Bab 0049: Undangan dari Universitas Harvard
Luan Jinye sudah menjadi sosok terkenal di CBA, bukan hanya karena tekniknya yang halus, tetapi juga akurasi tembakannya yang luar biasa! Ia masih bermain dua tahun lagi di Tim Jilin, dua tahun berturut-turut masuk final, sayangnya keduanya harus rela kalah tipis. Liu Chuan keluar dari Tim Jilin karena masalah kontrak dan pindah ke Tim Shanghai, sedangkan Gao Yang memilih meninggalkan Tim Jilin dan bergabung dengan Tim Liaoning karena sudah muak dengan provokasi rekan-rekannya. Trio hebat yang dulu disegani, kini hanya tinggal Luan Jinye seorang diri. Seiring kepergian mereka, performa Tim Jilin pun menurun dari puncaknya.
Yang lebih mengkhawatirkan, Luan Jinye pun mulai terbersit keinginan untuk pergi, karena ia merasa tim ini, cepat atau lambat, hanya akan menguras tenaganya hingga habis.
Kini Luan Jinye sudah lulus SMA dan mendapat undangan dari Universitas Harvard di Amerika, setelah bakatnya dilirik oleh pencari bakat yang kemudian melaporkannya ke pelatih tim basket Harvard. Pelatih sangat menghargai bakat pemain Tionghoa ini, sehingga meminta universitas mengirimkan undangan resmi kepada Luan Jinye untuk ke Amerika. Dulu Lin Shuhao juga berasal dari Harvard.
Artinya, Luan Jinye kini bisa melangkah ke NCAA! Bulan depan ia akan berangkat ke Amerika. Terdengar kabar, Gao Yang diundang oleh Universitas Chicago, Shen Qixuan ke Universitas Los Angeles, sementara Yi Yaojie memang belum mendapat undangan, tapi ia berencana ikut NBA Draft setahun lagi.
Lin Ce berada di Universitas Houston, yang membuat Luan Jinye sangat iri, karena sangat dekat dengan target impiannya, Houston Rockets!
Hu Hanying berhasil masuk Universitas Tsinghua dengan nilai tinggi, begitu juga Liu Yu. Dunia para jenius seperti mereka benar-benar tak bisa disaingi oleh orang biasa macam kami!
Dalam sebulan terakhir, Luan Jinye membantu Tim Jilin meraih posisi ketiga di liga, ini pun sudah merupakan batas kemampuannya. Ia tak bisa membantu lebih banyak lagi, dan setelah dua kali bermain lagi untuk Tim Jilin, akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri kontrak.
Media olahraga seperti Hupu dan Tencent Sports ramai memberitakan “Untuk pertama kalinya dalam sejarah, tiga mahasiswa sekaligus diundang ke Amerika!” atau “Kebangkitan basket Tiongkok?” Membaca berita seperti itu, ketiganya hanya bisa tertawa geli.
Sebelum berangkat ke Amerika, hal yang paling ingin dilakukan Luan Jinye adalah menghabiskan lebih banyak waktu bersama ibunya. Ia tahu, dalam satu setengah tahun ke depan, ia tak akan bisa bertemu dengan ibunya lagi. Maka, selama beberapa minggu terakhir, ia selalu bersama sang ibu.
Suatu hari, ia mendapat telepon dari Gao Yang, yang mengabarkan ingin mengantar Liu Yu berangkat. Jadwal masuk Universitas Tsinghua memang lebih awal dibanding jadwal keberangkatan ke Amerika. Luan Jinye pun setuju. Ia membuka WeChat, mencari Hu Hanying dan melihat status terbarunya: besok akan naik kereta ke Beijing untuk daftar di Universitas Tsinghua.
Luan Jinye pun ingin ikut mengantar Hu Hanying, kemungkinan besar mereka akan bertemu di stasiun yang sama.
