping, menjawab dengan hormat. Sikapnya sama sekali tidak mencerminkan anak belasan tahun.
"Baik, aku mengerti!"
Mo Li tahu sejak awal bahwa membangun sebuah organisasi rahasia tidaklah mudah. Biaya dan tenaga yang harus dikorbankan tidak terhitung jumlahnya. Namun, karena ia sudah memutuskan untuk melakukannya, ia harus melakukannya dengan sempurna.
"Kak Zhang!"
"Ya!" Zhang Lin yang tiba-tiba dipanggil tampak sedikit bingung.
"Kak Zhang, apakah masih ingat dengan 'Janji Sepuluh Tahun' di antara kita?"
"Ingat!" Zhang Lin mengangguk mantap.
"Baiklah. Kalau begitu, bagaimana menurutmu tentang An Xian? Apakah dia cukup pantas menjadi muridmu?"
"Murid?" Baik Zhang Lin maupun An Xian terkejut. Mengapa pembicaraan tiba-tiba beralih ke soal mengangkat murid?
"Benar, angkat dia sebagai muridmu."
"Tapi aku hanyalah seorang tentara bayaran, mana mungkin aku bisa mengajar murid! Tidak, tidak bisa," Zhang Lin menggeleng, menolak usul Mo Li.
"Tidak masalah. Justru karena kau adalah seorang tentara bayaran, aku memintamu menjadi guru An Xian. Pasti kau sudah menebak identitas An Xian tadi. Benar, aku ingin membangun organisasi untuk melawan sekte jahat, dan An Xian adalah orang yang kupilih untuk membangunnya. Namun, seperti yang kau lihat, An Xian masih terlalu kecil dan belum memahami banyak hal. Jadi, dia butuh seseorang untuk mendampinginya dan membantunya tumbuh. Orang itu tidak boleh berasal dari akademi atau tetua sekte biasa; dia harus seseorang yang pernah merasakan pahit getirnya hidup dan mati. Kebetulan, sekarang aku butuh bantuanmu."
Mo Li berbicara dengan sangat tulus tanpa menyembunyikan apa pun, memaparkan rencananya secara terbuka. Zhang Lin memandang An Xian. Anak itu berdiri di sana dengan tenang, tidak rendah diri namun tidak pula sombong, matanya memancarkan keteguhan. Ia memang bibit yang unggul.
"Sepertinya aku tidak punya pilihan selain setuju!" Zhang Lin menghela napas panjang. Belum lagi fakta bahwa Mo Li telah dua kali menyelamatkan nyawanya, ia adalah pria sejati yang tidak mungkin melupakan budi baik. Selain itu, keterbukaan Mo Li yang membagikan seluruh rahasianya merupakan bentuk kepercayaan yang tidak bisa ia abaikan. Kepercayaan itulah yang membuatnya luluh.
"Nona Mo Li, kau benar-benar menjebakku!" Zhang Lin tersenyum getir.
"Jadi Kak Zhang, apakah kau bersedia masuk ke dalam jebakan ini?" Mo Li terkekeh sambil menuangkan secangkir teh untuknya.
Zhang Lin meneguk tehnya dan berkata, "Baiklah, murid ini, aku terima!"
"Murid An Xian memberi hormat kepada Guru!"
"Murid An Jing memberi hormat kepada Guru!"
Melihat kakaknya berlutut, An Jing pun ikut serta. Suara polos mereka bergema di dalam ruangan. Zhang Lin terdiam sejenak, "Sudahlah, satu murid pun diterima, dua murid juga tidak masalah."
Mo Li tersenyum mendengarnya. Beichen, yang duduk di samping Mo Li, melihat binar kegembiraan di wajah istrinya dan sudut bibirnya pun ikut terangkat.