Bab Seratus Empat Puluh Tiga: Xuanwu
Poyun mengikuti petunjuk Ren Zhi dan tiba di sebuah desa kecil di kaki Gunung Hongwang untuk beristirahat sejenak.
Baru saja memasuki desa, dia menyadari bahwa dirinya telah ditipu oleh Ren Zhi. Desa tersebut hanya dihuni oleh sekitar dua puluh keluarga, mana mungkin ada tempat semacam penginapan. Untungnya, keramahan penduduk desa memberi Poyun tempat untuk singgah, dan sekalian ia mendengar beberapa kabar mengenai Istana Xuanwu dan Gunung Hongwang.
Kesan pertama Poyun setelah mendengarkan legenda dan kisah tentang nama Gunung Hongwang adalah bahwa gunung ini sangat berbahaya. Tidak peduli seberapa besar cerita-cerita tersebut dilebih-lebihkan, tetapi melihat kontur geografisnya, tempat ini pasti sangat mudah untuk didpertahankan dan sulit untuk diserang. Dalam hati ia mengagumi Senior Gudu yang benar-benar tahu cara mencari tempat untuk istananya sendiri.
Poyun hanya membawa sedikit makanan kering dan air minum dari rumah sang tetua desa. Entah akan berguna atau tidak, ia tetap meninggalkan seluruh uang perak yang dibawanya untuk sang tetua. Setelah semuanya beres, ia pamit kepada sang tetua dan mulai melangkah menuju bagian hutan Gunung Hongwang yang lebih lebat sesuai dengan arah yang ditunjukkan.
Poyun berjalan seharian di dalam hutan sebelum akhirnya menyadari alasan Ren Zhi menyuruhnya beristirahat di desa kecil di kaki gunung tadi.
Medan hutan di sekitar Gunung Hongwang ini semakin lama semakin tinggi, dan selain bebatuan serta pohon-pohon raksasa, ada satu hal penting yang sangat kurang, yaitu air minum. Seluruh hutan ini sepertinya hanya memiliki satu danau kecil di dekat desa, dan begitu memasuki hutan, sama sekali tidak ada sumber air.
Suara ombak yang menghantam dinding gunung terdengar di telinga, tetapi tidak ada sumber air yang terlihat. Poyun tidak bisa menahan rasa herannya, ke mana perginya hewan-hewan di sini untuk minum? Untungnya, fisik Poyun sangat prima. Setelah berlari menyusuri hutan cukup lama, ia akhirnya tiba di lereng yang dalam legenda dikatakan berhasil memukul mundur para bandit.
Pada saat itu, di dalam hutan sudah tidak ada lagi sesuatu yang menyerupai jalan. Yang ada hanyalah kanopi pohon-pohon besar yang menutupi langit dan bebatuan raksasa mengerikan yang setengah terkubur di dalam tanah kuning. Poyun menatap lereng di depannya dan tersenyum masam.
Orang biasa belum tentu bisa mendaki tempat ini.
Dikatakan sebagai lereng, padahal sebenarnya selain satu arah di depannya ini, tiga arah lainnya sudah langsung berbatasan dengan lautan luas. Jangankan mencoba berenang melintasi laut, bahkan jika berhasil berenang pun, ketiga sisi lainnya licin bagaikan cermin dan sama sekali tidak bisa dipanjat. Sementara sisi yang tersisa di depan ini hampir tidak ada bedanya dengan tebing yang tegak lurus.
Di bagian bawah, beberapa pohon tumbuh dengan miring, tetapi setelah ketinggian beberapa tombak, sama sekali tidak ada lagi pohon yang tumbuh. Hanya ada sehelai rumput liar yang sesekali bergoyang tertiup angin di antara celah bebatuan, sementara puncak yang lebih tinggi lagi seakan menembus awan.
Jangankan untuk mendaki ke atas, hanya dengan melihatnya saja sudah membuat jantung berdebar dan kepala pusing tujuh keliling.
Poyun tersenyum masam, lalu dengan ringan melompat dan melesat ke arah puncak gunung.
Awalnya pendakian berjalan cukup lancar, tetapi lama-kelamaan medannya berubah menjadi panjat tebing pada permukaan cermin yang tegak lurus. Bebatuan yang sesekali menonjol keluar ternyata sudah mengalami pelapukan parah, sehingga sedikit saja tidak berhati-hati bisa membuat pijakan meleset dan jatuh.
Sambil terus mendaki, Poyun dalam hati menghela napas bahwa tanpa keterampilan sejati, akan sangat sulit untuk bisa naik ke atas.
