Bab 149 Tiba
"Kamu, kamu, kamu..."
Ye Fan membelalakkan matanya menatap Moli, melihat botol porselen di tangannya, rasanya sungguh mengerikan.
"Kenapa, kau mau coba?"
Moli berniat buruk ingin menakut-nakutinya. Ini adalah benda bagus hasil penelitiannya; hanya dengan meneteskan satu tetes saja, seketika segalanya akan meleleh menjadi genangan darah, bahkan tulangnya pun tidak akan tersisa.
"Tidak, tidak, tidak, tidak usah!"
Ye Fan buru-buru mundur. Melihat tangan iblis Moli terus mendekat kearahnya, ia merasa bulu kuduk di seluruh tubuhnya berdiri.
Tidak seru!
Moli mundur ke sisi Beichen dan melanjutkan perjalanan bersama pria itu.
Melihat Moli dan Beichen pergi, Ye Fan tidak kuasa menahan diri untuk terus mengikuti di belakang mereka.
"Hei, kalian sebenarnya mau ke mana?"
Moli melirik sekilas ke arah Ye Fan yang mengekor di samping, lalu tersenyum berkata, "Bukankah tadi kau bilang tidak mau pergi bersama kami?"
Ye Fan menggaruk kepalanya dan tersenyum kikuk dengan sedikit rasa malu.
"Sudahlah, lalu untuk apa ikut dengan kami!"
"Um, aku hanya merasa kalian sepertinya adalah orang dari Pulau Roh Donglai, jadi aku hanya ingin berteman dan berjalan bersama kalian."
Moli menghentikan langkahnya, menatap pemuda yang masih menyisakan kesan keanak-anakan itu, "Siapa bilang kami ini orang dari Pulau Roh Donglai?"
"Mana mungkin? Bukankah kalian tahu urusan-urusan di Pulau Roh Donglai? Lagi pula, kekuatan kalian begitu kuat, bagaimana mungkin bukan orang dari sana?"
"Bukannya, tapi kami mungkin akan pergi ke sana kelak."
Bagaimanapun juga, rumah Beichen masih berada di sana!
Mendengar perkataan Moli tersebut, Ye Fan pun tidak lagi ambil pusing. Lagipula, kekuatan kedua orang ini sangat hebat, mengikuti di sisi mereka tidak akan mendatangkan kerugian.
Moli dan Beichen telah berlatih di luar selama beberapa bulan ini, memang sudah saatnya tiba di Sekte Wuliang. Bagaimanapun, mereka harus menepati janji yang telah diberikan kepada sepasang suami istri berbaju putih itu.
Terlebih lagi, orang-orang di dalam Sekte Wuliang sepertinya juga sudah tahu bahwa warisan peninggalan mantan ketua Sekte Wuliang telah didapatkan oleh mereka. Buktinya, bahkan sebelum mereka tiba di Sekte Wuliang, sudah ada orang yang tidak ingin mereka datang ke sana.
"Tuan Muda Kedua" ini, mereka harus menemuinya baik-baik.
Hari ini telah mengirimkan hadiah sebesar ini kepada mereka, di kemudian hari pastinya harus membalas dengan hadiah yang jauh lebih besar lagi!
"Hei, kalian ini sebenarnya mau pergi ke mana?"
Ye Fan mengikuti di belakang mereka sambil terus berbicara tanpa henti, namun Moli dan Beichen sama sekali tidak mempedulikannya.
Ketiga orang itu berjalan ke arah timur selama lebih dari setengah bulan, dan pada hari ini akhirnya tiba di "Kota Shuangxi".
Kota Shuangxi terletak di dalam wilayah Negara Haisang, merupakan salah satu kota besar terkemuka di Negara Haisang. Meskipun tidak sekemakmur kota pusat Negara Haisang, dan tidak pula semegah kota tempat berdirinya Sekte Fanxin, tetapi karena ada banyak sekte tingkat menengah yang berkembang di sini, ditambah dengan sejarah panjang Sekte Wuliang, fondasi budaya di tempat ini tergolong sangat kuat.