Keesokan harinya, Luan Jinye pamit pada ibunya, lalu bersama Gao Yang dan Liu Yu berangkat lebih awal naik LRT menuju stasiun kereta. Melihat dua temannya itu, Luan Jinye merasa ada yang berbeda, lalu ia tertawa dan bertanya pada Gao Yang, “Gimana? Udah resmi pacaran?”
Gao Yang tersenyum geli, “Hehehe! Kelihatan ya?”
Luan Jinye langsung berakting dramatis di hadapan Liu Yu, “Eh, temanku yang satu ini sekarang aku titipkan ke kamu, ya! Jangan sampai dia kelakuannya aneh-aneh!”
Liu Yu tertawa terpingkal-pingkal, “Sejak kapan kamu jadi kocak begini?”
Gao Yang protes, “Eh, bisa nggak ngomong yang bagus-bagus soal aku?”
Luan Jinye pura-pura polos, “Aku salah ngomong? Coba, kapan kamu nggak aneh-aneh? Siapa coba yang selalu nasehatin kamu?”
Gao Yang jadi kehabisan kata-kata. Mereka bertiga ngobrol seru di dalam LRT, tak terasa sudah sampai di stasiun. Setelah turun dari LRT, Gao Yang membantu Liu Yu membawa koper, lalu mereka berjalan ke ruang tunggu. Tanpa sengaja, Luan Jinye melirik dan melihat Hu Hanying sedang menunduk menatap ponselnya, memakai earphone yang dulu pernah ia berikan.
Luan Jinye berpamitan sebentar pada dua temannya, lalu menghampiri Hu Hanying. Hu Hanying tidak menyadari kehadirannya, hingga Luan Jinye duduk di sampingnya dan berkata, “Kamu kelihatan sendirian banget.”
Hu Hanying terkejut, melepas earphone dan menatap Luan Jinye, bertanya heran, “Kok kamu di sini?”
“Aku lihat status kamu, jadi ingin kasih kejutan. Gimana, nggak ada yang nganterin kamu?” tanya Luan Jinye.
“Orangtuaku sebenarnya mau nganter, tapi aku takut nggak tahan nangis waktu perpisahan, jadi aku suruh mereka ngantar sampai sini saja, lalu pulang,” jawab Hu Hanying.
Luan Jinye berkata, “Ayo ikut aku, aku kenalin ke dua temanku, salah satunya juga hari ini berangkat ke Tsinghua!”
Hu Hanying langsung antusias, “Benarkah? Ayo, ayo!”
Mereka berdua kembali ke tempat Gao Yang. Melihat Luan Jinye membawa seorang gadis cantik, Gao Yang langsung bertanya, “Eh, ada apa ini? Kamu yang berhasil nembak?”
Hu Hanying langsung memerah wajahnya, Luan Jinye tertawa dan memprotes, “Ah, jangan ngaco! Bukan begitu!”
Luan Jinye memperkenalkan, “Ini teman SMA-ku juga, mau ke Tsinghua, namanya Hu Hanying!” Lalu kepada Hu Hanying, “Yang suka aneh-aneh ini namanya Gao Yang, yang satu lagi Liu Yu, sama kayak kamu, juga ke Tsinghua!”
Hu Hanying dan Liu Yu saling berjabat tangan, lalu keduanya langsung akrab dan mengobrol seru. Kebetulan, tiket tidur mereka berada di kompartemen yang sama, jadi tidak perlu khawatir merasa kesepian.
Tak lama kemudian, pengumuman naik kereta terdengar. Keempatnya berjalan menuju gerbong, Liu Yu dan Hu Hanying bersiap naik. Sebelum naik, Liu Yu sempat memeluk Gao Yang.
Hu Hanying tersenyum pada Luan Jinye, “Bagaimana? Kita nggak pelukan juga?”
Luan Jinye ikut tersenyum, “Kayaknya nggak pantas deh?”
Hu Hanying berkata, “Apa yang nggak pantas?” Lalu dengan berani, ia langsung memeluk Luan Jinye!