Namun, Poyun bisa dianggap memiliki sedikit kepandaian.
Oleh karena itu, tidak butuh waktu lama bagi Poyun untuk melompat dan mencapai puncak gunung.
Puncak gunung berupa dataran batu yang luas dan rata, seolah-olah puncak gunung aslinya telah ditebas dengan satu pedang oleh seseorang, menyisakan batu karang yang datar seperti sekarang. Di tengah-tengah lapangan terbuka itu, reruntuhan yang bobrok merintih ditiup angin.
Poyun merasa penasaran di dalam hati, mungkinkah Senior Gudu memiliki kekuatan sehebat itu hingga sanggup memangkas sebagian puncak gunung secara langsung? Sambil merenung, ia merasa bahwa meskipun medan gunung ini berbahaya, ketinggiannya jauh lebih rendah daripada Gunung Rihua di Istana Baihu.
Lapangan terbuka di puncak gunung sangat luas, ukurannya mencapai beberapa li.
Angin di puncak gunung sangat kencang.
Karena letaknya yang dekat dengan laut, angin tersebut membawa aroma amis laut yang pekat.
Namun, saat aroma itu terhirup oleh hidung, justru terasa menyegarkan dan menjernihkan pikiran. Suara ombak yang menerpa pantai terus-menerus terdengar, seolah-olah berada tepat di samping telinga. Menyaksikan pemandangan pertemuan antara laut dan langit, Poyun dalam hati mengagumi bahwa meskipun medan tempat ini berbahaya, pemandangannya benar-benar membuat hati merasa tenang dan gembira.
Poyun berjalan perlahan menuju reruntuhan, sementara angin meniupkan serpihan-serpihan tanah kecil ke wajahnya. Poyun mengangkat tangan untuk menutupi matanya, terus-menerus menghela napas bahwa Istana Xuanwu ini benar-benar telah hancur separah itu hingga tidak mampu lagi bertahan terhadap ujian waktu.
Reruntuhan itu mencakup area yang sangat luas, hampir tidak menyisakan banyak ruang di luar area reruntuhan tersebut.
Poyun berjalan mendekat, dan saat ini dinding istana yang paling tinggi pun tidak ada yang melebihi tinggi satu orang, hampir semuanya telah ambruk total. Melihat ambang pintu yang runtuh, pilar giuk berukir naga, serta bangku dan kursi batu yang berserakan di bawah reruntuhan—semuanya dibuat dengan indah dari bahan-bahan mewah dan berharga—Poyun dalam hati menduga bahwa Istana Xuanwu pada masa lalu pastilah sangat megah.
Namun, melihat tingkat kehancuran istana yang separah ini, hal itu pasti bukan disebabkan oleh terpaan angin dan matahari secara alami. Jangan-jangan orang-orang di masa kemudian, setelah mendapati tidak ada apa pun di tempat ini, dengan sengaja merusaknya karena marah besar? Poyun tersenyum masam di dalam hati, membayangkan bagaimana orang-orang yang datang dengan penuh semangat mendapati pemandangan seperti ini, wajar saja jika mereka melakukan tindakan yang ekstrem.
Bagian Istana Xuanwu yang paling dekat dengan tebing karang dipenuhi dengan batang kayu gelondongan untuk menggelinding, batu halilintar, serta mekanisme panah pegas. Tampaknya pada masa itu Senior Gudu juga memanfaatkan keunggulan geografis dari medan alami Gunung Hongwang untuk memperkuat pertahanan Istana Xuanwu. Sayangnya, sekuat apa pun sebuah benteng, ia tetap tidak akan mampu menahan berjalannya waktu dan perusakan oleh tangan manusia.
Poyun berjalan perlahan di tengah tumpukan puing, melihat sisa-sisa taman yang samar, lapangan rumput yang terbengkalai, serta air mancur yang telah mengering. Segala sesuatu di tempat ini telah kehilangan nyawanya, seolah-olah telah melewati baptisan kiamat dunia.
Poyun terus merasa menyayangkan istana yang begitu mewah milik Senior Gudu kini telah berubah menjadi lautan reruntuhan, terlebih lagi reruntuhan di mana semua benda berharga yang layak dipandang telah dijarah bersih oleh orang-orang.
Tiba-tiba.
Sebuah prasasti batu yang setengah terpotong menarik perhatian Poyun.