Begitu Moli dan Beichen melangkah masuk ke dalam Kota Shuangxi, mereka langsung merasakan ada banyak orang di tempat gelap yang sedang mengawasi mereka.
Selain insiden percobaan pembunuhan di luar Kota Zisang, selama lebih dari setengah bulan ini, mereka sudah tidak tahu lagi berapa kali mengalami penyerangan dalam gelap.
Kekuatan dari setiap kelompok penyerang selalu lebih tangguh daripada kelompok sebelumnya, yang bahkan menyebabkan Moli berhasil menembus dua tingkat secara beruntun dalam penyerangan-penyerangan tersebut, dan kini ia sudah menjadi seorang Kultivator tingkat Biru bintang tiga.
Kekuatan seperti ini sudah menjadi jajaran teratas di Benua Shenzhou.
Kendati Moli tergolong santai dalam hal peningkatan kekuatan, kecepatan kenaikannya ini benar-benar membuat Ye Fan terkejut luar biasa.
"Kakak Moli, bakatmu ini benar-benar sangat menentang langit!"
Bahkan di Pulau Roh Donglai, tempat dengan energi spiritual yang begitu pekat dan berkumpulnya banyak jenius, dia sungguh belum pernah melihat satu orang pun yang kecepatan peningkatan kultivasinya lebih cepat darinya.
Dirinya sendiri, di kalangan generasi muda Pulau Roh Donglai, sudah dianggap sebagai sosok terpandang dan merupakan talenta langka di mata para sesepuh keluarganya, namun sekarang ia pun baru berada di tingkat Biru bintang satu.
"Kamu ini masih muda, beberapa tahun lagi, belum tentu kamu tidak lebih hebat dariku."
Moli sama sekali tidak merasa dirinya begitu menentang langit. Jika memang ada seorang jenius sejati, Beichen adalah eksistensi yang paling membuat orang merasa iri dan cemburu.
Kekuatan pria ini, sama sekali tidak bisa ditebak olehnya.
Moli menatap Beichen dengan mata penuh kejengkelan; jalan untuk bisa menyusul pria ini masih sangat panjang.
Sudut bibir Beichen terangkat membentuk sebuah senyuman. Ia menarik Moli ke dalam pelukannya dan berbisik lembut, "Lih sudah sangat hebat, aku hanya berlatih beberapa tahun lebih lama darimu."
Meskipun Beichen berkata demikian, Moli tetap menjadikannya sebagai teladan untuk terus maju.
"Huh! Suatu hari nanti, aku pasti akan menyusulmu." Moli bersumpah dalam hati, kelak ia harus berlatih dengan lebih giat lagi.
Ye Fan melihat kedua orang yang sedang bermanja-manja tidak jauh darinya, sudut bibirnya berkedut kecil. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali ia melihat kemesraan mereka berdua sepanjang perjalanan ini.
Pertama kali melihatnya, Ye Fan baru tahu bahwa ia tadinya mengira Beichen adalah seorang dewa abadi yang dingin dan tanpa emosi, namun tak disangka di hadapan Moli, pria itu justru begitu lembut hingga hampir meleleh.
Sedangkan Moli, saat pertama kali melihatnya, orang akan mengira dia adalah seorang peri yang tidak membumi, tetapi ketika bergelung dan manja di dalam pelukan Beichen, tingkahnya sungguh tak sanggup untuk dilihat.
Benar-benar tak sanggup dilihat!
Ye Fan sekarang hanya bisa bergaul bersama Lizi, Xiaoyue, dan yang lainnya!
Begitu Moli dan rombongannya memasuki Kota Shuangxi, orang-orang yang mengintai dalam gelap langsung mengirimkan berita kepada tuan masing-masing.