Prasasti batu itu terletak di area terbuka kecil yang berada di bagian paling belakang Istana Xuanwu. Di depan area terbuka tersebut terdapat dua rak senjata yang telah roboh, hanya saja senjatanya sudah lenyap tak berbekas. Dapat diduga bahwa senjata-senjata itu telah dibawa pergi oleh orang-orang, dan kini yang tersisa hanyalah rak senjata yang tidak berguna ini yang terbuang di sini.
Tampaknya tempat ini adalah tempat Senior Gudu biasa berlatih ilmu silat pada waktu luangnya.
Prasasti batu itu berwarna hitam pekat secara keseluruhan, dibuat dari batu hitam laut dalam yang tebal dan berat, dengan lebar lebih dari tiga kaki dan ketebalan lebih dari dua kaki. Permukaannya dipenuhi dengan bekas-bekas hantaman, dan bagian tertingginya telah patah, entah berapa tinggi aslinya dahulu. Di tepi prasasti batu tersebut terukir pola-pola naga terbang dan burung phoenix. Dari bentuknya yang begitu hidup seolah-olah nyata, pastilah pola tersebut tidak diukir oleh pengrajin biasa.
Debu di atas prasasti batu sangat tebal, menandakan bahwa sudah sangat, sangat lama waktu berlalu sejak bekas hantaman terakhir ditinggalkan di atas prasasti tersebut. Dilihat dari puing-puing yang berserakan di tanah, bagian prasasti yang hilang tidaklah terlalu banyak, hanya beberapa bagian di sekitar puncak prasasti saja. Tampaknya batu hitam yang tebal dan berat ini tetap memberikan sedikit perlindungan bagi prasasti tersebut.
Satu sisi prasasti batu diukir dengan pola, sedangkan sisi lainnya adalah hal yang menarik perhatian Poyun.
Beberapa baris tulisan bergaya naga terbang dan phoenix!
"Baihu menancapkan sayap ganda,
Xuanwu bertahan dengan kokoh.
Zhuque menyembunyikan jejak dalam senyap,
Qinglong bangkit dan keluar dari lautan."
Dua karakter terakhir yang ditulis dengan gaya naga terbang dan phoenix yang agung.
"Gudu!"
Tulisan tangan itu begitu bulat, luwes, namun tegas. Mata Poyun langsung berbinar-binar saat memandangnya.
Jika pola ukiran tadi dibuat oleh seorang seniman terkenal, maka tulisan tangan ini pastinya ditulis secara sembarangan menggunakan jari. Tulisan tangan ini... ini adalah tulisan tangan yang ditulis sendiri oleh Senior Gudu! Ternyata nama senior tersebut benar-benar Gudu, dan nama Senior Gudu pastilah menyebar luas dari sini. Melihat tulisan tangan yang mengalir bagai naga dan phoenix dengan aura yang luar biasa megah ini, Poyun semakin merasa terpesona oleh karisma Senior Gudu.
Baihu, Xuanwu, Zhuque, Qinglong.
Bukankah itu adalah keempat istana milik Senior Gudu!
Poyun memancarkan kilau kegembiraan di dalam matanya. Mungkinkah di dalam bait-bait kalimat ini terdapat petunjuk mengenai keberadaan Istana Qinglong, satu-satunya istana milik Gudu yang belum pernah dikunjunginya!
"Baihu menancapkan sayap ganda."
Baihu... menancapkan sayap ganda... Poyun mengerutkan kening sambil berpikir. Apa maksud dari Baihu menancapkan sayap ganda? Harimau putih bersayap? Kalau begitu apakah dia masih seekor harimau putih? Sebenarnya apa artinya?
Menancapkan sayap ganda... Mata Poyun tiba-tiba bersinar terang. Mungkinkah ini mengacu pada lokasi Istana Baihu? Ia berpikir bahwa Istana Baihu dibangun di atas puncak Gunung Rihua, dan Gunung Rihua memang sangat tinggi hingga hampir tidak bisa didaki. Menggunakan frasa "menancapkan sayap ganda" untuk menggambarkannya sama sekali tidak berlebihan.
Poyun diliputi rasa gembira yang luar biasa. Tampaknya kalimat ini benar-benar kemungkinan besar merujuk pada lokasi Istana Baihu, yaitu di tempat yang begitu tinggi hingga burung bersayap pun sulit untuk terbang ke sana!
Jika memang demikian halnya, maka "Xuanwu bertahan dengan kokoh". Bertahan dengan kokoh... medan yang terjal, mudah dipertahankan dan sulit diserang?! Poyun merasa semakin bersemangat, dalam hati ia yakin inilah artinya. Gunung Hongwang tempat Istana Xuanwu ini dibangun benar-benar memiliki kontur geografis yang sangat curam dan berbahaya. "Xuanwu bertahan dengan kokoh" pastilah memiliki arti seperti ini!
Lalu, "Zhuque menyembunyikan jejak dalam senyap" menunjukkan bahwa Istana Zhuque tersembunyi di tempat yang gelap. Dan faktanya, Istana Zhuque memang tersembunyi dengan sangat rahasia, tertanam sepenuhnya di bawah tanah. Kedua mata Poyun memancarkan cahaya yang membara—kalau begitu, kalimat terakhir pastilah menunjukkan lokasi Istana Qinglong!
"Qinglong bangkit dan keluar dari lautan!"
Poyun tidak bisa menahan kerutan di kedua alisnya. Lokasi di mana Istana Xuanwu berada sudah sangat dekat dengan laut. Jika dikatakan bahwa Istana Qinglong juga berada di sini, kemungkinannya sangat kecil. Sampai sejauh ini, Istana Zhuque, Istana Baihu, dan Istana Xuanwu di sini sama sekali tidak ada yang letaknya berdekatan satu sama lain.
Tentu saja, bukan berarti Istana Qinglong sama sekali tidak mungkin berada di dekat Istana Xuanwu, hanya saja peluang terjadinya hal tersebut sangatlah kecil.
Mata Poyun menyipit. Jika tidak berada di sini, maka tempat yang dekat dengan laut hanya ada satu tempat!
Laut Selatan!
Laut Selatan dulunya sempat dipadati oleh banyak orang karena menghasilkan Besi Hitam Laut Selatan, dan kota-kota di dekat Laut Selatan sangatlah makmur. Namun, setelah Besi Hitam Laut Selatan semakin berkurang dan semakin sulit ditambang, gelombang manusia yang berbondong-bondong datang perlahan-lahan mulai menyusut.
Dan Laut Selatan saat ini, selain beberapa kota yang sedikit lebih besar, kota-kota kecilnya semuanya telah terbengkalai dan tidak berpenghuni.
Jika dikatakan Istana Qinglong dibangun di Laut Selatan, maka tempat itu pastilah berada jauh dari beberapa kota besar yang ada, sehingga bukanlah tempat yang padat penduduk seperti sekarang. Mata Poyun bersinar terang—mungkin Istana Qinglong milik Senior Gudu benar-benar berada di sekitar Laut Selatan!
Di dalam Istana Zhuque, melalui pesan yang ditinggalkan oleh Senior Gudu, Poyun dapat merasakan bahwa Istana Qinglong ini pastilah istana terbesar milik Senior Gudu, atau yang biasa disebut sebagai sarang utamanya. (Pada saat ini, Poyun sudah terlalu dikuasai oleh kegembiraan hingga tidak lagi memedulikan pemilihan kata-katanya.)
Dari perkataan Senior Gudu, Istana Qinglong tampaknya menjadi tempat berkumpulnya seluruh harta paling berharga milik Senior Gudu, yang berarti kitab-kitab rahasia ilmu silat tentu saja tidak akan sedikit! Harta karun rahasia milik Senior Gudu yang konon sepuluh ribu kali lebih hebat daripada Peta Perjanjian Naga ini kini sudah hampir berhasil ditemukan seluruhnya oleh Poyun!
Kegembiraan di dalam hati Poyun sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Jika ia benar-benar dapat menemukan Istana Qinglong milik Senior Gudu, maka teknik dan jurus silat peninggalan Senior Gudu pasti akan mampu membantunya membalaskan dendam kesumatnya.
Meskipun Poyun merasa sedikit kurang pantas jika harus mengandalkan teknik dan jurus silat Senior Gudu untuk membalas dendam, tetapi musuh kuat yang dihadapinya benar-benar bukanlah sosok yang bisa ia hadapi seorang diri, sehingga ini adalah satu-satunya jalan yang bisa ia tempuh.
Terutama setelah Poyun mengetahui bahwa Senior Gudu mungkin memiliki hubungan dengan Sekte Qingyue, rasa penasarannya terhadap Senior Gudu semakin besar, dan ia pun semakin mendambakan teknik serta jurus silat milik Senior Gudu.
Kini, setelah mendapatkan kabar mengenai Istana Qinglong milik Senior Gudu, bagi Poyun hal itu bagaikan akhir dari rentetan hari-hari sial yang dialaminya selama ini!