Sejak Xiao Han tiba di Akademi Sainte, barulah ia tahu bahwa dua orang yang ditemuinya di Kota Zisang adalah orang yang sedang dicarinya.
Mendengar berita kepergian mereka berdua, ia langsung memerintahkan orang untuk melukis potret wajah mereka guna melakukan pencarian, namun sepanjang perjalanan ini sama sekali tidak ada jejak kedua orang tersebut.
Sekalipun mendapatkan informasi tentang mereka berdua, ia selalu selangkah lebih lambat. Di antaranya ia juga mendengar berita berkali-kali tentang percobaan pembunuhan terhadap mereka berdua, tetapi mengetahui mereka berdua selamat, rasa kagum Xiao Han terhadap mereka semakin bertambah besar.
Dengan cara kerja Xiao Zheng, orang-orang yang dikirim setiap kalinya pastilah para pembunuh tingkat atas. Mampu lolos dari tangan mereka, nampaknya kekuatan kedua orang itu jauh lebih kuat daripada yang ia bayangkan.
Di dalam Sekte Wuliang,
"Ketua Sekte, kami mendapat kabar, Tuan Muda Sekte kita telah tiba di Kota Shuangxi."
Sesepuh Agung dengan hormat membungkuk melapor kepada Ketua Sekte Xiao yang duduk di kursi kehormatan, wajahnya dipenuhi dengan ekspresi penuh semangat.
"Benarkah?"
Ketua Sekte Xiao berdiri karena terlalu bersemangat. Sementara Xiao Zheng yang berdiri di bawah melihat ekspresi gembira di wajah semua orang, di permukaan ia ikut berekspresi senang bersama yang lain, namun di dalam hatinya ia merasa sangat benci setengah mati.
"A-Han! Kamu sekarang juga, pimpin orang-orang turun gunung, dan sambut serta undang mereka kembali dengan penuh hormat."
"Baik! Ketua Sekte."
Xiao Han segera memimpin orang-orang turun gunung, langsung menuju ke penginapan tempat Beichen beristirahat.
Setibanya kembali di kamar, Xiao Zheng dengan penuh kebencian membanting semua barang di dalam kamar hingga hancur berkeping-keping. Bawahan yang berdiri di luar pintu bahkan sengaja memperlambat napas mereka karena takut suatu hal yang tidak menyenangkan terjadi dan mereka kembali dijadikan tempat pelampiasan amarah.
"Tuan Muda Kedua!"
Bawahan itu memanggil dengan gemetar di luar pintu, "Sesepuh Ketiga ingin menghadap."
Xiao Han yang tadinya hendak meluapkan amarah langsung meredakan ekspresinya, "Persilakan beliau masuk ke ruang tamu, aku akan segera ke sana."
Begitu Xiao Zheng tiba, ia melihat seorang lelaki tua berjubah putih sedang duduk di kursi sambil dengan santai meminum teh di tangannya.
"Kedatangan Sesepuh Ketiga, apakah ada urusan penting?"
Xiao Zheng duduk di hadapannya dengan wajah penuh ketulusan, sama sekali tidak terlihat seolah-olah ia baru saja meluapkan amarah sedetik yang lalu.
"Apakah Tuan Muda Kedua yakin tempat ini adalah tempat yang tepat untuk berbicara?"
Sepasang mata tajam Sesepuh Ketiga menatap lurus ke arah Xiao Zheng. Tangan Xiao Zheng yang memegang cangkir teh sempat terhenti sejenak, "Apa maksud Sesepuh Ketiga?"
"Orang tua ini mengira Tuan Muda Kedua adalah orang yang cerdas, tentu saja tahu maksudku."
"Xiao Zheng bodoh, silakan Sesepuh Ketiga katakan secara langsung jika ada yang ingin disampaikan."
Kedua orang itu saling melempar kalimat bersayap dan bertukar serangan, namun sama sekali tidak bisa membaca kedalaman isi hati satu sama lain.